"Zyan, qiuw, qiuw," tegur Marsha memutar lehernya begitu melihat Zyan yang baru akan menaiki anak tangga. "Cieee anak Mommy yang udah jadi exmud pulangnya malam terus."
Zyan mengurungkan kakinya menginjakkan kaki ke lantai dua dan bergabung dengan Marsha dan Zidan yang sedang berduaan di ruang keluarga.
"Apa sih Mom. Manggilnya udah kayak temen," protes Zyan tapi tak lupa mencium punggung kedua orangtuanya lalu duduk di sebelah Zidan.
"Kamu ajakin Dara kesini donk, Mommy pengen ngobrol lama sama dia."
"Dara kan Dokter, dia sibuk." Dalih Zyan tak mungkin dia harus meneruskan sandiwara yang gadis itu buat, sementara mereka tidak memiliki hubungan apa-apa.
Marsha mengerucutkan bibirnya. "Padahal kamu buat jadwal dulu sama dia kapan bisanya, nggak harus dalam waktu dekat. Eh, gimana kerja sama kami samar Kiara? Berjalan lancar?"
"Alhamdulillah, Mom. Udah GO juga, kan Mommy kemarin dapat undangan dari Kiara."
"Mommy lupa, abisnya kamu juga gak ngingetin."
"Huhh," Zyan menghela nafas. "Yaudah Mom, Dad. Zyan keatas dulu, mau istirahat." Zyan mencium pipi kedua orangtuanya bergantian.
"Oke, sayang. Good nigh."
Dibawah kucuran derasnya air shower hangat yang menimpa kulit tubuhnya yang bersih dan atletis, kedua sudut bibir Zyan tertarik kesamping membayangkan kebersamaanya bersama Dara tadi, tapi tak lama senyum itu menghilang mengingat dulu Dara sangat membencinya.
Flash back on.
"Lo ngapain ngikutin gue mulu sih? Gue malu tau gak diintilin bocah cupu kayak Lo." Marah Dara mengetahui Zyan diam-diam menguntitnya di belakang.
"Aku kan bilang, aku suka sama kamu. Jadi aku akan jagain kamu terus, dan akan mengikuti kamu sampai kamu mau nerima aku," ucap Zyan tenang menjelaskan pada Dara dengan kedua tangan ia masukkan kedalam saku celana. Yang mana itu membuat Dara semakin geram.
"Gue nggak suka sama cowok cupu kayak Lo, jadi jangan buat gaya lo sok cool didepan Gue, Gue jijik. Jangan karena Lo anak akselerasi Gue bakal kagum sama Lo. Lo tuh tetep dibawah gue umurnya, gue nggak suka brondong, gue suka cowok dewasa dan hot."
"Terima aku jadi pacar kamu maka aku akan berenti ngikutin kamu dari belakang."
Dara menggeram kesal sambil menghentakkan kakinya, kedua tanganya terkepal lalu menunjuk wajah Zyan dengan telunjuknya. "Gue nggak akan nerima Lo jadi pacar Gue. Karena Gue nggak akan pernah suka sama Lo."
Gadis itu kemudian berlari menuju kantin. Tiba disana, Dara langsung di ledeki teman-teman sekelasnya. "Cieee yang abis ditembak brondong cupu, diterima nggak tuh?"
"Diem Lo pada. Nggak usah berisik."
"Ih atut, ada pacarnya."
Mendengar itu Dara memutar tubuhnya, Zyan masih mengikutinya ternyata.
"Jangan pergi, duduk disini sama aku. Jangan dengerin omongan mereka."
"Apa sih sok maksa, gue nggak mau. By...."
Tetap saja Dara tidak bisa pergi begitu saja karena laki-laki itu menahan tanganya dan memaksanya duduk di kursi panjang itu.
"Diem disini, aku ambilin makanan." Zyan tetap memaksa gadis itu, kemudian menuju pantry untuk antri dan mengambilkan makan milik Dara. Tak lama Zyan kembali dengan membawa dua nampan.
"Aaaa," ujar Zyan menyuapi Dara.
"Aku nggak mau. Makan semua aja sama kamu," cetusnya tidak perduli kemudian meninggalkan Zyan yang menatap nanar dua nampan makan siang didepanya.
Flash back off
Zyan mematikan kran air saat merasa tubuhnya sudah terasa dingin. Setelah mengenekanan pakaian, Zyan duduk di tepi ranjang sambil menyalakan ponsel, membuka media sosial milik Dara dan membaca story gadis itu yang baru ia buat beberapa menit yang lalu.
~Ada yang melayang, tapi bukan kapas. Apakah itu?~
Zyan tidak mengomentarinya, ia meletakkan ponsel diatas tempat tidur, merebahkan tubuhnya terlentang menatap langit-langit kamar berbantalkan kedua tanganya yang dilipat dibelakang kepala, memikirkan sikap Dara padanya belakangan ini, tepatnya setelah bertahun-tahun mereka tidak bertemu, dan kembali dipertemukan dengan sikap Dara yang jauh berubah. Zyan awalnya tidak menyangka jika itu adalah Dara, tapi semakin hari, ia percaya gadis yang bersikap agresif itu Dara, wanita yang sangat membencinya. Apa benar Dara menyukainya? Sibuk memikirkan Dara, mata Zyan lama kelamaan terlihat sayu dan akhirnya terpejam dengan sendirinya.
"Anjirrr, Zyan lihat status gue." Dara memekik senang melihat story-nya di intip oleh Zyan, tapi gadis itu kemudian mendesah kecewa karena setelah tiga puluh menit menunggu Zyan tidak juga mengomentarinya.
Keesokan harinya, Dara yang kebagian tugas praktek di jam middle kesulitan mendapatkan tempat parkir karena tempat parkir biasa miliknya penuh oleh kendaraan mewah.
"Pak, parkirin mobil aku ya. Pegel nih dari tadi udah muter-muter tapi nggak ada yang kosong," ujarnya memerintah pada satpam yang bertugas.
"Baik, Dokter," jawab satpam itu berlari karena sudah mengenal Dara.
"Ini ada apa sih?" Tumben parkir sampai penuh banget," ujarnya keluar dari mobil, dan memberikan kunci mobilnya.
"Pasienya dokter Kiara, Dok. Rame banget dari pagi."
Dara membulatkan bibir tanpa suara. Entah ada rasa tak nyaman menelusup didada Dara setiap kali mendengar apapun yang berhubungan dengan Kiara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
☕/arsenlemuel/argyatristan☕
dara jealous
2025-02-09
0
Rachmawati 8281
wahhhh ... saingan Dara nih ...
2024-03-12
0
Muhammad Dimas Prasetyo
padahal mah kalo dara tau perasaan zyan yg sesungguh nya
2024-03-12
0