Bab 8 Bangku Di pinggir Trotoar

Jingbei memandang jauh ke depan dimana beberapa kios kecil penjual makanan masih berderet di seberang jalan.

Hamburger jumbo yang tadi dibelinya dari kedai hamburger telah habis semuanya sejak tadi.

Jingbei memperhatikan telapak tangannya yang terasa membeku dingin.

SRET...

Jing-Shen mengeluarkan sarung tangan bulu dari dalam tas selempangnya lalu memberikan benda itu kepada Jingbei.

"Pakailah sarung tangan ini ! Supaya kamu tidak merasa dingin, Jingbei...", ucap Jing-Shen.

"Terimakasih...", sahut Jingbei seraya mengambil sarung tangan dari aktor tampan itu.

"Jika kamu tidak punya rumah lalu dimana kamu tinggal selama ini di sini ?" tanya Jing-Shen.

"Aku... ???" sahut Jingbei.

"Iya, dimana kamu tinggal selain di kotak kaca maksudku alamatmu yang lebih jelas dimana kamu tinggal ?" tanya Jing-Shen.

"Aku !? Aku tidak terlalu mengenal alamat itu, yang aku lihat hanyalah bangunan luas kosong yang teramat sepi...", sahut Jingbei.

"Lalu orang tuamu... Apakah kamu juga tidak melihat mereka disana ?" tanya Jing-Shen.

"Tidak, aku tidak melihat siapapun disana, hanya ada aku sendirian di dalam kotak kaca", ucap Jingbei.

Hembusan angin menerpa wajah Jingbei, meniupkan helai-helai rambutnya ke arah muka wajah cantiknya.

"Kotak kaca, ya !? Mungkin semacam etalase toko atau rumah kaca, ya..., mungkin juga kamu tinggal di sebuah gedung pencakar langit !?" kata Jing-Shen.

"Tidak...", sahut Jingbei lirih.

"Tidak, menurutmu seperti apakah kotak kaca yang kamu maksudkan itu ?" tanya Jing-Shen.

"Seperti kotak kaca tempat membungkus", sahut Jingbei.

".... !?" Jing-Shen terdiam tanpa mengerti maksud dari ucapan Jingbei.

Bagaimana seseorang gadis dapat tinggal dalam sebuah kotak kaca pembungkus, bukankah itu sangat aneh.

Jing-Shen hanya mengusapkan wajahnya dengan telapak tangannya lalu menghela nafas panjangnya.

"Baiklah, kita akan bicarakan masalah tempat tinggalmu nanti", kata Jing-Shen.

Aktor muda itu mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam mantel bulunya yang panjang berwarna cokelat muda.

Diliriknya layar ponsel di tangannya seraya membuka kunci layarnya dengan kode sandi yang hanya dia sendiri mengetahuinya.

Push... !

Jing-Shen menyentuh layar ponselnya, membuka catatan agendanya untuk acara film-filmnya.

"Sepertinya aku masih ada sesi pemotretan untuk majalah besok pagi, mungkin sekarang aku lebih baik mempersiapkan sesuatu yang bersangkutan dengan agenda besok", ucap Jing Shen.

Jing-Shen menutup layar ponselnya kemudian menatap ke arah langit di atas mereka.

Tampak suasana langit mulai mendung, mungkin sebentar lagi hari akan turun hujan.

Jing-Shen memasukkan ponsel miliknya ke dalam tas selempang lalu mengeluarkan slayer kain rajutan seraya melingkarkannya ke arah leher.

Tak lupa dia merapatkan mantel panjangnya lalu berkata kembali kepada Jingbei.

"Ayo, kita pergi dari sini, Jingbei !" ajak Jing-Shen.

"Pergi kemana ?" tanya Jinbei sambil mendongak ke arah Jing-Shen.

"Ke apartemenku karena aku tidak memiliki rumah mewah sebagai hunian tinggalku maka aku memilih apartemen sebagai rumah", sahut Jing-Shen.

"Aku tidak mungkin bisa tinggal di apartemen bersamamu, bukankah itu akan melanggar etika norma", ucap Jingbei.

"Yah, kita akan memikirkannya lagi dimana kamu akan tinggal nanti tapi sebelum kamu mendapatkan rumah untuk kau tinggali maka sementara kau bersamaku", sahut Jing-Shen.

"Mmm... !?" gumam Jingbei.

Tampak keraguan di wajah Jingbei saat dia mendengar ajakan aktor tampan itu untuk tinggal bersama dengannya ke apartemennya.

Puk... ! Puk... ! Puk... !

Jing-Shen mengibaskan debu yang menempel pada mantel miliknya lalu menatap lurus ke arah Jingbei yang ada di hadapannya.

"Apa kamu tidak suka bersamaku ?" tanya Jing-Shen.

"Bukan begitu, hanya aku kepikiran hal omongan yang akan memperburuk citramu sebagai seorang aktor muda", sahut Jingbei seraya menyelipkan rambutnya ke arah belakang telinganya.

Sret... !

Jingbei tertunduk malu dengan tatapan sendu.

"Hal itu tidak akan menjadi masalah selama aku tidak mempermainkan seorang perempuan di luar sana atau membuat berita buruk dalam film", ucap Jing-Shen.

"Seharusnya aku tinggal di tempat lainnya, supaya kita tidak digosipkan yang tidak-tidak karena aku tinggal bersamamu satu atap", kata Jingbei.

"Baiklah, terserah padamu saja", sahut Jing-Shen.

"Mungkin sebaiknya demikian...", gumam Jingbei.

"Tapi aku merasa jika aku tidak berpacaran karena harus tinggal terpisah denganmu", kata Jing-Shen.

"Ehk !?" sahut Jingbei tersentak lalu menoleh.

"Yah, itu sudah keputusanmu maka aku harus menghormatinya meski akan berat bagi ku harus tinggal terpisah dengan kekasihku", ucap Jing-Shen.

"Mmm... !? Tapi..., jujur..., aku tidak punya uang untuk membayar sewa tinggalku selama di apartemen...", kata Jingbei.

"Ah... !?" Jing-Shen lalu berpikir dengan jawaban Jingbei.

Pandangan keduanya saling bertemu satu sama lain lalu terdiam cukup lama saat berpandangan.

"Ehk... Bagaimana jika kamu bekerja padaku, Jingbei ?" ucap Jing-Shen menawarkan diri untuk memberi pekerjaan kepada Jingbei.

"Bekerja !?" sahut Jingbei.

Kepala Jingbei mengarah kembali miring ke arah kanan sembari menatap lurus tepat ke wajah Jing-Shen.

"Apa itu bekerja ???" tanya Jingbei dengan tatapan polosnya.

"Bekerja seperti kamu sedang mengurus sesuatu yang penting seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah, menata pakaian dan sebagainya", sahut Jing-Shen.

Arah tatapan mata Jing-Shen mengarah ke atas kemudian diam sambil berpikir tentang ucapannya sendiri.

"Dan aku harus bekerja seperti itu denganmu !?" kata Jingbei.

"Emmm..., sebagai bayaran uang sewanya maka kamu bekerja padaku seperti seorang asisten pribadi dan mengurus ku", sambung Jing-Shen.

"Bekerja sebagai asisten pribadi...", kata Jingbei.

"Yah, benar sekali, dengan bekerja sebagai asisten pribadiku maka kamu dapat membayar uang sewa tinggal di apartemen jika kamu terpisah dariku", sambung Jing-Shen.

"Oh... !?" gumam Jingbei.

"Selain itu, kamu juga dapat membeli keperluan lainnya dari uang gajimu sebagai asisten pribadiku dan aku akan memberimu bonus tambahan", kata Jing-Shen.

"Uang gaji !?" ucap Jingbei.

Jing-Shen menganggukkan kepalanya, memberi isyarat pada Jingbei jika yang dia katakan benar dan cukup dipahami oleh gadis muda itu.

