Jingbei membaca kembali surat kontrak kerjanya dari Jing-Shen.
Aktor muda itu memang telah membuat perjanjian untuk Jingbei yang akan bekerja sebagai asisten pribadinya.
Kebiasaan Jingbei selalu memiringkan kepalanya saat dia tidak memahami hal baru yang dia temui.
"Kenapa ?" tanya Jing-Shen.
"Bisakah kamu memberitahukan padaku tentang isi kontrak kerja ini ?" kata Jingbei sambil menunjuk ke point yang tidak dia pahami.
"Oh !?" sahut Jing-Shen.
"Oh ???" kata Jingbei.
Jingbei membelalakkan kedua matanya saat Jing-Shen hanya menjawab "Oh" saja.
"Aku tidak mengerti kenapa sekarang berubah isi kesepakatannya, bukankah kamu bilang bahwa kita akan tertinggal terpisah ?" tanya Jingbei.
"Kapan aku pernah berkata demikian ?" tanya Jing-Shen.
"Saat...", Jingbei lantas terdiam.
Teringat bahwa sistem memori Jing-Shen telah terhapus, hanya mengingat tentang bagian tertentu saja sedangkan sistem AI telah menghapus ingatan yang kurang baik untuk diingat oleh aktor muda itu.
Jingbei menurunkan kertas kontrak kerjanya lalu melipatnya rapi kemudian memasukkannya ke dalam saku kemeja seragamnya.
"Maaf...", ucap Jingbei seraya menunduk.
"Sekarang adakah hal yang perlu kamu tanyakan lagi tentang kontrak kerja itu ?" tanya Jing-Shen.
"Tidak..., tidak ada...", sahut Jingbei.
Jingbei hanya menggeleng pelan.
"Baiklah, mulai sekarang kamu berperan ganda sebagai pacarku dan juga asisten pribadiku", kata Jing-Shen.
"Emm... !? Yah... ?" sahut Jingbei bergumam lirih lalu beranjak berdiri.
"Tugasmu akan aku berikan setelah aku mengetiknya, sekarang kamu akan tinggal satu apartemen denganku mulai sekarang", kata Jing-Shen.
Jing-Shen lantas melangkah menuju ke sebuah kamar kosong lalu berdiri di depannya.
"Dikamar ini kamu akan tinggal disini sementara sampai kamu dapat menyewa apartemen sendiri nanti", kata Jing-Shen.
"Ya, terimakasih telah menampungku di apartemenmu", sahut Jingbei.
Jingbei tersenyum kepada Jing-Shen.
Terlihat wajah Jing-Shen yang lelah setelah sibuk kemarin.
"Kamar ini masih belum ada perabotannya dan juga kosong, jika kamu ingin menatanya sendiri, silahkan saja jika kamu mau", lanjut Jing-Shen.
"Ya, aku akan menatanya tetapi aku tidak punya uang untuk membeli perabotan...", sahut Jingbei.
"Oh, iya, aku hampir melupakannya tentang itu", kata Jing-Shen.
Jing-Shen mengeluarkan sebuah amplop lalu menyerahkannya kepada Jingbei.
"Apa ini ?" tanya Jingbei agak terkejut kaget.
"Ini ada amplop berisi gaji pertamamu, aku membayarmu di muka untuk bulan ini dan mungkin saja bulan berikutnya juga sama", kata Jing-Shen menjelaskan.
"Terimakasih...", sahut Jingbei.
"Yah, baiklah, kalau begitu, sekarang aku akan bersiap-siap berangkat kerja karena ada pemotretan di studio XEN", ucap Jing-Shen.
"Apa kamu tidak sarapan dulu sebelum bekerja ?" tanya Jingbei.
"Tidak, pemotretannya awal sekali jika aku terlambat nanti, semua team akan terkena dampak kemarahan manager karena pihak sponsor menginginkan gambarku dikirim sekarang", sahut Jing-Shen.
"Lalu tugasku hari ini apa ?" tanya Jingbei.
"Nanti aku masih harus mengetiknya karena aku belum membuat daftar tugas untukmu", sahut Jing-Shen.
"Oh, begitu, ya..., baiklah, aku akan menunggunya...", kata Jingbei.
"Hari ini kamu tidak sekolah ?" tanya Jing-Shen.
"Iya, aku akan berangkat nanti, kau pergilah dahulu agar tidak terlambat", sahut Jingbei.
Jing-Shen melirik ke arah jam tangannya lalu menoleh kembali ke Jingbei yang ada di dekatnya.
"Sekarang aku harus pergi karena jalan akan macet satu jam lagi", ucap Jing-Shen.
"Ya, berhati-hatilah di jalan !'', kata Jingbei.
"Dagh... ! Jaga rumah baik-baik, ya !" ucap Jing-Shen lalu melangkah keluar dari apartemennya.
BLAM...,
Pintu apartemen tertutup rapat, tinggal Jingbei sendirian di dalam ruangan sedang berdiri di depan kamarnya yang masih kosong.
"Fuih... !?" desahnya lega.
Jingbei berpikir akan ketahuan oleh Jing-Shen jika dia adalah seorang robot AI.
Namun, ternyata sistem AI berhasil membuat Jing-Shen tidak mengingat apapun tentang kejadian yang menunjukkan bahwa dirinya adalah robot.
Kelalaiannya yang memutar kepalanya hingga ke belakang serta mulutnya yang mengeluarkan semburan api besar telah mengakibatkan aktor muda itu pingsan karena syok.
Sistem AI dalam tubuh robotnya langsung mengetahui hal itu sehingga terpaksa menghapus ingatan Jing-Shen.
"Aku akan bersiap-siap berangkat sekolah sekarang karena aku harus masuk sekolah setelah menjadi seorang siswi sekolah menengah atas", ucap Jingbei.
Jingbei melangkahkan kakinya ke dalam kamar kosong yang akan menjadi tempatnya disini.
Ruangan kamar terlihat tidak terisi oleh apa-apa bahkan tidak satupun barang yang tersedia di kamar ini.
"Aku akan mengisi kamar kosong ini nanti setelah pulang sekolah dan sekarang aku harus berangkat dulu ke sekolah", ucap Jingbei.
Jingbei lalu menundukkan kepalanya seraya memberi perintah pada sistem AI dalam tubuhnya.
"Aku memerintahkan kepadamu, sistem robot AI untuk mengirimkanku berangkat ke sekolah sekarang !" perintahnya.
Jingbei mengusap lembut bagian dadanya yang mulai menyala terang seperti lampu.
Tiba-tiba bagian dada Jingbei bereaksi cepat lalu sistem robot AI menanggapi perintahnya yang terkirim seperti pesan.
"SISTEM AI SEGERA MEMINDAHKAN TUBUH JINGBEI KE SEKOLAH !" sahut sistem robot AI.
Muncul sinar terang lalu membayang ke seluruh tubuh Jingbei, perlahan-lahan tubuh Jingbei mulai menghilang dari dalam ruangan kamar kosong apartemen.
"MODE PINDAI !!!"
Terdengar suara sistem AI yang menggema ketika tubuh Jingbei pergi menghilang.
BLEZH...,
Dalam waktu kurang semenit, tubuh Jingbei telah berpindah tempat ke tempat lain. Dan sekarang Jingbei telah berada di area halaman sekolah menengah atas, tempatnya bersekolah sekarang ini.
Jingbei terdiam sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar gedung sekolah.
Susana di sekolah SMA nya masih tampak lenggang dan sepi, siswa-siswi di sekolah ini masih belum datang sedangkan hari masih terlalu pagi.
Mungkin jam masih menunjukkan waktu sekitar jam enam pagi kurang.
Jingbei melanjutkan langkah kakinya ke arah gedung sekolah yang berdiri megah di hadapannya.
Tubuh Jingbei agak sedikit melayang pelan saat dia menuju ke gedung sekolahnya.
"Rupanya siswa disini belum datang, biasanya halaman akan ramai oleh anak-anak sekolah yang duduk di bangku sekitar sini", kata Jingbei.
Jingbei masuk ke gedung sekolahnya lalu berjalan ke atas menuju ke kelasnya dengan menaiki tangga sekolah.
"Aku kepagian berangkat ke sekolah", ucapnya.
Tap... !
Kaki Jingbei menyentuh lantai kelasnya lalu dia berjalan pelan menuju bangku belajarnya.
Jingbei meletakkan tas sekolah miliknya seraya duduk disana serta menunggu siswa-siswi yang lainnya datang.
Dilihatnya seluruh isi kelasnya yang masih sepi, tak terlihat hal yang mencolok pada ruangan kelas.
"Apakah lensa mata robot dapat menembus dinding ?" tanya Jingbei.
Jingbei yang penasaran lalu mengarahkan pandangannya ke arah dinding kelasnya, dia mulai melihat dengan lensa robot miliknya.
Ternyata lensa mata robotnya berhasil menembus masuk ke dalam dinding kelas lainnya. Dan Jingbei dapat melihat dengan sangat jelas bagian lain dari ruangan kelas di sekolah ini melalui lensa robot AI.
Jingbei melihat beberapa anak yang mulai berdatangan masuk ke kelas sebelah.
"Hmm..., rupanya aku bisa melihat dengan lensa mata robot AI milikku ke arah ruangan bagian lainnya...", ucap Jingbei seraya tersenyum senang.
Jingbei mulai berpikir tentang lensa mata robot yang ada pada dirinya dan dia mulai merencanakan mefungsikan lensa di kedua matanya itu setiap harinya mulai dari sekarang.
Sudut bibirnya membentuk lengkungan senyuman yang tidak biasanya serta terlihat ekspresi wajah Jingbei sangat bahagia saat ini, setelah mengetahui dia dapat bergerak leluasa dan berbuat semau yang dia inginkan dengan tubuh robot AI-nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments