"Cari siapa, Mbak?" tanya seorang penjaga rumah Zyan pada Dara.
"Zyan-nya ada, Pak?" jawab Dara dengan sebuah pertanyaan. "Saya pacarnya," jawab Dara kemudian mengaku sebagai pacarnya Zyan agar ia diizinkan masuk. Waktu kecil Dara pernah ikut menemani papinya kerumah Zyan untuk urusan pekerjaan, dan Dara tahu penjagaanya cukup ketat, penjaga rumah Zyan juga pasti tidak akan mengenalinya karena dulu Dara masih samgat kecil. Meski yang terlihat didepan hanya seorang satpam, tapi dirumah itu seperti memiliki seorang Intel yang Dara tidak tahu bersembunyi dimana.
Penjaga bernama Umar itu memperhatikan penampilan Dara dari atas hingga bawah. Dilihat dari pakaian yang dikenakan Dara semua yang bermerek, dan wajah Dara yang cantik, satpam itu percaya, ditambah. "Saya mau ngembaliin celana Zyan yang ketinggalan waktu kami nginep di hotel kemarin." Terang Dara melihat keraguan di wajah Pak Umar sambil menunjukkan celana milik Zyan membuat Pak Umar semakin percaya.
"Mari saya antar," balas Pak Umar membukakan pintu gerbang untuk Dara dan mengantar Dara sampai depan pintu.
Pak Umar masuk lebih dulu untuk memberitahu tuan rumah. "Miss, ada pacarnya Tuan Zyan di depan," ujar pak Umar pada Marsha, ibu Zyan.
Marsha mengernyitkan kening, lalu beranjak untuk melihat siapa pacar anaknya itu.
"Who-are-you?" tanya Marsha bernada sedikit ketus begitu berhadapan dengan Dara.
"Selamat malam Mommy," sapa Dara ramah pada wanita yang sudah ia klaim jadi calon mertuanya. "I'm Dara Danuarta." Ia memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan.
"Siapanya Daniel Danuarta?" Marsha menaikan alisnya. Pede sekali gadis ini pikirnya sudah memanggilnya mommy saja padahal baru pacaran dengan putranya. "Saya punya kolega bermarga Danuarta."
Dara membulatkan mata heboh. "Itu papi saya, Mom."
"What? Seriusly?" Marsha membulat matanya tak kalah heboh dari Dara. "Masuk, masuk, jangan sampai papi kamu marah karena anaknya masuk angin kelamaan menunggu di luar." Dara tersenyum senang ketika tangan Marsha menggandeng tanganya akrab untuk masuk. Kalian percaya privilage itu sangat menguntungkan? Ini buktinya, hanya karena Dara putri seoarang Daniel Danuarta, Marsha yang tadi berwajah ketus jadi berubah 180 derajat. "Pantas wajah kamu kelihatan nggak asing." Bukan diajak duduk di ruang tamu lagi, tapi Dara langsung di bawa ke ruang keluarga oleh Marsha. "Sayang, lihat siapa yang datang?" Seru Marsha pada suaminya.
Zidan yang sedang duduk di sofa memutar lehernya kebelakang. "Dia anaknya Mr. Daniel, pacar anak kita, namanya Dara."
"Malam, Dad." Sapa Dara juga memanggil Zidan 'Daddy' dengan tidak canggungnya.
"Malam Dara. Yang dulu waktu masih kecil suka ikut Pak Daniel kunjungan bisnis kan?"
"Hehehe, Daddy masih ingat aja."
"Kamu tunggu di sini, cantik. Ngobrol sama Daddy, Mommy mau panggil Zyan dulu," ujar Marsha berlalu ke kamar putranya yang ada dilantai dua.
"Zyan, qiuw, qiuw." Marsha menyelonong masuk kamar Zyan yang terbuka.
"Ada apa, Mom?" tanya Zyan menurunkan buku dari hadapanya.
"Kamu diapelin pacar kamu tuh." Marsha duduk di sebelah Zyan mencolek dagu putranya menggoda. "Cieee yang udah punya pacar."
Zyan mengernyitkan kening, pacar? Siapa?
"Udah jangan kelamaan mikir, nanti pacar kamu ngambek kelamaan nunggu." Setelah mengatakan itu Marsha berlalu keluar.
Sepeninggal ibunya, Zyan tidak langsung turun. Otaknya masih memikirkan siapa pacarnya yang disebutkan mommy-nya. Namun otak cerdasnya langsung tertuju pada satu wanita yang Zyan perkirakan berani melakukan hal g8la ini. Siapa lagi kalau bukan Dara? Tapi apa gadis itu senekat ini sampai mengaku sebagai pacarnya? Zyan benar-benar tidak habis pikir. Tidak ingin berasumsi terlalu lama Zyan memutuskan untuk menemui gadis itu. Baru saja Zyan menginjakkan kakinya dianak kedua, Zyan menghentikan langkahnya mendengar suara tawa Mommy-nya dan Dara.
Meski sudah menduga jika wanita itu adalah Dara, tetapi tetap saja Zyan terkejut dengan keberadaan gadis itu benar-benar datang dan mengaku sebagai pacarnya.
"Hai sayang."
Siapa yang memanggil seperti itu? Marsha? No, dia Dara. Wanita itu tersenyum geli melihat ekpresi terkejut Zyan yang terlihat begitu lucu. "Maaf ya aku datang nggak ngabarin kamu dulu. Mau balikin celana kamu yang kemarin ketinggalan."
Wajah Zyan menegang mendengar alasan Dara menemuinya. Bola mata Zyan melirik orang tuanya yang terlihat sama dengannya.
"Hihihi, kemarin aku nggak sengaja numpahin kopi di celana Zyan, Mom. Jadi aku bertanggung jawab nyuci celana Zyan."
Marsha dan Zidan kompak menghembuskan nafas lega. "Kenapa kamu yang nyuci? Kan bisa di laundry. Nanti tangan kamu kasar nyuci sendiri."
"Kalo yang ini spesial, Mom. Simulasi jadi istri solehah." Dalih Dara sambil melirik Zyan ingin tahu ekpresi cowok dingin itu.
"Ya ampun. Mommy seneng deh punya calon mantu kayak kamu," Marsha mengusap pundak Dara. "Sayang, aku lupa deh belum minum obat. Bantu cariin obat aku dulu yuk, aku lupa naroknya dimana." Marsha sengaja memberikan waktu Zyan dan Dara untuk berduaan.
"Mommy ke kamar dulu ya sayang." Pamitnya pada Dara, lalu menggandeng suaminya. "Jangan lupa nanti anterin Dara pulang." Bisiknya pada sang putra.
Tiba dikamar, Marsha menghubungi Daniel. "Hallo Mr Daniel."
"Iya, Miss. Ada apa ya?" tanya Daniel karena merasa saat ini tidak memiliki agenda apa-apa pada pebisnis itu.
"Sepertinya anak kita memiliki hubungan spesial. Aku harap Anda merestui hubungan mereka, jadi kalau nanti anak saya terlambat mengantarn putri Anda pulang. Tolong jangan dimarahi. Saya sebagai ibunya akan bertanggung jawab atas keselamatan putri Anda." Tanpa menunggu tanggapan apapun pada Daniel, Marsha langsung mengakhiri panggilanya.
Sementara di luar. Zyan melayangkan tatapan tajam pada Dara.
"Hai, Pak Zyan. Suka nggak sama cara saya balikin celana Bapak?" Dara mencoba mencairkan suasana panas yang dibuatnya. "Kayaknya cuma saya yang bisa kasih surprise begini."
"Pulang sekarang!"
"Kok langsung di usir sih?"
"Kamu kesini buat balikin celana kan? Sekarang mau apalagi?"
"Tapi dianterin kan?" Dara mengerjap-ngerjapkan matanya merayu. "Ingat loh, kata-"
"Cepat," potong Zyan sambil menjangkau kunci mobil yang ada di buffet kecil di dekatnya berdiri. Dara mengulum senyum, meski wajah Zyan datar dan terlihat sangat terpaksa setidaknya cowok itu mau mengantarnya pulang.
Yes, misi berhasil meski dengan modus kolom seperti ini.
Tiba didalam mobil Zyan, Dara tak henti menatap wajah tampan Zyan.
"Turun dari mobil ku sekarang kalau nggak mau lihat kedepan." Ancam Zyan merasa risiko terus ditatap oleh Dara.
"Iya, iya, resiko sih punya wajah ganteng. Cewek mana yang mau nyia-nyiain kesempatan emas begini?" Dara beralih pada audio mobil Zyan. "Boleh nyalain musik nggak, sepi nggak ada yang bisa diajak ngobrol."
"Jangan nggak tahu diri," larang Zyan. "Udah dianterin pulang malah ngelunjak."
"Pelit banget."
"Kamu modus banget nggak bawa mobil sendiri. NGEREPOTIN."
"Bapak juga nganggur, daripada nggak ada kerjaan masih bagus ada kegiatan walau cuma nganter aku. Malam minggu tuh harus keluar, jangan kelihatan banget sih jomblo ngenesnya, mangga di sekep mateng, lah orang? Yang ada bulukan."
"Siapa yang jomblo? Malam minggu nggak keluar bukan berarti nggak punya pacar."
"Buktinya Mommy kamu seneng aja aku ngaku pacar kamu, bukan protes, itu tandanya emang kamu nggak punya pacar, kalau emang punya pacar Mommy pasti bilang." Selain modus mau bertemu Zyan, tujuan lain Dara kerumah itu juga ingin mengetahui apakah Zyan punya kekasih atau tidak? Sehingga laki-laki itu sangat cuek padanya. "Kenapa berhenti?" tanya Dara ketika Zyan menghentikan mobilnya.
"Tunggu di sini," titah Zyan tanpa menjelaskan apa-apa pada Dara. Darapun menurut, menatap Zyan yang menghampiri gerobak tukang martabak. Beberapa menit kemudian Zyan kembali dengan menenteng kantong plastik berisi dua kotak martabak.
"Ya ampun, romantis banget tanda jadianya ditraktir martabak. Sederhana tapi ngena, aku meleleh log," gumam Dara mengalihkan wajahnya ke luar jendela. Menghindari salah tingkahnya sendiri.
"Jangan lakuin ini lagi, tiba-tiba datang kerumah orang ngaku pacarnya lagi. Seneng banget bikin orang lain jantungan."
Dara memutar kepalanya menatap Zyan. "Jadi nggak usah klasifikasi nih sama Mommy kamu kalau kita ini sebenernya nggak pacaran? Apa kamu sendiri seneng aku ngelakuin yang tadi?" Dara menaik turunkan alisnya.
"Itu jadi urusan ku," jawab Zyan tak ingin melibatkan Dara, karena jika melibatkan gadis itu yang ada jadi berantakan.
Sementara Dara tak tahu apa yang akan laki-laki itu lakukan nanti.
Dara mengerucutkan bibirnya, meluruskan pandangan kedepan. "Kenapa sih harus pura-pura nggak kenal gitu? Padahal biasa aja kali kalau emang nggak suka lagi," ujar Dara mendadak bicara serius. "Apa kamu takut jatuh cinta lagi? Iya? Kamu takut kalau sampai jatuh cinta lagi sama aku?"
Zyan diam.
"Emangnya kenapa sih kalau kamu jatuh cinta lagi sama aku? Nggak masalah kan? Aku nggak gigit manusia, lagipula kisah yang dulu kurang manis bisa diperbaiki sekarang. Yang pasti aku tuh nggak bisa kalau kenal sama orang tapi harus bersikap kayak nggak kenal. Kecuali kalau udah jadi musuh sekalian." Dara menatap Zyan yang sejak tadi tidak menaggapi ocehanya. "Huftt, capek deh ngomong sama patung mummi."
Ketika mobil Zyan sudah berhenti di depan pagar rumah Dara, Zyan melihat disana sudah ada Daniel menunggu kadatangan mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
winter taevee
seru banget
2024-04-07
0
Winarsih
panggilan mu mbyakkk 🤣🤣
2024-03-21
0
Rachmawati 8281
sebenarnya Zayn tuh masih suka, cuma kaya balas dendam gitu ma Dara biar Dara tuh ngerasain gmana rasanya ngejar" kaya dia dulu ...
lanjoot kak
2024-03-06
0