Jingbei memandang jauh ke depan dimana beberapa kios kecil penjual makanan masih berderet di seberang jalan.
Hamburger jumbo yang tadi dibelinya dari kedai hamburger telah habis semuanya sejak tadi.
Jingbei memperhatikan telapak tangannya yang terasa membeku dingin.
SRET...
Jing-Shen mengeluarkan sarung tangan bulu dari dalam tas selempangnya lalu memberikan benda itu kepada Jingbei.
"Pakailah sarung tangan ini ! Supaya kamu tidak merasa dingin, Jingbei...", ucap Jing-Shen.
"Terimakasih...", sahut Jingbei seraya mengambil sarung tangan dari aktor tampan itu.
"Jika kamu tidak punya rumah lalu dimana kamu tinggal selama ini di sini ?" tanya Jing-Shen.
"Aku... ???" sahut Jingbei.
"Iya, dimana kamu tinggal selain di kotak kaca maksudku alamatmu yang lebih jelas dimana kamu tinggal ?" tanya Jing-Shen.
"Aku !? Aku tidak terlalu mengenal alamat itu, yang aku lihat hanyalah bangunan luas kosong yang teramat sepi...", sahut Jingbei.
"Lalu orang tuamu... Apakah kamu juga tidak melihat mereka disana ?" tanya Jing-Shen.
"Tidak, aku tidak melihat siapapun disana, hanya ada aku sendirian di dalam kotak kaca", ucap Jingbei.
Hembusan angin menerpa wajah Jingbei, meniupkan helai-helai rambutnya ke arah muka wajah cantiknya.
"Kotak kaca, ya !? Mungkin semacam etalase toko atau rumah kaca, ya..., mungkin juga kamu tinggal di sebuah gedung pencakar langit !?" kata Jing-Shen.
"Tidak...", sahut Jingbei lirih.
"Tidak, menurutmu seperti apakah kotak kaca yang kamu maksudkan itu ?" tanya Jing-Shen.
"Seperti kotak kaca tempat membungkus", sahut Jingbei.
".... !?" Jing-Shen terdiam tanpa mengerti maksud dari ucapan Jingbei.
Bagaimana seseorang gadis dapat tinggal dalam sebuah kotak kaca pembungkus, bukankah itu sangat aneh.
Jing-Shen hanya mengusapkan wajahnya dengan telapak tangannya lalu menghela nafas panjangnya.
"Baiklah, kita akan bicarakan masalah tempat tinggalmu nanti", kata Jing-Shen.
Aktor muda itu mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam mantel bulunya yang panjang berwarna cokelat muda.
Diliriknya layar ponsel di tangannya seraya membuka kunci layarnya dengan kode sandi yang hanya dia sendiri mengetahuinya.
Push... !
Jing-Shen menyentuh layar ponselnya, membuka catatan agendanya untuk acara film-filmnya.
"Sepertinya aku masih ada sesi pemotretan untuk majalah besok pagi, mungkin sekarang aku lebih baik mempersiapkan sesuatu yang bersangkutan dengan agenda besok", ucap Jing Shen.
Jing-Shen menutup layar ponselnya kemudian menatap ke arah langit di atas mereka.
Tampak suasana langit mulai mendung, mungkin sebentar lagi hari akan turun hujan.
Jing-Shen memasukkan ponsel miliknya ke dalam tas selempang lalu mengeluarkan slayer kain rajutan seraya melingkarkannya ke arah leher.
Tak lupa dia merapatkan mantel panjangnya lalu berkata kembali kepada Jingbei.
"Ayo, kita pergi dari sini, Jingbei !" ajak Jing-Shen.
"Pergi kemana ?" tanya Jinbei sambil mendongak ke arah Jing-Shen.
"Ke apartemenku karena aku tidak memiliki rumah mewah sebagai hunian tinggalku maka aku memilih apartemen sebagai rumah", sahut Jing-Shen.
"Aku tidak mungkin bisa tinggal di apartemen bersamamu, bukankah itu akan melanggar etika norma", ucap Jingbei.
"Yah, kita akan memikirkannya lagi dimana kamu akan tinggal nanti tapi sebelum kamu mendapatkan rumah untuk kau tinggali maka sementara kau bersamaku", sahut Jing-Shen.
"Mmm... !?" gumam Jingbei.
Tampak keraguan di wajah Jingbei saat dia mendengar ajakan aktor tampan itu untuk tinggal bersama dengannya ke apartemennya.
Puk... ! Puk... ! Puk... !
Jing-Shen mengibaskan debu yang menempel pada mantel miliknya lalu menatap lurus ke arah Jingbei yang ada di hadapannya.
"Apa kamu tidak suka bersamaku ?" tanya Jing-Shen.
"Bukan begitu, hanya aku kepikiran hal omongan yang akan memperburuk citramu sebagai seorang aktor muda", sahut Jingbei seraya menyelipkan rambutnya ke arah belakang telinganya.
Sret... !
Jingbei tertunduk malu dengan tatapan sendu.
"Hal itu tidak akan menjadi masalah selama aku tidak mempermainkan seorang perempuan di luar sana atau membuat berita buruk dalam film", ucap Jing-Shen.
"Seharusnya aku tinggal di tempat lainnya, supaya kita tidak digosipkan yang tidak-tidak karena aku tinggal bersamamu satu atap", kata Jingbei.
"Baiklah, terserah padamu saja", sahut Jing-Shen.
"Mungkin sebaiknya demikian...", gumam Jingbei.
"Tapi aku merasa jika aku tidak berpacaran karena harus tinggal terpisah denganmu", kata Jing-Shen.
"Ehk !?" sahut Jingbei tersentak lalu menoleh.
"Yah, itu sudah keputusanmu maka aku harus menghormatinya meski akan berat bagi ku harus tinggal terpisah dengan kekasihku", ucap Jing-Shen.
"Mmm... !? Tapi..., jujur..., aku tidak punya uang untuk membayar sewa tinggalku selama di apartemen...", kata Jingbei.
"Ah... !?" Jing-Shen lalu berpikir dengan jawaban Jingbei.
Pandangan keduanya saling bertemu satu sama lain lalu terdiam cukup lama saat berpandangan.
"Ehk... Bagaimana jika kamu bekerja padaku, Jingbei ?" ucap Jing-Shen menawarkan diri untuk memberi pekerjaan kepada Jingbei.
"Bekerja !?" sahut Jingbei.
Kepala Jingbei mengarah kembali miring ke arah kanan sembari menatap lurus tepat ke wajah Jing-Shen.
"Apa itu bekerja ???" tanya Jingbei dengan tatapan polosnya.
"Bekerja seperti kamu sedang mengurus sesuatu yang penting seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah, menata pakaian dan sebagainya", sahut Jing-Shen.
Arah tatapan mata Jing-Shen mengarah ke atas kemudian diam sambil berpikir tentang ucapannya sendiri.
"Dan aku harus bekerja seperti itu denganmu !?" kata Jingbei.
"Emmm..., sebagai bayaran uang sewanya maka kamu bekerja padaku seperti seorang asisten pribadi dan mengurus ku", sambung Jing-Shen.
"Bekerja sebagai asisten pribadi...", kata Jingbei.
"Yah, benar sekali, dengan bekerja sebagai asisten pribadiku maka kamu dapat membayar uang sewa tinggal di apartemen jika kamu terpisah dariku", sambung Jing-Shen.
"Oh... !?" gumam Jingbei.
"Selain itu, kamu juga dapat membeli keperluan lainnya dari uang gajimu sebagai asisten pribadiku dan aku akan memberimu bonus tambahan", kata Jing-Shen.
"Uang gaji !?" ucap Jingbei.
Jing-Shen menganggukkan kepalanya, memberi isyarat pada Jingbei jika yang dia katakan benar dan cukup dipahami oleh gadis muda itu.
Terlihat Jingbei mulai berpikir dengan perkataan Jing-Shen lalu menatap serius ke arah aktor tampan yang berdiri di dekatnya.
"Bagaimana kamu setuju atau tidak dengan saranku ini ?" tanya Jing-Shen.
"Baiklah, aku akan menerimanya sebagai asisten pribadimu", sahut Jingbei.
"Bukan karena aku pelit dan tidak mau membayarkan uang sewa apartemen untukmu tetapi aku tidak ingin orang lain meremehkanmu", kata Jing-Shen.
"Mmm, iya, aku paham", sahut Jingbei.
"Dan aku berharap kamu tidak memikirkan hal itu terlalu serius jika kamu tinggal bersamaku maka biaya pengeluaran akan lebih berhemat ketimbang kita tinggal terpisah", ucap Jing-Shen.
"Aku mengerti itu, Jing-Shen", sahut Jingbei.
"Lantas, apakah kamu masih ragu-ragu memikirkan rencanamu untuk tinggal terpisah dariku ?" tanya Jing-Shen.
"Kita akan lihat nanti perkembangannya karena aku juga masih harus beradaptasi selama baru disini", sahut Jingbei.
"Baiklah, aku akan menerima saranmu dan sekarang kita pergi ke apartemen karena besok aku masih ada acara pemotretan majalah", kata Jing-Shen.
"Iya, aku mengerti...", sahut Jingbei.
Senyum cerah tergambar langsung di raut wajah Jingbei ketika mereka saling berpandangan satu sama lain. Begitu juga sebaliknya ekspresi Jing-Shen saat melihat gadis cantik yang menjadi pacarnya itu tertawa senang, membuat hati aktor tampan itu meleleh serta berubah hangat.
Jingbei yang telah berubah wujudnya menjadi robot AI bergegas berlari mengejar Jing-Shen yang telah berjalan mendahuluinya di depan.
Tampak keduanya saling bercanda ria selama berjalan bersama, Jing-Shen menggandeng tangan Jingbei saat mereka melangkah pergi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
horse win
🍔🍔🍔🍔🍔🍔🍔🍔🍔🍔🍔/Good/
2024-03-04
1