Suara lembut Linka mampu menghipnotis tuan Aslan yang sangat lega saat mengetahui Linka adalah pasangannya bukan Tiara yang membosankan itu.
"Suaranya saja sudah semerdu ini. Apalagi bagian lain yang akan aku lalui bersama dengan wanita ini. Hanya wanita ini yang mampu menghancurkan tiran di hatiku." Senyum smirk itu terukir di bibir lembab tipis itu.
"Apa yang kamu inginkan tuan...?" tanya Linka gugup.
"Boleh kita bertemu sebelum kita menikah?" tanya tuan Aslan.
"Kita akan bertemu di hari pernikahan kita. Untuk saat ini aku tidak bisa. Maaf ...! Aku harus bekerja..!" Linka menutup teleponnya secara sepihak.
Lagi-lagi tuan Aslan dibuat mabuk bahkan gila oleh Linka." Tidak apa sayang. Empat hari lagi, waktu yang harus aku lewati untuk mempersiapkan diri saat aku memilikimu," bergumam sendirian di dalam kamarnya.
Linka mengatur nafasnya yang sempat tersendat karena baru kali ini tuan Aslan bicara dengannya. Tidak seperti di saat pertemuan pertama mereka saat makan malam sepekan yang lalu.
"Pernikahan ini hanya tujuan bisnis. Pamanku hanya memanfaatkan dia untuk memulihkan perusahaanku yang sedang kolaps . Mungkin saja dia juga berpikir hal yang sama denganku," gumam Linka lalu membuka lagi layar laptopnya yang sempat meredup.
Kini Linka lebih memilih berkutat dengan pekerjaannya daripada memikirkan kegagalan pernikahannya yang sudah berlalu.
Tidak lama kemudian terdengar suara keributan di depan ruang kerja Linka. Walaupun itu terdengar sayup-sayup olehnya namun cukup menganggu konsentrasinya saat bekerja.
"Ada apa di luar?" tanya Linka beralih membuka cctv yang terpasang di depan ruang kerjanya. Ia melihat salah satu gambar di dalam layar laptopnya.
Setiap ruangan yang ada di perusahaan itu sengaja di pasang cctv kecuali ruang privasi para staffnya agar terpantau langsung oleh Linka untuk mengawasi para staffnya yang tidak becus bekerja karena sering ngerumpi.
Linka benar-benar wanita yang tegas jika menyangkut dengan profesionalitas pada tim desainernya yang tergabung di perusahaannya.
Mata Linka melebar kala melihat siapa yang datang di perusahaannya saat ini.
"Dilan....?" keningnya berkerut sambil menahan amarahnya. Tidak ingin membuat sekertarisnya bersitegang dengan Dilan, Linka meminta sekertarisnya untuk membiarkan Dilan masuk ke ruang kerjanya.
"Aku harus bertemu dengan Linka," kekeh dokter Dilan.
"Untuk apa? Mau pamer padanya kamu dapat kutu kupret itu? Apa bagusnya istrimu itu dengan bosku yang sangat jauh perbedaannya dengan istrimu bak antara bumi dan langit.
Jika saja kamu tahu siapa sebenarnya nona Linka, maka kamu pasti akan menyesal telah salah memilih istri," semprot sekertaris Fatin.
"Aku...? menyesal...?" Tertawa jahat terdengar penuh ledekan pada sekertaris Fatin." Keputusanku untuk menikah dengan saudara sepupunya itu adalah keputusan yang tepat," timpal dokter Dilan yang mencari pembenaran sendiri.
"Kita lihat saja nanti kejutan selanjutnya untukmu karena nonaku adalah pemilik....-"
Drettttttt...
Fatin melihat ponselnya dan nama Linka tertera di layar ponselnya. Sekertaris Fatin segera mengangkat telepon dari Linka.
"Iya nona."
"Suruh tamu kita masuk, Fatin...!"
"Tapi nona dia itu telah...-"
"Aku baik-baik saja. Jangan dibesar-besarkan masalahku...!" ucap Linka begitu tenang walaupun ia harus menekan amarahnya yang meletup didadanya kini..
"Baik nona." Sekertaris Fatin mengalah dan tak habis pikir dengan pikiran Linka yang masih mau menemui mantan kekasihnya itu yang sudah sangat jahat padanya.
"Silahkan masuk...! Anda ditunggu oleh nona Linka," ucap Fatin berusaha santun.
"Hmm! Ternyata Linka sangat mencintaiku," batin dokter Dilan begitu percaya diri sambil melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya Linka. Ia merasa memang dari sekertaris Fatin.
Linka duduk dengan tenang sambil membaca beberapa file yang ada di laptop miliknya. Dilan mengusap lehernya serasa sangat tegang karena sikap dingin Linka seakan membekukan sel-sel darahnya. Dokter Dilan berdehem agar Linka mau menatapnya. Ia akhirnya membuka suara lebih dulu.
"Apa kabar Linka...! Maaf, tadi pagi aku tidak melihatmu sarapan. Pelayan bilang kamu sudah berangkat. Itu sebabnya aku sengaja mampir ke sini lebih dulu sebelum ke rumah sakit.
Sebenarnya masa cutiku belum berakhir tapi aku ingin sekali bertemu denganmu untuk menjelaskan apa yang terjadi hari itu dan....-"
"Aku sudah memaafkanmu. Itu yang kamu inginkan dariku, bukan? Hingga kamu punya alasan untuk menemui ku disini," potong Linka agar drama tidak penting itu segera berlalu.
"Aku tahu kata maaf tidak cukup untuk menghapus luka yang telah aku gores karena....-" ucapan Dilan harus terhenti karena Linka selalu memotong ucapannya.
"Konspirasi yang sedang kalian bangun dan membuatnya seolah suatu kebetulan atau lebih tepatnya melakukannya karena dianggap sangat krusial. Siapa yang kamu ingin bodohi, Dilan? Semua manusia memiliki intuisi.
Dari intuisi itu Tuhan membimbing hambaNya agar bisa membaca situasi tanpa perlu mengetahui yang sebenarnya dari pelaku itu sendiri.
Jadi keluar dari sini. Waktuku cukup berharga untuk melayani pecundang sepertimu. Keluar....!" usir Linka yang tidak ingin membuat hatinya lebih dendam pada mantan tunangannya itu.
Dokter Dilan hanya termangu di tempatnya berdiri. Ia tidak lagi mengenal Linka yang lemah lembut bahkan selalu berpikir positif walaupun banyak pihak lain yang selalu menyakitinya.
"Linka. Suatu saat nanti kamu akan tahu mengapa aku menerima pernikahan ini. Aku pergi dulu. Jaga dirimu...! Aku yakin tuan Aslan pasti akan membahagiakan kamu. Kita hanya orang-orang terbuang yang perlu sedikit siasat untuk dilihat dunia.
Karena orang hanya menghargai dan tunduk pada kita jika kita kaya dan aku tidak mau terbelenggu oleh kemiskinan lagi," ucap dokter Dilan yang pada akhirnya Linka mengetahui motif dari skenario Tantenya Widia.
Dokter Dilan berjalan dengan gontai menuju pintu ruang kerjanya Linka. Saat sudah membuka pintu, Linka kembali memanggilnya.
"Tunggu sebentar Dilan...! Tolong kembalikan sertifikat kepemilikan unit apartemen yang kamu tempati saat ini karena itu adalah properti milikku. Aku bukan seorang dermawan. Semua ada harganya.
Dan satu lagi. Jangan mengira aku jatuh terpuruk karena gagal menikah denganmu. Kau tidak lebih hanya bagian kotoran dalam tubuhku yang harus aku keluarkan dan aku bersihkan. Dengan begitu tidak akan menimbulkan penyakit dalam tubuhku. Pasti kamu lebih mengerti apa yang aku maksud, dokter Dilan," sarkas Linka sebegitu menjijikkan Dilan bagi dirinya.
Wajah dokter Dilan tercengang dan sangat malu mendengar penghinaan Linka yang dilayangkan gadis itu padanya yang menganggapnya tidak lebih dari bagian kotoran tubuh.
"Jangan lupa tutup pintunya dengan rapat...!" Datar Linka yang tetap tenang walaupun hatinya saat ini seakan melepuh karena menekan amarahnya agar tidak terlihat lemah di depan Dilan.
Saat pintu ditutup rapat, Linka menjatuhkan cairan bening yang menumpuk di kelopak matanya. Bohong kalau ia sudah kuat dan terlihat baik-baik saja saat ini. Semuanya butuh waktu untuk menyembuhkan luka itu secara perlahan.
Linka yang sedang termenung di ruang kerjanya dikejutkan dengan suara ketukan pintu. Linka buru-buru menghapus air matanya agar tidak dilihat oleh sekertaris Fatin. Tidak lama Fatin muncul dengan satu kotak besar berwarna putih entah apa isinya.
"Nona Linka. Ada paket untukmu dan ini kartunya." Meletakkan kotak itu di atas meja tamu yang ada di dalam ruang kerjanya Linka. Linka bangkit berdiri menghampiri kotak itu dan mengambil kartu dari tangan sekertaris Fatin.
"Untukmu calon ibu anak-anakku...! Gaun pengantin indah untuk wanita tercantik yang pernah aku temui. Sampai jumpa di hari pernikahan kita...!
Datanglah dengan gaun indah ini sebagai calon istriku...! Aku tidak sabar untuk mengikatmu dalam untaian kata halal yaitu ijab qobul.
Terimakasih sudah memilih aku bagian dari sisa perjalanan waktu yang akan kita lalui bersama... Insya Allah," Ucapan syarat dengan makna itu menggetarkan sanubari Linka.
Linka membuka isi kotak itu karena penasaran dengan gaun pengantinnya yang langsung dikirim dari Paris. Gaun pengantin yang terlihat sangat cantik yang dirancang sendiri oleh desainer ternama di Paris itu dan itu adalah dosennya Linka sendiri saat dia mengambil kuliah di negara itu beberapa tahun yang lalu. Sekertaris Fatin takjub melihat gaun pengantin yang super cantik itu.
"Apakah pria itu seorang yang sangat romantis?" batin Linka yang sudah mendapatkan dua kejutan dari calon suaminya hari ini yang tidak lain adalah tuan Aslan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Juan Sastra
hah menangislah kau nanti dilan sdh kismin bertambah kismin, dan linka sdh sejak awal kaya dan semakin bertambah kaya..
2024-06-08
1
Edy Sulaiman
he...he..Dilan menyangka dia dpt kakap namun ikan Teri yg dimakan nya...hhh...
2024-06-05
1
Sabaku No Gaara
lebih baik di pilih karena dicintai linka trust me
2024-05-13
2