“Aku enggak perlu minum obat. Aku sudah baik-baik saja. Aku beneran sudah sembuh,” ucap Hasan.
“Minimal antibiotiknya harus dihabiskan Kak. Ini penting buat kesehatan. Karena dokter sudah ukur porsi sekaligus dosisnya,” ucap Cinta sudah hampir menyerah lantaran jika untuk urusan minum obat, Hasan benar-benar susah. Malahan saat di rumah sakit kemarin, Hasan pernah nyeletuk memilih pura-pura mati ketimbang meminum obat.
Hasan mende.sah dan memasang tampang frustrasi. Ia kerap menepis tatapan Cinta. Cinta begitu sabar membujuknya meminum obat, persis seperti kebiasaan Cinta mamanya Hasan.
“Apa aku perlu cari buah pisang dulu? Biasanya kalau susah minum obat, pakai buah pisang ya? Diselipin gitu di pisangnya, terus ditelan?” ujar Cinta.
Hasan langsung sibuk menggeleng dan memang panik. “Enggak ... enggak. Aku pernah munt.ah parah gara-gara metode minum obat ala-ala begitu. Malahan jadi masuk rumah sakit dan di infus efek munta.h parah,” yakinnya.
“Aduh ...,” sedih Cinta menatap Hasan.
Hasan yang tak mau membuat istrinya sedih, refleks buru-buru meminum obatnya. Cinta sampai melongo karena ternyata, Hasan bisa minum obat cepat.
“Minumnya dihabisin, Kak. Takut itu tadi obat-obatnya, nyangkut di tenggorokan,” ucap Cinta yang memang khawatir. Ia sampai membantu Hasan minum, kemudian memijat-mijat kedua pundak Hasan menggunakan kedua tangannya.
“Tadi aku beneran bisa minum obat tanpa drama? Berarti, barusan ibarat pencapaian tertinggi dalam hidupku,” lirih Hasan dan membuat Cinta yang mendengarnya, menjadi tersipu.
“Kayaknya Kak Hasan memang kocak,” pikir Cinta masih duduk di sebelah Hasan. Ia meletakan gelas bekas Hasan minum di lantai sebelah kasur mereka duduk.
Kasur yang Cinta dan Hasan tempati merupakan kasur lantai busa terbilang tinggi dan berukuran 200x200. Keduanya masih duduk di pinggir dan hanyut dengan pikiran masing-masing.
Cinta memang jadi diam, tapi pandangannya refleks melirik tangan Hasan yang baru saja menggandeng sebelah tangannya. “Ini sudah malam. Niatnya kami memang tidur. Namun, apakah kali ini kami akan melakukannya apalagi hubungan kami memang sangat baik?” pikirnya mendadak deg-degan.
“Kak ...?” lirih Cinta canggung.
Cinta memberanikan diri untuk bertanya. Namun, belum juga apa-apa, Cinta sudah gelisah tak karuan. Apalagi meski Hasan tak langsung menjawab, pemuda itu malah langsung menatapnya.
Cinta jadi tidak bisa berkata-kata dan perlahan mengakhiri tatapannya kepada Hasan. “Jadi deg-degan gini,” lirih Cinta sambil menggetok-getok kepalanya menggunakan tangan yang tidak digenggam Hasan.
“Kamu mau ngomong apa?” tanya Hasan yakin, memang ada yang ingin Cinta sampaikan. Ditambah lagi, kedua pipi Cinta ia dapati bersemu.
“Jujur, aku belum siap punya anak, Kak. Aku mau istirahat total dulu, sambil belajar jadi istri yang baik. Apalagi kan ternyata, sekadar beres-beres, aku saja belum tahu caranya. Termasuk, ... cuci piring pun, aku beneran belum tahu!” lirih Cinta sambil menatap sendu kedua mata Hasan. “Entah manusia macam apa, aku sebelum bertemu denganmu. Urusan beres-beres rumah, apalagi masak aku beneran enggak tahu. Namun untuk urusan mengatur keuangan dan beberapa pengetahuan, aku tahu banget!” jujur Cinta, dan memang sejujur itu ia kepada Hasan.
Hasan menghela napas kemudian mengangguk-angguk. “Iya. Aku juga sama. Aku mau belajar jadi suami yang baik dulu. Ibaratnya, kita pacaran setelah menikah dulu. Kita puas-puasin karena kalau sudah punya anak, rasa sama keadaannya pasti lain,” ucapnya dan langsung membuat Cinta menghela napas lega. Alasan yang juga membuatnya menertawakan sang istri.
Hasan memeluk gemas Cinta, kemudian memastikan waktu di ponselnya. “Sudah puku.l sepuluh lebih, kira-kira, masih ada al.fa, apa swalayan buka enggak ya?” sergahnya.
“Memangnya Kakak mau beli apa?” sergah Cinta.
Hasan tak langsung menjawab dan malah sibuk berkedip.
“Kalau memang enggak terlalu penting, besok saja lah. Lagian seharian ini kita sudah capek,” ucap Cinta.
“Tapi aku harus beli sarung, biar enggak jadi. Tadi sepakat, kita mau nunda, kan? Kita enggak punya anak dulu?” ucap Hasan menatap serius Cinta. Di hadapannya, Cinta langsung bengong, antara syok tapi juga malu. Hasan yakin, Cinta sudah langsung paham maksud ucapannya.
“Ya Allah, aku sayang banget ke suamiku. Entah bagaimana ceritanya. Rasanya senyaman ini. Seolah, memang laki-laki seperti dia yang selama ini aku cari. Hidup hanya lontang-lantung berdua begini pun, rasanya sudah sangat cukup. Aku beneran enggak butuh yang muluk-muluk. Hidup sederhana tapi cukup dan suamiku juga terus meratukan aku, ini beneran sudah lebih dari cukup. Andai kami harus LDR karena dia harus kerja, ya enggak apa-apa. Asal dia selalu sehat, selalu enggak mudahkan rezekinya, dan hati maupun pikirannya hanya buat aku. Semoga kami jodoh hingga kehidupan selanjutnya tanpa hambatan berarti. Aamiin!” batin Cinta yang menikmati interaksi serunya dengan Hasan.
Cinta bersemangat membeli Chiki dan makanan instan untuk stok di rumah, selain Hasan yang memang sudah mengambil beberapa pengaman khusus untuk percintaan mereka. Cara Hasan yang begitu paham kesukaan wanita membuat Cinta berpikir bahkan curiga, bahwa sebenarnya Hasan sudah terbiasa berinteraksi dengan wanita.
“Oh iya ... kak Hasan kan dekat sama majikannya. Sementara pekerja seperti kak Hasan, biasanya kalau sudah mengabdi kan memang enggak kaleng-kaleng. Intinya, sikap baik kak Hasan ke aku sepertinya karena kebiasaan kak Hasan bersikap baik ke majikannya. Meski jujur ya, dari tampang yang memang sangat tampan, sikap, bahkan tabungannya, ... enggak ada tanda-tanda kalau kak Hasan orang susah,” pikir Cinta yang membiarkan Hasan membayarkan belanjaan mereka.
Ketika mereka keluar dari al.fa 24 jam yang mereka kunjungi, Hasan segera membukakan satu es krim contong rasa cokelat pilihan Cinta. Tentu Cinta makin berbunga-bunga dibuatnya. Namun, Cinta sengaja memberikan suapan pertama es krimnya kepada Hasan.
“Yang suka cokelat itu Hasna. Aku enggak suka cokelat. Aku sukanya rasa buah yang malah lebih murah. Mana yah, tadi, es krim upin ipin-nya,” ucap Hasan segera menggeledah isi kantong belanjaannya.
“Hasna? Hasna itu siapa?” refleks Cinta yang memang curiga.
Hasan yang awalnya bersikap santai mendadak tegang. Ia buru-buru menatap Cinta sambil tersenyum masam. “Anaknya majikan aku. Sejak kecil, kami dibesarkan bersama. Jadi kami kayak kembar gitu!”
“Tapi sekarang kan, Kakak sudah menikah. Jadi tolong banget ya, jaga interaksi Kakak sedekat apa pun kalian karena selain aku juga akan membatasi gerakku dari pria lain. Aku beneran cemburu dan memang enggak bisa berbagi Kakak dengan wanita mana pun. Bukan mahram juga, kan? Haram. Neraka!” ucap Cinta berucap hati-hati. Namun, memangnya istri mana yang mau dikhianati bahkan sekadar mau dimadu cuma-cuma?
***
Novel orang tua Hasan dan Alasan Hasan ada.
Novel awal mula adanya Cinta atau itu ... Keina.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
sweetie belle
jiahh malah bc ini dl, klo ortu hasan uda bc cm si keina ini wkwkkw
2025-02-26
0
Fani Indriyani
Paman syam..cinta..maaf ya aku blm baca kisah kalian tp aku lebih dlu baca anak2 kalian 😁✌
2024-03-14
0
Sarti Patimuan
Sampai kapan Hasan bersandiwara
2024-03-07
0