Jingbei berjalan disisi Jing-Shen saat mereka melangkah keluar aula.
Casting film ditunda sampai besok karena sutradara merasa bahwa hari ini suasana agak kurang menyenangkan untuk melanjutkan casting film.
Tampak Jing-Shen melangkah cepat menelusuri jalan sekolah menengah atas.
Jingbei berjalan di dekatnya dan sesekali melirik ke arah Jing-Shen yang terlihat masam mukanya. Sedangkan pandangan semua siswi maupun siswa teralihkan seluruhnya ke arah mereka berdua secara berbisik-bisik.
"Jingbei...", panggil Jing-Shen.
"Iya, Jing-Shen !" sahut Jingbei.
"Kita akan mampir ke rumahmu karena aku ingin memperkenalkan diri kepada orang tua mu sebagai pacarmu, Jingbei", kata Jing-Shen.
"Ke rumahku ???" tanya Jingbei.
"Ya, benar, kita pergi ke rumahmu sekarang", sahut Jing-Shen.
"..... !???", tak ada suara jawaban dari Jingbei yang terdiam.
"Dimana rumahmu ? Kita naik apa kesana jika hendak ke rumahmu ?" tanya Jing-Shen.
"Mmm... !?" gumam Jingbei.
TAP... !
Jing-Shen lalu menghentikan langkah kakinya seraya memutar tubuhnya cepat, menghadap ke arah Jingbei.
SRET... !
Jing-Shen menatap tajam ke arah Jingbei dengan kedua tangan berada di dalam saku celananya.
"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku ?" tanya Jing-Shen.
Jingbei mendongakkan kepalanya menghadap Jing-Shen yang berdiri di hadapannya.
Keduanya saling terdiam serta berpandangan satu sama lain.
"Apa kamu tidak punya rumah ?" tanya Jing-Shen.
"Mmm... !?" Jingbei menganggukkan cepat kepalanya saat Jing-Shen bertanya kembali.
"Hah !? Apa !?" sahut Jing-Shen.
Kedua alis Jing-Shen sontak naik ke atas, mengekspresikan keterkejutannya saat mendengar reaksi dari Jingbei.
"Lantas orang tuamu ? Kalian tinggal dimana sekarang ?" tanya Jing-Shen.
"Kotak kaca...", sahut Jingbei.
"Kotak kaca !???" kata Jing-Shen tersentak kaget.
Sorot mata Jing-Shen semakin tajam saat menatap ke arah Jingbei yang telah menjadi pacarnya itu lalu dia segera menepuk pelan dahi milik Jingbei.
Puk !
Jing-Shen lalu berkata pada Jingbei.
"Hai, Jingbei, sebaiknya kita membeli makanan supaya pikiran kita dapat berpikir dengan baik", ucapnya seraya mengedipkan salah satu matanya.
"Makan !?" tanya Jingbei.
"Ya, benar ! Makan seperti makanan hamburger, hotdog, pancake, es krem, gulali, donat dan banyak lagi makanan lainnya !" ucap Jing-Shen.
"Hmm... ! Baiklah !?" sahut Jingbei agak sedikit bingung.
Jingbei tidak tahu bagaimana menjelaskan pada Jing-Shen yang merupakan pacarnya itu sebab Jingbei tidak merasa sedikitpun kelaparan saat ini.
Kriet... !
Jingbei memiringkan kembali kepalanya ke samping kanan lalu terdiam sesaat.
"Apa kau lapar Jing-Shen ?" tanya Jingbei.
"Iya, aku sangat lapar sekali sekarang", sahut Jing-Shen.
"Baiklah, kita beli makanan kesukaanmu saja", sahut Jingbei.
"Ya, baiklah...", ucap Jing-Shen.
Jingbei berjalan mendahului Jing-Shen dengan masih mengarahkan miring kepalanya ke samping kanan.
Tampak Jing-Shen melihatnya dengan tertegun.
Pada saat Jingbei menyenggol tiang lampu di sebelahnya tiba-tiba tiang itu bergerak miring dan melekuk ke dalam.
NGEK... !
Jing-Shen semakin terkejut ketika melihat tiang lampu berubah melekuk tersenggol lengan Jingbei saat gadis itu tak sengaja menyentuhnya tadi.
"Siapa dia sebenarnya ? Kuat sekali tenaganya ?" ucap Jing-Shen.
Masih dalam posisi kepala miring, Jingbei melangkah mengikuti jalan sepanjang trotoar yang ada di depan luar sekolahnya.
"Jingbei !" panggil Jing-Shen lalu berlari menyusul Jingbei.
"Ya, Jing-Shen", sahut Jingbei.
KRIET !
Jingbei mengembalikan posisi kepalanya semula lalu menoleh ke arah Jing-Shen.
"Kita akan membeli hamburger saja karena letak kedainya dekat dari sekolah", kata Jing-Shen.
"Dimana ?" tanya Jingbei.
"Disana !" sahut Jing-Shen sambil mengarahkan telunjuk tangannya ke arah sebuah kedai yang letaknya cukup jauh dari mereka sekarang.
"Baiklah, kita kesana sekarang", sahut Jingbei.
"Ayo !" jawab Jing-Shen.
TAP !
Jingbei meraih tangan Jing-Shen kemudian mengajaknya pergi bersamanya.
Mereka berlari melesat kilat saat Jingbei menarik tangan Jing-Shen bersamanya menuju ke kedai hamburger.
Sedetik kemudian mereka berdua telah sampai di kedai penjual roti hamburger yang menjual berbagai varian isi serta macam-macam topping.
SRET !
Jing-Shen serta Jingbei telah berdiri tepat di depan kedai.
Jingbei lalu bertanya pada Jing-Shen tentang hamburger isi apa yang diinginkan oleh aktor tampan itu.
"Kamu ingin hamburger lengkap dengan keju mozarella atau varian biasa saja ?" tanyanya.
Masih dengan ekspresi terkejutnya, aktor tampan itu berdiri dengan wajah kebingungan harus terpaksa menjawab pertanyaan Jingbei kepadanya.
"Mmm, hamburger lengkap saja karena aku sudah lapar sedari tadi", sahut Jing-Shen.
Jingbei mengangguk cepat lalu menoleh kembali kepada penjual kedai roti hamburger yang ada di depannya.
"Beli lima hamburger isi lengkap, pak !" ucap Jingbei kepada penjual kedai roti hamburger.
Jingbei mengarahkan lima jari tangannya ke arah Jing-Shen seraya memesan lima hamburger isi varian lengkap.
"Siap, nona !", sahut penjual hamburger.
Pemilik kedai roti hamburger segera memasak pesanan Jingbei dengan cekatannya, pria itu mulai meracik isian hamburger dan membakar roti.
Aroma wangi dari arah wajan penggorengan hamburger tercium hingga keluar kedai.
Jing-Shen langsung terbelalak lebar ketika melihat Jingbei memesan lima hamburger lengkap kepada penjual kedai.
"Apa kamu tidak salah pesan, Jingbei ?" tanya Jing-Shen.
NGIK... !
Jingbei menggeleng cepat seraya menjawab.
"Tidak, Jing-Shen !" sahutnya tegas.
"Apa kamu akan menghabiskannya nanti dan memakannya di rumah ?" tanya Jing-Shen.
"Tidak, Jing-Shen", sahut Jingbei.
"Tidak ! Dan kamu akan memakannya semuanya !?" kata Jing-Shen.
"Benar...", sahut Jingbei.
Giliran Jingbei mengangguk sekarang lalu tersenyum manis ke arah Jing-Shen.
Sekitar sejam, mereka berdua menunggu pesanan roti hamburger mereka matang dengan berdiri di depan kedai.
Tak lama kemudian...,
Penjual kedai hamburger telah selesai memasak pesanan mereka dan dia langsung menyodorkan lima bungkus roti hamburger berukuran jumbo kepada Jingbei.
"Nona, ini pesanan hamburgermu totalnya 150 Yuan !" ucap penjual kedai hamburger.
"Terimakasih, pak !" sahut Jingbei.
Jingbei mengambil lima bungkusan berisi roti hamburger dari tangan penjual kedai roti hamburger lalu memberikan satu buah bungkus hamburger kepada Jing-Shen.
"Satu hamburger jumbo isi varian lengkap untukmu, Jing-Shen !" ucap Jingbei.
Jing-Shen masih terdiam membatu saat Jingbei memberinya sebungkus roti hamburger jumbo panas. Kemudian Jingbei melenggang pergi sambil membawa empat bungkus roti hamburger jumbo lainnya.
"Hai, nak, kalian belum bayar hamburgernya", ucap pemilik kedai seraya melirik ke arah Jing-Shen yang masih berdiri termangu-mangu.
Jing-Shen menatap tajam ke arah pemilik kedai roti hamburger sembari mengeluarkan kartu ATM nya dari dalam dompet.
"Aku bayar pakai kartu debit !" ucap Jing-Shen.
"Harganya total 150 Yuan, bos ! Bayar tunai saja !" kata pemilik kedai.
"Aku tidak punya uang tunai, hanya ada kartu pembayaran via bank", sahut Jing-Shen.
"Ya, ampun... Baiklah, baiklah...", ucap pemilik kedai.
Pemilik kedai lalu keluar dari kedainya seraya mengeluarkan mesin pembayaran dari dalam kantung celemeknya.
"Gesekkan saja kartumu ke alat ini !" perintahnya.
"Ya...", ucap Jing-Shen.
Tit... !
Tit... !
Tit... !
Akhirnya pembayaran telah berhasil dilakukan oleh Jing-Shen kepada penjual hamburger kemudian aktor tampan itu mencari Jingbei.
"Mana gadis itu ?" tanyanya sambil celingukkan kesana-kemari.
Tidak dilihatnya Jingbei di arah terdekatnya tapi saat pandangan matanya mengarah lurus ke sebuah bangku yang letaknya dekat dua tiang lampu trotoar.
Tampak Jingbei sudah duduk disana sembari menikmati roti hamburger jumbo yang tadi dibelinya.
"Nah, itu dia !" ucap Jing-Shen.
Jing-Shen segera berlari cepat ke arah bangku trotoar yang sedang di duduki oleh Jingbei.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
horse win
not bad...🍔🍔🍔🍔🍔
2024-03-04
0