Terlihat Jingbei mulai berpikir dengan perkataan Jing-Shen lalu menatap serius ke arah aktor tampan yang berdiri di dekatnya.

"Bagaimana kamu setuju atau tidak dengan saranku ini ?" tanya Jing-Shen.

"Baiklah, aku akan menerimanya sebagai asisten pribadimu", sahut Jingbei.

"Bukan karena aku pelit dan tidak mau membayarkan uang sewa apartemen untukmu tetapi aku tidak ingin orang lain meremehkanmu", kata Jing-Shen.

"Mmm, iya, aku paham", sahut Jingbei.

"Dan aku berharap kamu tidak memikirkan hal itu terlalu serius jika kamu tinggal bersamaku maka biaya pengeluaran akan lebih berhemat ketimbang kita tinggal terpisah", ucap Jing-Shen.

"Aku mengerti itu, Jing-Shen", sahut Jingbei.

"Lantas, apakah kamu masih ragu-ragu memikirkan rencanamu untuk tinggal terpisah dariku ?" tanya Jing-Shen.

"Kita akan lihat nanti perkembangannya karena aku juga masih harus beradaptasi selama baru disini", sahut Jingbei.

"Baiklah, aku akan menerima saranmu dan sekarang kita pergi ke apartemen karena besok aku masih ada acara pemotretan majalah", kata Jing-Shen.

"Iya, aku mengerti...", sahut Jingbei.

Senyum cerah tergambar langsung di raut wajah Jingbei ketika mereka saling berpandangan satu sama lain. Begitu juga sebaliknya ekspresi Jing-Shen saat melihat gadis cantik yang menjadi pacarnya itu tertawa senang, membuat hati aktor tampan itu meleleh serta berubah hangat.

Jingbei yang telah berubah wujudnya menjadi robot AI bergegas berlari mengejar Jing-Shen yang telah berjalan mendahuluinya di depan.

Tampak keduanya saling bercanda ria selama berjalan bersama, Jing-Shen menggandeng tangan Jingbei saat mereka melangkah pergi.

Terpopuler

Comments

horse win

horse win

🍔🍔🍔🍔🍔🍔🍔🍔🍔🍔🍔/Good/

2024-03-04

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Jingbei
2 Bab 2 Identitas Baru Al
3 Bab 3 Menjadi Pacar Aktor
4 Bab 4 Aula Sekolah
5 Bab 5 Si Antagonis
6 Bab 6 Sebuah Kedai
7 Bab 7 Curahan Hati Kami
8 Bab 8 Bangku Di pinggir Trotoar
9 Bab 9 Cara Sampai Ke Lantai Atas
10 Bab 10 Tempat Tinggal Itu Tak Sama Lagi
11 Bab 11 Haruskah Ku Lakukan Itu
12 Bab 12 Ternyata Tidaklah Mudah
13 Bab 13 Pembicaraan Di Pagi Hari
14 Bab 14 Tak Sengaja Tergelincir
15 Bab 15 Kerjasama
16 Bab 16 Latihan Olah Vokal
17 Bab 17 Pesona Jing-Shen
18 Bab 18 Terkejutnya Jing-Shen
19 Bab 19 Dalam Sekejap Mata
20 Bab 20 Kemarahan Wanye
21 Bab 21 Tersulut Pertengkaran
22 Bab 22 Kekacauan Terjadi
23 Bab 23 Wanye Masih Marah
24 Bab 24 Melerai Mereka
25 Bab 25 Romantisnya Jing-Shen
26 Bab 26 Hari Yang Menyenangkan
27 Bab 27 Kejadian Di Hari Ini
28 Bab 28 Waktu Berlatih
29 Bab 29 Membantu Jing-Shen
30 Bab 30 Mulai Mengubah Gaya
31 Bab 31 Sesi Pemotretan Hari Ini
32 Bab 32 Kontrak Kerja Tak Terbatas
33 Bab 33 Bermain Keberuntungan
34 Bab 34 Pasar Batu Berharga
35 Bab 35 Keributan Kecil
36 Bab 36 Zamrud Langka
37 Bab 37 Biro Lelang
38 Bab 38 Pria Tambun
39 Bab 39 Tujuan Jingbei
40 Bab 40 Transaksi Rapi
41 Bab 41 Menjadi Kaya Raya
42 Bab 42 Rumah Baru
43 Bab 43 Hari Ulang tahun
44 Bab 44 Gedung Pasar Saham
45 Bab 45 Seperti Inilah Situasinya
46 Bab 46 Serbuan Para Fans
47 Bab 47 Mendapatkan Investor
48 Bab 48 Kencan Pertama Kalinya
49 Bab 49 Ungkapan Hati
50 Bab 50 Senyuman Indah Milik Jingbei
51 Bab 51 Kejadian Yang Mendekatkan
52 Bab 52 Fans Yang Menggila
53 Bab 53 Asisten Pribadi
54 Bab 54 Saingan Baru
55 Bab 55 Satu Bus
56 Bab 56 Ke Kota Hengdian
Episodes

