Jingbei berdiri di salah satu sudut ruangan aula sekolah, di tangannya dia memegang naskah film.
Setelah diterimanya Jingbei dalam audisi casting film yang tanpa sengaja dia lalui karena suatu insiden kecil sehingga dia memperoleh peran utama dalam film.
Sutradara meminta Jingbei untuk melatih dirinya membaca skrip naskah film, agar Jingbei terbiasa saat mendalami karakter peran yang akan dia mainkan nanti.
Tampak Jingbei membaca naskah dengan berlatih sungguh-sungguh.
Di bawah bimbingan asisten sutradara yaitu Chan Chan yang mulai memberinya latihan khusus.
"Kita mulai melatih olah vokal setelah kamu mahir membaca naskah, latihan akan lebih terperinci supaya kamu terbiasa dalam pembawaan karakter yang kamu mainkan nanti", ucap Chan Chan.
"Baik...", sahut Jingbei.
Jingbei memperhatikan arahan Chan Chan agar dirinya lebih menghayati karakter yang dia perankan sebelum syuting nanti.
"Akan ada pelatihan khusus dalam proyek film nanti, setiap pemeran film yang terpilih akan dimasukkan ke dalam masa training selama tiga bulan", ucap Chan Chan.
"Apa aku akan masuk masa training ?" tanya Jingbei.
"Iya, untuk semua pemain film terutama pemain inti, akan ada pelatihan khusus bagi kalian agar penghayatan karakter lebih dalam lagi", sahut Chan Chan.
"Dan sekarang untuk apa aku latihan jika akan ada masa training selama tiga bulan ?" tanya Jingbei.
"Pada masa training nanti, penghayatan bagi pemeran utama film lebih ditekankan karena tayangan film akan lebih tersorot pada pemain utama", sahut Chan Chan.
Jingbei terdiam.
"Dan latihan sekarang ini, untuk membiasakanmu berlatih olah vokal dalam menghayati peranmu nanti", ucap Chan Chan.
"Oh, begitu ya, aku mengerti", sahut Jingbei.
"Nah, mulai sekarang kita latihan olah vokal sebelum kamu masuk masa training nanti", kata Chan Chan.
"Baik, aku paham", ucap Jingbei.
"Setiap kamu membaca dialog, tolong diperhatikan pelafalannya serta tekanan nadanya, agar lebih masuk penghayatannya pada peran", ucap Chan Chan.
"Seperti ?" tanya Jingbei seraya menyodorkan naskah kepada Chan Chan.
"Lihat pada kalimat ini : "Maafkan aku ! Telah mengacaukan pikiranmu, seharusnya aku selalu mendukungmu dalam setiap situasi apapun !"
Chan Chan memberikan arahannya dalam mengolah vokal.
"Tolong kamu tekankan pada setiap tanda seru ! Dan jangan lupa tekankan suaramu dalam ekspresi gelisah !" ucap Chan Chan.
"Aku mengerti tapi aku masih kesulitan dalam mengekspresikan emosi", sahut Jingbei.
"Itu mudah, jika kamu dalam dialog marah maka kamu bayangkan saja hal yang tidak kamu sukai seperti membeli hal yang mengecewakan", ucap Chan Chan.
"Emm..., iya...", sahut Jingbei.
"Dan saat kamu dalam situasi sedih, tinggal kamu bayangkan hal menyedihkan atau kau buat dirimu menangis", lanjut Chan Chan.
"Contohnya ?" tanya Jingbei.
"Cubit saja tanganmu sampai kamu kesakitan maka kamu akan seger menangis", jawab Cha Chan.
"Bisakah kamu mencontohkannya padaku !" kata Jingbei seraya mengulurukan lengan tangannya.
"Maksudmu !?" tanya Chan Chan kebingungan.
"Yah, aku tidak tahu cara untuk menangis, mungkin saja kamu bisa menolongku untuk menangis !" sahut Jingbei.
Jingbei segera mengarahkan tangannya kepada Chan Chan agar asisten sutradara itu dapat memberinya sebuah contoh.
"Tolong cubitlah aku !" pinta Jingbei dengan kedua mata berkedip-kedip.
"Mencubitmu !?" tanya Chan Chan kaget.
"Benar, tolong buat diriku kesakitan !" sahut Jingbei.
"Ehk !?" gumam Chan Chan salah fokus.
"Tolong !" pinta Jingbei sekali lagi.
"Ya,ampun ! Kenapa tugasku tidak mudah ???" ucap Chan Chan.
"Maaf...", sahut Jingbei.
Jingbei tersenyum manis ke arah Chan Chan sambil tetap mengarahkan lengan tangannya kepada Chan Chan.
"Yah ! Baiklah !!!" ucap Chan Chan berseru pasrah.
Chan Chan lalu memenuhi permintaan Jingbei yang menginginkan agar dia mencubitnya keras sehingga menangis, hal yang menjadi contoh bagi Jingbei dalam membawakan karakter saat sedih.
"Tahanlah ! Dan jangan berteriak !" ucap Chan Chan.
Chan Chan mencubit lengan Jingbei supaya menangis.
Namun, tidak ada reaksi yang terjadi pada Jingbei meski dia telah disakiti sedemikian rupa oleh Chan Chan yang mencubitnya keras-keras.
Chan Chan memutar tangannya saat dia mencubit Jingbei tapi hampir tidak ada reaksi yang ditunjukkan oleh Jingbei.
Kesakitan pun tidak, Jingbei tidak merasakan apa-apa saat Chan Chan mencubit dirinya.
Ekspresi wajah Jingbei datar-datar saja ketika asisten sutradara itu menyakiti lengannya bahkan sakit pun tidak.
"Apa kau baik-baik saja ?" tanya Chan Chan.
"Ya, aku baik-baik saja !?" sahut Jingbei dengan muka datar.
"Tidak sakit ???" tanya Chan Chan.
"Sama sekali tidak sakit", sahut Jingbei dengan wajah tersenyum.
"Kau tidak merasakan sakit ???" kata Chan Chan yang mengulang pertanyaannya lagi.
"Tidak...", sahut Jingbei.
Jingbei hanya menggeleng pelan seraya menatap serius ke arah Chan Chan yang termenung melihatnya.
"Ba-bagaimana dia tidak merasa sakit ???" pikir Chan Chan yang terlihat sangat kebingungan.
"Hufh... !?" desah pelan Jingbei.
Jingbei tampak kecewa karena dia sama sekali tidak merasakan kesakitan mesti Chan Chan mencubitnya keras, justru Chan Chan yang kelelahan karena harus berusaha mati-matian menyakiti Jingbei.
Keringat deras bercucuran dari wajah Chan Chan, tiba-tiba seluruh badannya langsung lemas dan terjatuh duduk.
"Chan Chan ! Apa kamu baik-baik saja ?" tanya Jingbei khawatir.
"Huh... Huh... Huh... Aku kelelahan !" sahut Chan Chan yang ekspresi wajahnya terlihat letih.
"Maaf, maaf, beristirahatlah dahulu ! Pulihkan lagi kekuatanmu agar kita bisa lanjut latihan lagi !" ucap Jingbei.
Jingbei menuntun Chan Chan supaya dia dapat kuat berdiri lagi lalu membawanya ke kursi duduk.
"Istirahatlah disini !" pinta Jingbei.
"Iya...", sahut Chan Chan dengan wajah pucat pasi.
"Aku akan segera mengambilkanmu minuman", kata Jingbei.
"Yah...", gumam Chan Chan sambil mengangguk lemah.
"Tunggu ya !" kata Jingbei.
Chan Chan tidak menjawab ucapan Jingbei hanya terduduk dengan wajah lemah.
Tampak Jingbei setengah berlari ke arah meja yang tersedia di aula sekolah, untuk mengambil minuman yang ada di atas meja.
Jingbei lalu meraih lima botol minuman kemasan berisi juice segar untuk di berikan kepada Chan Chan yang terlihat kehilangan kesadarannya.
"Chan Chan !" panggil Jingbei yang berlari ke arah Chan Chan duduk.
Tergesa-gesa Jingbei segera memberikan botol juice segar kepada Chan Chan untuk diminum sekedar memberinya kekuatan pada tubuh Chan Chan.
Chan Chan mulai kelihatan kembali sadar ketika dia selesai meminum lalu memandang sayu ke arah Jingbei.
"Kau terbuat dari apa ?" tanyanya.
Jingbei hanya menanggapi ucapan Chan Chan dengan senyuman manis.
"Aku akan beristirahat sekarang dan membeli makanan untuk kita", ucap Jingbei.
"Kau !" kata Chan Chan.
Chan Chan menyodorkan satu botol minuman juice segar kepada Jingbei.
"Minumlah juga !" lanjutnya dengan sorot mata serius.
"Eh, aku ??? Meminum ini ???" sahut Jingbei.
"Yah...", ucap Chan Chan sembari mengangguk lemah.
"Umm... !? Baiklah..., aku akan segera meminumnya, apa ini lezat rasanya ?" sahut Jingbei lalu mengambil botol juice segar dari tangan Chan Chan.
Jingbei segera menenggak habis botol juice segarnya kemudian tersenyum kembali ke arah Chan Chan.
"Terimakasih atas minumannya...", ucap Jingbei sembari menggoyangkan botol kosong yang dia pegang.
"Ambillah semua jika kamu mau !" kata Chan Chan seraya memberikan semua botol minuman kepada Jingbei.
"Untukmu saja !" sahut Jingbei lalu melambaikan tangannya saat dia melangkah pergi.
"Kau akan kemana ?" tanya Chan Chan.
"Aku mau membeli makanan buat kita", sahut Jingbei dengan wajah cerianya. "Dagh ! Tunggu aku, ya, sebentar lagi aku kembali !" sambungnya.
Jingbei bermaksud untuk membeli makanan buat dirinya dan Chan Chan setelah berlatih tadi. Karena Jingbei merasa khawatir dengan kondisi Chan Chan yang tampaknya kelelahan setelah melatih dirinya untuk berlatih mengolah vokal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments