Mobil Zyan memasuki halaman rumah Dara bersamaan dengan mobil Denisa dan Daniel yang baru saja dimatikan. Denisa mengernyit melihat Zyan membukakan pintu untuk Dara dan memapahnya keluar.
"Kamu kenapa, Sayang?" Denisa menghampiri keduanya dan menggantikan Zyan untuk memapah anaknya. Pemandangan itu membuatnya tidak nyaman.
"Tadi kaki aku terkilir, Mi. Jadi gak kuat nginjek rem." Dalih Dara.
Denisa menatap Zyan. "Terimakasih ya-"
"Saya Zyan, Tante," potong Zyan memperkenalkan dirinya tanpa memberi embel-embel apapun untuk menegaskan siapa dirinya, dan posisinya sebagai atasan Dara.
"Ah iya, Zyan. Terima kasih sudah repot-repot mau mengantar Dara pulang padahal Dara bisa menelepon kami karena klinik saya dan rumah sakit Tiara Medika satu arah."
"Tidak apa-apa, Tante," sahut Zyan. "Kalau begitu saya pamit dulu, Om, Tante. Selamat malam." Zyan berpamitan pada Daniel juga yang sejak tadi melayangkan tatapan tajam menunjukkan kalau dia calon mertua galak dan sulit ditaklukkan. Matanya mengiringi langkah Zyan yang memasuki mobilnya hingga meninggalkan pekarangan rumah mereka.
"Dadaaa Zyan sayang. Take care ..." Tidak lupa Dara memberikan kiss dari telapak tangannya.
"Ganjen." Denisa mendelik pada putrinya. "Katanya bukan pacar." Tak lupa memberikan cubitan semut di pinggang Dara.
"Aduhhh sakit, Mi." Dara mengusap bekas cubitan maminya.
Daniel tersenyum merangkul pundak Dara berjalan masuk rumah mereka. "Wah sepertinya baru dua hari sudah menunjukkan perubahan yang cukup signifikan," ujar Daniel memuji kehebatan putrinya dalam menaklukkan hati laki-laki yang ia suka.
Lihatlah, Denisa sampai melongok melihat kaki anaknya yang terlihat tidak ada sakitnya sama sekali, tidak ada bengkak, tidak ada memar juga. Bahkan jalanya terlihat biasa saja.
"Papi kayaknya dukung banget aku sama Zyan. Dulu sama cowok yang lain papi selalu nggak suka, apa karena dia anak Mommy Marsha?"
"Kamu udah sampai ke tahap memanggil mama Zyan Mommy?" tanya Daniel takjub berhenti didepan anak tangga.
"Hihihi." Dara hanya cengengesan.
"Sudah sana, naik ke kamar kamu." Perintahnya.
"Good nigh, Pi." Dara mencium pipi Daniel sebelum naik ke kamarnya.
"Kamu tuh kok santai banget sih ngeliat anaknya begitu? Didepan kita aja dia berani secentil itu, gimana di luar?" desah Denisa menunjukkan ketakutanya sambil melangkah menuju kamar. "Bukannya kemarin-kemarin kamu juga takut anak kamu sampai kelewatan?"
"Aku juga takut, Sayang. Mau bagaimana lagi? Dia begitu kan mewarisi mami papinya juga."
"Mewarisi aku dari mana?" Delik Denisa melepaskan snalli yang sejak tadi melekat di tubuhnya.
"Kamu lupa dia ada karena apa?" tanya Daniel mengungkit masa lalu mereka.
"Ck." Denisa berdecak, pintar sekali Daniel membuatnya mati kutu, dia menghampiri suaminya kemudian tangannya menjangkau dasi Daniel dan melepaskanya.
Daniel memperhatikan wajah istrinya lalu merapikan anak rambut Denisa sambil berkata. "Kamu inget nggak malam itu aku sampai mau ngintilin dia kemanapun dia pergi? Ada banyak ketakutan dalam diri aku, takut dia bertemu laki-laki kadal seperti yang sudah-sudah. Takut dimanfaatkan, takut diapa-apain. Tapi setelah aku pikir-pikir aku salah karena sikap aku yang overprotektif begitu yang membuat dia jadi bohong sama aku. Jadi untuk sekarang, aku ingin menjadi orang pertama menjadi tempatnya bercerita, berkeluh kesah, tempatnya meminta pendapat tanpa canggung dan takut. Meski aku rasa tidak semua yang dia alami bisa dia ceritakan, setidaknya keberadaan kita sebagai orang tua ada disetiap mereka membutuhkan. Dulu ada Aira yang menemaninya kemana-mana yang membuat aku tidak terlalu takut. Sekarang sepertinya dia tidak punya teman dekat setelah Aira pergi."
Denisa diam, semakin tua Daniel semakin terlihat bijaksana walau kadang yang dilakukanya sangat konyol.
* * *
"Hari ini sebenarnya dia pulang kan? Tapi dia nggak mau pulang?" tanya Dara pada Monic tentang pasien kemarin.
"Iya, Dok. Jawabanya dia katanya mau tinggal di sini aja."
Dara menghela nafas berat membaca nama yang tertulis di kertas itu, Nyonya Ana. "Temani aku menemui dia," ajak Dara pada Monic.
Tiba disana Dara disambut wajah lemas pasien wanita berusia hampir menginjak usia tujuh puluhan tahun itu yang baring diatas brangkar.
"Selamat pagi, Mommy. Bagaimana kabarnya hari ini?" tanya Dara mengecek suhu tubuh serta denyut nadi Bu Ana. Tadinya Dara mau memanggil wanita itu Oma karena wanita itu sudah berumur, tapi mengingat cerita Monic yang mengatakan jika dia tinggal sebatang kara, Dara mengganti panggilanya.
"Kepala saya terasa berat sekali, Dokter. Tadi mau duduk saja rasanya seperti mau pingsan."
Dara tersenyum, dia tahu Ana hanya berbohong. Tapi ia terlihat percaya saja.
"Suda berapa hari Ibu disini?" tanya Dara.
"Hampir seminggu ya Sus?" tanyanya pada Monic. Monic menjawab dengan anggukan karena jawabanya benar, dan Dara menyimpulkan ingatan wanita itu masih cukup bagus.
"Tapi saya perhatikan Ibu sendirian saja, tidak ada suami, anak atau kerabat yang menjenguk." Pancing Dara
"Saya sudah cerita pada Suster kalau saya sebatang kara."
Dara mengangguk-angguk. "Ibu tidak punya suami, anak atau saudara?"
Ana menggeleng. "Suami saya sudah meninggal, dan kami tidak memiliki anak."
"Bu, keadaan Ibu sudah baik-baik saja, dan hari ini sebenernya Ibu sudah bisa pulang."
"Tapi kepala saya sakit sekali, Dok."
Dara tetap menaggapi dengan senyum ramah. "Kenapa Ibu betah berlama-lama disini? Padahal kan disini tidak enak sama sekali. Biasanya orang ingin cepat-cepat pulang tapi Ibu sepertinya tidak mau pulang?"
Ana diam.
"Bu, kalau Ibu merasa sendiri dirumah. Bagaimana kalau saya usulkan Ibu untuk tinggal di rumah panti jompo saja? Disana-"
"Saya tidak mau. Saya mau tetap disini." Tolak Ana.
"Tapi ini bukan tempat yang sehat untuk Ibu." Bantah Dara. "Ini rumah sakit, tempat orang-orang sakit bukan orang-orang sehat yang akan membahayakan Ibu nantinya."
"Tapi saya disini bayar, bukan cuma-cuma. Dokter tidak memiliki hak mengusir saya."
Dara menarik nafas, sepertinya dia salah strategi. "Oke, Bu. Saya minta maaf ya?" Dara merendahkan suaranya. "Tapi, kalau Ibu tinggal di panti jompo, Ibu bukan hanya diurus oleh pengurus yang profesional, Ibu juga akan bertemu banyak teman, juga.... gebetan." Dara langsung melipat bibir takut ucapanya malah menyinggung Ana.
Tapi Ana terlihat diam saja seperti sedang menimang usulan Dara. Dara juga tidak bersuara lagi, menunggu Ana menjawab lebih dulu.
"Apa disana ada cowok-cowok gantengnya?"
"Oh banyak. Nanti Ibu disana bisa diajak jajan seblak pinggir jalan sambil minum es teh dan es Nitri Sara. Kalau disini Ibu nggak bisa, cuma dikasih makanan kurang garam." Ujar Dara mengompori.
"Tapi benar ya disana bisa begitu?"
"Iya, iya bisa," jawab Dara menyakinkan.
"Yasudah, saya mau."
Dara tersenyum, sebelum melaporkan ini pada Zyan dan Dokter Malik, Dara sudah merekam percakapan mereka tadi dan memastikan sekali lagi jika Bu Ana tidak memiliki anak dan kerabat lagi.
Saat mendengar rekaman itu, Zyan sebenarnya sudah tahu karena saat itu Zyan kebetulan sedang lewat ruangan Bu Ana. Zyan akhirnya menyetujui ide Dara membawa Bu Ana ke panti jompo dengan memanggil pihak dinas sosial setempat.
"Ehem," Dara berdehem ketika mereka hanya tinggal berdua di lobby setelah mengantarkan Bu Ana. "Sebagai dokter yang bukan hanya bisa menyembuhkan pasien, tapi juga dokter yang bisa menyelesaikan masalah pasien. Boleh kali aku mendapat reward."
Zyan menoleh dengan alis terangkat. "Reward apa? Jangan berlebihan."
"Kamu yang terlalu berlebihan, masa dokter hebat kayak aku nggak dikasih reward apa-apa."
"Maunya apa?"
"Murah dan sederhana," jawab Dara dengan senyum jahil mencurigakan. "Jadi dikasih nih."
"Iya, apa? Asal jangan yang aneh-aneh," jawab Zyan.
Dara mengulum senyum, bukankah jawaban itu merupakan lampu hijau?
Dengan gerakan yang sangat cepat dan tidak terduga, Dara merematt kedua buah Dada Zyan membuat Zyan mendelik kaget bukan kepalang. Namun gadis yang membuatnya merasakan dilecehkan itu sudah menghilang masuk kedalam ruanganya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
lizah meon
sex harrasment
2024-09-04
0
MACA
ampooonn..anak siapa sih nih...nackal amat😂
2024-03-10
0
L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦
G bisa tidur g bisa tidur 😂😂😂
2024-03-09
0