Malam Mingguan

Bangun tidur, hal pertama yang dilakukan Dara adalah mengecek ponselya berharap ada pesan dari seseorang memintanya datang karena membutuhkannya. Sayangnya tak ada yang mengirim pesan seperti itu. Hanya grup khusus para dokter dan grup khusus Ugd saja yang ramai hingga 99+. Dara hanya menscroll tanpa membaca isi grup tersebut kemudian menghapusnya.

Kringgggg... Kringgggg Panggilan dari Aira.

"Iya, Ai."

"Huaaaaa, Ra. Gue patah hati."

"Why? Kok bisa?" Dara berjalan membuka hordeng jendela, duduk disana siap mendengarkan curhatan sepupunya.

"Lo inget kan sama Mr Alex yang pernah gue ceritain?"

"Mister misterius itu?"

Aira disana mengangguk. "Dia nolak Gue. Sakit, Ra. Sakiiitt hati gue."

"Serius? Lo udah nembak dia? Daebak emang Lo."

"Tau nggak yang lebih bikin gue sakit hati lagi? Dia deket sama Lyla ketua tim gue." Terdengar Aira disana menangis.

"Wah parah. Ini nggak bisa dibiarin." Dara mengompori Aira bukan menenangkanya. "Gue sih gak terima."

"Gwencana, gwencana yo. Gue nggak akan nyerah sampe bisa dapetin dia." Hampir setengah jam Aira curhat padanya, nampaknya sinyalnya Aira tak bermasalah. Pasti gadis itu naik ke bukit agar bisa mendapat sinyal yang bagus.

"Ganbatte, Gue tahu Lo pasti bisa luluhin si mister misterius itu."

"Lo sendiri gimana sama Brondong Lo?" Aira menanyakan hubungan Dara dan Zyan.

"Nasib kita sama, Zyan nyuekin Gue."

"Ganbatte, Dara Danuarta. Gak ada kata menyerah buat-"

Tut ... Tut ... Tuttt ...

"Ck, gak ada sinyal lagi?" Desah Dara kesal karena masih ada yang ingin ia ceritakan pada sepupunya.

* * *

Dengan percaya diri Dara berjalan melenggak-lenggok di koridor rumah sakit menuju ruanganya. Dara menyadari jika dia menjadi pusat perhatian, namun ia tak perduli karena dia sendiri suka menjadi pusat perhatian padahal orang menatapnya dengan pandangan aneh.

"Dokter Dara kok pake rok? Emang nggak baca grup kalau kita sekarang nggak boleh pake rok?" Tegur Sarah, perawat yang berdiri di balik meja resepsionis.

"Kata siapa? Siapa yang buat peraturan aneh begitu?" delik Dara tidak percaya.

"Ya pak Zyan lah, Dok. Masa satpam didepan."

Dara melotot. "Kapan dia buat peraturan begitu?"

"Semalam."

Dara buru-buru mengambil ponselnya dari dalam tas untuk mengecek grup chat, namun sayangnya ia sudah menghapus semuanya. "Aishhhh, udah kehapus lagi."

"Hey, You." Dara menoleh menyadari jika orang tersebut memanggilnya. Dara memutar mata malas ketika tahu orang itu Emilio. "Kamu nggak baca ya? kalau mulai hari ini pak Zyan sudah membuat peraturan kalau semua karyawan Tiara Medika. Baik petugas medis maupun non medis nggak boleh pakai rok?"

"Maaf, Bapak ... Dengan Bapak siapa?" tanya Dara karena dia memang belum tahu nama Emilio.

"Nggak perlu tau," jawab Emilio.

"Saya nggak sempat baca, karena udah ketumpuk sama chat yang lain."

Emilio geleng-geleng kepala dengan alasan klasik Dara. "Kamu dipanggil sama Pak Zyan keruanganya," uajar Emilio berbalik badan menuju lift diikuti Dara.

"Aku yakin kamu tuh jadi dokter karena ordal." Sindir Emilio melirik Dara ketika di dalam lift. "Masa seorang dokter nggak baca teliti pesan sepenting itu. Bagaimana kalau meriksa pasien, bisa-bisa sakitnya apa diagnosanya apa."

"Aneh ya di gedung segede gini kok bisa ada suara jangkrik." Mata Emilio mendelik mendengar jawaban Dara, sayangnya ketika dia ingin membantah lagi ucapan wanita itu pintu lift keburu terbuka dan Dara sudah keluar lebih dulu.

"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" ujar Dara bertanya pada Zyan.

"Kenapa masih pakai rok?" tanya Zyan dengan ekpresi datar.

Dara terdiam sesaat dengan pertanyaan Zyan, kenapa laki-laki itu bisa tahu dia pakai rok? Tahu darimana? Namun Dara tak bisa menahan senyumnya menyadari jika Zyan memperhatikanya.

Dara memasang wajah memelas lalu mengatakan alasanya. "Maaf Pak, saya tidak mem-"

"Cepat ganti sana," perintah Zyan memotong ucapan Dara dengan menggerakkan kepalanya. Baru Dara mau bertanya ganti pakai apa, Zyan sudah bicara lagi. "Pakai celana itu." Zyan menggerakkan dagunya menunjuk sebuah paperbag yang ada diatas meja belakang Dara.

Oh my.... oh my.... Kenapa Zyan? Dara melongok tak percaya.

"Saya ganti di sini, Pak?" tanya Dara lagi belaga bego. Zyan mendelik sedangkan Dara hanya cengengesan. "Hehehe dibawah ada toilet ya Pak?" Dara pun mengambil paperbag itu lalu keluar dari sana.

Entah apa alasan Zyan membuat peraturan dengan melarang dokter dan para staff memakai rok, dan mengganti dengan celana panjang? Yang pasti itu akan terus menjadi pertanyaan dikepala Dara untuk mencari jawabanya.

"Aish, ngapain juga aku mikirin itu? Zyan yang sifatnya berubah aja aku masih nggak tahu?" dumel Dara sendiri. "Apa dia udah punya pacar? Terus menjaga perasaan pacarnya?" Dara berasumsi sendiri. Membayangkan itu saja dadanya terasa panas.

Dara membuka paperbag yang dibawanya tadi, namun alangkah kagetnya Dara mengira jika Zyan sudah menyiapkan celana yang mahal dan bagus untuknya. Namun celana yang diberikan Zyan malah celana laki-laki itu yang mana ukurannya dua kali lebih besar dari ukuran celana Dara.

"Hah, nggak mungkin kan gue pake celana ini? Yang ada gue bukan fokus ngurusin pasien, tapi sibuk megangin biar gak melorot." Desah Dara.

Karena memang tak mungkin memakai celana yang diberikan Zyan, Darapun tetap menggunakan apa yang ia pakai dari rumah.

Sebagai dokter umum yang jaga di bangsal UGD, sudah pasti Dara lebih sibuk dibandingkan dokter spesialis. Setiap hari ia menangani bermacam-macam pasien dengan berbagai macam keluhan dan penyakit, dan Dara selalu melayani pasienya dengan ramah seperti pesan maminya. 'Senyum dan keramahan kita kadang lebih manjur dari obat.'

"Dok, ini seragam baru buat kita." Suster yang jaga bersama Dara memberikan dua stel seragam diatas meja Dara ketika pasien mulai berkurang. Dara hanya melirik seragam itu tanpa berminat membukanya. "Gercep juga ya Dok kepala rumah sakit kita yang sekarang. Baru tiga hari tugas udah buat peraturan yang bagus, saya setuju kalau kita semua pakai celana panjang. Jadi nggak ada tuh yang pamer-pamersama udah buat seragam juga, sat set sat set." Suster tersebut tak berhenti memuji Zyan. "Beruntung banget yang jadi istri pak Zyan nanti. Udah ganteng, pinter, kaya lagi. Paket komplit banget."

Dara menarik sudut bibirnya, lihat saja nanti. Dia yang akan menjadi wanita beruntung tersebut.

* * *

Tepat di malam minggu, Dara yang jam tujuh malam sudah ada dirumah pun keluar lagi.

"Mau kemana sayang?" tanya Daniel yang sedang duduk di ruang keluarga pada putri tersayangnya yang menentang sebuah paperbag ditanganya.

"Ada perlu sebentar, Pi." Jawab Dara.

"Perlu apa? Sama siapa?" tanya Daniel ingin tahu detailnya.

"Temen, mau balikin bajunya."

"Papi anter." Daniel berdiri siap mengantar anaknya. Biasanya Dara keluar bersama Aira, Daniel tidak bisa membiarkan Dara keluar sendiri, biasanya ada Aira. Namun sekarang sepupunya itu sedang ada di luar pulau.

"Nggak usah, Pi. Aku cuma sebentar."

"Tetep Papi antar." Daniel tetap memaksa.

"Ihhh Papiii." Dara menghentakkan kakinya seperti anak kecil. "Kan aku bilang cuma sebentar." Dara menoleh pada Denisa yang sejak tadi cuma jadi pendengar. "Mi, bilangin sama Papi aku nggak bakal kenapa-napa." Rengek Dara minta tolong pada maminya. "Malam ini aja."

"Kamu ada ketemuan sama cowok? Mana cowoknya? Jangan jadi pengecut ngajakin anak gadis orang tapi nggak izin sama orang tuanya. Sini suruh menghadap Papi!" Sikap Dara yang seperti itu malah membuat Daniel makin curiga.

Bukan tanpa alasan Daniel bersikap overprotektif pada Dara. Dara sering bergonta-ganti pacar, gadis itu juga sering menangis karena disakiti oleh pacar-pacarnya itu. Terakhir, Daniel malah menangkap basah laki-laki itu memacari Dara dan Aira secara bersamaan tanpa kedua gadis itu ketahui. Sebagai mantan playboy tentu Daniel tidak rela anak gadisnya dipermainkan pria hidung belang.

Tapi, melihat wajah Dara yang sedih. Daniel berubah pikiran. "Jam sembilan sudah ada dirumah." Tegas Daniel memberi izin dengan syarat.

Wajah murung Dara seketika berubah ceria. "Thank you, Papi." Dara mencium pipi papinya. "Aku janji jam sembilan udah sampe rumah."

"Mau naik mobil yang ma--"

"Dara naik go-jek." Potong Dara berlari keluar.

Mau tahu kemana tujuan Dara? Kerumah Zyan dengan alasan mengembalikan celana laki-laki tersebut.

Terpopuler

Comments

Rachmawati 8281

Rachmawati 8281

bisa aja ya alasannya, duh neng jual mahal dikit kenapa c ...
lanjoot kak

2024-03-05

2

Muhammad Dimas Prasetyo

Muhammad Dimas Prasetyo

anak kesayangan papi udh mulai nakal ya..

2024-03-05

1

Almiraaa Nasution

Almiraaa Nasution

Fix sih ini, Aira anaknya Abian. Terus ini Alex yang dulu suka sama Arum di cerita sebelah

2024-03-04

1

lihat semua
Episodes
1 Bendera Perang
2 Pengganggu
3 Menjadi Alien
4 Malam Mingguan
5 Direstui Calon Mertua
6 Calon Mertu Tantrum
7 Posesif Dokter
8 Sakit Dikit, Nggak Ngaruh
9 Boleh Minta Reward?
10 Hati Panas Terbakar
11 Salting Brutal
12 Tidak Yakin
13 Flash Sale Girl.
14 Perhatian Versi Zyan
15 Image Buruk Lagi?
16 Sunshine, Sunligh, Suuay
17 Pacaran Ngapain Aja?
18 Gimana?
19 Sah
20 Di Roasting Camer
21 Kencan Gagal
22 Gagal Lagi?
23 Menyalurkan Nafsu
24 Cemburu
25 Nekat
26 Mendung Tanpo Udan
27 Rencana Berlibur
28 Akting
29 Kejutan
30 Boleh Minta Anak Dari Aku
31 Syarat Biar Gak Ngambek
32 Ngedate Ala Pasangan Bucin
33 Cemburu Akut
34 Fitnah
35 Kamu Jahat Zyan
36 Tidak Boleh Kalah
37 Curhatan Hati Para Anak
38 Terima Kasih, Pi.
39 Jangan Lakuin Ini Lagi, Aku Aja
40 Adu Mekanik, Siapa Takut?
41 Kado Untuk Papi
42 Umur Dewasa, Kelakuan Anak Kecil
43 Resiko Punya Pacar Cantik
44 Rencana Merayu
45 Impas
46 Boleh Kan?
47 Hati Daniel Sebenarnya
48 Hanya Masalah Sepele
49 Terlalu Naif
50 Menyesal
51 Melapas Masa Lajang
52 Pancingan
53 Support Sistem
54 Menjadi Dingin
55 The Fourth Day
56 Tilang
57 Kucing Garong
58 Sosok Makhluk Asing
59 Danish Danuarta
60 Tempe Orek Dan Tempe Goreng
61 Penasaran
62 Garis Dua
63 SOS (Sedih Orang Senang)
64 Jantung Pisang
65 Racun Pak Gundul
66 Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
67 Nyaris Sempurna
68 Si Kanebo Kering
69 Bruno Yang Baik Hati
70 Geregetan
71 Kepergok
72 Sebuah Kenyataan
73 Merasa Kehilangan
74 Museum Date
Episodes

Updated 74 Episodes

1
Bendera Perang
2
Pengganggu
3
Menjadi Alien
4
Malam Mingguan
5
Direstui Calon Mertua
6
Calon Mertu Tantrum
7
Posesif Dokter
8
Sakit Dikit, Nggak Ngaruh
9
Boleh Minta Reward?
10
Hati Panas Terbakar
11
Salting Brutal
12
Tidak Yakin
13
Flash Sale Girl.
14
Perhatian Versi Zyan
15
Image Buruk Lagi?
16
Sunshine, Sunligh, Suuay
17
Pacaran Ngapain Aja?
18
Gimana?
19
Sah
20
Di Roasting Camer
21
Kencan Gagal
22
Gagal Lagi?
23
Menyalurkan Nafsu
24
Cemburu
25
Nekat
26
Mendung Tanpo Udan
27
Rencana Berlibur
28
Akting
29
Kejutan
30
Boleh Minta Anak Dari Aku
31
Syarat Biar Gak Ngambek
32
Ngedate Ala Pasangan Bucin
33
Cemburu Akut
34
Fitnah
35
Kamu Jahat Zyan
36
Tidak Boleh Kalah
37
Curhatan Hati Para Anak
38
Terima Kasih, Pi.
39
Jangan Lakuin Ini Lagi, Aku Aja
40
Adu Mekanik, Siapa Takut?
41
Kado Untuk Papi
42
Umur Dewasa, Kelakuan Anak Kecil
43
Resiko Punya Pacar Cantik
44
Rencana Merayu
45
Impas
46
Boleh Kan?
47
Hati Daniel Sebenarnya
48
Hanya Masalah Sepele
49
Terlalu Naif
50
Menyesal
51
Melapas Masa Lajang
52
Pancingan
53
Support Sistem
54
Menjadi Dingin
55
The Fourth Day
56
Tilang
57
Kucing Garong
58
Sosok Makhluk Asing
59
Danish Danuarta
60
Tempe Orek Dan Tempe Goreng
61
Penasaran
62
Garis Dua
63
SOS (Sedih Orang Senang)
64
Jantung Pisang
65
Racun Pak Gundul
66
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
67
Nyaris Sempurna
68
Si Kanebo Kering
69
Bruno Yang Baik Hati
70
Geregetan
71
Kepergok
72
Sebuah Kenyataan
73
Merasa Kehilangan
74
Museum Date

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!