"Apa ???" teriak Wanye menggila.
Meja di depannya tak luput dari amukan Wanye yang marah.
Wanye menggebrak keras meja di depannya dengan bersungut-sungut serta penuh emosi yang luar biasa.
Ketika Wanye mendengar kabar terpilihnya pemeran utama untuk film nanti.
Dilemparnya naskah di tangannya ke arah lantai kamarnya, bahkan dia mengamuk menggila hingga tak karuan.
PRAAANG... !
Kaca berserakan di atas lantai hingga berkeping-keping.
Ruangan kamar Wanye langsung berubah total seperti kapal pecah dengan dipenuhi pecahan kaca serta barang-barang berserakan di lantai.
Sorot mata Wanye berubah tajam dengan raut wajah penuh amarah yang meledak-ledak hebatnya.
"Ti--tidak !?" ucap Wanye dengan tangan gemetaran kuat.
Seorang gadis berpenampilan sederhana tampak berdiri di sudut ruangan kamar dengan ekspresi ketakutan.
Namun, dia tidak dapat berbuat apa-apa saat harus mengahadapi luapan kemarahan dari Wanye yang menggila.
PRAAAK... !
Wanye melemparkan semua benda yang ada di dalam kamar ke arah dinding lalu terjatuh berserakan hingga memenuhi sudut ruangan lantai kamarnya.
"Itu tidak mungkin !!!" teriak Wanye penuh emosi.
Kedua mata Wanye terbelalak lebar saat dia berteriak sejadi-jadinya.
Meluapkan semua kekesalannya atas ketidakadilan yang dia dapatkan karena hanya memperoleh pemeran pengganti dalam film.
"Ini penghinaan ! Dan aku tidak menerimanya !" ucapnya seraya menunduk sedih.
Wajah Wanye berubah merah padam sedangkan bibirnya bergetar hebat.
"Aku akan menemui sutradara dan menanyakan tentang hal ini untuk mencari kepastian", kata Wanye.
Tiba-tiba gadis berkacamata itu langsung menahan gerak langkah Wanye yang berjalan keluar.
"Hentikan Wanye !" ucapnya sambil menghalangi langkah Wanye.
"Minggir !" sahut Wanye dengan penuh emosi.
"Tidak, Wanye ! Aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal bodoh karena akan membuatmu kehilangan reputasimu !" kata gadis berkacamata itu.
Keduanya saling berpandangan tajam namun sikap Wanye terlihat tidak terima dengan keputusan yang didengar olehnya tentang terpilihnya Jingbei sebagai pemeran utama film.
"Jika kamu melangkah sekali lagi keluar dari kamar ini, aku pastikan kau akan kehilangan peranmu di film nanti", ucap gadis berkacamata.
"Kau mengancamku ?" sahut Wanye.
"Tidak, aku tidak mengancammu", ucap gadis berkacamata itu.
"Kalau begitu minggirlah dari hadapanku karena aku hendak pergi dari kamarku ini, Ah Lam !" sahut Wanye.
"Mengertilah, Wanye ! Ku mohon ! Tenangkanlah dirimu ! Jangan terbawa emosi !" pinta Ah Lam, gadis berkacamata itu setengah memohon agar Wanye urung pergi.
"Aku bilang padamu sekali lagi, minggirlah dari hadapanku, Ah Lam !" ucap Wanye.
"Jiks kamu pergi, sutradara akan memecatmu dari peran di film itu dan reputasimu akan hancur, Wanye", sahut Ah Lam.
"Hentikan, Ah Lam ! Jangan bicara lagi ! Kau tidak berhak berkata seperti itu padaku !" ucap Wanye dengan menghardik keras.
"Kumohon padamu... Jangan kau nekat menemui sutradara itu, Wanye !" pinta Ah Lam.
Ah Lam berusaha memegangi erat tangan Wanye supaya dia tidak pergi dari kamarnya untuk menemui sang sutradara film.
Keputusan Wanye yang hanya didasari oleh emosi sesaat akan menyebabkan kemarahan sutradara film. Dan kemungkinan akan melepasnya dari perannya di film nanti.
Gadis berkacamata bernama Ah Lam terus saja memegangi tangan Wanye hingga mereka bersitegang satu sama lain.
"Wanye !!!" panggil Ah Lam. "Kumohon padamu untuk tetap tenang, Wanye !!!" sambungnya.
"Lepaskan aku ! Biarkan aku pergi, Ah Lam !!!" sahut Wanye.
PLAK !
Tanpa sadar tangan Wanye mendarat tepat di wajah Ah Lam dengan kasarnya sehingga gadis berkacamata itu langsung merintih kesakitan.
Sorot mata Wanye berubah marah serta memerah karena marah.
"Sudah aku peringatkan padamu untuk tidak menghalangiku, Ah Lam !" ucap Wanye setengah berteriak.
Ah Lam terdiam seraya menundukkan kepalanya ke arah bawah sedangkan pipinya membekas merah.
"Bukan urusanmu untuk menahanku menemui sutradara karena ini menyangkut peranku dalam industri perfilman", kata Wanye.
Wanye benar-benar kehilangan kontrol kendali emosinya sehingga dia tega untuk menyakiti Ah Lam.
"Seharusnya kamu membantuku sebagai managerku, bukannya menghalangiku untuk memperoleh hakku lantas apa gunanya dirimu bagiku sebagai seorang manager !?" ucap Wanye.
Ah Lam masih terdiam tanpa berani menjawab ucapan Wanye dan masih menundukkan wajahnya.
"Tugasmu disini dari agen Feifan hanyalah mencarikanku job besar bukan membela orang lain yang tidak ada hubungannya denganmu", kata Wanye.
Wanye menatap dingin ke arah Ah Lam yang berdiri dengan memegangi pipinya yang memerah karena sakit.
"Jika kamu keberatan maka silahkan mengundurkan diri dari posisimu sebagai manager", kata Wanye.
Wanye memutar tubuhnya ke arah pintu kamarnya bermaksud pergi sebelumnya dia kembali menoleh ke arah Ah Lam.
"Ambil ini sebagai uang kompensasimu ! Silahkan tulis surat pengunduran dirimu sekarang ! Karena aku tidak lagi membutuhkanmu disini sebagai managerku", ucap Wanye.
Wanye membuka pintu kamarnya lalu beranjak pergi sembari membanting keras pintu kamarnya.
BRAK !
Tampak Wanye telah berjalan keluar kamarnya yang terletak di lantai atas, dia melangkah turun ke lantai bawah rumahnya.
Tap... !
Tap... !
Tap... !
Wanye bergegas turun dari ruangan kamarnya ke arah bawah dengan langkah tergesa-gesa sedangkan pandangannya dipenuhi amarah yang menggebu-gebu.
Saat Wanye telah berada di lantai bawah, seseorang melangkah ke arahnya.
Seorang wanita anggun berdiri tepat di dekat Wanye lalu menyapanya dengan penuh perhatian.
"Wanye, kamu akan pergi kemana ?" ucapnya.
Wanye terdiam tanpa merespon pertanyaan dari wanita itu seraya terus melangkah maju, dia benar-benar tak menghiraukan kehadiran wanita itu.
"Wanye... !" panggil wanita itu lagi.
Wanye lantas menghentikan langkah kakinya dengan sikap membelakangi wanita anggun itu.
"Dari atas kamarmu, aku mendengarkanmu sedang bertengkar dengan Ah Lam, apa yang terjadi sebenarnya, Wanye ?" tanya wanita itu.
"Bukan urusanmu...", sahut Wanye ketus.
"Wanye !" ucap wanita itu terkejut.
"Aku harus pergi sekarang karena masih ada pekerjaan yang harus aku urus di luar", kata Wanye.
Wanye melanjutkan langkah kakinya hendak pergi.
Tiba-tiba wanita anggun itu kembali memanggilnya dengan suara lebih lembut saat Wanye hendak melangkah.
"Wanye, ku mohon dengarkan ibu bicara, nak", kata wanita anggun itu agak memelas.
Wanye langsung menghentikan langkah kakinya saat dia berjalan maju.
Namun Wanye tetap tidak memperdulikan ucapan wanita anggun itu dan tetap membelakanginya.
"Wanye, jika kamu keluar dengan penuh kemarahan yang meluap maka kamu tidak akan pernah bisa kembali lagi seperti dulu", ucap wanita anggun itu berusaha menasehati Wanye.
Wanye langsung membalikkan badannya menghadap ke arah wanita anggun yang berdiri tepat di belakangnya.
Menatapnya tajam dengan sorot mata penuh emosi yang meluap-luap.
"Sejak kapan kau merasa berhak memberi saran kepadaku dan kapan terakhir kalinya kau memanggil dirimu dengan sebutan ibu untukku !?'' kata Wanye.
Wanita anggun itu langsung terperangah kaget ketika mendengar ucapan Wanye, dirasakannya sangat menusuk hatinya yang paling dalam.
Kedua tangan wanita anggun itu langsung berubah gemetaran.
Tahu bahwa dirinya telah salah selama ini terhadap Wanye karena telah membuat gadis itu kehilangan ibu kandungnya yang pergi meninggalkannya karena ayahnya menikah lagi dengannya, wanita anggun itu berusaha menahan keseimbangan dirinya saat berdiri.
Hanya saja wanita anggun itu tidak sanggup untuk tetap kuat menahan cercaan amarah dari Wanye dan dia berusaha berpegangan erat pada tepi tangga yang ada didekatnya.
Wanye lalu memutar kembali badannya menuju ke arah pintu keluar seraya melangkah pergi tanpa melanjutkan pembicaraan diantara mereka, dan meninggalkan rumah mewah itu tanpa mengucap sepatah katapun lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
horse win
he felt humiliated by jingbei
2024-03-22
1