Jingbei mengikuti langkah Jing-Shen menuju ke tempat tinggalnya yang terletak di apartemen ini.
Apartemen dimana Jing-Shen tinggal memiliki lantai bertingkat mencapai enam lantai ke atas.
Mereka telah sampai di depan pintu masuk tempat tinggal aktor tampan itu.
KLING !
Pintu terbuka secara otomatis setelah Jing-Shen menekan layar pada pintu masuk ke tempat tinggalnya di apartemen ini.
Jing-Shen melangkah masuk seraya mempersilahkan kepada Jingbei untuk masuk ke dalam.
"Masuklah, Jingbei !" ucap Jing-Shen.
"Terimakasih, Jing-Shen", sahut Jingbei.
Krek... !
Kepala Jingbei mengarah lagi ke arah kanan dengan posisi miring sekarang ini.
Tatapan Jingbei menghadap lurus ke arah sebuah bingkai foto kecil di atas meja, foto di dalam bingkai itu menarik perhatian Jingbei.
"Apakah itu fotomu ?" tanya Jingbei.
Jing-Shen melirik pelan ke arah bingkai foto di atas meja pendek dekat sofa.
"Ya, itu aku dalam foto'', sahutnya.
"Dengan siapa kamu di dalam foto itu ?" tanya Jingbei yang masih memiringkan kepalanya.
"Ayahku...", sahut Jing-Shen.
"Tampaknya hubungan kalian sangat dekat dan akrab tapi kenapa kamu berkata pada Chan Chan bahwa hubungan kalian tidak baik", kata Jingbei.
"Itu dulu sewaktu ayahku belum menikah lagi", sahut Jing-Shen.
"Oh... !?" ucap Jingbei.
"Sebenarnya ayahku menikah lagi untuk ketiga kalinya...", kata Jing-Shen.
Jing-Shen segera merebahkan tubuhnya ke atas sofa di depan televisi digital.
BRUK...
Disandarkannya punggung Jing-Shen ke atas sofa dengan pandangan ke arah Jingbei.
"Duduklah, Jingbei !" ucap Jing-Shen.
"Iya, Jing-Shen", sahut Jingbei dalam tubuh robot AI.
Krek... !
Kepala Jingbei mengarah lurus kembali lalu dia memutar tubuhnya ke arah sofa lalu berjalan tegap.
Sret... !
Jingbei lantas duduk di sofa dengan pandangan ke depan.
"Apa karena itu alasan hubungan kalian berdua menjadi buruk ?" tanya Jingbei lalu menoleh kaku.
"Tidak juga...", sahut Jing-Shen.
"Tadi kamu mengatakan bahwa hubungan kalian memburuk karena kesibukanmu syuting film", kata Jingbei.
"Bukan menjadi masalah bagiku jika ayah menikah lagi bahkan memiliki istri lebih dari dua atau tidak", ucap Jing-Shen.
"Lantas kenapa hubunganmu renggang dengan ayahmu ?" tanya Jingbei.
"Sebab ibuku terlalu tersakiti dengan sikap ayahku yang tidak dirasakan oleh kami jika dia tidak adil kepada kami semua", sahut Jing-Shen.
"Adil atau tidak adil hanya kalian yang bisa mempertahankan sikap ayahmu lebih perhatian lagi kepada ibumu dan dirimu", ucap Jingbei.
"Mungkin..., adakalanya kami memang harus saling mengerti dan meluangkan waktu kami untuk bersama", kata Jing-Shen.
"Atau mungkin ayahmu merasa kesepian karena kalian terlalu sibuk sehingga tidak ada waktu untuk mengurusnya", sahut Jingbei.
"Tapi dia memiliki tiga orang istri, kami pikir bahwa dia akan baik-baik saja dengan istri-istrinya", ucap Jing-Shen.
"Berapa saudara yang kamu miliki ?" tanya Jingbei.
"Aku tidak memiliki saudara lagi selain kucing serta jerapah robot kesayanganku", sahut Jing-Shen.
Kata-kata Jing-Shen menyentakkan kesadaran Jingbei sehingga dia terperanjat kaget dengan wajah tegangnya.
Langsung kedua mata Jingbei berkedip-kedip cepat.
"Kau memiliki robot lain ?" tanya Jingbei.
"Ya, hadiah pemberian sahabatku dari luar negeri saat aku berulang tahun", sahut Jing-Shen.
"Kapan kamu berulang tahun ?" tanya Jingbei.
"Tepat bulan Maret nanti", sahut Jing-Shen.
"Oh !?" ucap Jingbei.
Pikiran Jingbei langsung terhenti ketika Jing-Shen menyebutkan bahwa dia memiliki robot selain dirinya.
Pandangan Jingbei langsung memperhatikan ke arah sekeliling ruangan tempat tinggal aktor tampan itu.
Namun, dia tidak melihat robot yang sama dengannya di ruangan ini.
"Apa kamu masih lapar ?" tanya Jing-Shen.
"Tidak, aku tidak lapar", sahut Jingbei.
"Jika kamu masih merasa lapar maka aku akan memasak untukmu sekarang", ucap Jing-Shen.
"Tidak usah, aku ucapkan terimakasih", sahut Jingbei seraya tersenyum.
"Kalau aku masih lapar dan sebaiknya aku akan memasak sesuatu untuk kita berdua makan malam ini", kata Jing-Shen.
"Apa kamu bisa memasak ?" tanya Jingbei.
"Tentu saja, aku bisa memasak tetapi tidak seahli juru masak handal", sahut aktor muda itu.
"Apa kamu akan memasak sekarang ?" tanya Jingbei.
"Yup ! Aku akan memasak sekarang juga, kau boleh tetap tinggal disini selama aku memasak di dapur, bersantailah sejenak disini", kata Jing-Shen.
"Biarkan aku ikut membantumu memasak meski jujur kalau aku tidak dapat memasak dengan benar", sahut Jingbei.
"Tidak usah, percayakan saja urusan masak-memasak kepadaku, dalam sekejap saja maka hidangan makanan akan siap", kata Jing-Shen.
Jing-Shen segera beranjak berdiri lalu melangkahkan kakinya ke dapur.
Tiba-tiba Jingbei bertanya kembali kepada Jing-Shen tentang rencana mereka untuk mencari hunian baru bagi Jingbei.
"Dan kapan aku mendapatkan tempat tinggalku ?" tanya Jingbei.
"Emmm... Setelah kita selesai makan...", sahut Jing-Shen.
"Ya, baiklah...", gumam Jingbei.
Jing-Shen segera melanjutkan langkah kakinya menuju ke arah dapur sedangkan Jingbei masih duduk terdiam dengan sikap tegapnya, menghadap lurus ke depan.
Tanpa Jingbei menolehkan pandangannya ke arah Jing-Shen yang sedang berjalan.
"Jangan banyak melamun, Jingbei ! Sebaiknya kamu menonton televisi saja supaya lebih terhibur !" ucap Jing-Shen.
Suara Jing-Shen terdengar cukup keras dari arah dapur masaknya, Jingbei hanya memalingkan mukanya ke arah televisi digital yang ada di dekat meja panjang di bawahnya.
"Televisi ? Apakah itu televisi ?" tanya Jingbei.
Ingatan Jingbei tentang hal-hal yang berkenaan dengan kebiasan lamanya terhapus begitu saja dalam pikirannya.
Semenjak Jingbei bereinkarnasi ke dalam tubuh robot ini, tentu saja seluruh yang ada dalam diri Jingbei berubah baru.
Mulai dari isi kenangan dalam benaknya hingga hal-hal yang bersangkutan dengan masa lalunya semuanya otomatis berubah total. Dan tidak lagi sama seperti dahulu lagi bahkan cenderung semuanya seperti terhapus jejaknya dari kehidupan baru Jingbei sekarang ini.
Semenit kemudian tercium wangi aroma masakan dari dalam dapur milik Jing-Shen, perhatian Jingbei langsung teralihkan ke arah datangnya aroma masakan dari dapur.
"Dia sedang memasak apa ? Wanginya sangat harum sekali ?" tanya Jingbei pada dirinya sendiri.
Jingbei tidak bermaksud untuk menyusul Jing-Shen ke dalam dapur sesuai permintaan aktor muda itu kepadanya supaya dia tetap menunggu sampai pria tampan itu selesai memasak hidangan bagi mereka berdua.
Pandangan Jingbei yang sempat teralihkan dari aroma masakan, sekarang kembali terpusat pada televisi di depannya.
"Sebaiknya aku menonton televisi saja sesuai pesan Jing-Shen", kata Jingbei.
Jingbei masih belum memahami hal-hal baru yang terjadi pada dirinya dalam wujud baru sebagai robot AI bahkan cara menghidupkan sebuah televisi, dia tidak mengerti sama sekali.
Tanpa berpikir lama lagi, Jingbei segera menagarahkan jari telunjuknya tepat ke arah televisi, memancar kuat seperti sinar laser terang menuju ke benda yang disebut televisi itu.
DRRRT... !
DRRRT... !
DRRRT... !
Muncul bersamaan dari dalam televisi digital, suara orang asing sedang berbicara keras kemudian dalam sedetik saja layar pada televisi langsung menyala.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments