Jingbei terdiam disisi Jing-Shen, duduk memandanginya dengan sedih.
Haruskah mereka dipertemukan takdir seperti ini dimana keduanya tidak mengharapkan perbedaan itu.
Jingbei meneteskan air matanya, tak terasa hatinya sakit saat melihat takdir ini.
"Jing-Shen...", ucapnya sedih.
Dada Jingbei tersayat sembilu harus menerima takdir barunya sebagai robot bukan dalam sosok manusia lagi.
"Maafkan aku, Jing-Shen...", bisik Jingbei.
Jingbei baru merasakan kedua matanya yang meneteskan air mata, situasi yang pertama kalinya dia rasakan sebagai robot AI setelah kelahiran barunya di kehidupan ini.
"Aku..., aku menangis...", ucapnya dengan bergetar lirih.
Kedua tangan Jingbei mengarah ke atas dan dipenuhi oleh tetesan air mata yang mengalir deras dari kedua matanya.
BIP... !
Suara sistem dari tubuh robot AI kembali terdengar.
"JINGBEI SAATNYA INGATAN DIHAPUS DARI JING-SHEN ! DALAM WAKTU SEPULUH MENIT LAGI DIA AKAN BANGUN DARI PINGSANNYA !"
Jingbei tertegun diam dengan wajah sembab karena sedih harus terpaksa mengikuti perintah sistem AI untuk menghilangkan ingatan Jing-Shen saat melihat keanehan dalam dirinya.
"Aku tidak tega harus membohonginya ! Tolong, biarkan dia menerima keadaan diantara kami yang berbeda ini !" kata Jingbei memohon.
"TIDAK MUNGKIN HAL ITU TERWUJUD, JINGBEI ! KARENA DIA AKAN MENJAUHI DIRIMU !" sahut suara sistem.
"Tidaaak... !!!" teriak Jingbei.
BIP... !
Suara sistem mulai menghitung mundur untuk menghapus seluruh ingatan Jing-Shen tentang kejadian di apartemennya.
Tiga...
Dua...
Satu...
Sistem AI mulai menghapus ingatan Jing-Shen.
Mendadak tubuh Jingbei berubah lemas lalu duduk bersandar dengan pandangan sedih harus menerima konsekuensi dari sistem AI.
"Kenapa dia tidak boleh mengetahui sosok asliku hanya untuk melindungi hidup baru robot AI ?" tanya Jingbei.
Namun, suasana sangat hening, tak terdengar suara sistem AI yang menjawab pertanyaan Jingbei.
Tiba-tiba Jing-Shen bergerak pelan sepertinya dia mulai tersadar dari pingsannya.
"Uhk !?" gumamnya kaku.
Jing-Shen memegangi kepalanya yang terasa sakit dan pening seraya berusaha untuk bangun dari tempatnya berbaring.
"Jing-Shen...", panggil Jingbei.
"Ehk !?" sahut Jing-Shen. "Siapa ?" sambungnya.
Mendadak seluruh dunia Jingbei terasa berputar-putar, kali ini gilirannya yang berubah menjadi pening.
Jing-Shen hanya terdiam memandangi Jingbei.
"Apa kamu tidak mengingatku ???" tanya Jingbei.
"Uhk ??? Kepalaku terasa pusing sekali..., dan aku masih tidak bisa berpikir jernih saat ini...", sahut Jing-Shen.
"Maaf..., ini salahku...", ucap Jingbei.
"Tidak apa-apa... Biarkan aku bersandar terlebih dahulu...", kata Jing-Shen.
"Baiklah, kau bisa menyandarkan dirimu di sofa ini'', ucap Jingbei.
Jingbei membantu Jing-Shen untuk duduk bersandar di sofa lalu memberikan segelas air minum.
"Minumlah dulu agar dirimu menjadi tenang, Jing-Shen !" kata Jingbei.
"Terimakasih...", sahut Jing-Shen.
"Apa kepalamu masih terasa pening ?" tanya Jingbei.
"Agak pusing tapi mulai berkurang...", sahut Jingbei.
"Sebaiknya kamu beristirahat sejenak", kata Jingbei.
"Ya...", jawab aktor muda itu.
Jingbei duduk kursi lainnya, menunggu Jing-Shen normal kembali.
''Mungkin karena kepalaku yang pusing sehingga aku tidak mengingat apa-apa lagi, bisakah kamu memakluminya", kata Jing-Shen.
"Tidak apa-apa...", sahut Jingbei.
"Aku akan tertidur sebentar untuk beristirahat", kata Jing-Shen.
Jingbei mengangguk pelan sedangkan Jing-Shen beranjak bangun menuju ke arah kamar tidurnya yang berada di ruangan lainnya.
Pandangan Jingbei tertuju ke arah Jing-Shen yang melangkah ke arah kamarnya.
"Fuh... !? Dia akhirnya tersadar juga tapi kenapa dia tidak mengingat tentangku !?" kata Jingbei.
Jingbei lalu teringat dengan sistem AI yang selalu muncul dari dalam dirinya kemudian dia mulai mengajak komunikasi sistem.
Ditepuknya pelan bagian dadanya supaya dia terhubung dengan sistem AI.
"Kenapa Jing-Shen tidak mengingatku, bukankah sistem AI hanya menghapus bagian ingatannya tentang kejadian aneh yang terjadi padaku", tanya Jingbei.
Tit... !
Sistem menyala kemudian menyahut ucapan Jingbei.
"HAL ITU DIKARENAKAN ADANYA SYOK TRAUMA YANG DIALAMI OLEH JING-SHEN NAMUN INGATANNYA AKAN PERLAHAN-LAHAN PULIH SEMULA"
Jingbei terkejut kaget saat suara sistem AI kembali bersuara.
"Tapi kau bilang bahwa ingatan yang mengingatku akan sikap anehku terhapus dengan sendirinya, dan kenapa semua ingatan Jing-Shen justru melupakan keberadaanku !?" tanya Jingbei.
"TIDAK, DIA TIDAK MELUPAKAN DIRIMU HANYA SAJA SYOK TERAPI YANG DIA ALAMI TERJADI TADI MEMBUATNYA JATUH TAK SADAR, JINGBEI...", sahut Jing-Shen.
"Baiklah, aku percaya padamu", sahut Jingbei.
"DAN KENAPA KAMU BINGUNG ??? BUKANKAH SANGAT MENGUNTUNGKAN MU JIKA DIA LUPA AKAN DIRIMU DAN KAMU BISA MENGAWALI PERTEMUAN MU DENGANNYA !" sahut suara sistem.
"Yah ! Tapi itu berbeda sekarang dan justru bertambah sangat aneh sekali !!!" kata Jingbei.
"SISTEM AKAN MEMPROSES KEAHLIAN LAINNYA DARIMU YAITU SEKARANG KAMU BISA MENGGUNAKAN SISTEM PENGHAPUS INGATAN KEPADA SIAPA SAJA YANG KAMU INGINKAN SESUAI PERSETUJUAN SISTEM AI", lanjut suara sistem.
"Baiklah, baiklah, terserah saja pada keputusan sistem ! Dan apakah aku juga bisa mengembalikan ingatan seseorang ?" tanya Jingbei.
"TERGANTUNG PERSETUJUAN SISTEM AI TETAP YANG AKAN MEMUTUSKAN MANA YANG HARUS DILAKUKAN OLEH ROBOT AI", sahut suara sistem.
"Hmm, begitu ya... !?" ucap Jingbei.
Jingbei menengadahkan pandangannya ke arah atas ruangan ini, berusaha memahami serta menerima keputusan sistem.
"Kenapa semua menjadi terasa rumit ???" ucapnya penuh kebingungan.
"JIKA KAMU TIDAK SEGERA MENGHAPUS INGATAN JING-SHEN YANG MELIHAT KEANEHAN DARIMU MAKA LAKI-LAKI ITU AKAN MENJADI SAKIT SECARA KEJIWAAN", sahut suara sistem.
"Apa !? Sakit secara kejiwaan !?" kata Jingbei.
"YA, BENAR ! KARENA INI PERTAMA KALINYA BAGI JING-SHEN HARUS MELIHAT KEANEHAN YANG MENGERIKAN BAGINYA DARI ORANG YANG MENJADI KEKASIHNYA, JINGBEI YAITU KAMU !" sahut suara siste.
Jingbei terhenyak keras lalu tersadar sepenuhnya jika dia telah melakukan kekeliruan dalam sikapnya.
"Astaga !?" pekik Jingbei.
Jingbei secara refleks mengayunkan tangannya ke arah dinding hingga memancarkan sinar laser.
Membuat lubang-lubang pada permukaan dinding ruangan apartemen yang menjadi tempat tinggal Jing-Shen.
"Ya, ampun !!! Aku telah membuat kesalahan lagi !!!" ucap Jingbei
"DAN KAMU MELAKUKAN KELALAIAN KEMBALI, JINGBEI", ucap suara sistem.
"Bagaimana caraku untuk mengontrol diriku agar aku tidak kehilangan kendali pada diriku ???" kata Jingbei.
"CUKUP KAMU ATUR LAMPU YANG MENYALA PADA BAGIAN DADA MU DENGAN SEKALI USAPAN !" perintah suara sistem
Jingbei segera mengalihkan pandangannya ke arah lampu merah yang menyala terang di bagian dadanya.
Diamatinya lampu di dadanya yang bekerja bagaikan pusat jantung di dalam tubuh robot AI miliknya kemudian Jingbei mengusapnya dengan sangat pelan.
"Apakah ini bekerja layaknya jantung ?" tanya Jingbei.
"HAMPIR BISA DISEBUTKAN DEMIKIAN ! LAMPU MENYALA ITU BEKERJA BAGAIKAN SEBUAH JANTUNG BAGI TUBUH ROBOT AI MILIKMU, JINGBEI !" kata suara sistem.
"Luar biasa sekali ! Dan aku kini memiliki jatung yang hebat dan kuat !" ucap Jingbei terkagum-kagum.
"KAMI HARAP KAMU AKAN SENANG MENGETAHUINYA, JINGBEI !" sahut suara sistem.
Jingbei hanya dapat tersenyum dan terlihat sangat senang dengan pandangan masih tertuju pada lampu yang menyala bagaikan sumber kehidupan bagi dirinya yang letaknya tepat di bagian dadanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments