Dalam hidupnya, Dara tak pernah bermimpi terlalu tinggi ataupun memiliki keinginan lebih. Kuliah, dan lulus menjadi seorang dokter seperti maminya sudah menjadi pencapaian hebat baginya. Soal jodoh, Dara tak memusingkan, dia masih ingin bebas berganti pacar, bukan untuk mencari yang terbaik, tapi hanya untuk hiburan semata, karena dia tidak setelah lulus intership pun Dara tak ingin melanjutkan pendidikan spesialis.
Tapi, setelah melihat kedekatan Zyan dan Kiara yang memiliki kredibilitas lebih darinya, Dara menjadi merasa tersaingi dan harus lebih dari wanita itu. Sambil mencuci tangan di wastafel, Dara berpikir, apa dia juga harus membuka klinik seperti maminya agar Zyan jadi berpaling padanya dari Kiara? Atau dia membuka bisnis sendiri yang bisa memikat hati Zyan?
Ketika kepalanya memikirkan banyak hal tentang rencananya kedepan. Kiara muncul dan mencuci tangan di sebelahnya. Dara melirik Kiara melalui ekor matanya, hingga beberapa menit kemudian, Kiara yang merasa diperhatikan sejak tadi merasa jengah.
"Harus banget ya lihat orang sampe begitunya buat nyari kekurangannya?" ucap Kiara terang-terangan memutar tubuhnya menghadap Dara.
"Siapa bilang nyari kekurangan? Yang ada kebalikanya kali, aku tuh lagi nyari apa sih kelebihan kamu?" balas Dara mencebik.
Kiara tersenyum meledek. "Harus banget tahu kelebihan aku? Mau nyamain biar dilirik Zyan?" Kiara menaikkan alisnya sebelah. "Asal kamu tahu, Zyan tuh nggak suka sama cewek centil dan model diskonan begini. Zyan tuh suka sama cewek anggun, berwawasan, memiliki kredibilitas yang tinggi."
Mata Dara membulat direndahkan dan disebut sebagai perempuan diskonan oleh Kiara, seumur hidupnya baru kali ini ada orang yang berani merendahkanya seperti ini. Tahu Dara tak bisa menampik ucapanya, Kiara tersenyum smirk berlalu meninggalkan Dara yang mematung dengan dada kembang kempis menahan amarah tapi ia tak bisa melakukan itu.
Sungguh ucapan Kiara tadi sangat mengganggu Dara. Tapi sebisa mungkin Dara bersikap profesional saat menangani pasien dan berusaha membuang jauh-jauh bayang-bayang cemooh Kiara tentangnya meski itu cukup mengganggu konsentrasinya karena sikap cuek Zyan padanya malah membuat Dara berspekulasi jika ucapan Kiara.
Sayangnya disaat Dara tidak ingin bertemu dengan Zyan maupun Kiara, saat diparkiran hendak pulang Dara justru dipertemukan dengan dua manusia itu dan bukan hanya keberadaan keduanya saja yang membuat Dara sulit bernafas, tawa lepas Zyan saat bersama Kiara seakan menyendat nafasnya ditenggorokan.
Untuk menyembunyikan semua perasaanya itu, Dara pura-pura sibuk telepon dengan Aira.
"Ia Ai, iya. Nanti gue beliin yang bagus buat Lo, cerewet banget deh Lo," dumel Dara berdecak.
Kringgggg
Kringgggg
Salahnya Dara tidak membreifing ponselya terlebih dahulu hingga panggilan dari Aira sungguhan membuatnya buru-buru memutar otak agar tidak ketahuan sedang berbohong.
"Ai sorry ada panggilan lain masuk. Temen kencan gue neleponin terus." Dara membuka pintu mobil tanpa menegur dua orang yang ia lewati dan berdiri tepat didekat mobilnya.
"Iya sayang, sebentar ya. Aku lagi otewe kesana. Hah? Apa? Di hotel Berlin? Iya aku kesana sekarang."
Setelah lima puluh meter keluar dari area rumah sakit, Dara menepikan mobilnya.
"Begoo, begoo. Kenapa gue mesti ngelakuin ini sih? Kan gue bisa bersikap biasa aja." Dara memukul stir mobilnya kesal, ketika baru menyadari juga jika kencan buta pilihanya tadi mengkonfirmasi kepada Kiara jika dia memang wanita flash sale. Ternyata dirinya tidak cukup pintar berbohong dalam keadaan terdesak.
"Woiiiii, Raaaaa. Lo denger gue nggak?"
Dara mencari sumber suara yang mengajaknya bicara yang terdengar sayup, gadis itu bergidik merinding ketika tidak menemukan ada siapapun didalam mobil kecuali dirinya.
"Darrrr, gue gaplok lo ya kalo gue disana. Gue teriak-teriak dari malah lo ngomong ngaco."
"Astaga," Dara mengusap keningnya saat baru menyadari jika tadi dia sempat menerima panggilan dari Aira.
"Ai Sorry."
"Lo mabok ya? Diajak ngomong apa, jawabnya apa. Kesel sama siapa sih?"
"Lo jangan ngomel-ngomel mulu kenapa sih, Ai. Lo nggak tahu apa yang barusan gue alamin?" balas Dara membela diri.
"Paling juga Lo dicuekin katak berudu Lo. Hahahaha." Di ujung sana Aira tertawa sumbang.
"Suara ketawa Lo gak enak. Pasti Lo juga lagi sedih." Terkanya asal tapi sangat tepat sasaran.
"Hikhik kenapa nasib kita sama sih, Ra? Kayaknya kita mesti mandi kembang."
"Huff," Dara membuang nafas lewat hidung.
"Gue rasa-rasa mau pindah ke mars deh kalau nasib gue begini mulu. Kayak anak angkat gue tinggal di bumi."
"Terus kalo lo pindah ke mars bakal jadi anak kandung dan dimasukin ke kk?"
"Entahlah Ai. Eh betewe emang Lo udah bener-bener jatuh hati sama mister Alex Lo itu? Bukan cuma penasaran atau obsesi doang?"
Gantian Aira yang membuang nafas lewat hidung. "Ya gak tau juga. Yang pasti gue kesel liat dia deket sama cewek lain, kangen kalo semenit doang gak ngeliat dia, pokoknya gak liat muka dia tuh gue ngerasa kayak orang gila. Tapi sayang, dia liat gue kayak liat musuh, ngehindar mulu, kayak yang jiji banget liat gue. Tapi gue-nya gak kenapa-kenapa digituin." Curhat Aira panjang lebar mendeskripsikan perasaanya.
"Kok sama ya Ai? Gue juga ngerasanya kayak gitu. Padahal dulu gue benci banget ngeliat mukanya, sekarang udah kayak bucin banget. Apa gue kena karma ya Ai?"
"Kalo Lo ketahuan pernah nyakitin dia. Lah gue? Karma dari mana?"
"Nggak sadar diri Lo ya? Kan Lo sering mutusin cowok tanpa sebab. Sama kayak gue sih?"
Hahahaha, diujung obrolan random itu keduanya tertawa, mentertawakan nasib mereka sendiri. Setelah obrolan dengan sepupunya berakhir, Dara mendadak bingung hendak kemana? Tiba-tiba hatinya merasa hampa melihat keakraban Zyan dan Kiara.
Tinnnn....
Dara mengintip mobil yang mengklaksonya melalui kaca spion tengah.
"Zyan? Ngapain sih? Pasti dia lagi sama cewek Kiamat itu," gumamnya mencebikkan bibir, kemudian melajukan mobilnya perlahan menuju sebuah hotel yang tak jauh dari sana. Mau tau apa tujuan gadis itu ke hotel? Bukan kerumahnya? Jawabannya, ya hanya untuk merelaksasikan otaknya yang terasa kencang karena memikirkan sesuatu hal yang berat. Sesekali matanya mengintip mobil Zyan yang berjarak tiga meter dibelakangnya, namun saat Dara membelokkan mobilnya menuju gerbang masuk hotel, mobil laki-laki itu menghilang.
"Mbak, mau pesan kamar untuk satu orang untuk satu malam," ujarnya pada resepsionis. "Saya reques yang ada pijat relaksasinya sekalian ya?"
"Baik, Nona. Boleh lihat kartu identitasnya?" Setelah menunggu sekitar liat belas menit, Dara mendapatkan kunci kamarnya. Sangat random memang, patah hati malah memilih pergi ke hotel hanya untuk mendinginkan otaknya yang panas, padahal kamar pribadinya tidak kalah mewah dengan hotel berbintang.
"Hah leganya." Dara menghempaskan tubuhnya keatas kasur empuk sambil memainkan kedua kaki dan tangannya.
Ceklek.
Dara terlonjak kaget saat pintu kamar mandi di buka.
"Z-ZYAN? Kok kamu ada disini?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
Rachmawati 8281
waduh .... ngamar nih be 2 ...
2024-03-14
0
lilyswit
astaga mau ngapain Zyan...😍
2024-03-14
1
lilyswit
yeaay...perpanjangan...makin ngakak baca obrolan Dara dan Aira..🤣🤣
makasih thor...taburan bunga buat dirimu😘
2024-03-14
0