Cinta terpaksa mendorong dada maupun lengan Hasan. “Jangan dilanjutkan! M—maksudnya, ... tolong tunda dulu. Sumpah, ini sakit banget!” ucapnya sambil berlinang air mata dan memang menangis.
Hasan yang masih mengungkung tubuh Cinta menggunakan kedua tangannya, jadi bingung. Sebab sang istri sampai menangis tersedu-sedu akibat malam pertama yang tengah mereka jalani.
Sebenarnya, Hasan juga merasa sakit, tapi Hasan tak mungkin mengatakannya. Hasan merasa egois jika tetap memak.sa Cinta melakukannya. Karenanya, Hasan mengalah dan menyudahi tanpa melanjutkan apa yang sudah mereka mulai.
Penuh kelembutan, Hasan meraih salah satu tangan Cinta. Cinta menutupi wajahnya menggunakan kedua tangan di tengah kenyataannya yang masih tersedu-sedu. Namun kemudian, Cinta buru-buru membenamkan wajah di dada Hasan, seiring sebelah tangannya yang juga mendekap tubuh Hasan.
“Maaf, ya?” lirih Hasan benar-benar menyesal. “Duh, ... gimana ya, bilangnya.”
“Seharusnya aku yang minta maaf ... tapi beneran sakit banget. Atau kalau enggak, coba cari tahu, gimana caranya biar enggak sakit.” Cinta masih tersedu-sedu.
Hasan masih menyikapi keadaan Cinta dengan tenang. Meski sampai detik ini, Hasan belum bisa menyudahi rasa bersalahnya. “Tapi berarti, ... kalau keadaannya begini, ... berarti kamu bukan istrinya orang.” Hasan benar-benar mensyukuri kenyataan kini.
Berkat malam pertama yang mereka jalani, membuat mereka mengetahui. Bahwa Cinta masih memiliki selaput dara. Cinta masih pera.wan, yang menegaskan, Cinta belum menjadi istri orang. Ditambah lagi, saat Hasan tak sengaja menabrak Cinta, posisinya Cinta sedang buru-buru lari seperti mengejar sesuatu.
Apa yang Hasan ucapkan membuat Cinta terdiam. Cinta merenungi ucapan Hasan, kemudian diam-diam membenarkannya. “Iya, ... masuk akal. Berarti, aku bisa mencintai kak Hasan tanpa harus memikirkan yang lain,” pikir Cinta. Ia rasakan, bibir Hasan yang mengunci ubun-ubunnya menggunakan ciu.man dalam.
“Terus, sekarang mau ngapain? Mau makan, nonton hape, apa bagaimana?” lirih Hasan sambil sesekali mengecup sebelah tangan Cinta yang masih ia genggam.
***
Hari-hari yang indah sebagai pengantin baru dan membuat hati Cinta sibuk berbunga-bunga, masih berlangsung hingga akhirnya Hasan mengabarkan akan segera kembali bekerja.
“Eh!” Cinta yang terkejut tak sengaja mengiris jarinya. Karena kebetulan, Hasan mengabarkan itu bertepatan dengan Cinta yang tengah mengiris bawang putih.
Hasan yang tengah menggoreng ikan di sebelah Cinta, refleks menoleh. Ia dapati, telunjuk tangan kiri sang istri yang sedang dipegangi dan berdarah. Cinta sibuk meringis dan Hasan segera mengecilkan api kompornya. Hasan mencuci luka di jari telunjuk Cinta.
“Besok kalau kerja, tiap hari pulang, apa bagaimana?” tanya Cinta sangat hati-hati. “Jujur, aku belum siap ditinggal lama-lama. Apalagi aku juga belum kenal dengan tetangga. Namun jika Kakak enggak kerja, kita makan apa? Belum lagi, bayar cicilan rumah. Realistis lah, hidup enggak mungkin terus sama-sama dan cukup cinta. Karena kita memang butuh uang buat memenuhi kehidupan kita,” ucap Cinta yang berakhir mengecup pipi kiri Hasan.
Hasan langsung tersenyum manis dan perlahan tersipu.
“Asal Kakak enggak sama cewek lain apalagi sampai seli.ngkuh, aku baik-baik saja. Ditinggal keluar kota pun aku bertekad bisa, asal kita selalu kasih kabar,” ucap Cinta lagi yang buru-buru mengambil kotak obat di atas kulkas.
Perabotan di rumah mereka sudah lengkap. Karena Hasan sudah memesan semuanya. Termasuk juga AC di kamar mereka, hingga kini mereka tidak tidur panas-panasan lagi.
“Aku bersumpah, sampai kapan pun, kamu satu-satunya istriku. Aku beneran enggak butuh yang lain,” ucap Hasan sambil membalik ikan yang ia goreng.
“Aamiin!” ucap Cinta yang kemudian meminta dipasangkan plester luka di telunjuk tangan kirinya.
“Biar aku yang iris-iris, mumpung masih di rumah, biar bisa memanjakan istri!” ucap Hasan sambil memasang plester lukanya.
Cinta langsung tersipu. “Kalau begitu, aku siram pohon jambu di depan dulu. Siram pakai air cucian beras, katanya cepat berbuah dan rasa buahnya juga jadi manis,” ucapnya bersemangat sambil mengambil baskom berisi air cuci berasnya, di wastafel.
“Tadi kamu bahas belum kenal tetangga, aku jadi kepikiran buat bikin bingkisan makanan. Ibarat buat sarana kenalan. Nasi box gitu, atau parcel buah,” ucap Hasan dan langsung menahan langkah Cinta.
Cinta refleks menghentikan langkahnya, menoleh dan memang menyimak ucapan sang suami sambil menatapnya. “Mau masak sendiri apa bagaimana?”
“Pesan saja, biar enggak repot. Hanya berapa kan satu gang kita. Enggak ada lima belas kalau kata pak RT,” balas Hasan.
Cinta mengangguk-angguk paham. “Oke, nanti aku pikirin bentar. Pakai nasi box kayaknya lebih cocok, dan dananya pun harusnya enggak terlalu banyak!”
“Aduhai istriku ... jiwa ngiritmu kembali berbicara,” ucap Hasan benar-benar manis dan sengaja menggoda istrinya.
Cinta tertawa. “Memang gini Kak. Salah satu dari kita harus kenceng dan perhitungan ke uang, biar kita enggak kebablasan jadi pengeluaran semua,” ucapnya yang langsung dibalas pembenaran oleh Hasan. Alasan yang juga membuat Cinta melenggang pergi dengan leluasa meninggalkan suaminya.
Pohon jambu yang Cinta maksud, kebetulan ditanam di depan gerbang. Selain mengisi rumah dengan perabotan lengkap, Cinta memang sengaja meminta dibelikan beberapa pohon buah maupun benih sayuran. Cinta akan menyibukkan diri dengan berkebun agar masih memiliki kesibukan karena Hasan tak mengizinkan Cinta bekerja.
Ada pohon jambu, air, jambu biji kristal, dan juga mangga, yang semuanya sudah berbunga meski memang ukuran pohonnya masih kecil. Cinta menyiram ketiganya menggunakan air cucian beras.
Ketika Cinta memperlakukan pohon buahnya penuh sayang, Cinta bahkan mengajaknya berbicara, di seberang Cinta, ada sebuah mobil yang berhenti. Mobil tersebut membawa seorang penumpang pria. Pria yang tak lain merupakan Nadim. Nadim membawa sebuah koper besar dan satu dus jinjingan.
“Benar, ... perumahan di sini masih sepi. Aman buat kerja,” batin Nadim sambil mengawasi sekitar.
Nadim juga mengawasi Cinta. Hanya saja, ia hanya bisa melihat punggungnya. Karena Cinta terus memunggunginya. Nadim mengawasi Cinta cukup lama.
“Kayak kenal,” batin Nadim.
Seorang wanita paruh baya buru-buru keluar. Wanita tersebut segera membukakan gembok gerbang dan mempersilakan Nadim masuk. Selain itu, wanita tersebut juga sampai memboyong koper Nadim.
Seolah Tuhan belum mengizinkan Cinta maupun Nadim mengetahui satu sama lain, Cinta juga baru melihat Nadim ketika pria itu hampir masuk rumah. Jadi, memang hanya benar-benar sedikit punggung sekaligus kepala Nadim yang Cinta Lihat.
“Sayang, ... rumah depan juga sudah ditempati loh.” Cinta mengabarkannya kepada Hasan. Karena biar bagaimanapun, Nadim yang belum ia ketahui asal usulnya, merupakan tetangga barunya.
“Oh, iya? Depan yang mana?” balas Hasan hangat sambil menyiapkan nasi di piring.
“Depan persis kita. Yang gerbangnya cat putih,” ucap Cinta segera mencuci kedua tangannya di wastafel dapur sang suami masih sibuk.
“Oh, yang punya kucing anggora putih, ya?” balas Hasan. Karena meski belum ada satu minggu menjadi warga sana, kebiasaannya jalan pagi atau sore, memang membuatnya cukup paham wilayah sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Sarti Patimuan
Wah Nadim jadi tetangganya Hasan keina
2024-03-07
0
Firli Putrawan
ya bs gt tetanggaan
2024-02-27
0
Sugiharti Rusli
wah malah tetanggaan sama si Nadim😝
2024-02-25
0