"Lantas siapa yang menjadi pemeran utamanya ?" tanya Jing-Shen sembari melipat kedua tangannya ke depan.
"Siapa menurutmu yang pantas selain Wanye ?" tanya balik Chan Chan.
"Emm, aku sungguh tidak tahu ???" sahut Jing-Shen.
"Baiklah, karena kamu telah memberiku hadiah cokelat maka aku akan memberitahukan padamu siapa pemeran utamanya untuk film nanti", kata Chan Chan.
"Ya, katakan saja !" ucap Jing-Shen.
"Tapi ada syaratnya...", kata Chan Chan.
"Apalagi syaratnya ???" sahut Jing-Shen.
"Mmm... Apa ya !? Sebentar aku akan tanyakan kepada Jingbei, sebaiknya syarat apa yang aku ajukan lagi", ucap Chan Chan.
Jing-Shen melirik ke arah Jingbei yang hanya terdiam sambil menikmati cokelatnya.
"Jingbei, menurutmu syarat apalagi yang sebaiknya aku ajukan pada Jing-Shen karena telah membocorkan nama pemeran utama", tanya Chan Chan.
"Terserah padamu, aku menurut saja", sahut Jingbei dengan ekspresi datar.
"Apa ya ?" gumam Chan Chan.
"Jika kamu tidak ingin memberitahukan padaku, tidak usah saja, lebih baik aku diam dan duduk menunggu kabar selanjutnya", kata Jing-Shen.
"Tunggu ! Tunggu ! Bagaimana kalau tiket ke wahana permainan saja di taman hiburan happy valley !" sahut Chan Chan.
"Apa kau menargetku ?" tanya Jing-Shen terkejut.
"Tidak, aku pikir sebuah informasi itu setara dengan nilai imbalan yang aku dapatkan", sahut Chan Chan.
"Astaga... Kau benar-benar sangat keterlaluan, Chan Chan !? Kenapa kamu tega sekali memanfaatkan rasa penasaran seseorang demi mendapatkan sebuah imbalan !?" kata Jing-Shen hampir tak percaya.
"Aku hanya ingin menukar sesuatu yang berharga tinggi dengan hal yang sepadan sebagai bayarannya", sahut Chan Chan.
Chan Chan lalu menarik tangan Jingbei mendekat ke arahnya.
"Benar bukan pendapatku ini, Jingbei ?" kata Chan Chan seraya menempelkan pipinya ke arah Jingbei.
"Ehk !?" gumam Jingbei terkejut kaget.
"Ayolah, bekerjasamalah Jingbei...", bisik Chan Chan di telinga Jingbei yang hanya terdiam saja.
"Kau ingin memeras Jing-Shen ? Bukankah itu sangat keterlaluan, Chan Chan. Katakan saja siapa pemeran utama film, mudah bukan", sahut Jingbei.
"Tapi hal itu menjadi tidak mengasyikkan, kita tidak memanfaatkan Jing-Shen tetapi biar dia tahu bahwa sebuah informasi itu sangatlah berharga", kata Chan Chan sambil berbisik.
"Ya, aku mengerti dan aku serahkan semuanya padamu", kata Jingbei.
"Kita akan jalan-jalan bersama ke sana, anggap saja kita akan liburan sebelum syuting film dimulai", ucap Chan Chan.
"Akan menyita waktu kita jika kita pergi rekreasi karena aku masih harus menghafal skrip film supaya lancar", kata Jingbei.
"Kita akan pergi pada hari minggu dan tidak akan mengganggu jadwal kita latihan", rajuk Chan Chan.
"Minggu !?" tanya Jingbei.
"Ya, hari minggu semua libur tidak ada kegiatan yang berkenaan dengan casting ataupun latihan", sahut Chan Chan.
"Mmm... Baiklah...", ucap Jingbei.
"Itu baru benar !" kata Chan Chan seraya merangkul erat Jingbei.
Jing-Shen memperhatikan tingkah laku dua orang perempuan di hadapannya dengan ekspresi tak mengerti.
"Apa yang kalian bicarakan ?" tanya Jing-Shen.
"Bagaimana tawaranku untuk memberi tiket ke wahana permainan sebagai imbalan informasi siapa pemeran utama film nanti ?" sahut Chan Chan.
"Aku tidak berminat sekarang", ucap Jing-Shen.
"Apa kamu tidak penasaran ?" tanya Chan Chan.
"Tidak", sahut Jing-Shen menggeleng pelan.
"Kau tidak ingin lagi tahu siapa pemeran utama film nanti ?" tanya Chan Chan.
"Tidak, aku tidak berminat", sahut Jing-Shen sambil membuang muka.
"Sungguh ?" tanya Chan Chan mulai cemas bahwa siasatnya akan gagal merayu Jing-Shen.
"Yup ! Biar aku mengetahui siapa pemeran utama film saat syuting film nanti daripada aku harus mentraktirmu tiket wahana permainan", sahut Jing-Shen.
"Uhk, kamu ini ! Tidak asyik !" kata Chan Chan lalu membuang muka dengan kesalnya.
