Jingbei masih tidak percaya bakal nasibnya seberuntung ini karena memperoleh dengan mudah peran utama untuk film.
Sebelum dia bereinkarnasi dari kehidupannya yang dahulu ke tubuh robot AI, Jingbei masih menjalani kehidupannya yang biasa-biasa saja serta hanya terjebak dalam situasi rumit karena setiap hari harus keluar-masuk rumah sakit untuk menjalani pengobatan.
Bahkan Jingbei terpaksa berbaring menginap di kamar rumah sakit yang pengap.
Sutradara lalu memberikan skrip naskah film kepada Jingbei serta surat kontrak film yang telah ditanda tangani oleh produser film.
"Mulai sekarang kita akan bekerjasama sampai film selesai, aku ucapkan selamat datang Jingbei !" ucap sang sutradara.
"Terimakasih...", sahut Jingbei dengan tersenyum senang.
"Mari kita bersalaman sebagai tanda kerjasama kita dalam pembuatan film dan semoga kamu betah bekerja bersama-sama kami", kata sutradara.
"Iya, sutradara", sahut Jingbei.
Jingbei mengulurkan tangannya kepada sang sutradara film sebagai tanda kerjasama mereka dalam pembuatan film perdana dimana Jingbei sebagai pemeran utamanya.
"Aku akan memberitahu Jing-Shen tentang terpilihnya pemeran utama film karena dia berhak tahu meski dia punya peran besar untuk memilih kandidat pemeran utama dalam filmnya", kata sutradara.
"Jing-Shen ada acara pemotretan hari ini, mungkin dia tidak kemari", sahut Jingbei.
"Hmm, begitu ya...", gumam sutradara.
Sutradara berpikir sesaat sambil memperhatikan jam tangannya.
"Baiklah, kita istirahat dulu, acara casting untuk pemilihan peran utama sudah ada, tinggal kita lanjutkan besok untuk sesi casting pemilihan peran lainnya", kata sutradara pada krew lainnya.
"Ya, sutradara !" sahut sejumlah krew film.
"Jingbei, setelah ini kita akan adakan latihan peran untuk mengisi waktumu karena syuting nanti kamu bisa langsung akting", kata sutradara.
"Iya, baik sutradara", sahut Jingbei.
"Sekarang kita istirahat dulu karena selanjutnya kami akan kembali casting untuk peran lainnya", kata sutradara.
Seseorang melangkah mendekat ke arah mereka sambil menyapa sang sutradara.
"Sutradara, apa kita akan lanjut castingnya ?" tanya seorang pria.
"Oh, iya, kita masih casting dan tolong umumkan lewat pengumuman di sekolah ini akan ada sesi selanjutnya", sahut sutradara.
"Tapi pemeran utama sudah ada dan baru dipilih, kenapa masih melanjutkan casting lagi ?" kata pria tersebut.
"Kita lanjutkan casting untuk peran lainnya dan akan ada sesi latihan untuk Jingbei", ucap sutradara.
"Latihan ?" tanya pria berpakaian ungu.
"Iya, aku sengaja ingin mengisi waktu kosong Jingbei berlatih peran untuk peran utamanya nanti agar dia lebih terbiasa saat syuting film", sahut sutradara.
"Tidak sebaiknya diadakan masa training bagi calon bintang film dalam sebuah komunitas tertentu", kata pria itu.
"Maksudnya kita adakan semacam orientasi bagi para pemeran film dalam suatu tempat khusus", ucap sutradara.
"Ya, tepatnya begitu", sahut pria itu.
"Hmm, sepertinya idemu bagus juga, akan aku ajukan kepada produser film agar proposal kita disetujui", kata sutradara.
"Dan masa orientasi itu dapat kita dokumentasikan sebagai hak siaran, bisa kita gunakan sebagai masa promo film kita", sahut pria itu.
"Bisa juga ide brilianmu itu, baiklah, kita akan teruskan rencana ini dan kita ajukan besok kepada produser film", ucap sutradara.
"Sebaiknya kita buat sekarang proporsalnya dan langsung saja kita ajukan kepada produser film", sahut pria itu.
"Tapi kita belum selesai casting untuk pemeran-pemeran lainnya, apa yang kita tulis dalam daftar pemeran film nanti pada proposal ?" tanya sutradara.
"Kita akan sertakan nanti daftar para pemain film setelah casting selesai, sekarang ini, kita ajukan pokok utamanya saja ke produser", sahut pria itu.
Sutradara mengangguk-angguk setuju sambil berpikir lalu dia melanjutkan ucapannya.
"Kalau begitu kamu yang membuat proporsalnya sekarang jika sudah selesai, tolong perlihatkan kepadaku", kata sutradara.
"Siap, sutradara ! Akan saya buat sekarang proposalnya dan saya akan segera beritahukan pada sutradara", sahut pria itu bersemangat.
"Ya, ya, ya, silahkan kamu lanjutkan sekarang", ucap sutradara.
"Baik, sutradara", sahut pria berbaju ungu lalu bergegas pergi.
Sutradara memperhatikan arah pria tadi saat dia pergi lalu tersenyum puas.
"Jingbei, setelah istirahat ini, kamu berlatih membaca skrip naskah film karena aku masih ada casting selanjutnya", ucap sutradara.
"Iya, sutradara", sahut Jingbei patuh.
Sutradara lalu memanggil asisten pribadinya dan seorang wanita berjalan ke arah mereka.
Terlihat Chan Chan melangkah menghampiri mereka berdua sambil melambaikan tangannya kepada Jingbei.
"Hai, Jingbei !" sapanya ramah.
"Hai... !" sahut Jingbei membalas sapaan Chan Chan dengan ceria.
Sutradara menoleh ke arah Chan Chan yang berdiri di dekat mereka.
"Kau sudah mengenalnya, Chan Chan ?" tanya sutradara.
"Iya, dari Jing-Shen yang mengenalkannya beberapa hari yang lalu", sahut Chan Chan. "Kira-kira kapan ya !?" sambungnya.
"Oh, begitu ya... !?" ucap sutradara film.
"Ada apa sutradara memanggilku ?" tanya Chan Chan.
"Tolong berikan salinan skrip naskah film untuk pemeran utama pada Jingbei !" perintah sutradara.
"Pemeran utama ???" tanya Chan Chan langsung kaget.
"Iya, pemeran utamanya sudah terpilih dan Jingbei yang menjadi pemerannya untuk film kita nanti", sahut sutradara.
"Woah !? Luar biasa... Cepat sekali sutradara memutuskan pemeran utamanya ???" ucap Chan Chan.
"Yeah... Aku tertarik pada Jingbei karena instingku berkata dia yang paling tepat !" sahut sutradara.
"Pasti karena Jingbei cantik !" ucap Chan Chan.
"Jangan berbicara yang mengada-ada, dia terpilih buka karena lantaran dia cantik saja melainkan aku melihat bakatnya", sahut sutradara.
"Ah, sutradara bisa juga berdalih !?" ucap Chan Chan sambil menggoda sutradara.
"Kecantikan itu aset penting untuk menarik minat pemirsa yang akan menonton film, akting bisa menyusul tapi aura bintang itu jarang sekali ditemukan", sahut sutradara.
"Apa itu perlu ???" tanya Chan Chan.
"Sudah, tidak usah kamu pikirkan nanti bisa pusing dirimu nanti jika terlalu memikirkan hal itu", sahut sutradara.
"Ya, ya, ya, baiklah sutradara...", kata Chan Chan.
"Apa akan ada sesi selanjutnya untuk casting film ini ?" tanya Chan Chan.
"Iya, casting akan dilanjutkan untuk casting pemeran lainnya", sahut sutradara.
"Hmm, iya...", ucap Chan Chan.
"Tolong kamu berikan naskah film pada Jingbei supaya dia bisa berlatih membaca skrip naskah !" perintah sutradara kepada Cha Chan.
"Siap, sutradara !" sahut Chan Chan.
Sutradara lalu beranjak pergi menuju ke area istirahat di salah satu sudut aula sekolah bersama krew film lainnya.
Tinggal Jingbei dan Chan Chan yang ada di dekat area tempat untuk casting.
"Tunggu sebentar Jingbei, aku akan mengambilkan naskah film yang dimaksud oleh sutradara !" pinta Chan Chan.
"Iya, Chan Chan...", sahut Jingbei seraya tersenyum.
"Aku menyimpannya pada map khusus di dalam mobil jadi aku tidak membawanya sekarang", kata Chan Chan.
"Iya, Chan Chan... Apakah aku ikut denganmu juga ke mobil ?" tanya Jingbei.
"Emm !? Bagaimana ya !?" kata Chan Chan.
"Jika kamu mengajakku maka aku merasa tidak keberatan, Chan Chan", ucap Jingbei.
"Sebaiknya kamu tunggu saja disini sampai aku kembali membawa naskah itu karena sutradara akan mencarimu nanti", kata Chan Chan.
"Baiklah, aku akan menunggumu disini...", sahut Jingbei.
"Ya, aku pergi dulu !" kata Chan Chan.
"Tunggu Chan Chan !" panggil Jingbei.
Ketika Chan Chan hendak pergi melangkah dari aula ini, perempuan yang menjadi asisten sutradara itu langsung menolehkan kepalanya ke arah Jingbei.
"Ya, Jingbei, ada apa ?" tanya Chan Chan.
"Terimakasih...", sahut Jingbei lalu tersenyum lembut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments