Calon Mertu Tantrum

"Papi kok ada disini?" tanya Dara menggigit bagian dalam bibirnya karena gugup atas keberadaan papinya yang tak ia sangka akan menunggu di luar pagar.

"Masuk!" Titah Daniel dengan tegas.

"Ja-"

"Masuk Dara!" sentak Daniel ketika Dara ingin membantahnya. Tak berani membantah, karena jika papinya sudah memanggil nama itu berarti Daniel sedang sangat marah. Dara pun menurut tanpa berani menoleh kebelakang.

Tapi begitu didepan pintu, gadis itu tak lantas masuk, ia melihat dari jauh apa yang akan dilakukan papinya pada Zyan. Dara takut sekali jika papinya marah dan memukul laki-laki itu karena Zyan tidak bersalah sama sekali.

"Kamu kenapa nggak masuk sayang?" tegur Denisa pada putrinya itu.

"Aku takut Papi marahin Zyan, Mi."

"Zyan siapa?" tanya Denisa pura-pura tidak tahu. "Kamu bohong sama Papi?" tanyanya karena Dara tidak menjawab pertanyaanya.

"Bukan bohong, Mi. Tapi aku memang ada perlu saja. Dan Zyan cuma nganter Dara pulang."

Denisa melipat tangan di perut, lalu menyipitkan matanya untuk mencari kejujuran dari putrinya. "Mami tanya sekali lagi, sebenarnya Zyan itu siapa? Kenapa kamu takut papi marahin dia?"

"Dia atasan Dara dirumah sakit," akunya berbeda dengan pengakuan pada keluarga Zyan.

"Atasan sekaligus pacar gitu?" selidik Denisa.

Dara melambaikan tanganya. "Bukan, Mi. Beneran cuma atasan doang."

Denisa menghela nafas. "Yang benar yang mana? Tadi miss Marsha nelepon papi bilang kalau kamu sama anaknya pacaran."

Mata Dara membola seperti ingin loncat dari tempatnya. "Apa? Mommy-nya Zyan nelepon papi?"

"Kamu lupa kalau papi sama mamanya Zyan kenal lama? Jadi kamu nggak bisa bohongi papi."

Dara mengerucutkan bibirnya. "Terus Data harus gimana, Mi? Dara cuma ngaku-ngaku aja pacaran sama Zyan biar diizinin masuk."

"Jadi kamu juga bohong sama Mommy-nya Zyan?"

Dara mengangguk lemah.

"Jadi ini bukan salah Zyan, ini salah Dara."

"Nanti kamu jelasin sendiri sama Papi, yang pasti Papi nggak suka di bohongi. Kamu masuk sekarang daripada nanti Papi tambah marah sama kamu."

Dara menoleh sekali lagi pada Zyan dan papinya sebelum masuk kedalam kamarnya dengan langkah gontai.

"Selamat malam, Om. Maaf saya terlambat mengantarkan Dara pulang," ucap Zyan meminta maaf meski ini bukan salahnya dan tak memiliki kewajiban mengantar gadis itu pulang. Dan ini lebih cepat dari jam yang diberikan Daniel pada putrinya.

"Kamu memacari putri ku?" tanya Daniel. Belum sempat Zyan menjawab Daniel sudah bicara lagin. "Kalau memang iya seharusnya kamu bersikap gentle dengan menjemput dia dan izin pada saya terlebih dahulu. Bukan membuatnya menemui kamu kerumah. Dan kamu seharusnya lebih peka kalau malam minggu gadis pengen diapelin."

"Maaf, Om," ujar Zyan meminta maaf sekali lagi yang mana ini bukan kesalahanya. Meski dia memiliki banyak alibi untuk membela diri salah satunya jika dia dan Dara tidak berpacaran seperti yang gadis itu katakan pada keluarganya, juga tidak meminta gadis itu mendatanginya. "Saya pastikan hal ini tidak akan terulang lagi." Zyan membungkukkan badanya. Kemudian memberikan martabak yang sempat dibelinya tadi.

Daniel mengangkat alisnya sebelah. "Kamu mau nyogok saya dengan dua kotak martabak?" Tuduhnya. "Jangakan martabak, penjual se-ibu kota ini juga saya mampu beli," ujarnya menyombongkan diri pada Zyan kalau dia bukanlah pebisnis kaleng-kaleng.

Zyan menurunkan lagi tanganya. "Yasudah, kalau begitu saya pamit, Om." Zyan membalikkan badan menuju mobilnya.

"Kasihan sekali putri kesayangan ku dapat pacar borok sikut," sindir Daniel karena Zyan membawa lagi martabaknya. Zyan yang mendengar pun menghentikan langkahnya dan berbalik. "Udah, udah." Daniel mengusir dengan menggerakkan tanganya. "Bawa lagi sana, nggak peka banget. Udah nggak enak juga rasanya." Daniel pun masuk kedalam rumah meninggalkan Zyan yang diam mematung menghadapi laki-laki tua tantrum.

"Pak, ini buat teman ngopi Bapak." Zyan memberikan pada satpam penjaga perumahan Dara.

* * *

Daniel lagsung menuju kamar putrinya setelah menginterogasi Zyan.

"Buka Dara, Papi mau bicara sama kamu." Seru Daniel setelah mengetuk kamar putrinya.

Begitu pintu di buka, Daniel menyelonong masuk dan duduk di tepi tempat tidur. "Duduk sini, Papi mau bicara sama kamu." Dengan wajah ditekuk, Dara menghenyakkan bokong di sebelah papinya.

"Sampai kapan kamu mau seperti ini? Huh?"

Dara diam, menundukan kepalanya.

Melihat itu, emosi Daniel yang tadi sempat naik sampai ke ubun-ubun karena telah di bohongi putri semata wayangnya berubah langsung turun dan mendingin. "Dara, mungkin kamu akan menganggap Papi orang tua yang egois. Tapi kamu harus tau ketakutan apa yang Papi rasakan saat anak gadisnya jauh dari pengawasanya," ujar Daniel bicara begitu lembut. "Di usia Papi yang sudah setua ini, sudah banyak yang Papi dan Mami kamu alami. Dan kami takut terjadi apa-apa sama kamu, takut kamu salah pergaulan, takut kamu dapat pasangan yang tidak baik, takut kamu akan terluka. Dan banyak ketakutan Papi lainnya. Makanya kenapa Papi harus tau siapa yang jadi pacar kamu, dimana rumahnya, siapa orangtuanya."

Sebagai mantan playboy yang berpengalaman, Daniel menyadari kesalahanya di masa muda. Meski sekarang hidupnya jauh lebih baik dan mampu memperbaiki kehancuran atas perbuatanya sendiri. Daniel tentu tidak ingin hal itu menimpa anak-anaknya, terutama Dara.

"Papi sadar Papi bukan manusia yang suci yang tidak pernah melakukan kesalahan. Bahkan Papi jauh lebih buruk yang kalian tahu. Tapi Papi dan Mami berusaha menjadi rolemodel untuk anak-anaknya. Maka dari itu Papi berharap kita bisa kerja sama saling menjaga kepercayaan, Sayang. Karena hal paling menyakitkan setelah jadi orang tua adalah ketika orang tua dan anak tidak memiliki hubungan dan komunikasi yang baik."

Dara mengangkat dagunya untuk melihat wajah sang Papi. Disana Dara melihat mata Daniel yang berkaca-kaca dan penuh kekhawatiran. Untuk pertama kalinya bagi Dara Daniel menunjukkan kelemahan didepanya. Dara jadi penasaran bagaimana masa lalu kedua orangtuanya dan bagaimana cara mereka bertemu.

"Maaf, Pi. Dara sudah buat Papi khawatir."Dara melingkarkan tanganya diperut Daniel dan menyandarkan kepalanya di bahu kekar sang Papi yang selalu menjadi sandaran ternyamanya. "Tapi Pi, Zyan itu sebenarnya bukan pacar Dara." Dara akhirnya mengakui pada Daniel jika Zyan bukanlah pacarnya.

"Hah, gimana ceritanya?" Daniel menunduk untuk melihat wajah putrinya.

"Hehehe," Dara hanya mesem-mesem, malu mengakui jika dia yang menghampiri laki-laki itu duluan.

Daniel yang paham mengusap rambut Dara penuh kasih sayang. "Nggak papa, cinta itu memang harus di kejar. Tapi jangan terlalu ugal-ugalan, Sayang. Harus tahu batasanya, Papi kenal dengan orang tua Zyan, tarik ulur sampai dia benar-benar luluh sama kamu."

Pernah dilarang tapi tetap melakukan hubungan diam-diam, Daniel memberikan dukungan dan lampu hijau pada Dara, bukan melarangnya.

"Papi tadi marahin Zyan?" Dara menjauhkan tubuhnya menatap sang papi.

"Tapi dia diem aja tuh Papi marahin. Kayaknya dia juga suka sama kamu."

"Ihhh Papi jangan buat aku geer." Wajah Dara memerah.

"Hahahaha." Daniel tertawa lucu sekali berhasil membuat Dara tersipu dan tahu rahasia sang anak.

Di luar, Denisa mengusap pipinya yang basah karena merasa terharu melihat kedekatan anak dan ayah itu.

