"Apakah kita akan membuat kesepakatan ?" tanya Jingbei membuka pembicaraan.
Setelah Jing-Shen usai memasak makanan buat mereka berdua.
"Kesepakatan apa yang kamu maksudkan ?" sahut Jingh-Shen.
"Kau memintaku menjadi asisten pribadimu artinya aku akan bekerja padamu nantinya lalu kapan dimulainya kesepakatan itu ?" kata Jingbei.
"Emm, baiklah... Aku akan membahasnya setelah kita selesai makan...", sahut Jing-Shen.
"Aku tidak tahu tugas sebagai asisten pribadi seorang aktor muda sepertimu", kata Jingbei.
Jingbei memutar garpu di tangannya ke atas piring penuh hidangan spaghetti saus merah lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Hal itu akan aku bahas dalam surat kontrak kerja diantara kita, baik tentang gaji yang akan kamu terima atau tunjangan apa yang nanti kamu dapatkan", ucap Jing-Shen.
"Umm !?" gumam Jingbei.
Tiba-tiba ekspresi Jingbei berubah merah padam ketika dia selesai memasukkan spaghetti ke dalam mulutnya.
Wajah Jingbei seperti terbakar panas karena rasa pedas dari saus merah yang dituang di atas spaghetti pada piring makannya.
BLEZHHH... !
Mendadak Jingbei melotot lebar nyaris kedua bola matanya seperti akan keluar.
"PEDAS... !!!" pekiknya.
Mulutnya mengeluarkan semburan api hingga membuat Jing-Shen langsung kaget melihat tingkah laku Jingbei.
Sedangkan kedua bola mata Jingbei berputar-putar kencang dan sekali lagi mengejutkan Jing-Shen. Kemudian kepala Jingbei memutar sebanyak lima kali putaran.
"Ke--kepalanya berputar... !?" ucap Jing-Shen dengan tubuh gemetaran.
BRUK... !
Sedetik kemudian Jing-Shen langsung jatuh pingsan tak sadarkan diri.
Jingbei menjadi sangat panik saat melihat Jing-Shen yang tiba-tiba pingsan setelah dia melihat Jingbei yang berubah aneh.
"Jing-Shen...", panggil Jingbei panik.
Dia langsung meletakkan garpu di atas piring makannya kemudian bergegas menghampiri Jing-Shen.
"Bangun ! Jing-Shen !" panggil Jingbei sambil mengguncangkan tubuh Jing-Shen yang terbaring tak sadarkan diri di atas meja.
Namun, aktor tampan itu tidak bergeming sedikitpun dan dia tetap diam tanpa bereaksi terhadap panggilan Jingbei.
"Jing-Shen ! Kenapa denganmu ?" tanya Jingbei.
Tetap Jing-Shen masih terdiam tanpa membuka kedua matanya.
PLAK... ! PLAK... ! PLAK... !
Jingbei berusaha membangunkan Jing-Shen dengan menampar pipi aktor muda itu berulangkali tetapi Jing-Shen tetap pingsan.
"Ya, ampun ! Pasti dia syok melihat sikapku yang berlebihan ! Aku harap dia tidak berubah ketakutan karena kelakuanku !" kata Jingbei.
Jingbei sangat panik karena Jing-Shen melihat ekspresi dirinya yang aneh di mata Jing-Shen karena pria muda itu tidak tahu bahwa Jingbei adalah seorang robot AI.
"Bagaimana aku harus menjelaskan padanya bahwa aku adalah robot AI ?" ucap Jingbei.
Sesaat sorot mata Jingbei berubah muram jika dia harus berkata secara terus terang pada Jing-Shen bahwa dirinya adalah robot.
"Apa yang harus aku lakukan pada Jing-Shen ? Dan seandainya dia menolakku, aku harus bersikap bagaimana ?" ucap Jingbei.
Jingbei lalu duduk terdiam sambil memandangi Jing-Shen yang terbaring tak sadar.
Meski berulangkali Jingbei menggoyangkan tangan Jing-Shen supaya aktor muda itu siuman tetap saja Jing-Shen memejamkan kedua matanya pingsan.
"Jing-Shen... Kumohon ! Bangunlah dan berbicaralah denganku !" kata Jingbei.
Tubuh Jingbei terasa tidak bersemangat kembali saat dirinya diketahui oleh Jing-Shen.
"Haruskah aku pergi menjauh darinya ? Lalu dimana aku akan tinggal nanti ???" kata Jingbei tertunduk sedih.
Jingbei menghela nafas panjang lalu menoleh kembali ke arah Jing-Shen seraya beranjak pergi.
TIT... !
TIT... !
TIT... !
Suara sistem dalam tubuh robot AI milik Jingbei lalu berbunyi keras.
"JINGBEI... APA KABAR ?" sapa suara sistem yang berasal dari dalam tubuh Jingbei.
"Kau datang lagi sistem... ???" sahut Jingbei.
"APA KAMU MENDAPATKAN MASALAH BESAR, JINGBEI ?", tanya suara sistem.
"Emm... !? Aku ketahuan bertingkah aneh sekali sehingga mengejutkan Jing-Shen dan membuatnya pingsan...", sahut Jingbei.
"BAIKLAH, SISTEM AKAN MENGOPTIMALKAN MASSA PADA MEMORI DI DALAM OTAK JING-SHEN MENJADI TERHAPUS SAAT DIA MELIHATMU TADI !" ucap suara sistem.
"Kau akan menghapus memori Jing-Shen sewaktu dia melihatku dalam sikap robot", kata Jingbei.
"BENAR... SISTEM AKAN MEMULAI PROSES PENGHAPUSAN MEMORI DALAM PIKIRAN JING-SHEN...", ucap sistem.
"Tapi aku tidak menginginkannya karena aku berharap dia menerimaku apa adanya diriku yang robot ini", kata Jingbei.
"AKAN BERESIKO TINGGI BAGIMU KARENA MEMUNGKINKAN DIA AKAN MEMANFAATKAN DIRIMU SEBAGAI ROBOT AI SEBAIKNYA KAMU MEMBANTUNYA SECARA DIAM-DIAM JIKA DIA MEMBUTUHKAN BANTUANMU !" sahut suara sistem.
"Akan menyusahkanku jika aku harus menyembunyikan sosokku yang sebenarnya sebagai robot AI", ucap Jingbei sedih.
"TIDAK, JINGBEI ! BUKAN SAATNYA DIA MENGETAHUI SOSOK ROBOTMU KARENA KAMU TIDAK DAPAT MENOLONGNYA JIKA DIA TAHU BAHWA KAMU ADALAH ROBOT AI !
Suara sistem robot AI yang berasal dari tubuh Jingbei berbicara panjang lebar untuk memberi penjelasan pada Jingbei agar dia menerima kelemahannya ini.
"SEBAIKNYA KAMU MENUNGGU WAKTU YANG TEPAT UNTUK MENJELASKAN PADANYA BAHWA KAMU ADALAH ROBOT AI", sahut suara sistem.
"Menurutku sebaiknya dia mengetahui sosokku dari awal sebelum semuanya terlambat dari hubungan ini", kata Jingbei.
"SAAT KAMU BERINTERAKSI DENGAN JING-SHEN MAKA SECARA OTOMATIS KAMU MEMILIKI TUGAS KHUSUS YAITU MEMBANTU KEHIDUPAN AKTOR MUDA INI !"
Kembali suara sistem menggema di ruangan tempat tinggal Jing-Shen.
"Membantunya ??? Apa yang perlu aku bantu darinya ???" tanya Jingbei.
Ekspresi Jingbei berubah kebingungan dengan penjelasan sistem yang berasal dari tubuh robot AI miliknya.
Jingbei melanjutkan langkahnya hendak pergi dari tempat tinggal aktor muda itu.
"JIKA KAMU TIDAK MENYEMBUNYIKAN IDENTITAS ASLIMU SEBAGAI ROBOT AI MAKA ORANG INI TIDAK DAPAT KAMU SELAMATKAN MASA DEPANNYA, JINGBEI !" sambung suara sistem.
Jingbei langsung menolehkan kepalanya ke arah Jing-Shen lalu terdiam mematung dengan memandang ke Jing-Shen.
"Apa yang akan terjadi pada masa depannya ?" tanya Jingbei serius.
"DIKATAKAN PADA SISTEM AI BAHWA PEMUDA INI AKAN MEMILIKI MASALAH BESAR DALAM KEHIDUPANNYA KARENA MASALAH KELUARGANYA YANG RUMIT AKAN MEMPENGARUHI MASA DEPAN AKTOR MUDA INI, JINGBEI", sahut suara sistem.
"Apakah akan mempengaruhi masa depannya sebagai aktor muda ?" tanya Jingbei.
"TEPAT SEKALI ! DAN ARGUMENMU BISA DIKATAKAN BENAR !" sahut suara sistem.
BIP... !
JING-SHEN...
AKTOR BERBAKAT MASA DEPAN, USIA 20 TAHUN...
BAKAT AKTING, MODELING, MENYANYI, MEMILIKI PENDUKUNG SETIA...
TINGGI BADAN 180 CM, KULIT PUTIH, RAMBUT HITAM DENGAN TUBUH ATLETIS...
KELAHIRAN SHANGHAI...
AKTOR MUDA YANG MEMILIKI TALENTA LUAR BIASA NAMUN RAPUH KEHIDUPAN PRIBADINYA...
MEMILIKI PHOBIA AKUT PADA PEREMPUAN...
....
Suara sistem AI menjelaskan kepada Jingbei tentang identitas Jing-Shen.
"Tidak terbaca dia akan memiliki masala di kehidupan masa depannya nanti jika dia mengetahui bahwa aku robot", kata Jingbei.
"APA KAMU TIDAK MENYIMAK PENJELASANKU BAHWA DIA MEMILIKI KEPRIBADIAN RAPUH ???" sahut suara sistem.
"Apa artinya ?" tanya Jingbei.
"MUNGKIN DIA AKAN PUTUS ASA DAN BERUBAH DEPRESI KEJIWAANNYA, BISA SAJA DIA AKAN MELENYAPKAN DIRINYA SENDIRI TANPA DUKUNGANMU DI SISINYA, JINGBEI !" sahut suara sistem.
Jingbei terdiam mematung sembari menatap ke arah Jing-Shen.
"LEBIH BAIK KAMU JELASKAN PADA JING-SHEN SETELAH SEMUA BERJALAN BAIK DAN DIA TELAH BERHASIL MENJADI AKTOR BESAR", ucap suara sistem.
Jingbei tidak bereaksi dan tetap diam membisu.
"SAAT KAMU INGIN PERGI DARINYA MAKA PERGILAH SECARA DIAM-DIAM TANPA JING-SHEN MENYADARINYA JIKA KAMU TELAH PERGI DARI HIDUPNYA, JINGBEI !" saran suara sistem.
Jingbei semakin terhenyak kaget, mendengar penjelasan dari suara sistem AI yang memintanya pergi tanpa jejak suatu saat nanti dari kehidupan Jing-Shen.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments