“Kamu siapa?” tanya Hasan menatap serius Cinta.
Cinta masih meratapi Hasan dan perlahan duduk. Kedua matanya benar-benar tidak teralih sedikit pun dari kedua mata Hasan.
“Tolong beri dia kesempatan. Dia karyawan di sini. Saya percaya dia,” sergah ibu Chole langsung pasang badan. Ia berangsur membantu Cinta untuk bangun.
Cinta tak membuang-buang kesempatan tersebut. “T—terima kasih banyak, Bu!” ucap Cinta kepada ibu Chole.
Ibu Chole mengangguk-angguk. “Sudah, jelaskan apa yang perlu kamu jelaskan,” ucapnya masih menatap iba kedua mata Cinta. Ia percaya, air mata Cinta merupakan air mata kesedihan mendalam.
Bergegas Cinta menggeledah tas punggungnya. Cinta bermaksud mengambil ponsel maupun ATM milik Hasan dari sana. Fatalnya, kedua benda tersebut tidak ada. Kenyataan tersebut juga yang membuat Cinta panik. Cinta terpaksa menuang semua isi tasnya ke lantai. Hal yang sudah membuat mereka yang menunggu jadi menatapnya tidak nyaman.
Sambil jongkok membereskan barang-barangnya yang terserak di lantai, Cinta berkata, “Sumpah demi apa pun, aku enggak bohong. Aku punya bukti. Hape dan ATM Kak Hasan yang Kakak kasih ke aku agar aku tidak kekurangan apa pun, selagi Kakak pergi—” Cinta tak bisa berkata-kata ketika Hasna merangkul Hasan. Tak semata karena suaminya dirangkul wanita lain. Melainkan karena Cinta mengenali Hasna, pak Syam, maupun wanita bercadar yang bernama Cinta juga.
“Hasan sedang sakit, jadi tolong jangan membuat dia berpikir rumit apalagi berpikir berat,” ucap Hasna sambil menatap sedih Cinta. Tak semata karena keadaan sang kembaran yang sempat koma selama dua bulan setelah kecelakaan fatal yang dialami. Namun juga keadaan Cinta yang baginya memilukan. “Dia menangis ketakutan begitu. Entah luka apa yang dia rasakan hingga dia terlihat begitu tersik.sa,” pikir Hasna sambil merangkul dan mengelus bahu Hasan yang ia rangkul.
Sakit—Cinta merasakan itu hanya karena melihat suaminya dirangkul bahkan dielus-elus oleh wanita lain. Apalagi yang Cinta tahu, Hasna itu anak majikan Hasan. Alasan tersebut pula yang membuat Cinta tersedu-sedu. Ibu Chole yang masih percaya kepada Cinta, sampai tidak tega. Ibu Chole memeluk sekaligus berusaha menenangkan Cinta.
“Aku enggak ... aku enggak boh..ong, Bu. Tapi ponsel ... hape, dan ATM yang buat bukti, ... hilang. Padahal harusnya ada di sini. Sementara seharian ini aku memang enggak cek isi tasku!” ucap Cinta mengadu kepada ibu Chole. Wanita baik hati itu sampai ikut menangis.
Air mata ibu Chole membasahi cadar warna merah muda yang dipakai. “Coba nanti Ibu cek lewat CCTV. Jika memang hilang di sini, harusnya ketemu.”
Mendengar itu, Cinta mengangguk-angguk sambil terus mengucapkan terima kasih kepada ibu Chole. Kemudian ia berdiri, menatap Hasan maupun wajah ketiga orang yang Hasan katakan kepadanya sebagai sang majikan. Dan Cinta segera menjelaskan, menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Hasan. Dari awal pertemuan mereka, hingga akhirnya Hasan pergi tak berkabar.
“Kecelakaan itu membuat aku amnesia. Kak Hasan men.abrakku, aku amnesia. Fatalnya tak ada kartu identitas yang menyertaiku hingga Kakak kesulitan mencari alamatku, atau sekadar mengabari keluargaku.”
“Kak Hasan memberiku nama Cinta karena bagi Kak Hasan, aku wanita tangguh. Bagi Kak Hasan, aku wanita penuh Cinta yang tetap berani menghadapi segala cobaan, dan Kakak bilang, mirip dengan mama Kakak. Bahkan karena kemiripan kami juga, Kakak memberiku nama Cinta yang memang namanya mama Kakak!” ucap Cinta sambil berlinang air mata.
“Kita sepakat dinikahkan pa.ksa, agar kita tidak mati dia.muk warga! Namun, kita memiliki pernikahan bahagia!”
“Bahkan sampai sekarang, aku masih tinggal di rumah KPR yang Kakak beli untuk kita!”
“Jika kalian tidak percaya, ayo datang ke rumah kami. Warga di sana apalagi ketua RT, sudah paham ke Kakak!” lanjut Cinta yang kemudian menegaskan, “Terus kata Kak Hasan, ketika aku melihat wallpaper ponselnya dan itu foto kalian berempat, Kak Hasan bilang bahwa ketiga orang yang bersama Kakak itu, majikan Kakak.”
Cinta kembali tersedu-sedu. Wanita bercadar biru tua dan Cinta ketahui sebagai majikan Hasan, datang menghampiri kemudian memberikan pelukan.
“Kakak pergi sejak tanggal ... dan kita baru bisa bertemu sekarang. Namun aku yakin, hingga aku terus menunggu Kakak. Yang ternyata juga benar, bahwa Kakak tidak baik-baik saja.”
“Ternyata Kakak, lupa aku ... dan benar. Kakak sakit ... apakah karena sakit Kakak juga, Kakak lupa aku?” Cinta masih bertahan dalam dekapan wanita bercadar yang datang bersama Hasan.
“Ibu majikannya Kak Hasan, kan? Bu, ... sumpah demi apa pun, saya tidak bohong, Bu. Saya mencintai suami saya. Saya nyaris gil.a karena selama lima bulan ini tidak sedikit pun dikabari olehnya. Namun ternyata beliau sakit. Beliau sakit apa, Bu, hingga istrinya ini tak lagi beliau kenali bahkan sekadar ingat?” tanya Cinta tersedu-sedu kepada wanita yang masih memeluknya.
Namun tak beda dengan ibu Chole, wanita yang memeluk Cinta juga jadi tersedu-sedu. Wanita tersebut tak sedikit pun menjawab. Hingga Cinta memilih kembali menatap Hasan.
“Rumah kita dibeli atas nama Kak Hasan dan segala identitas Kakak, ada di sana!” yakin Cinta.
Hasan berusaha mencerna, ia sungguh berpikir keras. Ia kembali menatap Cinta dengan kedua matanya yang basah. “Aku tetap tidak ingat apa pun!” ucapnya, meski ia juga berpikir, apakah kejadian berupa bayang-bayang hitam putih yang terus menghantuinya, justru merupakan kebersamaannya dengan Cinta? Sebab, cara Cinta memanggilnya saja, sangat mirip dengan suara yang terus terngiang di ingatannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Sarti Patimuan
Ini jadinya pasangan amnesia ya
2024-03-07
1
kalea rizuky
cinta ne yg muka nya rusak bukan sih yg dlu jahat
2024-03-07
0
💗 AR Althafunisa 💗
Untung Cinta dikasih untuk menjelaskan, akhirnya mereka tahu 😭😭😭
2024-03-04
0