Jingbei hanya tersenyum saat melihat tingkah laku kedua orang yang ada di dekatnya, antara Jing-Shen dan Chan Chan yang sedang berdebat itu.
"Jingbei, kenapa kamu ada disini ?" tanya Jing-Shen yang mulai merasa heran.
"Oh, aku... !?" tiba-tiba Chan Chan segera membungkam mulut Jingbei untuk tidak melanjutkan ucapannya lagi.
Jingbei langsung tercekat diam ketika Chan Chan menahannya untuk bicara sedangkan Jing-Shen terheran-heran dengan sikap Chan Chan yang berubah aneh.
"Kenapa kalian ?" tanya Jing-Shen.
Chan Chan langsung menggelengkan kepalanya ketika Jing-Shen bertanya penasaran terhadap sikap mereka yang sangat aneh.
"Tidak akan ada informasi apapun terkait film !" sahut Chan Chan.
"Siapa yang bertanya tentang film ?" kata Jing-Shen.
"Kau tadi bertanya tentang Jingbei, kenapa dia ada disini, bukan ?" sahut Chan Chan.
"Ya, aku memang bertanya tentang Jingbei, kenapa dia ada disini ? Tapi aku tidak bertanya perihal film !?" ucap Jing-Shen.
Jing-Shen langsung melirik ke arah Jingbei yang kesulitan bernafas karena ulah Chan Chan.
"Lepaskan dia ! Kau membuatnya sesak nafas !" kata Jing-Shen.
"Ehk ?" gumam Chan Chan langsung menoleh ke arah Jingbei yang ada di dekapannya.
"Kenapa denganmu, Chan Chan ?" tanya Jing-Shen semakin penasaran terhadap sikap Chan Chan yang sangat agresif.
"Maaf...", kata Chan Chan seraya melepaskan dekapan tangannya dari mulut Jingbei.
Jingbei segera bernafas lega ketika Chan Chan melepaskan tangannya yang membungkam mulutnya erat-erat tadi.
"Uhm... !?" gumam Jingbei sambil menghela nafas panjang serta mengusap wajahnya.
"Jangan ganggu Jingbei lagi ! Menjauhlah darinya, Chan Chan !" perintah Jing-Shen.
Jing-Shen menepiskan tangan Cha Chan dari Jingbei agar dia tidak lagi menyentuh dan tidak mengganggu pacarnya lagi.
"Auwh !!! Jangan kasar-kasar, Jing-Shen !!!" kata Chan Chan.
"Jangan memancing kemarahanku, Chan Chan !" ucap Jing-Shen.
"Apa salahku coba ?" tanya Chan Chan.
"Kau sengaja memanfaatkan Jingbei untuk memerasku dengan dalih film", sahut Jing-Shen.
Chan Chan langsung terhenyak kaget saat mendengar ucapan Jing-Shei lalu dia memilih untuk bersikap diam.
Terlihat Jing-Shen segera menarik tangan Jingbei agar mengikutinya pergi dari aula sekolah.
"Jingbei, ayo kita pergi dari sini !" kata Jing-Shen.
"Tapi aku tidak bisa pergi karena aku masih harus latihan membaca naskah film", sahut Jingbei yang menolak ajakan Jing-Shen.
"Berlatih naskah film ???" tanya Jing-Shen langsung berubah terkejut.
"Iya, aku diminta oleh sutradara untuk latihan membaca skrip naskah film sebelum syuting dimulai nanti", sahut Jingbei.
"Apa hubungannya film denganmu ? Kau kan tidak ikut casting film dan bukan pemeran film ?" tanya Jing-Shen.
"Emm... !?" gumam Jingbei lalu tertunduk.
"Jingbei... Kenapa kamu diam ?" tanya Jing-Shen.
"Karena aku terpilih sebagai pemeran utama film...", sahut Jingbei.
"Hah !? Apa !? Kau tidak sedang bercanda, bukan !?" kata Jing-Shen terkejut kaget.
"Tidak...", sahut Jingbei menggeleng pelan.
"Apa kamu serius ?" tanya Jing-Shen tertegun.
"Ya, aku sangat serius...", sahut Jingbei sambil menganggukkan kepalanya pelan.
"Astaga...", kata Jing-Shen terpana.
"Maaf, tidak memberitahukan padamu", ucap Jingbei.
"Aku sungguh tak percaya ini semua...", kata Jing-Shen.
Ekspresi Jing-Shen berubah lain saat mendengar penjelasan Jingbei yang mengatakan bahwa dia terpilih sebagai pemain film dan mendapatkan peran sebagai pemeran utama.
Jing-Shen terdiam seraya memandangi wajah Jingbei yang telihat serius saat membalas tatapannya lalu melirik ke arah Chan Chan yang tertunduk diam tanpa berani menatapnya.
Tiba-tiba tubuh Jing-Shen berguncang keras setelah dia mendengar ucapan Jingbei lalu terduduk lemas di atas kursi sembari masih menggenggam tangan Jingbei.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments