11 : Tetangga Baru

Cinta terpaksa mendorong dada maupun lengan Hasan. “Jangan dilanjutkan! M—maksudnya, ... tolong tunda dulu. Sumpah, ini sakit banget!” ucapnya sambil berlinang air mata dan memang menangis.

Hasan yang masih mengungkung tubuh Cinta menggunakan kedua tangannya, jadi bingung. Sebab sang istri sampai menangis tersedu-sedu akibat malam pertama yang tengah mereka jalani.

Sebenarnya, Hasan juga merasa sakit, tapi Hasan tak mungkin mengatakannya. Hasan merasa egois jika tetap memak.sa Cinta melakukannya. Karenanya, Hasan mengalah dan menyudahi tanpa melanjutkan apa yang sudah mereka mulai.

Penuh kelembutan, Hasan meraih salah satu tangan Cinta. Cinta menutupi wajahnya menggunakan kedua tangan di tengah kenyataannya yang masih tersedu-sedu. Namun kemudian, Cinta buru-buru membenamkan wajah di dada Hasan, seiring sebelah tangannya yang juga mendekap tubuh Hasan.

“Maaf, ya?” lirih Hasan benar-benar menyesal. “Duh, ... gimana ya, bilangnya.”

“Seharusnya aku yang minta maaf ... tapi beneran sakit banget. Atau kalau enggak, coba cari tahu, gimana caranya biar enggak sakit.” Cinta masih tersedu-sedu.

Hasan masih menyikapi keadaan Cinta dengan tenang. Meski sampai detik ini, Hasan belum bisa menyudahi rasa bersalahnya. “Tapi berarti, ... kalau keadaannya begini, ... berarti kamu bukan istrinya orang.” Hasan benar-benar mensyukuri kenyataan kini.

Berkat malam pertama yang mereka jalani, membuat mereka mengetahui. Bahwa Cinta masih memiliki selaput dara. Cinta masih pera.wan, yang menegaskan, Cinta belum menjadi istri orang. Ditambah lagi, saat Hasan tak sengaja menabrak Cinta, posisinya Cinta sedang buru-buru lari seperti mengejar sesuatu.

Apa yang Hasan ucapkan membuat Cinta terdiam. Cinta merenungi ucapan Hasan, kemudian diam-diam membenarkannya. “Iya, ... masuk akal. Berarti, aku bisa mencintai kak Hasan tanpa harus memikirkan yang lain,” pikir Cinta. Ia rasakan, bibir Hasan yang mengunci ubun-ubunnya menggunakan ciu.man dalam.

“Terus, sekarang mau ngapain? Mau makan, nonton hape, apa bagaimana?” lirih Hasan sambil sesekali mengecup sebelah tangan Cinta yang masih ia genggam.

***

Hari-hari yang indah sebagai pengantin baru dan membuat hati Cinta sibuk berbunga-bunga, masih berlangsung hingga akhirnya Hasan mengabarkan akan segera kembali bekerja.

“Eh!” Cinta yang terkejut tak sengaja mengiris jarinya. Karena kebetulan, Hasan mengabarkan itu bertepatan dengan Cinta yang tengah mengiris bawang putih.

Hasan yang tengah menggoreng ikan di sebelah Cinta, refleks menoleh. Ia dapati, telunjuk tangan kiri sang istri yang sedang dipegangi dan berdarah. Cinta sibuk meringis dan Hasan segera mengecilkan api kompornya. Hasan mencuci luka di jari telunjuk Cinta.

“Besok kalau kerja, tiap hari pulang, apa bagaimana?” tanya Cinta sangat hati-hati. “Jujur, aku belum siap ditinggal lama-lama. Apalagi aku juga belum kenal dengan tetangga. Namun jika Kakak enggak kerja, kita makan apa? Belum lagi, bayar cicilan rumah. Realistis lah, hidup enggak mungkin terus sama-sama dan cukup cinta. Karena kita memang butuh uang buat memenuhi kehidupan kita,” ucap Cinta yang berakhir mengecup pipi kiri Hasan.

Hasan langsung tersenyum manis dan perlahan tersipu.

“Asal Kakak enggak sama cewek lain apalagi sampai seli.ngkuh, aku baik-baik saja. Ditinggal keluar kota pun aku bertekad bisa, asal kita selalu kasih kabar,” ucap Cinta lagi yang buru-buru mengambil kotak obat di atas kulkas.

Perabotan di rumah mereka sudah lengkap. Karena Hasan sudah memesan semuanya. Termasuk juga AC di kamar mereka, hingga kini mereka tidak tidur panas-panasan lagi.

“Aku bersumpah, sampai kapan pun, kamu satu-satunya istriku. Aku beneran enggak butuh yang lain,” ucap Hasan sambil membalik ikan yang ia goreng.

“Aamiin!” ucap Cinta yang kemudian meminta dipasangkan plester luka di telunjuk tangan kirinya.

“Biar aku yang iris-iris, mumpung masih di rumah, biar bisa memanjakan istri!” ucap Hasan sambil memasang plester lukanya.

Cinta langsung tersipu. “Kalau begitu, aku siram pohon jambu di depan dulu. Siram pakai air cucian beras, katanya cepat berbuah dan rasa buahnya juga jadi manis,” ucapnya bersemangat sambil mengambil baskom berisi air cuci berasnya, di wastafel.

“Tadi kamu bahas belum kenal tetangga, aku jadi kepikiran buat bikin bingkisan makanan. Ibarat buat sarana kenalan. Nasi box gitu, atau parcel buah,” ucap Hasan dan langsung menahan langkah Cinta.

Cinta refleks menghentikan langkahnya, menoleh dan memang menyimak ucapan sang suami sambil menatapnya. “Mau masak sendiri apa bagaimana?”

“Pesan saja, biar enggak repot. Hanya berapa kan satu gang kita. Enggak ada lima belas kalau kata pak RT,” balas Hasan.

Cinta mengangguk-angguk paham. “Oke, nanti aku pikirin bentar. Pakai nasi box kayaknya lebih cocok, dan dananya pun harusnya enggak terlalu banyak!”

“Aduhai istriku ... jiwa ngiritmu kembali berbicara,” ucap Hasan benar-benar manis dan sengaja menggoda istrinya.

Cinta tertawa. “Memang gini Kak. Salah satu dari kita harus kenceng dan perhitungan ke uang, biar kita enggak kebablasan jadi pengeluaran semua,” ucapnya yang langsung dibalas pembenaran oleh Hasan. Alasan yang juga membuat Cinta melenggang pergi dengan leluasa meninggalkan suaminya.

Pohon jambu yang Cinta maksud, kebetulan ditanam di depan gerbang. Selain mengisi rumah dengan perabotan lengkap, Cinta memang sengaja meminta dibelikan beberapa pohon buah maupun benih sayuran. Cinta akan menyibukkan diri dengan berkebun agar masih memiliki kesibukan karena Hasan tak mengizinkan Cinta bekerja.

Ada pohon jambu, air, jambu biji kristal, dan juga mangga, yang semuanya sudah berbunga meski memang ukuran pohonnya masih kecil. Cinta menyiram ketiganya menggunakan air cucian beras.

Ketika Cinta memperlakukan pohon buahnya penuh sayang, Cinta bahkan mengajaknya berbicara, di seberang Cinta, ada sebuah mobil yang berhenti. Mobil tersebut membawa seorang penumpang pria. Pria yang tak lain merupakan Nadim. Nadim membawa sebuah koper besar dan satu dus jinjingan.

“Benar, ... perumahan di sini masih sepi. Aman buat kerja,” batin Nadim sambil mengawasi sekitar.

Nadim juga mengawasi Cinta. Hanya saja, ia hanya bisa melihat punggungnya. Karena Cinta terus memunggunginya. Nadim mengawasi Cinta cukup lama.

“Kayak kenal,” batin Nadim.

Seorang wanita paruh baya buru-buru keluar. Wanita tersebut segera membukakan gembok gerbang dan mempersilakan Nadim masuk. Selain itu, wanita tersebut juga sampai memboyong koper Nadim.

Seolah Tuhan belum mengizinkan Cinta maupun Nadim mengetahui satu sama lain, Cinta juga baru melihat Nadim ketika pria itu hampir masuk rumah. Jadi, memang hanya benar-benar sedikit punggung sekaligus kepala Nadim yang Cinta Lihat.

“Sayang, ... rumah depan juga sudah ditempati loh.” Cinta mengabarkannya kepada Hasan. Karena biar bagaimanapun, Nadim yang belum ia ketahui asal usulnya, merupakan tetangga barunya.

“Oh, iya? Depan yang mana?” balas Hasan hangat sambil menyiapkan nasi di piring.

“Depan persis kita. Yang gerbangnya cat putih,” ucap Cinta segera mencuci kedua tangannya di wastafel dapur sang suami masih sibuk.

“Oh, yang punya kucing anggora putih, ya?” balas Hasan. Karena meski belum ada satu minggu menjadi warga sana, kebiasaannya jalan pagi atau sore, memang membuatnya cukup paham wilayah sana.

Terpopuler

Comments

Sarti Patimuan

Sarti Patimuan

Wah Nadim jadi tetangganya Hasan keina

2024-03-07

0

Firli Putrawan

Firli Putrawan

ya bs gt tetanggaan

2024-02-27

0

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

wah malah tetanggaan sama si Nadim😝

2024-02-25

0

lihat semua
Episodes
1 1 : Penghakiman yang Begitu Keji (Revisi)
2 2 : Hasan yang Terpaksa Berbohong (Sudah Revisi)
3 3 : Pelukan Penenang (Sudah Revisi)
4 4 : Memikirkan Masa Depan (Sudah Direvisi)
5 5 : Mengharapkan Pernikahan Manis (Revisi)
6 6 : Pria Di Ranjang Sebelah
7 7 : Hanya Kebetulan Mirip?
8 8 : Perkara Kontrakan
9 9 : Mulai Bahagia
10 10 : Sudah Sangat Sayang
11 11 : Tetangga Baru
12 12 : Sepeda Dan Ingin Dimanja
13 13 : Elza Dan Perasaan Nadim Kepada Cinta
14 14 : Tersentak
15 15 : Mirip Anak Ayam Yang Tersesat Dari Induknya
16 16 : Sudah Dua Bulan
17 17 : Keadaan Terbaru Hasan
18 18 : Namanya Juga Hasan
19 19 : Tamu Dari Kampung
20 20 : Penjelasan Cinta
21 21 : Cinta yang Ingin Tetap Bertahan (Revisi)
22 22 : Terlalu Berat (Revisi)
23 23 : Hasan : Wanita Ini, ... Istriku? (Revisi)
24 24 : Cinta Sendiri (Revisi)
25 25 : Hasan : Ayo Kita Bercerai!
26 26 : Cinta : Aku Setuju, Ayo Kita Bercerai! (Revisi)
27 27 : Diberi Kesempatan (Revisi)
28 28 : Merasa Sangat Kehilangan (Revisi)
29 29 : Hasan yang Masih Menunggu Cinta (Revisi)
30 30 : Tentang Keina yang Sangat Mirip Cinta (Revisi)
31 31 : Akhirnya Bertemu (Revisi)
32 32 : Sangat Marah Dan Cemburu (Revisi)
33 33 : Tak Mau Menjadi Keina (Revisi)
34 34 : Masih Sulit Untuk Percaya (Revisi)
35 35 : Penyakit Hasan (Revisi)
36 36 : Menjadi Sepasang Kekasih (Revisi)
37 37 : Nadim yang Terus Berencana (Revisi)
38 38 : Kejutan Romantis (Revisi)
39 39 : Kesuksesan Rencana Nadim (Revisi)
40 40 : Kembali Amnesia (Revisi)
41 41 : Setelah Kecelakaan
42 42 : Hubungan Baik Antara Orang Tua Keina dan Orang Tua Hasan
43 43 : Asisten Pribadi Rasa Istri
44 44 : Efek Amnesia
45 45 : Hubungan yang Sangat Dalam
46 46 : Kehamilan Elza
47 47 : Hampir Lima Tahun Telah Berlalu
48 48 : Kembali Menikah
49 49 : Paket Komplit
50 50 : Trauma yang Membuat Lebih Baik
51 51 : Ingin Bahagia
52 52 : Tetangga Meresahkan
53 53 : Ingin Hamil
54 54 : Kehamilan = Keajaiban
55 55 : Dilema
56 56 : Sudah Siap Menjadi Orang Tua
57 57 : Persalinan Impian
58 58 : Alhamdullilah
59 59 : Pasca Melahirkan
60 60 : Tentang Kita
61 61 : Bian, Bolang Sejati.
62 62 : Elra
63 63 : Diantup Tawon
64 64 : Penerus Terpilih
65 65 : Tetangga Rasa Keluarga
66 Sampai Jumpa
67 Promo Novel : Bukan Mauku Hamil Di Luar Nikah
68 Promo Novel update Setiap Hari
69 Novel Bian : Transmigrasi Dan Pembalasan Gadis Yang Ternoda
70 Novel Bian, Syukur, Erla
71 Novel Syukur Elra (Terbaru)
72 Novel Baru : Pengantin Samaran Milik Tuan Muda Pura-Pura Lumpuh Dan Buruk Rupa
Episodes

Updated 72 Episodes

1
1 : Penghakiman yang Begitu Keji (Revisi)
2
2 : Hasan yang Terpaksa Berbohong (Sudah Revisi)
3
3 : Pelukan Penenang (Sudah Revisi)
4
4 : Memikirkan Masa Depan (Sudah Direvisi)
5
5 : Mengharapkan Pernikahan Manis (Revisi)
6
6 : Pria Di Ranjang Sebelah
7
7 : Hanya Kebetulan Mirip?
8
8 : Perkara Kontrakan
9
9 : Mulai Bahagia
10
10 : Sudah Sangat Sayang
11
11 : Tetangga Baru
12
12 : Sepeda Dan Ingin Dimanja
13
13 : Elza Dan Perasaan Nadim Kepada Cinta
14
14 : Tersentak
15
15 : Mirip Anak Ayam Yang Tersesat Dari Induknya
16
16 : Sudah Dua Bulan
17
17 : Keadaan Terbaru Hasan
18
18 : Namanya Juga Hasan
19
19 : Tamu Dari Kampung
20
20 : Penjelasan Cinta
21
21 : Cinta yang Ingin Tetap Bertahan (Revisi)
22
22 : Terlalu Berat (Revisi)
23
23 : Hasan : Wanita Ini, ... Istriku? (Revisi)
24
24 : Cinta Sendiri (Revisi)
25
25 : Hasan : Ayo Kita Bercerai!
26
26 : Cinta : Aku Setuju, Ayo Kita Bercerai! (Revisi)
27
27 : Diberi Kesempatan (Revisi)
28
28 : Merasa Sangat Kehilangan (Revisi)
29
29 : Hasan yang Masih Menunggu Cinta (Revisi)
30
30 : Tentang Keina yang Sangat Mirip Cinta (Revisi)
31
31 : Akhirnya Bertemu (Revisi)
32
32 : Sangat Marah Dan Cemburu (Revisi)
33
33 : Tak Mau Menjadi Keina (Revisi)
34
34 : Masih Sulit Untuk Percaya (Revisi)
35
35 : Penyakit Hasan (Revisi)
36
36 : Menjadi Sepasang Kekasih (Revisi)
37
37 : Nadim yang Terus Berencana (Revisi)
38
38 : Kejutan Romantis (Revisi)
39
39 : Kesuksesan Rencana Nadim (Revisi)
40
40 : Kembali Amnesia (Revisi)
41
41 : Setelah Kecelakaan
42
42 : Hubungan Baik Antara Orang Tua Keina dan Orang Tua Hasan
43
43 : Asisten Pribadi Rasa Istri
44
44 : Efek Amnesia
45
45 : Hubungan yang Sangat Dalam
46
46 : Kehamilan Elza
47
47 : Hampir Lima Tahun Telah Berlalu
48
48 : Kembali Menikah
49
49 : Paket Komplit
50
50 : Trauma yang Membuat Lebih Baik
51
51 : Ingin Bahagia
52
52 : Tetangga Meresahkan
53
53 : Ingin Hamil
54
54 : Kehamilan = Keajaiban
55
55 : Dilema
56
56 : Sudah Siap Menjadi Orang Tua
57
57 : Persalinan Impian
58
58 : Alhamdullilah
59
59 : Pasca Melahirkan
60
60 : Tentang Kita
61
61 : Bian, Bolang Sejati.
62
62 : Elra
63
63 : Diantup Tawon
64
64 : Penerus Terpilih
65
65 : Tetangga Rasa Keluarga
66
Sampai Jumpa
67
Promo Novel : Bukan Mauku Hamil Di Luar Nikah
68
Promo Novel update Setiap Hari
69
Novel Bian : Transmigrasi Dan Pembalasan Gadis Yang Ternoda
70
Novel Bian, Syukur, Erla
71
Novel Syukur Elra (Terbaru)
72
Novel Baru : Pengantin Samaran Milik Tuan Muda Pura-Pura Lumpuh Dan Buruk Rupa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!