Dara baru saja tiba dirumah sakit dan memakirkan mobilnya di parkiran khusus. Disaat yang bersamaan Kiara juga baru tiba tepat disamping Dara. Tidak saling menyapa juga berinteraksi, tapi tatapan keduanya menyiratkan permusuhan dan persaingan.
Sudah dua minggu berlalu semenjak kejadian itu, Dara belum bertemu lagi dengan Zyan sama sekali. Dara yang sibuk di bangsal UGD dan ranap yang memang sedang banyak pasien, Zyan yang sibuk membuat bangunan baru untuk klinik kecantikan milik Kiara.
Meski waktu itu bisa membuat Kiara kesal, tapi tetap saja Dara belum bisa menjauhkan Kiara dari Zyan. Sulit juga sih, keduanya memiliki kerja sama yang mengharuskan mereka sering bertemu. Seperti sekarang contohnya, Dara melihat keduanya sedang berduaan memantau proyek mereka.
"Pak Zyan kelihatan cocok ya Dok sama perempuan itu?" celetuk dokter Malik disebelah Dara membuyarkan lamunan wanita itu dan membuat Dara memutar kepalanya dari yang memperhatikan Zyan dan Kiara ke dokter Malik.
"Cocok dalam hal?" tanya Dara dengan dahi mengernyit tidak suka mendengarnya.
"Patner in life, and patner in bussines," sahut dokter Malik memberikan pendapatnya. "Pak Zyan tampan, dan perempuan itu juga sangat cantik, mereka sama-sama pebisnis sukses diusia muda. Dari awal melihat mereka saya ngeshipperin mereka, sama anak-anak yang lain juga."
Ucapan dokter Malik itu berhasil membuat darah Dara mendidih. "Wajarlah cantik, kan dia dokter kecantikan," celetuk Dara memperlihatkan dia begitu iri. "Harus dipertanyakan sekali kredibel dia dalam ilmu kecantikanya kalau dia nggak cantik." Lanjutnya semakin menunjukkan ketidak sukaanya pada Kiara.
Dokter Malik hanya tertawa kecil, dia tahu Dara cemburu meski tidak secara gamblang menunjukkanya. Tapi gadis itu malah menunjukkan dengan cara lain yaitu berdiri menghadap dokter Malik.
"Look at me, Dok!" Perintahnya yang langsung di turuti oleh Dokter Malik. "Menurut Dokter sebagai laki-laki nih ya, cantik dan seksian mana saya dengan cewek itu?" tanyanya pada Dokter Malik dengan telunjuk mengarah pada Kiara. "Tapi harus review jujur, jangan karena di depan saya, Dokter bilang cantikan saya. No dusta-dusta," tegasnya mewanti-wanti.
"Puffttt." Dokter Malik menahan tawa, di detik berikutnya mata dokter malik mengamati Dara dari atas hingga bawah memberi penilaianya. "Emmm." Dokter Malik berpikir dengan mengetuk-ngetukkan jemarinya diatas meja, kemudian beralih menatap Kiara dan Dara bergantian. "Harus jujur ya?" tanya dokter Malik sebelum memberi penilaianya.
"Harus." Tegas Dara tak sabar menunggu penilaian yang akan diberikan dokter Malik.
"Untuk cantik sih cantikan Dokter Dara, tapi-"
"Tapi apa?" potong Dara melotot tidak suka padahal dokter Malik belum selesai memberikan tanggapanya.
"Untuk seksi, seksian perempuan itu," jawab dokter Malik melanjutkan jawabanya yang tadi sempat di potong Dara. "Dan ... Montok." Lanjutnya lagi membuat Dara mengatupkan bibirnya.
Dara kembali duduk, mengerucutkan bibirnya. "Sebenarnya saya juga seksi tau, gara-gara pak Zyan bikin peraturan nyuruh pakai celana panjang, keseksian saya jadi tertutup."
Dokter Malik tertawa kecil, tanganya mengusak rambut Dara. "Sabarrr, sabarrr."
* * *
Masih dengan suasa hati panas, saat akan menuju ruang rawat inap yang ada dilantai dua, Dara malah bertemu dengan Zyan dan Kiara di lift yang akan menuju lantai tiga.
Melihat itu, hati Dara makin panas. Ingin jual mahal, tapi takut Kiara malah makin lengket pada Zyan dan memanasinya. Jadilah Dara yang tadinya berdiri di depan Zyan mundur dengan mindik-mindik dan berdiri di samping Zyan.
"Sorry," bisiknya pada Zyan. Zyan menunduk, dan disaat yang bersamaan Dara mendongakkan kepala untuk dapat melihat wajah laki-laki itu. "Kamu marah?"
"Sorry for what? And angry for what?" Zyan menaikkan alisnya.
Dara melirik untuk melihat ekpresi wajah Kiara. Terlihat wajah Kiara yang memanas. Dara semakin memepetkan tubuhnya pada Zyan. "Maaf yang waktu itu. Kalau kamu mau balas juga nggak papa. Hikhikhikk."
"Emm, yang mana ya?"
Dara mengerucutkan bibirnya, sayangnya pintu lift terbuka, dan dengan terpaksa Dara harus menyeret langkahnya keluar meninggalkan Zyan berduaan lagi bersama Kiara.
"Dia siapa?" tanya Kiara pada Zyan ketika pintu lift sudah tertutup.
"Dara," jawab Zyan.
"Iya, maksud aku dia siapanya kamu? Pacar? Teman? Mantan?" tanya Kiara. Zyan tidak menjawab, ada jawaban pasti didalam pikiranya, tapi bukan mantan juga. "Tapi waktu itu aku lihat dia duduk dipangkuan kamu." lanjut Kiara yang tadinya ingin bilang sedang bermesraan, tapi hatinya sendiri tidak sanggup mengatakanya.
"Hem, itu hanya kecelakaan kecil yang tidak di sengaja," jawab Zyan tanpa menoleh pada Kiara.
Kiara menunduk, menyembunyikan senyum samar dibibirnya mendengar jawaban Zyan.
* * *
Pembangunan Klinik kecantikan milik Kiara telah selesai, hari ini Kiara melakukan Grand Opening dengan mengundang beberapa selegram dan dua pasangan artis muda yang sedang naik daun untuk mempromosikan kliniknya itu, juga sekalian mempromosikan Tiara Medika.
Setelah Grand Opening selesai, Kiara mengajak makan untuk para jajaran penting Tiara Medika. Dara tidak diajak, tapi berita itu sampai ketelinganya.
"Huh, aku harus cepat-cepat naik jabatan kalo kayak gini ceritanya," gumamnya merasa panas sendiri membayangkan Kiara bisa memandang wajah Zyan sepuasnya tanpa diganggu dirinya.
.
.
.
.
Sedikit dulu ya, sekarang aku jadi kuli.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
lilyswit
makasih dab up thor yg penting lancar
2024-03-11
0
L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦
Terima kasih mba Isma
2024-03-11
1
L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦
Ayo Dara jgn kalah dgn Kiara
Deketin terus Zyan 😊
2024-03-11
1