Jingbei meletakkan buku tulisnya ke dalam loker miliknya yang tersedia di sekolah.
Beberapa siswa dan siswi berlarian di sepanjang lorong sekolah yang menghubungkan selasar panjang dengan bangunan utama sekolah menengah atas.
Sesekali suara gelak tawa diantara mereka terdengar saling bersahut-sahutan hingga memenuhi area selasar sekolah.
Jingbei melangkah pelan sambil terus memperhatikan sekitar halaman yang sepi, biasanya murid-murid di sekolah ini akan duduk berjejer di bangku taman.
Namun, hari ini suasana sekolah sangat sepi bahkan tak seorangpun yang berlalu lalang di sekitar tempat ini.
Rambut Jingbei yang panjang terurai terlihat melambai-lambai saat dia berjalan, sorot matanya yang sendu menatap ke arah sebagian gedung sekolah yang menjulang megah.
Langkah kakinya yang mengenakan sepasang sepatu sekolah berwarna hitam tampak berjalan riang sepajang jalan selasar yang menghubungkan ke gedung sekolah lainnya.
Jingbei menyelipkan rambutnya ke belakang telinga lalu mempercepat langkahnya menuju ke aula sekolah. Dia mengira pasti murid-murid di sekolah ini berkumpul di aula sekolah saat ini, untuk mengikuti casting film yang sengaja di adakan di sejumlah sekolah menengah atas untuk mencari bibit-bibit muda yang bertalenta.
Terlihat beberapa siswi berlarian terburu-buru menuju ke aula besar sekolah yang ramai dikerumuni oleh para siswa-siswi sekolah yang hendak ikut casting pemilihan peran dalam film.
Jingbei mengikuti beberapa siswi yang menuju ke aula sekolah, dia lantas mempercepat langkah kakinya.
Tepat saat dia hendak memasuki aula sekolah, tanpa sengaja dia menabrak kursi duduk yang ada di dekat sutradara film saat sedang melakukan casting.
Kedua kaki Jingbei kehilangan keseimbangannya lalu terhuyung-huyung jatuh ke depan, tepat di hadapan sang sutradara film.
BRUK... !
Jingbei jatuh terduduk tepat di depan sutradara film yang melakukan casting terhadap salah satu siswi sekolah.
Lirikan sutradara film langsung tertuju ke arah Jingbei yang duduk di lantai aula seraya pandangannya menghadap ke arah sang sutradara yang juga menatapnya.
"Siapa kamu ?" tanya sang sutradara.
"Ehk !?" gumam Jingbei dengan kedua mata terbelalak lebar sangat cantiknya.
"Kenapa kamu diam saja ?" tanya sang sutradara.
"Maaf, aku tidak sengaja tadi, kakiku terantuk kursi duduk sehingga aku jatuh", sahut Jingbei lantas beranjak berdiri.
Kedua matanya yang indah menatap ke arah rok seragamnya yang kotor akibat debu menempel saat dia jatuh terduduk tadi.
Jingbei membungkuk cepat seraya meminta maaf kepada sang sutradara lalu beranjak pergi.
Namun, sutradara film itu langsung menghalangi dirinya dengan memanggil kembali Jingbei.
"Hai, nona ! Tunggu !" ucap sutradara.
Jingbei menghentikan langkah kakinya lalu menoleh ke arah sang sutradara film yang duduk di kursinya sembari memegang gulungan naskah film.
"Ya, kamu nona yang barusan jatuh tadi, kemarilah !" kata sutradara.
"Aku ???" sahut Jingbei dengan mengangkat kedua alisnya ke atas.
"Ya, kamu ! Mendekatlah padaku !" perintah sutradara film.
"Aa--apa !?" kata Jingbei terkejut.
"Apa aku perlu mengulang perkataanku lagi ?" ucap sutradara itu sambil menunjuk ke arah Jingbei yang berdiri tertegun.
"Oh, baik, baik...", sahut Jingbei tanggap.
Jingbei melangkah hati-hati saat dia mendekat ke arah sang sutradara film lalu berdiri tak jauh darinya.
"Tolong beri dia skrip naskah !" perintah sutradara pada salah satu kru teamnya.
Seseorang pria berbadan tegap segera mengambil skrip naskah yang dimaksudkan oleh sang sutradara.
"Berikan itu padanya !" perintah sutradara.
Pria berbadan besar itu menjawab perintah sang sutradara film hanya dengan anggukkan kepala cepat seraya menyerahkan skrip naskah kepada Jingbei.
Jingbei tidak mengerti dengan maksud dari pria itu dan hanya menerima skrip naskah tanpa bertanya.
Terlihat sang sutradara film melirik ke arah Jingbei yang menggenggam skrip naskah film lantas berkata pada Jingbei.
"Tolong kamu baca skrip naskah itu dengan suara lantang !" pinta sang sutradara kepada Jingbei.
"Eh, iya, iya... !?" kata Jingbei tanpa menolak sedikitpun permintaan sang sutradara lalu dia mulai membaca skrip naskah film yang ada di tangannya.
"Ucapkan setiap kata dalam kalimat dengan nada yang jelas dan pelafalan yang benar !" perintah sang sutradara.
"Baik...", sahut Jingbei.
Suara Jingbei terdengar sangat jelas saat dia membaca setiap dialog dari naskah film sedangkan dari arah samping sutradara film itu sangat serius memperhatikan setiap ucapan Jingbei.
Sorot mata sutradara langsung terlihat tajam ketika mendengarkan ucapan Jingbei yang membaca dialog dalam skrip naskah film.
"Aku bagaikan fatamorgana bagimu yang tak tampak nyata serta tiada artinya bagimu...", ucap Jingbei yang menirukan dialog dalam skrip naskah film di tangannya.
Nada suara Jingbei terdengar sangat jelas dan lantang saat dia bersuara.
Tampak sang sutradara hanya menganggukkan kepalanya, tanda bahwa dia sangat puas dengan apa yang dilakukan oleh Jingbei.
Jingbei menyelesaikan satu baris kalimat dalam skrip naskah film dengan lancar kemudian terdiam seraya memandang ke arah sang sutradara.
Diam menunggu reaksi dari sutradara terhadap tugas yang dia selesaikan untuk membaca dialog naskah film.
Tiba-tiba suara tepuk tangan berasal dari sang sutradara saat dia memberikan apresiasinya terhadap akting yang barusan dilakukan oleh Jingbei.
PLOK... ! PLOK... ! PLOK... !
"Luar biasa ! Luar biasa ! Kau sungguh luar biasa ! Tak salah jika instingku melihat bakatmu tadi, nona...", kata sutradara memuji Jingbei.
Jingbei tertegun diam saat sutradara itu memuji dirinya dengan tulus setelah dia menyelesaikan bacaan dialog skrip naskah yang diberikan oleh sutradara padanya.
Gadis muda yang berwujud robot AI itu terlihat terpana saat sang sutradara menyalaminya sembari tertawa senang.
"Kerja bagus ! Kerja bagus !" ucap sutradara.
"Terimakasih...", sahut Jingbei yang menanggapi pujian sang sutradara kepadanya.
"Bakat aktingmu sungguh luar biasa, dan aku sangat menyukai penampilanmu ini, sangat cantik dan berseni tinggi !" puji sang sutradara kembali.
"Terimakasih aku ucapkan atas pujian anda", sahut Jingbei.
"Baiklah !" ucap sutradara berseru keras.
Sutradara itu lantas menoleh ke arah seluruh siswi dan siswa yang hadir di aula sekolah ini untuk mengikuti casting film kemudian memalingkan pandangannya ke arah staff krew filmnya yang ikut serta menemaninya.
Kedua tangannya terangkat ke atas seraya membentuk tanda silang ke atas.
"Cukup untuk hari ini casting film karena aku telah menemukan wajah baru dengan bakat luar biasa sebagai peran utamaku untuk film nanti !" ucapnya.
Semua siswa dan siswi langsung bereaksi cepat dengan pengumuman dari sutradara yang menyatakan peran utama film telah terpilih.
"Woah !!! Bagaimana ini !!!" ucap beberapa siswi yang tampak kecewa.
"Siapa peran utamanya, sutradara ???" teriak sejumlah murid yang tidak terima dengan keputusan sang sutradara.
"Iya, siapa dia, sutradara ? Kami ingin tahu !!!" seru beberapa anak muda dengan wajah cemberut.
Sutradara film langsung menoleh ke arah Jingbei yang berdiri di dekatnya sembari bertanya pada gadis itu.
"Siapa namamu ?" tanya sutradara.
"Jingbei ! Namaku Jingbei !" sahut Jingbei tegas.
"Hai, apa kalian sudah mendengarnya ???" tanya sutradara pada seluruh siswa dan siswi yang hadir pada casting filmnya di aula sekolah menengah atas ini.
Suara gaduh mulai terdengar dari arah sejumlah siswa dan siswi sekolah.
Kekacauan mulai terjadi karena mereka tidak dapat ditenangkan setelah mendengar hasil keputusan sang sutradara dalam memilih pemain utama.
Tampak sejumlah krew film berjaga-jaga untuk mengantisipasi kericuhan yang akan terjadi di aula sekolah.
Sutradara lantas mengajak Jingbei bersamanya menuju ke atas podium yang tersedia di aula.
Mereka berdiri tepat di atas panggung aula dan sutradara mengambil langkah berani dengan mengenalkan Jingbei sebagai pemeran utama film yang terpilih pada casting hari ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments