Sya tidak berdandan hanya memakai topi hitam, masker hitam dan rambut di gerai indah. Sya juga memakai baju lengan pendek dilapisi jaket jeans dan Celana jeans hitam kekinian tidak ketat dan tidak kebesaran di pinggang kecil Sya.
Sya menghubungi seseorang, "haloo Boy?" sapa Sya.
"wahhh?? kesambet apa ini Sya nelpon aku? kok tumben? butuh apa?" tanya Boy yang ternyata Sepupu Sya seorang Agen pembelian motor baru-bekas.
"aku mau sewa motor, ada nggak?" tanya Sya.
Boy tentu bingung mendengarnya, "sewa? kenapa nggak beli? emang yang sebelumnya kenapa?" tanya Boy.
"panjang ceritanya, motor sebelumnya baik-baik aja kok. buruan beritahu aku !! ada apa enggak?" tanya Sya dengan tak sabaran.
Boy berdecak sebal, "sejak kapan kamu jadi pemaksa sih Sya? bukannya kamu mau jadi Orang baik ya?" ledek Boy.
"jangan memancing emosiku Boy, aku sudah baik sekali belakangan ini tapi harga diriku di injak-injak oleh Orang yang aku percaya, memang Orang yang cintanya tulus dengan penampilan culunku ini enggak ada. semua penipu, mikirin ego masing-masing aja." dengus Sya.
Boy menganga, tak disangka Sya malah curhat padanya.
"ya udah..! kesini dong..! disini ada motor yang bisa kamu sewa." kata Boy dengan tenang.
Sya pun segera berangkat ke tempat kerja Boy dan memang menunggunya.
Sya yang datang ke tempat Boy menjadi pusat perhatian rekan kerja Boy dan beberapa pembeli yang ingin mengambil motor, ada juga yang mau jual motor.
"itu siapa? kok bisa pinggangnya sekecil itu?" bisik-bisik Orang yang melihat Sya masih memakai helm.
Sya menyerahkan kunci motornya ke Boy dan Boy menuntun Sya ke Motor yang akan dibawanya.
"kenapa Sya? kan aku udah bilang dari dulu ngapain pake beginian? nggak akan ada yang tertarik juga, kalau pun ada cuma banyak maunya aja." ejek Boy.
Sya mendengus dan bersiap memukul Boy tapi Boy malah menjauh.
"jaga kekuatanmu Sya..! disini banyak Orang, kenapa kamu tiba-tiba jadi pemarah begini sih? emang apa yang dia lakuin ke kamu?" tanya Boy dengan heran.
"brengsek itu menghianatiku, apa kurangku coba?" geram Sya.
Boy mematung lalu tertawa keras kemudian ditatap tajam oleh Sya.
"hei Sya?? kan aku udah bilang kalau wajah culun dan penampilan baik itu nggak cocok samamu, lihatlah kamu begitu pun nggak dapat yang benar. apa salahnya jadi diri sendiri heh?" ledek Boy membuat Sya membuang muka dengan malas.
"pergi..!" Sya mendorong Boy pelan yang tergelak membiarkan Sya pergi.
inilah karakter Sya yang sebenarnya, Sya tidak pernah cocok bersikap layaknya wanita normal seperti Sya yang culun rela di hina dan di asingkan hanya karna tidak suka jadi pusat perhatian sejak masa SD, Sya menjadi culun sejak masa SMP dan itu membuat Sya nyaman di abaikan tidak ada yang menjilatnya apalagi Pria yang berani mempermainkannya.
Boy? adalah teman SD Sya yang tau watak Sya sebelum jadi culun jadi Ia tak heran saat Sya kembali ke watak sebelumnya, berulang kali Boy katakan untuk Sya menjadi diri sendiri saja.
.
Sya berada di Kampus nya saat masih jadi Mahasiswi disana.
"huuhh!! kenapa jadi Orang baik pun di jahat-in?" gumam Sya dengan wajah datarnya.
Sya menyamar dengan gaya ala tomboy nya bukan sebagai Sya yang culun dan tidak modis, Sya menghela nafas berulang kali lalu terkekeh kemudian.
"kalau begitu aku akan jadi Orang kejam bagi Orang yang berani menghianatiku." gumam Sya dengan sorot mata tajam.
Sya pun memasuki kawasan kampusnya, tidak ada yang mengenal Sya sebagai senior yang pernah Kuliah di Kampus itu, Junior Sya di Kampus itu malah mengira Sya anak baru yang mau mendaftar.
Sya memasuki Ruangan Perpustakaan dan Ia memiliki ID Cardnya walau bukan kuliah disitu lagi tapi Sya adalah Mahasiswi terbaik di zaman itu sehingga mendapatkan Kartu Tanpa batas yang kalau Sya sudah lulus dari kampus itu tetap bisa memasukinya.
Sya duduk di kursi paling pojokan dan mengenang semua masa-masa sulitnya yang Ia lalui dengan gembira tak peduli penilaian buruk Orang lain terhadapnya asalkan ada Amara dan Aldo, tapi Aldo sudah berkhianat tentu tidak ada alasan bagi Sya harus bersikap culun juga tak tahu apa-apa lagi.
beberapa jam kemudian,
"setidaknya Amara kan masih ada? apa aku temui Amara aja ya?" gumam Sya teringat satu-satunya temannya saat Sya masih culun.
Sya pun bangkit dari duduknya dan keluar dari kawasan Kampus itu menuju Apartemen Amara, Sya tau tempat tinggal Amara yang saat masih kuliah selalu bersama walau Sya harus membantu Amara yang tidak tau cara beres-beres.
di dalam Apartemen Sya mencari sekeliling, tiba-tiba matanya menangkap sosok Amara yang berjalan dengan senyuman lebarnya.
"itu Amara." gumam Sya tersenyum lebar dibalik Maskernya dan saat Sya hendak menyapa malah terdengar suara seorang Pria memanggilnya.
"sayang? kenapa meninggalkanku sendiri di Mobil hah?" tanya Pria itu dengan nada kesal yang dibuat-buat.
"kamu sih?! kan aku bilang tunggu sebentar, Dompet dan hpku ketinggalan." keluh Amara.
DEG??!
Sya melihat Pria itu merangkul dan mencium kening Amara pun berdebar kencang.
"mereka?" batin Sya dengan raut wajah syok.
Sya tidak menyangka selama ini pendengarannya tidak salah, Sya memang pernah mendengar suara Kekasih Amara yang begitu mirip dengan Suara Aldo tapi Amara menyangkalnya.
"jadi mereka menghianatiku?" batin Sya mengepalkan tangannya begitu kuat.
Sya ingin mencakar dan membanting pasangan tidak tahu malu itu tapi Ia harus menahannya demi memastikan kebenarannya.
"aku lihat sampai dimana hubungan kalian." geram Sya dengan sorot mata tajam.
kaki Sya memang terasa lemas tapi penghianatan itu lebih membuatnya geram, Ia tak menyerah mencari apa saja yang mereka lakukan supaya Sya tau cara membalas mereka berdua.
Sya masih diam bersembunyi, tujuan awalnya untuk menemui Amara berubah haluan menjadi ingin mencari tahu sampai batas mana hubungan kedua penghianatnya itu.
Sya menyesali semuanya, kenapa Ia bisa salah menilai Orang? mengapa Ia yang sangat pintar begitu payah menilai Orang? Sya tidak bisa memaafkan dirinya yang mudah di bodohi, Ia akan balas perbuatan mereka dengan cara apapun.
Sya menunggu dibalik tembok tapi Amara dan Aldo tak kunjung keluar jadi Sya berinisiatif pergi ke Apartemen Amara dan kebetulan Sya tau sandi Apartemen Amara.
"semoga aja nggak berubah." gumam Sya menekan sandi Apartemen Amara ternyata berhasil.
Sya masuk dan melihat sepatu dan heels yang di pakai oleh Amara-Aldo tadi saat Sya lihat di Lobi.
Sya tidak menutup pintu Apartemennya, Ia melangkah dengan perlahan memasuki Apartemen Amara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 131 Episodes
Comments
Oi Min
jeng..... jeng.... jeng..... terkedjoet wak....??? nyang sabar ye neng.....
2024-09-04
0
Nor Azlin
apa lagi kalau bukan main kuda2an ini lah masa nya kamu habiskan mereka berdua biar tau rasa ...buat burung Aldo tidak pernah berkicau lagi itu pasti bagus deh begitu juga dengan Amira buat dia jadi cacat biar tau rasa mereka berdua...lanjutkan thor
2024-04-30
0
Sani Srimulyani
waduh kira2 apa yg terjadi ya....... masa iya lagi iya iya.......
2024-03-03
1