"Kenapa lo Rob?" Adam berbicara.
"Gue lagi gak habis pikir."
"Gak habis pikir kenapa?"
"Si Bian."
"Oh ..." Adam manggut - manggut.
"Oh? lo udah tahu?" Roby pun langsung melayangkan tatapannya pada Adam.
"Tahu apa? soal yang mau nikah sama Hira?"
Roby langsung mengangguk kencang.
"Ya tahulah."
"Ck!" Jelas Roby langsung mendecak kesal. Merasa tersingkirkan dari lingkaran pertemanan mereka.
"Gue tahu dari binik gue, bukan dari si Bian by the way." Adam langsung meralat sebelum Roby semakin kesal padanya.
Oh iya, Adam ini adalah suami dari Mila. Jadi kalau gosip seputar Hira, atau segala sesuatu yang berkaitan tentang Hira. Jelasnya Adam akan tahu dan tidak mungkin ketinggalan.
"Tadi si Bian cerita ke gue, kalau katanya dia mau nikah sama Hira." Roby mulai bercerita.
"Oh yang itu, gue udah tahu. Binik gue cerita."
"Tapi, lo tahu apa niatnya dia nikahin si Hira?"
"Emang apa? Emang dia punya niat lain gitu? bukannya karna emang dasarnya si Bian gak bisa ngelepasin Hira?"
"Salah. Bukan karna itu. Tapi katanya niatnya mau balas dendam."
"Heh? balas dendam? maksud lo?" Adam mengernyit heran.
"Ya balas dendam. Katanya karna Hira suka ngeliatin dia pakai pandangan mata jijik jadi tuh orang gak terima."
"Heh?? oh ya terus?"
"Terus katanya mau bikin Hira dibawah kendalinya. Karna gara - gara Hira, sampai sekarang orang - orang masih aja jadiin dia ikon lelaki tidak setia dan tukang selingkuh."
"Wah...?"
"Mangkannya sekarang dia mutusin buat nikahin si Hira. Karna dengan begitu katanya orang - orang bakalan berpikir kalau selama ini mereka salah, buktinya Hira mau nerima dia balik."
"Ckckck! nyampe sana juga tuh otaknya si Bian." Adam menggeleng tak percaya.
"Tapi, gue penasaran, tadi itu si Bian bilang katanya dia ngejebak Hira buat nikah sama dia. Gue penasaran gimana caranya dia jebak si Hira sampai akhirnya tuh orang mau nikah sama Bian?"
"Lo lupa, kemarin si Bian udah nyelametin perusahaan bokapnya si Hira." Adam nyeletuk.
"Astaga iya." Roby menepuk jidatnya. "Pantesan tuh anak ngotot banget buat beli tuh perusahaan yang udah kolaps padahalkan udah pasti gak bisa diselametin lagi. Ckckck, Kenapa gue malah gak kepikiran." Roby pun jadi merasa tertipu juga.
"Ya lo tahulah, kalau bukan dari sana, mana mau si Hira. Lo tahu kan sebenci apa tuh cewek ke Bian."
Roby pun setuju dengan perkataan Adam.
"Tapi Rob, asal lo tahu Hira itu gak sebodoh itu."
Mendengar ucapan Adam itu, Roby mengernyit.
"Hira, juga udah nyiapin rencana." Bisik Adam kemudian tapi juga tak terdengar pelan juga.
"Maksudnya?" Roby semakin mengernyit tak mengerti.
"Kata binik gue. Rencananya Hira mau morotin abis si Bian sampai jatuh miskin."
"Hah???" Roby pastinya terkejut.
"Habis itu setelah Bian jatuh miskin, dia mau ninggalin si Bian. Katanya biar Bian tahu rasa karna udah berani - beraninya dulu hianatin dia." Ungkap Adam.
Roby masih tercengang dan mencoba memahami situasi yang terjadi. "Jadi, sekarang ini situasinya berarti satu sama? mereka sama - sama mau balas dendam gitu?"
"Yap, kayaknya gitu. Dan sekarang lo tahu fokusnya si Hira mau ngapain?"
"Emang mau ngapain?"
"Buat Bian jatuh cinta lagi sama dia, sampai dia bertekuk lutut ke dia."
"What the hell!!" Roby langsung memekik tak percaya. "Eh, asal lo tahu itu tadi si Bian juga bilang gitu ke gue." Ungkap Roby juga.
"Heh? Oh ya???"
Adam dan Roby saling berpandangan tak percaya. Tapi sedetik kemudian keduanya malah tergelak bersamaan.
"Kayaknya emang mereka berdua itu jodoh deh bro. Bisa - bisanya punya rencana yang sama."
"Gue rasa juga gitu."
"Berarti kalau gitu, kita gak perlu khawatir lagi sama mereka berdua. Kita tinggal liat aja, siapa kira - kira yang menang dalam pertempuran ini."
"Yap, atau bisa - bisa mereka jadinya malah saling cinta lagi."
Roby dan Adam kembali cekikikan.
"Mau taruhan?" Roby tersenyum jail.
"Saham Bianis corp sama liburan ke lombok kalau lo mau?" Adam langsung menyebutkan apa yang dia mau tanpa tedeng aling - aling.
"Deal." Dan langsung di setujui Roby tanpa berpikir ulang.
"Lo pilih siapa diantara mereka? siapa menurut lo yang bakalan jatuh cinta lebih dulu?" Tanya Roby lagi.
"Gue pegang Hira." Saut Adam mantap. Karna Adam tahu bagaimana gilanya Hira kalau sudah bertekad.
"Oke, kalau gitu gue pegang Bian." Begitu juga Roby yang tampak yakin pada Bian.
Keduanya kemudian bersalaman sebagai tanda persetujuan taruhan itu.
Abian tergelak tak percaya. Jelas dia jadi kesal dibuatnya. Pasalnya tanpa Adam dan Roby sadari, ternyata sedari tadi pemuda itu sudah mendengar semua pembicaraan mereka. Mulai dari Hira yang ternyata hanya berniat mempermainkannya hingga dirinya dijafikan bahan taruhan oleh kedua sahabatnya.
Abian bersendekap menyandarkan tubuhnya yang tinggi ketembok yang tak jauh dari mereka. Kali ini Abian tidak boleh tinggal diam. Dia juga harus segera menyusun rencana. Jangan sampai Hira berhasil menjalankan rencananya. Dan juga jangan sampai kedua cecunguk itu menikmati hasil taruhannya juga.
Puas mengumpat dibaik temboknya, dengan segala sumpah serapanya. Abian kini berjalan menghampiri Roby dan Adam. Bersikap seperti biasa. Seperti tidak ada sesuatu hal yang terjadi.
"Lah ... nih dia nih orangnya, ck! lama banget sih lo datangnya? perasaan udah dari sore tadi lo keluar kantor. Kenapa baru nyampe sini malem?" Roby nyeletuk begitu melihat tampang Abian.
"Ada banyak urusan, lo kira gue itu elo yang begitu keluar dari kantor langsung ilang itu sibuknya?" Abian mendengus kesal.
"Cih! mentang - mentang si paling bos." Roby menggerutu.
"Lo mau minum apa? hari ini berbagai jenis kopi kebetulan sold out." Adam menyela.
"Air putih tapi tolong kasih yang banyak banget es batunya." Saut Abian yang seakan hendak menelan Roby dan Adam hidup - hidup.
***
"Hir, kok gak masuk?" Mila mengernyit heran melihat Hira yang sepertinya cukup lama berdiri disisi tembok dekat pintu masuk kafe. Apa lagi wanita itu mendapati wajah Hira yang berubah kesal.
"Lo kenapa?"
"Gak apa - apa. Cuma nungguin lo aja."
"Lah ngapain nungguin gue? di dalem kan ada suami gue."
"Iya tapi ada makhluk tak diundang lainnya juga." Jawab Hira dengan nada malas.
Meskipun sedikit bingung, Mila memilih untuk tak bertanya lagi. Barulah saat pintu cafenya dibuka, dia langsung paham. Ternyata didalam sana selain suaminya dan Roby ada juga Abian.
"Yang ..." Mila memekik memanggil sang suami sambil berjalan mendekat. Dan suaranya itu secara otomatis membuat ketiga lelaki itu menoleh padanya. Dan juga pada Hira yang berjalan dibelakangnya.
"Hey..." Adam, juga langsung menghampiri sang istri.
Adam sedikit tertegun melihat kedatangan Hira hari ini. Dan secara otomatis pemuda itu langsung mengumpat dalam hatinya. Ini dia sang wanita, yang punya pikiran mau menghancurkannya.
Tapi lain dihati lain dibibir. Adam tampak langsung tersenyum dan menghampiri Hira.
"Kok kamu gak bilang kalau mau kesini?" Ucapnya kemudian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments