Sakit Dikit, Nggak Ngaruh

Dara kembali keruanganya setelah berhasil mengacau rencana makan romantis siang Kiara bersama Zyan. Dara yakin kalau Kiara sengaja mendekati Zyan.

"Tadi makan dimana, Dok?" tegur dokter Malik.

"Di luar. Bosen sama menu di kantin."

"Ish, nggak ngajakin. Tahu gitu tadi ikutan karena saya juga bosan dengan menu kantin. Nggak di rumah, nggak di kantin, menunya itu-itu aja."

"Tapi ini cuma sebatas menu kan, Dok? Bukan masalah pagar?" tanya Dara memicingkan mata curiga.

"Pagar?" Dokter Malik yang jadi bingung sendiri.

Dara membulatkan bibir bersyukur dokter Malik tak memahami maksud perkataannya. Tapi Dara tahu ada curhat terselubung dari cerita dokter Malik barusan.

Dokter Malik terkekeh. "Eh serius. Besok-besok kalau mau maksi di luar ajak-ajak donk. Pengen tahu tempat makan favorit Dokter Dara dimana?"

"Di suatu tempat yang indah. Yang hanya diisi oleh orang-orang yang nggak suka makan daun kelor."

Entah apalagi yang dibahas Dara yang membuat dokter malik mengernyit berpikir. Tadi pagar, sekarang daun kelor. Sungguh sangat langka sekali istilah-istilah yang digunakan Dara.

"Saya tuh heran kadang, kok bisa sih Dokter Dara suka bikin perumpamaan-perumpamaan aneh begitu? Yakin deh sekelas profesor juga sulit menerjemahkan kata-kata Dokter. Salutt" Puji dokter Malik kagum yang tidak dibuat-buat

menganggap Dara sangatlah cerdas.

Melihat keseriusan diwajah dokter Malik, sekuat tenaga Dara tidak menyemburkan tawanya karena dokter Malik menganggap dia sangat jenius dalam membuat istilah padahal dia hanya asbun karena Dara menganggap ucapan dokter Malik tadi mengarah pada masalah pikiranya. Ingat ya, PIKIRAN bukan masalah hidupnya. Karena Dara enggan terlibat dalam masalah orang lain. Juga Dara malas jika harus tahu rahasia hidup orang lain yang memaksanya untuk tidak bocor alias Dara tidak menjamin bibirnya untuk tidak keceplosan.

"Yaudah deh kalo begitu, saya mau cek pasien dulu, Dok. Permisi," ujar Darapun bangkit, ditemani suster Monic untuk mendatangi bangsal pasien rawat inap satu persatu.

"Dok, udah denger kabar belum kalau pak Zyan mau buat klinik kecantikan di rumah sakit kita?" ujar suster Monic memberitahu ketika akan memasuki ruang rawat inap membuat langkah Dara memelan.

"Klinik kecantikan?" tanya Dara memutar tubuhnya menatap Monic yang mengangguk. Dara diam sesaat, isi kepalanya jadi mengingat Kiara, apa wanita itu yang mengusulkan? Awas saja, pulang nanti akan dia jagal mereka. Gertak Dara dalam hati kemudian memasuki satu persatu kamar pasien rawat inap disana.

"Selamat siang, Bu Dokter," sapa seoarang remaja cantik berusia dua belas tahunan itu bernama Sila.

"Siang cantik, gimana keadaan kamu? Apa lambungnya masih sakit?" tanya Dara mengecek infus dan tekanan darah pasien bernama Sila.

"Sudah enakan, Dokter."

Dara tersenyum senang. "Syukur alhamdulillah. Nanti pulang dari sini kurangin jajan sosis dan kawan-kawanya ya. Soalnya lambung kamu masih kurang kuat makan makanan pedas, dan terutama seblak, ya. Biar nggak sakit lagi. Mau di rawat lagi?"

"Tapi nanti kalau Sila kangen sama Bu Dokter Sila mau makan itu lagi, biar bisa lihat wajah cantik Bu Dokter."

"Eh, nggak boleh begitu. Nanti kasian mamanya kalau kamu dirawat lagi" ujar Dara menatap wajah cantik itu.

"Saya neneknya Bu Dokter. Mama Sila pergi tidak tahu kemana, sudah lama tidak kembali."

Dara jadi terenyuh. "Hm, kamu anak yang hebat. Jangan lakuin itu ya kalau sayang sama nenek. Kamu harus rajin sekolah dan belajar, biar bisa senangin nenek. Okey?" ujar Dara memberikan kelingkingnya tak mau menanyakan lebih lanjut karena tidak ingin membuat kedua nenek dan cucu tersebut jadi sedih.

Kalau sedang berhadapan dengan pasien, Dara seperti memiliki kepribadian yang berbeda. Lembut, dan tutur kataknya juga lebih dewasa. Setelah dari sana, Dara beralih pada pasien di rawat inap yang ada dikelas satu. Sebelum masuk, Dara mengintip lewat kaca cela pintu.

"Pasien ini kayaknya udah sering keluar masuk ya, Sus? Tapi nggak pernah lihat keluarganya." Dara memutar lehernya menatap suster Monic. "Suster pernah bertanya kemana keluarganya?"

"Katanya dia tinggal sebatang kara, Dok," jawab suster Monic. "Makanya dia sengaja keluar masuk kesini biar ada yang nemenin dia, kalau dirumah dia sering kesepian."

"Dia selalu dapat perawatan kelas nomor satu. Dari mana dapat uangnya?"

"Dia pensiunan, almarhum suaminya juga, Dok."

"Kalau begini sebaiknya kita lapor kemana? Kasihan juga kan kalau kita biarin dia sendiri, takut terjadi hal-hal yang nggak diinginkan."

"Kita lapor pada ketua rt tempat tinggal dia Dok. Lalu di carikan jalan keluarnya bagaimana?"

Hal itu langsung Dara laporkan pada Dokter Ridwan yang masih bertugas untuk beberapa hari.

"Jadi gimana menurut Dokter? Apa kita usulkan untuk dibawa ke dinas sosial saja?"

"Saya setuju, Dok. Tapi lebih baik kita tanyakan dulu pada pak Zyan selaku orang yang memiliki wewenang atas segala keputusan sekarang." Dara mengangguk, kemudian menunggu Dokter Ridwan menghubungi Zyan.

Selagi menunggu kedatangan Zyan, Dara bertanya pada Dokter Ridwan. "Dok, apa iya pak Zyan akan menambah unit untuk klinik kecantikan di rumah sakit ini?"

"Oh iya, saya lupa memberi tahu Dokter Dara. Kemarin saya sudah menandatangani surat tersebut."

Dara mengangguk dan beroh tanpa bersuara, meski dokter Ridwan pernah mengatakan jika dia membantu kebutuhan Zyan, namun atas keputusan ini dia tidak memiliki hak untuk protes atau melarang.

Setelah Zyan datang, dokter Ridwan menceritakan niat Dara untuk membantu salah satu pasien mereka yang tinggal sebatang kara.

"Mungkin untuk hal ini agak berat, Dokter Dara. Karena selain memakan waktu yang lama, kita juga harus memastikan dulu asal usul keluarganya, apa dia benar-benar sendiri atau memiliki kerabat. Agar dikemudian hari kita tidak dituntut oleh pihak keluarga."

Dara sedikit kecewa dengan jawaban Zyan, tapi setelah ia pikir-pikir apa yang dikatakan Zyan ada benarnya juga.

Keluar dari ruangan dokter Ridwan, Dara menunduk untuk menanyakan perihal rencana Zyan yang akan membuka klinik bersama Kiara. Dara memilih menyengkat kakinya sendiri hingga membuatnya terjatuh.

"Awwww." Erang Dara memegangi pergelangan kakinya, ekor matanya melirik Zyan yang berhenti kemudian berjongkok menghampirinya. Bibir Dara membentuk senyum samar.

"Butuh bantuan?" tanya Zyan membuat Dara melongok.

"Oh my God." Desah Dara frustasi karena ekpektasinya Zyan langsung menggendongnya tidak terwujud. Apa tidak sepeka ini Zyan padanya?

Namun melihat kedatangan Kiara berjalan menuju kearah mereka dibalik punggung Zyan, Dara langsung melingkarkan tanganya di leher laki-laki itu.

"Nggak bisa," ia menjawab pertanyaan Zyan tadi. "Ini sakit banget buat digerakin."

Zyan menatap mata Dara sesaat, kemudian barulah ia melingkarkan tanganya di kaki gadis tersebut.

Dari tempatnya berdiri, Kiara menghentikan langkahnya dengan tangan terkepal.

Terpopuler

Comments

Do Mba

Do Mba

mau liat visual novelnya d oh tp dprivate

2024-04-25

1

Almiraaa Nasution

Almiraaa Nasution

Luar biasa emang Dara.. Gimana ini kalau papi Daniel tau anaknya begini? Eh tapi malah di dukung ya

2024-03-09

0

L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦

L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦

Dara bnyk akal dan modusnya buat menarik perhatian Zyan 🤭

2024-03-09

1

lihat semua
Episodes
1 Bendera Perang
2 Pengganggu
3 Menjadi Alien
4 Malam Mingguan
5 Direstui Calon Mertua
6 Calon Mertu Tantrum
7 Posesif Dokter
8 Sakit Dikit, Nggak Ngaruh
9 Boleh Minta Reward?
10 Hati Panas Terbakar
11 Salting Brutal
12 Tidak Yakin
13 Flash Sale Girl.
14 Perhatian Versi Zyan
15 Image Buruk Lagi?
16 Sunshine, Sunligh, Suuay
17 Pacaran Ngapain Aja?
18 Gimana?
19 Sah
20 Di Roasting Camer
21 Kencan Gagal
22 Gagal Lagi?
23 Menyalurkan Nafsu
24 Cemburu
25 Nekat
26 Mendung Tanpo Udan
27 Rencana Berlibur
28 Akting
29 Kejutan
30 Boleh Minta Anak Dari Aku
31 Syarat Biar Gak Ngambek
32 Ngedate Ala Pasangan Bucin
33 Cemburu Akut
34 Fitnah
35 Kamu Jahat Zyan
36 Tidak Boleh Kalah
37 Curhatan Hati Para Anak
38 Terima Kasih, Pi.
39 Jangan Lakuin Ini Lagi, Aku Aja
40 Adu Mekanik, Siapa Takut?
41 Kado Untuk Papi
42 Umur Dewasa, Kelakuan Anak Kecil
43 Resiko Punya Pacar Cantik
44 Rencana Merayu
45 Impas
46 Boleh Kan?
47 Hati Daniel Sebenarnya
48 Hanya Masalah Sepele
49 Terlalu Naif
50 Menyesal
51 Melapas Masa Lajang
52 Pancingan
53 Support Sistem
54 Menjadi Dingin
55 The Fourth Day
56 Tilang
57 Kucing Garong
58 Sosok Makhluk Asing
59 Danish Danuarta
60 Tempe Orek Dan Tempe Goreng
61 Penasaran
62 Garis Dua
63 SOS (Sedih Orang Senang)
64 Jantung Pisang
65 Racun Pak Gundul
66 Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
67 Nyaris Sempurna
68 Si Kanebo Kering
69 Bruno Yang Baik Hati
70 Geregetan
71 Kepergok
72 Sebuah Kenyataan
73 Merasa Kehilangan
74 Museum Date
Episodes

Updated 74 Episodes

1
Bendera Perang
2
Pengganggu
3
Menjadi Alien
4
Malam Mingguan
5
Direstui Calon Mertua
6
Calon Mertu Tantrum
7
Posesif Dokter
8
Sakit Dikit, Nggak Ngaruh
9
Boleh Minta Reward?
10
Hati Panas Terbakar
11
Salting Brutal
12
Tidak Yakin
13
Flash Sale Girl.
14
Perhatian Versi Zyan
15
Image Buruk Lagi?
16
Sunshine, Sunligh, Suuay
17
Pacaran Ngapain Aja?
18
Gimana?
19
Sah
20
Di Roasting Camer
21
Kencan Gagal
22
Gagal Lagi?
23
Menyalurkan Nafsu
24
Cemburu
25
Nekat
26
Mendung Tanpo Udan
27
Rencana Berlibur
28
Akting
29
Kejutan
30
Boleh Minta Anak Dari Aku
31
Syarat Biar Gak Ngambek
32
Ngedate Ala Pasangan Bucin
33
Cemburu Akut
34
Fitnah
35
Kamu Jahat Zyan
36
Tidak Boleh Kalah
37
Curhatan Hati Para Anak
38
Terima Kasih, Pi.
39
Jangan Lakuin Ini Lagi, Aku Aja
40
Adu Mekanik, Siapa Takut?
41
Kado Untuk Papi
42
Umur Dewasa, Kelakuan Anak Kecil
43
Resiko Punya Pacar Cantik
44
Rencana Merayu
45
Impas
46
Boleh Kan?
47
Hati Daniel Sebenarnya
48
Hanya Masalah Sepele
49
Terlalu Naif
50
Menyesal
51
Melapas Masa Lajang
52
Pancingan
53
Support Sistem
54
Menjadi Dingin
55
The Fourth Day
56
Tilang
57
Kucing Garong
58
Sosok Makhluk Asing
59
Danish Danuarta
60
Tempe Orek Dan Tempe Goreng
61
Penasaran
62
Garis Dua
63
SOS (Sedih Orang Senang)
64
Jantung Pisang
65
Racun Pak Gundul
66
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
67
Nyaris Sempurna
68
Si Kanebo Kering
69
Bruno Yang Baik Hati
70
Geregetan
71
Kepergok
72
Sebuah Kenyataan
73
Merasa Kehilangan
74
Museum Date

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!