Salting Brutal

Pukul sepuluh malam Zyan kembali lagi kerumah sakit. Entah apa tujuannya, karena tidak ada sesuatu yang urgent atau mendesak juga. Tapi kembalinya Zyan tidak dengan tangan kosong, dia membawa dua puluh kotak pizza untuk dibagikan kepada para staff dan tenaga medis yang bertugas malam.

"Pizza dari siapa nih? Banyak banget," tanya Dara ketika berpapasan pada security yang membawa kotak pizza do koridor rawat inap sambil bersiul.

"Eh, Dokter Dara. Dari pak Zyan, Dok," jawabnya. "Buat teman jaga malam." Security itu menggerak-gerakkan alisnya.

"Pak Zyan kesini?" tanya Dara dengan kening mengernyit.

"Iya, baru saja naik keruanganya."

Dara tersenyum samar yang tidak disadari oleh security itu. "Oke, thanks informasinya." Kemudian Dara meletakkan telapak tangannya dipinggir bibir. "Jangan bersiul lagi, tar ada yang ngikutin loh dari belakang," bisiknya menakuti.

"Ah Dokter, kita udah cees kalo sama yang kayak gitu mah." Dara mencebik, lalu masuk kedalam lift saat security itu sudah menghilang. Tiba didepan ruangan Zyan, Dara hanya berdiri mematung. Tiba-tiba kehilangan akal sendiri mau melakukan apa.

"Kamu ngapain disitu?" Dara terlonjak kaget saat ditegur Zyan yang muncul entah dari mana.

Dara menggaruk kepalanya. "Eh, anu ..." Dasar begok, kok tiba-tiba jadi gugup gini sih? Rutuk Dara pada dirinya sendiri karena bingung mencari alasan.

"Pulang jam berapa?" tanya Zyan dengan ekpresi datar.

"Lima belas menit lagi," jawab Dara setelah melihat jam di pergelangan tanganya.

"Terus, kenapa nggak siap-siap? Malah diem disini."

"Kamu kenapa nanya-nanya mulu sih? Aku kayak maling yang ketangkep basah aja," pekik Dara tak terima di cecar Zyan begitu yang membuatnya akhirnya kesal sendiri. Entah kesal pada dirinya, entah pada Zyan yang selalu membuatnya seperti orang gila.

"Didalam ada pizza, makan dulu biar nggak marah-marah," ujar Zyan mendorong pintu ruanganya. Seperti mendapat angin segar, Dara yang tadi sempat ragu-ragu ikut menyusul kedalam.

Begitu masuk, Dara melihat sekotak pizza berukuran sedang di atas meja tamu ruangan Zyan, dan sebuah gelas yang berisi wine. Apa Zyan memang sengaja kembali kesini menyiapkan semua untuknya?

"Bener ini buat aku?" tanyanya setelah mendapatkan bokongnya di sofa.

"Bukan, buat dokter Ridwan tadinya. Tapi dokter Ridwan udah pulang."

Dara mengulum senyum tahu Zyan berbohong, tidak mungkin Zyan tidak tahu jika dokter Ridwan tidak mungkin kembali lagi kesini.

"Aduh, tangan aku kayak bau alkohol lagi," gumam Dara menciumi telapak tangannya, ekor mata melirik pada Zyan. "Disini ada kamar mandi khusus nggak? Mau numpang cuci tangan," tanyanya pada Zyan yang memperhatikanya dari tempat duduknya.

Tidak menjawab pertanyaan Dara, Zyan berdiri dan mengambil duduk disamping gadis itu, membuka kotak pizza, mengambil satu potong lalu menyodorkan ke mulut Dara. Karena tidak percaya dengan apa yang dilakukan Zyan saat ini, Dara tidak sanggup walau untuk sekedar membuka bibirnya, yang sibuk tidak karuan justru jantungnya seperti mau meledak.

"Mau nggak nih?" tanya Zyan karena Dara hanya diam saja. "Kalo nggak mau-"

"Mau!" potong Dara menarik tangan Zyan yang ingin memasukkan pizza kedalam mulutnya sendiri, mengambil pizza itu dari tangan Zyan memindahkan kedalam mulutnya lalu mengunyahnya cepat seperti orang dua hari tidak makan. Dara tidak sanggup jika Zyan yang menyuapinya, meskipun belakangan dia terkesan mengejar lelaki itu, tapi jika sudah diladeni seperti ini, Dara salah tingkah tingkat dewa.

"Laper?" tanya Zyan.

"Enggak, tapi pizzanya enak," jawab Dara dengan mulut penuh.

"Coba," pinta Zyan menarik tangan Dara lalu memasukkan sisa gigitan gadis itu kedalam mulutnya. Lihatlah, Zyan makan pizza bekas Dara tanpa ada rasa jijikk, tapi justru bukan itu yang menjadi salfok Dara, cara bibir Zyan mengunyah begitu anggun, sampai-sampai Dara ingin mengunyah bibir merah mudah laki-laki itu. "Bener enak. Mau lagi donk," pinta Zyan. Bukan rasanya yang bikin nagih, tapi siapa yang memberinya.

"Bukannya tadi udah makan ya?" tanya Dara dengan alis terangkat, tapi tanpa sadar dia menyuapi Zyan lagi.

"Hmmm, tapi kan udah dari tadi. Sekarang udah laper lagi," jawab Zyan menelan habis pizza di mulutnya.

Apa Dara percaya dengan jawaban Zyan? Entahlah, hanya Tuhan dan laki-laki itu yang tahu pasti jawabanya. Yang pasti sekarang tanpa terasa sudah tiga potong pizza berpindah kedalam mulut Zyan melalui tangan Dara. Saat Zyan kelihatan seret-pun Dara dengan cekatan memberikan segelas wine pada laki-laki itu.

"Tinggal dua potong lagi. Buat kamu aja, aku udah kenyang," ujar Zyan kembali lagi ke tempat duduknya. Tangan laki-laki itu menggeser-geser mouse dan fokus pada layar didepanya, matanya sesekali melirik Dara yang sedang menghabiskan pizza yang disisakanya. "Kamu udah lihat desain klinik baru sebelah belum?"

"Belum, kenapa memang?"

"Kamu mau lihat nggak? Itu rancangan aku," ujar Zyan ingin Dara melihat hasil karyanya.

"Kamu desain grafis juga?" Dara tidak tahu kenapa dia bertanya seperti itu padahal sebenarnya dia tidak tahu Zyan lulusan apa.

"Hem, sini lihat dulu." Dara pun bangkit dan berdiri disamping Zyan melihat layar komputer milik laki-laki yang menunjukkan hasil desain miliknya.

"Estetik ini, kok bisa sebagus ini sih?"

Zyan hanya tersenyum tipis, entah bagaimana caranya tiba-tiba kursi Zyan sudah berpindah dibelakang tubuh Dara.

"Ini hasil desain ketiga aku," ujar Zyan menerangkan pada Dara. Menarik pinggang gadis itu dengan begitu lembut, mendudukkan wanita itu dipangkuanya. Apa Dara menyadari itu? Tidak! Gadis itu terlalu spechless dengan hasil rancangan Zyan yang tidak ia duga.

"Berarti udah banyak yang pakai jasa kamu donk?"

"Ini yang pertama."

"Loh, katanya ini yang ketiga. Gimana sih?" dumel Dara memutar kepalanya kesamping.

"Ini orderan yang pertama, yang kedua desain khusus yang masih aku rahasiakan. Yang pasti itu desain spesial."

"Berarti Kiara jadi klien pertama kamu donk?" desah Dara mengandung ketidak relaan. Ketika ia memutar tubuhnya untuk menghadap Zyan, barulah gadis itu menyadari jika dia bukan duduk disebuah kursi, melainkan di paha Zyan yang terasa empuk dan.... Nyaman.

Dugggh Dughhh

Jantung Dara kali ini benar-benar rasanya ingin meledak beneran, dengan wajahnya yang berada diatas wajah Zyan begitu dekat. Bagaimana dia bisa duduk dipangkuan Zyan? Sejak kapan? Saat Dara tak sanggup lagi menetralkan detak jantungnya yang siap meledak, gadis itu sigap mengalihkan.

"OH MY GOD, jam pulang aku udah lewat dari tadi." Dara melompat dari pangkuan Zyan, berlari keluar dari ruangan itu dengan nafas tersengal. Meski pizza yang dimakanya sudah sampai lambung sejak beberapa menit tadi, tapi rasanya makanan itu naik kembali dan menyendat tenggorokanya.

Dara seharusnya bisa memanfaatkan momen ini dengan meminta Zyan mengantarnya pulang, tapi untuk saat gadis itu memilih pulang sendiri demi mengamankan jantungnya agar tidak mati muda.

Begitu tiba dirumah, Dara tidak bisa menahan jika tidak langsung menceritakan momen bersejarah untuk ia sombongkan pada Aira. Namun sayang, Dara lupa jika saudara sepupunya itu sedang berada di pulau terluar yang jika tidak Aira yang menghubunginya lebih dulu, maka sulit baginya untuk berkomunikasi.

"Aduhhh Aiii. Alamat nggak bisa tidur ini gue." Dara mengacak rambutnya, kemudian mengguling-gulingkan tubuhnya diatas dikasur sambil menutup wajahnya menggunakan bantal demi menyembunyikan senyum yang terus terukir di bibirnya. Baru diperlakukan seperti itu saja Dara sudah terasa melayang, alhasil malam ini Dara tidak akan bisa tidur sama sekali.

Terpopuler

Comments

Rachmawati 8281

Rachmawati 8281

Zyan... bikin anak gadis Papi Daniel gak bisa tidur inih ...
lanjoot kak

2024-03-12

0

Muhammad Dimas Prasetyo

Muhammad Dimas Prasetyo

takut nya semua perlakuan manis zyan ke dara zonk

2024-03-11

2

L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦

L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦

Zyan sengaja nih beli pizza padahal mau deketin Dara modus 😂😂😂
Dara malah jadi salfok 🤭🤭🤭

2024-03-11

2

lihat semua
Episodes
1 Bendera Perang
2 Pengganggu
3 Menjadi Alien
4 Malam Mingguan
5 Direstui Calon Mertua
6 Calon Mertu Tantrum
7 Posesif Dokter
8 Sakit Dikit, Nggak Ngaruh
9 Boleh Minta Reward?
10 Hati Panas Terbakar
11 Salting Brutal
12 Tidak Yakin
13 Flash Sale Girl.
14 Perhatian Versi Zyan
15 Image Buruk Lagi?
16 Sunshine, Sunligh, Suuay
17 Pacaran Ngapain Aja?
18 Gimana?
19 Sah
20 Di Roasting Camer
21 Kencan Gagal
22 Gagal Lagi?
23 Menyalurkan Nafsu
24 Cemburu
25 Nekat
26 Mendung Tanpo Udan
27 Rencana Berlibur
28 Akting
29 Kejutan
30 Boleh Minta Anak Dari Aku
31 Syarat Biar Gak Ngambek
32 Ngedate Ala Pasangan Bucin
33 Cemburu Akut
34 Fitnah
35 Kamu Jahat Zyan
36 Tidak Boleh Kalah
37 Curhatan Hati Para Anak
38 Terima Kasih, Pi.
39 Jangan Lakuin Ini Lagi, Aku Aja
40 Adu Mekanik, Siapa Takut?
41 Kado Untuk Papi
42 Umur Dewasa, Kelakuan Anak Kecil
43 Resiko Punya Pacar Cantik
44 Rencana Merayu
45 Impas
46 Boleh Kan?
47 Hati Daniel Sebenarnya
48 Hanya Masalah Sepele
49 Terlalu Naif
50 Menyesal
51 Melapas Masa Lajang
52 Pancingan
53 Support Sistem
54 Menjadi Dingin
55 The Fourth Day
56 Tilang
57 Kucing Garong
58 Sosok Makhluk Asing
59 Danish Danuarta
60 Tempe Orek Dan Tempe Goreng
61 Penasaran
62 Garis Dua
63 SOS (Sedih Orang Senang)
64 Jantung Pisang
65 Racun Pak Gundul
66 Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
67 Nyaris Sempurna
68 Si Kanebo Kering
69 Bruno Yang Baik Hati
70 Geregetan
71 Kepergok
72 Sebuah Kenyataan
73 Merasa Kehilangan
74 Museum Date
Episodes

Updated 74 Episodes

1
Bendera Perang
2
Pengganggu
3
Menjadi Alien
4
Malam Mingguan
5
Direstui Calon Mertua
6
Calon Mertu Tantrum
7
Posesif Dokter
8
Sakit Dikit, Nggak Ngaruh
9
Boleh Minta Reward?
10
Hati Panas Terbakar
11
Salting Brutal
12
Tidak Yakin
13
Flash Sale Girl.
14
Perhatian Versi Zyan
15
Image Buruk Lagi?
16
Sunshine, Sunligh, Suuay
17
Pacaran Ngapain Aja?
18
Gimana?
19
Sah
20
Di Roasting Camer
21
Kencan Gagal
22
Gagal Lagi?
23
Menyalurkan Nafsu
24
Cemburu
25
Nekat
26
Mendung Tanpo Udan
27
Rencana Berlibur
28
Akting
29
Kejutan
30
Boleh Minta Anak Dari Aku
31
Syarat Biar Gak Ngambek
32
Ngedate Ala Pasangan Bucin
33
Cemburu Akut
34
Fitnah
35
Kamu Jahat Zyan
36
Tidak Boleh Kalah
37
Curhatan Hati Para Anak
38
Terima Kasih, Pi.
39
Jangan Lakuin Ini Lagi, Aku Aja
40
Adu Mekanik, Siapa Takut?
41
Kado Untuk Papi
42
Umur Dewasa, Kelakuan Anak Kecil
43
Resiko Punya Pacar Cantik
44
Rencana Merayu
45
Impas
46
Boleh Kan?
47
Hati Daniel Sebenarnya
48
Hanya Masalah Sepele
49
Terlalu Naif
50
Menyesal
51
Melapas Masa Lajang
52
Pancingan
53
Support Sistem
54
Menjadi Dingin
55
The Fourth Day
56
Tilang
57
Kucing Garong
58
Sosok Makhluk Asing
59
Danish Danuarta
60
Tempe Orek Dan Tempe Goreng
61
Penasaran
62
Garis Dua
63
SOS (Sedih Orang Senang)
64
Jantung Pisang
65
Racun Pak Gundul
66
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
67
Nyaris Sempurna
68
Si Kanebo Kering
69
Bruno Yang Baik Hati
70
Geregetan
71
Kepergok
72
Sebuah Kenyataan
73
Merasa Kehilangan
74
Museum Date

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!