Jingbei menikmati makanannya yang berupa kotak bento dengan duduk di dekat Chan Chan yang tampak bersemangat melahap makanan bento miliknya.
Rupanya Chan Chan sangat kelaparan sehingga tanpa sengaja dia menghabiskan nasi kotak bento miliknya dalam sekejap saja.
Jingbei hanya melihat sekilas ke arah Chan Chan lalu melanjutkan kembali waktu memakannya.
Tap... !
Tap...!
Tap... !
Terlihat dari arah kejauhan, Jing-Shen berjalan ke arah tempat Jingbei dan Chan Chan duduk.
Penampilan biasanya yang selalu memukau terlihat elegan serta memikat perhatian setiap orang yang melihatnya.
Hampir semua yang hadir di aula sekolah memandangi Jing-Shen yang terus berjalan dengan sikap acuhnya.
"Hai, Jingbei !" sapanya.
Jingbei langsung mengalihkan pandangannya ke arah Jing-Shen yang telah berdiri di dekatnya.
"Jing-Shen...", sahut Jingbei agak terkejut saat melihat kedatangan Jing-Shen ke arahnya.
"Kalian sedang makan siang ?" tanya Jing-Shen.
"Iya, kami sedang makan siang, apa kamu baru datang ?" tanya Jingbei.
"Yup, aku baru saja selesai sesi pemotretan", sahut Jing-Shen.
"Hai, Jing-Shen ! Apa kamu sudah makan siang ?" sapa Chan Chan sembari menoleh ke arah aktor tampan itu.
"Belum, aku baru saja datang dari sesi pemotretan dan belum sempat mengisi perutku", kata Jing-Shen.
"Apa yang kamu bawa itu ?" tanya Chan Chan.
Chan Chan memandangi bungkusan kain di tangan Jing-Shen.
"Oh, ini ! Aku mendapatkannya dari manager majalah saat sesi pemotretan tadi, dan aku belum tahu isinya", sahut Jing-Shen.
"Kenapa kamu tidak membuka untuk melihat isinya ?" tanya Chan Chan yang sedari tadi mengoceh dengan mulut penuh minuman.
"Aku tidak punya waktu untuk membukanya, rencanaku, aku akan membuka bungkusan ini saat pulang nanti di rumah", sahut Jing-Shen.
"Oh, baiklah, kalau kamu berniat untuk membukanya di rumah", kata Chan Chan.
"Sebenarnya tidak masalah bagiku untuk membukanya sekarang tapi aku tidak berminat saja dengan hadiah ini", sahut Jing-Shen.
"Ya, kalau begitu buka saja hadiah itu jika kamu tidak suka", kata Chan Chan.
"Baiklah, aku akan membukanya, rencananya aku akan memberikannya untuk Jingbei sebagai hadiah dia bekerja denganku", sahut Jing-Shen.
"Jingbei bekerja denganmu ?" tanya Chan Chan.
"Ya, benar. Kenapa ?" sahut Jing-Shen sambil mengangkat kedua alisnya ke atas.
"Sebagai apa ?" tanya Chan Chan terpana.
"Jingbei bekerja sebagai asisten pribadiku mulai sekarang", sahut Jing-Shen.
"Huft... !?" Chan Chan langsung menyemburkan minuman dari mulutnya secara tiba-tiba.
"Kenapa denganmu ?" tanya Jing-Shen terkejut.
"Mungkin dia tersedak saat minum karena dia minum sambil berbicara, Jing-Shen", sahut Jingbei.
"Dia ceroboh sekali...", kata Jing-Shen seraya melirik ke arah Chan Chan.
"Tidak, aku tidak seceroboh itu, Jing-Shen", sahut Chan Chan sambil membersihkan mulutnya dengan tissue.
"Ya, terserah padamu saja'', ucap Jing-Shen.
Jing-Shen lalu menarik kursi di dekatnya lalu duduk dengan santainya.
"Rupanya acara casting masih terus berlanjut, sutradara masih bekerja keras untuk menemukan calon pemeran utama", kata Jing-Shen.
"Kau salah, Jing-Shen...", ucap Chan Chan.
"Oh, iya ?" sahut Jing-Shen sembari merapikan letak jasnya.
"Sutradara telah memilih pemeran utama untuk film nanti", kata Chan Chan.
"Benarkah ?" tanya Jing-Shen terkejut.
"Yah, pemeran utama telah ditetapkan untuk film dan sekarang ini adalah sesi casting untuk pemeran lainnya", sahut Chan Chan.
"Oh, begitu ya... Aku pikir belum ada pemeran utama yang terpilih untuk film nanti pasti Wanye yang terpilih sebagai pemeran utamanya dengan koneksi yang dia miliki dalam dunia industri ini", kata Jing-Shen.
Raut wajah Jing-Shen berubah suram ketika dia menebak bahwa Wanye-lah yang terpilih sebagai pemain utama.
"Tidak, bukan Wanye, bintang utamanya untuk film nanti", sahut Chan Chan.
"Oh, iya !? Benarkah bukan Wanye ???" kata Jing-Shen dengan ekspresi wajah bahagia.
"Benar, bukan Wanye...", sahut Chan Chan.
Chan Chan mengangguk cepat saat Jing-Shen bertanya padanya tentang pemeran utama film yang bukan Wanye yang terpilih.
"Apa kamu tahu bocoran nama pemeran utamanya ?" tanya Jing-Shen.
"Kenapa ? Apa kamu penasaran ?" sahut Chan Chan.
"Bukan penasaran, jika kamu tahu beritahu padaku bukankah itu tidak masalah", kata Jing-Shen.
"Yah, bukan masalah memang, apa imbalannya kalau aku memberitahukan padamu ?" sahut Chan Chan.
"Baiklah...", ucap Jing-Shen.
Jing-Shen lalu membuka bungkusan kain yang dia dapatkan sebagai hadiah dari manager majalah.
Sret... Sret... Sret...
Sebuah kotak terlihat setelah Jing-Shen membuka kain pembungkusnya.
"Apa ini ?'' tanya Chan Chan.
"Entahlah, aku juga tidak tahu", sahutnya.
"Buka saja !" kata Chan Chan.
"Baiklah, aku akan membukanya tapi kumohon tetaplah tenang", ucap Jing-Shen.
"Cepatlah !" kata Chan Chan yang tidak sabaran.
KLOTAK !
Jing-Shen membuka tutup kotak lalu dia melihat ada sebuah kotak lagi di dalam kotak yang berukuran lebih kecil.
Aktor muda itu meraih kotak berwarna merah muda lalu membukanya.
"Aku dapat cokelat rupanya...", ucap Jing-Shen.
"Wah, lumayan ! Berikan aku sebungkus cokelat itu !" kata Chan Chan.
"Nih, ambillah !" sahut Jing-Shen seraya menyodorkan kotak berwarna merah muda di tangannya kepada Chan Chan.
"Apa ini untukku semua ?" tanya Chan Chan.
"Tidak, aku hanya menawarimu dan ambillah secukupnya !" sahut Jing-Shen.
"Dasar kau pelit, Jing-Shen !" ucap Chan Chan.
"Jangan cerewet ! Ambil saja cokelat ini dan segeralah memakannya !" kata Jing-Shen.
Chan Chan segera mengambil beberapa bungkus cokelat dari dalam kotak berwarna merah muda seraya tersenyum.
"Terimakasih atas hadiahnya", ucap Chan Chan.
"Sama-sama...", kata Jing-Shen.
Jing-Shen juga menawarkan hadiah cokelat yang dia dapatkan dari hasil sesi pemotretan kepada Jingbei.
Tampak Jingbei hanya diam saja sedari tadi sembari memperhatikan tingkah laku dua orang di hadapannya yang memperebutkan sekotak hadiah cokelat.
"Jingbei, ambillah hadiah cokelat ini !", kata Jing-Shen.
"Terimakasih, Jing-Shen", sahut Jingbei.
Jingbei mengambil dua buah bungkus cokelat dari dalam kotak lalu tersenyum manis.
"Ehk... Tidak, tidak, tidak... ! Jangan ambil dua bungkus tapi ambillah semua hadiah ini !" ucap Jing-Shen.
Jing-Shen menyerahkan satu kotak yang masih penuh dengan isi cokelat kepada Jingbei.
"Ini terlalu banyak, Jing-Shen !?" kata Jingbei agak terkejut.
"Aku memang rencananya ingin memberikan hadiah ini untukmu sebagai hadiah untuk pertama kalinya kamu bekerja denganku", ucap Jing-Shen.
"Woah... ! Ini luar biasa, Jing-Shen...", sahut Jingbei dengan senangnya saat mendapatkan hadiah untuk pertama kalinya selama dia datang ke dalam kehidupan barunya.
"Apa kamu senang ?" tanya Jing-Shen.
"Ya, tentu saja, aku sangat senang mendapatkan hadiah darimu", sahut Jingbei seraya tertawa senang.
"Yah, tapi bukan aku yang membelinya sendiri", kata Jing-Shen.
"Tidak apa-apa dan aku tidak mempermasalahkannya soal itu, aku sangat senang memperoleh hadiah terutama darimu Jing-Shen", sahut Jingbei.
"Ya, ya, ya...", kata Jing-Shen.
Jing-Shen lalu tertawa saat melihat ekspresi Jingbei yang sangat senang mendapatkan hadiah darinya.
Berkali-kali Jing-Shen tersenyum bahagia ketika Jingbei mengucapkan terimakasih kepadanya serta memuji dirinya.
Ini adalah pertama kalinya bagi Jingbei mendapatkan sesuatu dari orang lain dan orang itu adalah pacarnya yaitu aktor ternama berbakat bernama Jing-Shen.
Bukankah hadiah merupakan bentuk kesayangan dari seseorang yang sangat mencintai kita, mungkin saja bukan.
Jingbei terus mengumbar senyumannya setiap dia menikmati gigitan cokelat dalam mulutnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments