Image Buruk Lagi?

Karena tidak tenang sejak semalam, pagi harinya Dara berkunjung kerumah orang tua Aira untuk menanyakan kabar sepupunya. Dara merasa ada yang tidak beres terjadi pada Aira. "Assalamualaikum," ujar Dara mengucap salam dan langsung nenyelonong masuk kedalam rumah besar itu tanpa menunggu dapat izin karena sebelumnya rumah ini menjadi rumah kedua baginya setelah rumah orang tuanya.

"Wa'alaikumsalam." Sahut suara dari dalam yang ternyata dari ruang makan. Terlihat orang tua Aira, Abian dan Delia sedang sarapan berdua di meja makan yang panjang dan luas itu. "Daraa...." Melihat kedatangan Dara, Delia berdiri menyambut kedatangan keponakan tersayangnya. "Ya Allah panjang umur banget nih anak, baru aja diomongin sama Om Abian. Semalam katanya mimpiin kamu sama Aira, eh nggak ada angin nggak ada hujan nongol. Kemana aja sayang?"

"Hehehe, ada Tan. Biasa dokter ini sok sibuk," sahut Dara mencium punggung tangan Delia lalu mencium kedua pipinya.

"Alhamdulillah kalau ada kesibukan."

Dara beralih menyalami Abian. "Apa kabar, Om?"

"Selama Aira belum pulang, meski Om dalam keadaan sehat, Om akan jawab tidak baik-baik saja."

Dara hanya dapat merapatkan bibirnya tak bisa berkomentar apapun karena dia tahu, Abian tidak mengizinkan Aira keluar dari rumah dan memilih merantau.

"Makan, Dar. Mau Tante ambilin apa ngambil sendiri."

"Emm, diambilin deh. Itung-itung ngerepotin Tante yang nggak repot pastinya. Hee," jawabnya tanpa sungkan. Meski dirumah sudah sarapan, Dara tetap makan demi menghargai pemilik rumah. "Dara mau soto ya, Tan. Enak nih kayaknya pagi-pagi sarapan soto."

"Ini tuh reques yang habis mimpiin anak perempuan kesayanganya. Makanya pagi-pagi minta dibiatin soto ayam."

Dara meneguk ludah, sepertinya firasatnya tidak salah jika terjadi sesuatu pada Aira, karena Abian juga merasakan hal yang sama.

"Aira apa kabarnya, Tan? Soalnya udah lama nggak kontekan sama dia. Susah banget hubungi dia kalau dia yang nggak ngehubungin dulu," ujar Dara berbohong karena semalam dia baru saja bertukar kabar dengan Aira. Dara hanya ingin tahu keadaan Aira dari orang tua Aira terlebih dahulu sebelum dia mengatakan kabar terakhir Aira saat teleponan denganya semalam.

"Tadi subuh sih Aira udah chat katanya dia baik-baik aja. Tapi ya gitu, nggak bisa dihubungi, katanya harus cari tempat tinggi dulu."

Aira diam, seingatnya semalam terakhir kali ia berkomunikasi dengan Aira jam sepuluh malam, dan dia mendengar jelas suara Aira dan suara derap langkah kaki orang lain. Jika tadi pagi Aira sudah memberi kabar, berarti Aira baik-baik saja. Tapi kenapa Aira tidak memberi tahunya? Apakah yang mengirim pesan itu Aira atau orang lain yang mencelakai Aira.

"Heran dia tuh, sebelum pergi ke luar pulau. Om sudah kasih opsi untuk pergi cari kerja di luar negeri saja, meski jauh tapi masih bisa dihubungi. Sekarang? Meski masih dalam tanah air, susah sekali dihubunginya. Bikin orang tua khawatir saja."

Melihat wajah khawatir Abian, Dara jadi tidak bisa mengatakan apa yang didengarnya samalam pada Abian, takut laki-laki semakin khawatir saja.

"Biarin, Om. Dia kepelosok mau nyari bestie baru gantiin Dara katanya. Bestie yang disana setia, nggak ngabisin duit, nggak minta jajan terus. Nggak kayak Dara yang sering minta traktir mie goxooan, kalo bestie dia yang baru paling minta pisang doank. Hehehe," cerocos Dara dengan candaan.

Abiam dan Delia ikut tertawa merasa terhibur dengan kedatangan Aira.

Setelah dari rumah Abian dan Delia, Aira langsung kerumah sakit. Seperti biasa, meski kepalanya sedang penuh karena memikirkan Aira, Dara tetap bekerja semangat empat lima. Memuaskan dan menyenangkan pasien atas pelayanannya adalah tujuan utamanya menjadi seorang dokter selain bertujuan menyembuhkan pasien.

"Ini obat batuknya diminum tiga kali sehari setelah makan, radangnya dua kali sehari, dan antibiotiknya dua kali sehari saja. Vitaminya satu kali sehari," ucap Dara memberikan resep obatnya.

Setelah pasiennya keluar, pintu ruangan Dara terbuka lagi.

"Ya, silahkan," ujar Dara mempersilahkan tanpa melihat lagi siapa yang datang, padahal perawatnya sudah mengatakan jika yang sebelumnya adalah pasien terakhir.

Karena pasien itu hanya diam didepan pintu, Darapun mengangkat kepalanya.

"Lah dia, bukanya bilang kek malah diem kayak patung," cetus Dara setelah tahu itu Emilio, kemudian bergumam. "Udah lama nggak kelihatan kirain udah dipecat sama Zyan karena sering jahatin aku."

"Pak Zyan meminta dokter keruanganya. Ada yang ingin beliau bahas," ucap Zyan datar tanpa membalas ocehan Dara.

Dara memonyongkan bibirnya mendengar Emilio bicara begitu sopan padanya, tumben. Sebelum beranjak, Dara merapikan data-datanya terlebih dahulu, kemudian ia melanjutkan dengan menambahkan riasan wajahnya. "Wait ya, aku touch up make-up dulu." Dara menambahkan bedak dan lipstiknya, sebelum bertemu sang mantan yang sepertinya sedang menarik ulur perasaanya, dan Dara harus terlihat on point didepan. Zyan. "Harus banget ya ditungguin? Aku pasti kesana kok, nggak bakalan nyasar." Dara melirik kearah Emilio yang sejak tadi hanya diam, tidak cerewet mengomentarinya seperti biasa.

Karena Emilio hanya diam, Dara kembali bicara. "Kenapa menggilnya ggak via telepon aja? Kan nggak harus capek-capek turun?" Emilio tetap hanya menjulingkan bola matanya keatas sebagai reaksinya tanpa ingin menggerakkan bibirnya.

Dara yang selesai dengan urusan make-upnya pun berjalan kearah Emilio, memperhatikan wajah laki-laki itu dengan sangat intens, lagi-lagi Emilio hanya diam saja yang membuat Dara semakin yakin dengan penilaianya. "Bapak habis operasi palstik di klinik baru itu ya?" mendengar itu Emilio mendelik, bisa-bisanya dia dibilang habis operasi palstik, tapi dia yang habis cabut gigi itu malas untuk menaggapi ucapan Dara, tapi wanita yang berpofesi sebagai dokter itu masih terus mengomentarinya.

"Ih, kayaknya operasinya gagal deh, masak nggak ada perubahan sama sekali, mau-mau aja dijadiin tikus percobaan, tapi tenang, kalau ada apa-apa saya bisa bantu melaporkan sebagai malpraktek." Melihat Emilio menarik nafas panjang dengan mata tajam elangnya Dara langsung kabur menuju lift, tapi Emilio yang memiliki kaki panjang mampu menyusul dan berdiri dibelakangnya kemudian menekankan tombol menuju ruangan Zyan.

Setelah sama-sama saling diam beberapa menit, Dara tak kuat untuk tak mengomentari Emilio yang berada bersamanya di kotak kecil bergerak itu. "Boleh nggak sih aku curiga sama kamu? Kamu ngawal gini emang karena disuruh pak Zyan kan? Bukan karena kamu nyuri-nyuri kesempatan biar bisa berduaan sama aku?" Emilio yang sejak tadi kesabaranya terus diuji oleh Dara itu sepertinya mulai terpancing, lihatlah kini radangnya mengeras karena tak mampu membalas ledakan Dara padanya, beruntungnya pintu lift cepat terbuka hingga Dara bisa lepas dari Emilio yang mulai tumbuh tanduknya.

"Asisten kamu ngeri ih. Kamu jang-" Dara yang tidak sopan langsung masuk ruangan Zyan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu membungkam bibirnya saat menyadari jik di sana Zyan tidak hanya sendiri.

Terpopuler

Comments

Rachmawati 8281

Rachmawati 8281

akuh juga hadi khawatir ma Aira nih, semoga anak gadis Papa Bian ga apa-apa ...
ada apakah Dara Chantiq dipanggil pak Zyan ...
lanjoot kak

2024-03-17

1

lilyswit

lilyswit

eng ing eng...sapa ya? apa camernya Dara?

2024-03-17

0

lilyswit

lilyswit

astaga Dara...bener2 menguji imron🤣🤣🤣

2024-03-17

0

lihat semua
Episodes
1 Bendera Perang
2 Pengganggu
3 Menjadi Alien
4 Malam Mingguan
5 Direstui Calon Mertua
6 Calon Mertu Tantrum
7 Posesif Dokter
8 Sakit Dikit, Nggak Ngaruh
9 Boleh Minta Reward?
10 Hati Panas Terbakar
11 Salting Brutal
12 Tidak Yakin
13 Flash Sale Girl.
14 Perhatian Versi Zyan
15 Image Buruk Lagi?
16 Sunshine, Sunligh, Suuay
17 Pacaran Ngapain Aja?
18 Gimana?
19 Sah
20 Di Roasting Camer
21 Kencan Gagal
22 Gagal Lagi?
23 Menyalurkan Nafsu
24 Cemburu
25 Nekat
26 Mendung Tanpo Udan
27 Rencana Berlibur
28 Akting
29 Kejutan
30 Boleh Minta Anak Dari Aku
31 Syarat Biar Gak Ngambek
32 Ngedate Ala Pasangan Bucin
33 Cemburu Akut
34 Fitnah
35 Kamu Jahat Zyan
36 Tidak Boleh Kalah
37 Curhatan Hati Para Anak
38 Terima Kasih, Pi.
39 Jangan Lakuin Ini Lagi, Aku Aja
40 Adu Mekanik, Siapa Takut?
41 Kado Untuk Papi
42 Umur Dewasa, Kelakuan Anak Kecil
43 Resiko Punya Pacar Cantik
44 Rencana Merayu
45 Impas
46 Boleh Kan?
47 Hati Daniel Sebenarnya
48 Hanya Masalah Sepele
49 Terlalu Naif
50 Menyesal
51 Melapas Masa Lajang
52 Pancingan
53 Support Sistem
54 Menjadi Dingin
55 The Fourth Day
56 Tilang
57 Kucing Garong
58 Sosok Makhluk Asing
59 Danish Danuarta
60 Tempe Orek Dan Tempe Goreng
61 Penasaran
62 Garis Dua
63 SOS (Sedih Orang Senang)
64 Jantung Pisang
65 Racun Pak Gundul
66 Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
67 Nyaris Sempurna
68 Si Kanebo Kering
69 Bruno Yang Baik Hati
70 Geregetan
71 Kepergok
72 Sebuah Kenyataan
73 Merasa Kehilangan
74 Museum Date
Episodes

Updated 74 Episodes

1
Bendera Perang
2
Pengganggu
3
Menjadi Alien
4
Malam Mingguan
5
Direstui Calon Mertua
6
Calon Mertu Tantrum
7
Posesif Dokter
8
Sakit Dikit, Nggak Ngaruh
9
Boleh Minta Reward?
10
Hati Panas Terbakar
11
Salting Brutal
12
Tidak Yakin
13
Flash Sale Girl.
14
Perhatian Versi Zyan
15
Image Buruk Lagi?
16
Sunshine, Sunligh, Suuay
17
Pacaran Ngapain Aja?
18
Gimana?
19
Sah
20
Di Roasting Camer
21
Kencan Gagal
22
Gagal Lagi?
23
Menyalurkan Nafsu
24
Cemburu
25
Nekat
26
Mendung Tanpo Udan
27
Rencana Berlibur
28
Akting
29
Kejutan
30
Boleh Minta Anak Dari Aku
31
Syarat Biar Gak Ngambek
32
Ngedate Ala Pasangan Bucin
33
Cemburu Akut
34
Fitnah
35
Kamu Jahat Zyan
36
Tidak Boleh Kalah
37
Curhatan Hati Para Anak
38
Terima Kasih, Pi.
39
Jangan Lakuin Ini Lagi, Aku Aja
40
Adu Mekanik, Siapa Takut?
41
Kado Untuk Papi
42
Umur Dewasa, Kelakuan Anak Kecil
43
Resiko Punya Pacar Cantik
44
Rencana Merayu
45
Impas
46
Boleh Kan?
47
Hati Daniel Sebenarnya
48
Hanya Masalah Sepele
49
Terlalu Naif
50
Menyesal
51
Melapas Masa Lajang
52
Pancingan
53
Support Sistem
54
Menjadi Dingin
55
The Fourth Day
56
Tilang
57
Kucing Garong
58
Sosok Makhluk Asing
59
Danish Danuarta
60
Tempe Orek Dan Tempe Goreng
61
Penasaran
62
Garis Dua
63
SOS (Sedih Orang Senang)
64
Jantung Pisang
65
Racun Pak Gundul
66
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
67
Nyaris Sempurna
68
Si Kanebo Kering
69
Bruno Yang Baik Hati
70
Geregetan
71
Kepergok
72
Sebuah Kenyataan
73
Merasa Kehilangan
74
Museum Date

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!