Terpopuler

Comments

MACA

MACA

kayaknya si zyan juga ikutan main layangan deh😂😂

2024-03-07

0

MACA

MACA

eh..apa2an ini...malah si papi ngajak anaknya main layangan😂😂

2024-03-07

0

MACA

MACA

iya...kagian zyan bawanya martabak...bawa tuh gerobak martabaknya😂😂😂

2024-03-07

0

lihat semua
Episodes
1 Bendera Perang
2 Pengganggu
3 Menjadi Alien
4 Malam Mingguan
5 Direstui Calon Mertua
6 Calon Mertu Tantrum
7 Posesif Dokter
8 Sakit Dikit, Nggak Ngaruh
9 Boleh Minta Reward?
10 Hati Panas Terbakar
11 Salting Brutal
12 Tidak Yakin
13 Flash Sale Girl.
14 Perhatian Versi Zyan
15 Image Buruk Lagi?
16 Sunshine, Sunligh, Suuay
17 Pacaran Ngapain Aja?
18 Gimana?
19 Sah
20 Di Roasting Camer
21 Kencan Gagal
22 Gagal Lagi?
23 Menyalurkan Nafsu
24 Cemburu
25 Nekat
26 Mendung Tanpo Udan
27 Rencana Berlibur
28 Akting
29 Kejutan
30 Boleh Minta Anak Dari Aku
31 Syarat Biar Gak Ngambek
32 Ngedate Ala Pasangan Bucin
33 Cemburu Akut
34 Fitnah
35 Kamu Jahat Zyan
36 Tidak Boleh Kalah
37 Curhatan Hati Para Anak
38 Terima Kasih, Pi.
39 Jangan Lakuin Ini Lagi, Aku Aja
40 Adu Mekanik, Siapa Takut?
41 Kado Untuk Papi
42 Umur Dewasa, Kelakuan Anak Kecil
43 Resiko Punya Pacar Cantik
44 Rencana Merayu
45 Impas
46 Boleh Kan?
47 Hati Daniel Sebenarnya
48 Hanya Masalah Sepele
49 Terlalu Naif
50 Menyesal
51 Melapas Masa Lajang
52 Pancingan
53 Support Sistem
54 Menjadi Dingin
55 The Fourth Day
56 Tilang
57 Kucing Garong
58 Sosok Makhluk Asing
59 Danish Danuarta
60 Tempe Orek Dan Tempe Goreng
61 Penasaran
62 Garis Dua
63 SOS (Sedih Orang Senang)
64 Jantung Pisang
65 Racun Pak Gundul
66 Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
67 Nyaris Sempurna
68 Si Kanebo Kering
69 Bruno Yang Baik Hati
70 Geregetan
71 Kepergok
72 Sebuah Kenyataan
73 Merasa Kehilangan
74 Museum Date
Episodes

Updated 74 Episodes

1
Bendera Perang
2
Pengganggu
3
Menjadi Alien
4
Malam Mingguan
5
Direstui Calon Mertua
6
Calon Mertu Tantrum
7
Posesif Dokter
8
Sakit Dikit, Nggak Ngaruh
9
Boleh Minta Reward?
10
Hati Panas Terbakar
11
Salting Brutal
12
Tidak Yakin
13
Flash Sale Girl.
14
Perhatian Versi Zyan
15
Image Buruk Lagi?
16
Sunshine, Sunligh, Suuay
17
Pacaran Ngapain Aja?
18
Gimana?
19
Sah
20
Di Roasting Camer
21
Kencan Gagal
22
Gagal Lagi?
23
Menyalurkan Nafsu
24
Cemburu
25
Nekat
26
Mendung Tanpo Udan
27
Rencana Berlibur
28
Akting
29
Kejutan
30
Boleh Minta Anak Dari Aku
31
Syarat Biar Gak Ngambek
32
Ngedate Ala Pasangan Bucin
33
Cemburu Akut
34
Fitnah
35
Kamu Jahat Zyan
36
Tidak Boleh Kalah
37
Curhatan Hati Para Anak
38
Terima Kasih, Pi.
39
Jangan Lakuin Ini Lagi, Aku Aja
40
Adu Mekanik, Siapa Takut?
41
Kado Untuk Papi
42
Umur Dewasa, Kelakuan Anak Kecil
43
Resiko Punya Pacar Cantik
44
Rencana Merayu
45
Impas
46
Boleh Kan?
47
Hati Daniel Sebenarnya
48
Hanya Masalah Sepele
49
Terlalu Naif
50
Menyesal
51
Melapas Masa Lajang
52
Pancingan
53
Support Sistem
54
Menjadi Dingin
55
The Fourth Day
56
Tilang
57
Kucing Garong
58
Sosok Makhluk Asing
59
Danish Danuarta
60
Tempe Orek Dan Tempe Goreng
61
Penasaran
62
Garis Dua
63
SOS (Sedih Orang Senang)
64
Jantung Pisang
65
Racun Pak Gundul
66
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
67
Nyaris Sempurna
68
Si Kanebo Kering
69
Bruno Yang Baik Hati
70
Geregetan
71
Kepergok
72
Sebuah Kenyataan
73
Merasa Kehilangan
74
Museum Date

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!