Updated 56 Episodes

1
Bab 1 Jingbei
2
Bab 2 Identitas Baru Al
3
Bab 3 Menjadi Pacar Aktor
4
Bab 4 Aula Sekolah
5
Bab 5 Si Antagonis
6
Bab 6 Sebuah Kedai
7
Bab 7 Curahan Hati Kami
8
Bab 8 Bangku Di pinggir Trotoar
9
Bab 9 Cara Sampai Ke Lantai Atas
10
Bab 10 Tempat Tinggal Itu Tak Sama Lagi
11
Bab 11 Haruskah Ku Lakukan Itu
12
Bab 12 Ternyata Tidaklah Mudah
13
Bab 13 Pembicaraan Di Pagi Hari
14
Bab 14 Tak Sengaja Tergelincir
15
Bab 15 Kerjasama
16
Bab 16 Latihan Olah Vokal
17
Bab 17 Pesona Jing-Shen
18
Bab 18 Terkejutnya Jing-Shen
19
Bab 19 Dalam Sekejap Mata
20
Bab 20 Kemarahan Wanye
21
Bab 21 Tersulut Pertengkaran
22
Bab 22 Kekacauan Terjadi
23
Bab 23 Wanye Masih Marah
24
Bab 24 Melerai Mereka
25
Bab 25 Romantisnya Jing-Shen
26
Bab 26 Hari Yang Menyenangkan
27
Bab 27 Kejadian Di Hari Ini
28
Bab 28 Waktu Berlatih
29
Bab 29 Membantu Jing-Shen
30
Bab 30 Mulai Mengubah Gaya
31
Bab 31 Sesi Pemotretan Hari Ini
32
Bab 32 Kontrak Kerja Tak Terbatas
33
Bab 33 Bermain Keberuntungan
34
Bab 34 Pasar Batu Berharga
35
Bab 35 Keributan Kecil
36
Bab 36 Zamrud Langka
37
Bab 37 Biro Lelang
38
Bab 38 Pria Tambun
39
Bab 39 Tujuan Jingbei
40
Bab 40 Transaksi Rapi
41
Bab 41 Menjadi Kaya Raya
42
Bab 42 Rumah Baru
43
Bab 43 Hari Ulang tahun
44
Bab 44 Gedung Pasar Saham
45
Bab 45 Seperti Inilah Situasinya
46
Bab 46 Serbuan Para Fans
47
Bab 47 Mendapatkan Investor
48
Bab 48 Kencan Pertama Kalinya
49
Bab 49 Ungkapan Hati
50
Bab 50 Senyuman Indah Milik Jingbei
51
Bab 51 Kejadian Yang Mendekatkan
52
Bab 52 Fans Yang Menggila
53
Bab 53 Asisten Pribadi
54
Bab 54 Saingan Baru
55
Bab 55 Satu Bus
56
Bab 56 Ke Kota Hengdian

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!