"Mil,"
"Hem?"
Saat itu kedua sahabat itu sedang bersantai didepan TV. Menikmati waktu malam minggu sambil nonton netflix dengan banyak camilan yang berserakan dilantai.
"Gue kok curiga ya."
"Curiga apa?" Jawab Mila tanpa mengalihkan pandangannya pada layar TV dihadapannya.
"Kayaknya Abian sama Mama tahu deh kalau gue punya trauma." Ungkap Hira, membuat Mila menghentikan kunyahannya. Tapi sedetik kemudian langsung berusaha dia tutupi.
"Oh ya? kok bisa tahu dari mana?" Mila bertanya seolah - olah bukan dialah yang memberitahu Abian.
"Ya itu, 2 hari yang lalu Mama kan datang tuh ke rumah terus tiba - tiba Mama nangis - nangis ke gue. Habis itu tiba - tiba juga minta maaf yang menurut gue, kayak aneh gitu."
"Oh ya?"
"He'em. Alasannya sih, minta maaf karna ngerasa bersalah karna gue sakit tapi Mama gak bisa nemenin gue dirumah sakit. Sementara Bian malah ada perjalanan bisnis yang baru bisa pulang nanti pas mau hari H pernikahan."
"Perjalanan bisnis?" Mila mengerutkan keningnya. Merasa kalau ini bohong.
"He'em. Ke Singapura udah seminggu yang lalu, dari gue hari pertama masuk rumah sakit dan baru bisa pulang 2 minggu lagi."
Mila tampak berpikir. Lalu ingat. Ah, mungkin ini cara Abian untuk menjauhi Hira seperti apa yang dia minta waktu itu. "Terus kalau gitu, kalau Bian pergi ke Singapura pernikahan kalian gimana? batal?" Mila penasaran.
"Huft, seandainya bisa. Mending gue batalin." Hira mendengus. Kepalanya disandarkan ke sofa dengan malas.
"Maksud lo? Berarti pernikahan lo masih lanjut gitu? tapi kata lo Bian ke Singapura?"
"Ya Bian kan entar pulang Mila."
"Oh, kirain dibatalin."
"Ya mana bisa."
"Ya siapa tahu." Seru Mila yang tampak sekali kecewa ternyata Abian masih saja tidak mau meninggalkan Hira.
"Yang bikin gue kesel lagi itu ya. Abian sampai detik ini gak ada sama sekali ngubungin gue. Jangan kan hubungin tanya kabar aja enggak. Dia kayak yang tiba - tiba ngilang aja gitu gak peduli sama gue."
"Ya bagus dong kalau gitu. Katanya lo gak pengen dia ganggu lo."
"Ya tapi gak gini juga konsepnya Mila, kita ini kan mau nikah. Ya masak cuma sekedar say hello aja gak bisa."
"Ya kalau gitu lo aja kali yang duluan say hello. Dari pada lo nungguin."
"Udah, dan itu gak diangkat. Jadi gue nyerah." Jawab Hira yang sepertinya sudah tak peduli lagi.
Hira memasukkan kembali camilannya kedalam mulutnya dengan wajah kesalnya.
"Pertanyaan gue cuma satu sih, sebetulnya Bian itu niat gak sih mau nikahin gue? ya gue tahu pernikahan kita ini emang bukan pernikahan yang kita pengen atau pernikahan karna dasar cinta. Tapi kan tetep aja harus ada pembahasan." Hira kembali mengoceh.
"Saat gue tanya ke Mama, tentang Abian jawabannya mungkin Bian lagi sibuk Hir, Mama aja hubungin dia juga gak diangkat. Kamu yang sabar ya, jaga kesehatan jangan sampai banyak pikiran. Maafin Bian juga, maafin Mama juga udah bikin kamu bingung. Kamu gak perlu khawatir. Masalah pernikahan udah ada yang hendel kamu tinggal terima beres." Tiru Hira saat berbicara dengan Bu Lina kemarin.
"Dan tiba - tiba lagi, Mama ngabarin lagi, kalau pernikahannya ganti konsep. Katanya nikahnya cukup akad aja, gak ada pesta atau perayaan apapun. Karna Bian yang sibuk." Ucap Hira lagi tak habis pikir. Tapi disini Mila cukup mengerti alasan dari Bu Lina itu.
"Mangkannya Mil, gue jadi curiga. Terutama ke lo." Hira menatap curiga pada Mila. "Lo beneran gak ngasih tahu Mama sama Bian kan soal trauma gue?"
"Heh? maksud lo? kenapa lo jadi tiba - tiba nuduh gue?" Mila sebetulnya terperajat. Tapi secepat mungkin dia tampik.
"Ya soalnya kemarin pas gue sakit lo yang emosi terus kekeh mau kasih tahu Abian soal trauma gue. Dan sekarang tiba - tiba juga Abian sama Mama selalu minta maaf ke gue."
"Ck, dan cuma gara - gara itu sekarang lo tuduh gue?"
"Ya siapa lagi yang bisa gue tuduh, soalnya kan emang cuma lo yang tahu tentang trauma gue."
Mila pun mendengus kesal. "Tahu gitu mending gue umumin deh tuh se RT biar semua orang tahu, kalau endingnya lo tetep aja nuduh gue sama salahin gue." Mila pura - pura merajuk.
"Ya siapa tahu."
"Ck, mending sekarang lo kalau ada apa - apa gak usah deh cerita ke gue. Dari pada rahasia lo bocor nanti. Terus semua orang tahu."
Hira mencebik.
"Dan balik lagi deh ke topik awal, coba lo pikir. Kenapa Tante Lina tiba - tiba nangis - nangis gitu ke lo kalau emang gak ngerasa bersalah? Wong namanya mantunya lagi sakit, sampai masuk rumah sakit jadi ya pasti kepikiranlah. Apa lagi anaknya tuh yang harusnya nememin malah pergi jauh gak tahu kemana. Udah mantunya sakit, hari pernikahan udah bentar lagi. Ditambah anaknya ngilang. Udah deh tuh pasti Tante Lina lagi pusing tujuh keliling." Mila beralibi.
"Tapi beda Mila. Kemarin itu beda. Bukan kayak orang yang ngerasa bersalah yang biasanya. Em, gimana ya jelasinnya? pokoknya sikap sama gesturnya Mama itu beda gitu. Kayak yang gak mau gue lebih kecewa atau lebih marah lagi gitu."
"Perasaan lo aja kali Hir,"
"Enggak Mila, beda. Ini kayak yang firasat gue berkata lain."
"Cih, gaya lo. Pakai firasat - firasat segala. Udahlah gak usah dipikirin. Palingan juga itu karna efek lo habis kambuh setelah sekian lama jadi pikiran lo jadi overthinking. Kayak ini sekarang, gue lo tuduh - tuduh. Kesel nih gue, lo tuduh gitu. Lo kira jaga rahasia itu gak butuh effort yang gede apa?"
Dan Hira pun nyengir.
"Lagian juga apa gunanya lo sembunyiin trauma lo dari orang - orang? kalau gini kan lo sendiri yang susah."
"Huft, gak tahu deh. Gue gak pengen aja dipandang lemah sama orang - orang. Terutama sama orang yang udah nyakitin gue."
"Cuma itu? cuma karna gengsi gitu?"
"Ih, kok jadi nyimpulinnya gitu sih?" Hira mendengus.
"Ya kan sama aja, takut dinilai jelek sama orang . Berarti kan ya gengsi."
"Beda case, ini masalah martabat dan harga diri yang gak mau diremehin sama diinjak - injak terutama sama yang udah bikin hati gue sakit. Bukan karna pengen dipandang wah sama orang." Jelas Hira.
"Oke, paham. Tapi kalau ke Om Rafi gimana? kenapa lo tetep gak mau cerita?"
"Udah percuma kalau sekarang mau cerita Mila." Hira sedikit menekan nama Mila. "Kalau Papa tahu malah nanti tambah bikin Papa khawatir sama pusing juga. Jadi udah ah jangan ngomongin ini lagi. Lebih baik sekarang lo bantuin gue cari psikiater yang bagus. Gue udah capek soalnya kalau harus kumat terus - terusan. Apa lagi bentar lagi gue nikah dan harus ketemu tiap hari. Gak lucu juga kalau tiap hari gue mesti mual - mual."
Mila pun menghela nafas kasarnya. "Ya nanti deh coba pindah rumah sakit kalau emang psikiater yang kemarin lo gak cocok. Atau kalau enggak, gimana kalau coba dokter RSJ?"
"Ish! lo pikir gue ini termasuk orang gila?" Hira kesal.
"Ck, disana kan emang spesialisnya tentang kejiwaan Hira, lo gimana sih?"
"Ya tapi kan gak harus juga berobat ke RSJ, di rumah sakit umum kan juga masih banyak dokter psikiatri."
"Tapi dirumah sakit biasa buktinya sampai 2 tahun lo gak sembuh."
Hira mendengus.
"Udah deh, siapa tahu lo bisa sembuh kalau berobat ke RSJ. Gue yakin dokter disana itu pasti lebih banyak pengalamannya dari pada dokter yang ada di rumah sakit biasa."
"Ck!"
"Tenang gue temenin. Sekalian nengokin Saudara seperjuangan disana." Ejek Mila.
"Ish!" Yang langsung mendapat tatapan sinis dari Hira.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Protocetus
Thor kunjungin ya novelku bola kok dalam saku
2024-08-01
1