Diajak mampir ke kontrakan bagus, dan pintu masuknya saja sampai ada pos keamanan, Cinta langsung menolak.
“Kenapa?” tanya Hasan menatap heran Cinta yang duduk di sebelahnya.
“M—mahal!” balas Cinta yang menatap wajah Hasan, berganti pada pos keamanan selaku pintu masuk kontrakan, silih berganti.
“Aku sudah cari tahu. Kontrakan di sini bagus, aman juga. Penjagaannya selama 24 jam!” yakin Hasan masih menyikapi Cinta dengan lembut.
“Sewanya satu bulan, atau pertahunnya, berapa?” tanya Cinta yang sudah kembali perhitungan. Jiwa ibu-ibunya membuatnya mendadak menjadi mentri keuangan. Cinta akan mengelola keuangan rumah tangganya sebaik mungkin.
“Satu bulannya enggak ada empat juta. Sudah pakai AC sepuasnya. Laundry sekalian,” balas Hasan jujur. Karena yang ia tahu, sang istri akan jauh lebih bahagia jika ia jujur. Dan lagi-lagi, ia sengaja melakukannya karena terinspirasi dari keinginan mama maupun kembarannya yang perempuan. Karena wanita selalu ingin dimengerti—pikir Hasan begitu yakin.
Hasan percaya, keputusannya memanjakan Cinta juga akan menjadi kunci kebahagiaan dari rumah tangga mereka. Namun bukannya bahagia, kejujuran Hasan kali ini justru langsung membuat Cinta syok.
Setelah sempat sampai tak bisa berkata-kata, Cinta berangsur menggeleng. Cinta meminta sang sopir taksi online yang mengantar mereka, untuk melanjutkan perjalanan.
“Tolong carikan kontrakan yang bagus, tapi murah ya Pak. Kalau bisa, tempatnya enggak jauh-jauh amat dari keramaian. Minimal, ada alf.a atau pasar yang dekat. Biar kalau mau beli-beli, enggak susah,” ucap Cinta sudah langsung mengatur segala sesuatunya.
“Berarti aku salah. Berarti kalau ditanya harga, aku wajib bilang yang paling murah saja. Ini jangan-jangan istriku pernah jadi mentri keuangan atau setidaknya, bendahara di negara konoha!” batin Hasan diam-diam memperhatikan Cinta melalui lirikan.
Di siang yang terbilang terik, kedua mata Cinta begitu sibuk mengawasi sekitar.
“Sebenarnya yang tadi, hanya empat jutaan selama satu tahun loh,” ucap Hasan terpaksa berbohong. Hasan merasa, kontrakan tadi bisa menjadi tempat tinggal yang aman untuk Cinta. Mengingat ke depannya, Cinta akan sering ia tinggal dinas keluar kota.
Detik selanjutnya, Cinta yang masih bisa mendengar suara Hasan dengan baik, langsung menatap Hasan. “S—serius, Kak? Harganya beneran segitu?”
“Nah, kan ... akhirnya!” batin Hasan buru-buru mengangguk sambil menatap serius kedua mata Cinta yang masih menatapnya.
Alih-alih langsung menjawab layaknya saat merespons kabar harga terbaru sewa kontrakan yang dibahas, Cinta malah diam. Cinta merenung serius, kemudian berkata, “Kalau yang lumayan bagus seperti tadi saja, hanya segitu. Berarti yang di bawahnya, bisa lebih murah, dong?”
Meski kini Cinta tengah tersenyum cerita, Hasan malah memejamkan kedua mata sambil menunduk. “Benar kan ... Cinta tipikal beda dari wanita kebanyakan. Ini kayaknya mbahnya ngirit!” batin Hasan.
“Ya sudah, ... aku ikut kamu saja. Kamu yang tentuin semuanya,” ucap Hasan benar-benar pasrah.
Hasan tak mau mematik pertengkaran di antara dirinya dan Cinta. Hasan ingin hidup tenang dan caranya yaitu memasrahkan segala sesuatunya kepada Cinta.
***
Setelah mencari-cari, Cinta tetap tidak menemukan kontrakan kriterianya. Kontrakan murah, bagus, tapi dekat dengan salah satu pembelanjaan yang ia sebutkan. Yang begitu beneran tidak ada.
“Kak, ... Kak Hasan,” lirih Cinta sengaja membangunkan Hasan.
Seiring kelopak matanya yang menyipit, Hasan juga menghela napas pelan. “Bagaimana? Sudah dapat?” tanya Hasan dengan suara keras khas orang baru bangun tidur.
Cinta buru-buru menggeleng. “Belum sih, ... tapi sudah, yuk! Bayaran taksinya pasti mahal banget. Soalnya dari tadi muter-muter!” lirih Cinta sambil menggandeng sebelah lengan Hasan mengunakan kedua tangannya.
Kali ini Cinta agak memaksa Hasan, hingga Hasan merasakan betapa rempongnya Cinta si mentri keuangannya.
“Kan, bener kita bayar taksi saja sampai tiga ratus ribu,” keluh Cinta tidak ikhlas dengan uang yang ia bayarkan.
“Sudah, ikhlasin saja. Memang sudah seharusnya kita bayar segitu dan sopirnya juga harus dapat segitu. Ikhlas saja, biar rezeki sopirnya berkah, dan kita pun juga makin berkah,” balas Hasan berusaha menasihati Cinta.
Cinta terdiam dan memang merenung. “Kalau urusan uang, kayaknya kita selalu langsung beda dimensi,” lirihnya yang perlahan melirik Hasan. Bersamaan dengan itu ia berpikir, apakah di luar sana, juga ada istri sepertinya. Yang akan sibuk mengatur keuangan sekaligus mengontrolnya lantaran sadar, suaminya bukan sultan?
Suasana yang awalnya terik, kini sudah sore. Selain perut mereka kompak keroncongan, di gang sebelah mereka juga ada pengumuman, bahwa di dalam gang ada dua kontrakan kosong.
Tanpa banyak drama, kali ini Cinta mengambil kontrakan tersebut. Masalahnya, kontrakan yang mereka ambil merupakan kontrakan petak sangat sederhana, dan di dalamnya tidak ada barang apa pun. Jangankan AC seperti fasilitas di kontrakan pilihan Hasan, sekadar sebuah tikar saja, di sana tidak ada.
“Kamu yakin, mau di sini? Enggak yang di pilihanku saja?” tanya Hasan meyakinkan meski Cinta sudah membayar biaya sewa kontrakan yaitu sebesar sembilan ratus ribu.
Cinta yang tak langsung menjawab, memang menatap bingung suaminya. “Kan aku sudah bayar biaya sewanya, Kak.”
“Maksudnya, ... di sini kan rame. Kawasan padat penduduk. Asap rokok ... aku kurang bisa kalau ada asap rokok. Beneran wajib serba steril karena dari kecil, aku memang pernah flek paru-paru,” yakin Hasan.
“Duh, gimana dong? Uangnya sudah aku bayarin. Lah tadi Kakak enggak bilang,” ucap Cinta menyesali keadaan. Ia mengkhawatirkan kesehatan suaminya.
“Kan dari tadi, kamu yang langsung sat—set. Ya sudah, enggak apa-apa, coba saja satu bulan,” balas Hasan tetap santai.
Mendengar itu, Cinta refleks mengawasi sekitar. Berisik, di depan kontrakan mereka ada yang punya bengkel dan motor di sana sangat banyak. “Kalau memang di sini enggak nyaman, aku bisa protes ke pemiliknya!” sergahnya. Selain itu, Cinta berdalih, diriny akan rajin bersih-bersih.
Hal pertama yang mereka lakukan ialah bersih-bersih. Karena meski tampak bersih, pasti masih kurang steril. Beruntung, beberapa ibu-ibu tetangga mereka ada yang langsung datang, meminjami Hasan dan Cinta perlengkapan kebersihan.
Hasan memilih mengepel di dalam, sementara Cinta menyapu ringan di teras sambil mengobrol dengan ibu-ibu. Hingg karena obrolan dengan ibu-ibu di sana juga, Cinta jadi tahu, bahwa ternyata, di sana dekat ke mana-mana. Dekat al.fa, dekat tukang sayur, dekat tukang perabotan, dan jika belanja perabotan juga bisa diantar.
“Ternyata aku cepat bersosialisasi dengan ibu-ibu tetangga kita, Kak!” ucap Cinta merasa bangga. Ia sengaja mengabarkannya pada Hasan yang ia pergoki meringis-ringis sambil memegangi pinggang. Alasan yang juga membuatnya kehilangan senyumnya.
“Engak ... enggak apa-apa,” yakin Hasan yang memang merasa encok gara-gara mengepel lantai di kontrakannya. “Kalau papa mama tahu aku ngepel sebersih ini, mereka pasti bangga!” batin Hasan.
Cinta yang curiga sang suami kelelahan, khususnya sakit pinggang gara-gara mengepel, berinisiatif memijat-mijat Hasan. Namun belum apa-apa, ada suara motor digeber-geberkan dan itu sangat keras. Cinta yang belum terbiasa, langsung panik ketakutan dan buru-buru memeluk erat Hasan. Akan tetapi, hadirnya asap hitam nan tebal yang seketika masuk melalui sela-sela jendela maupun bawah pintu, lebih membuat Hasan tak kalah panik.
Hasan tahu, asap hitam yang sampai membuat dalam kontrakannya gelap gulita itu asap knalpot motor yang tengah digeber-geberkan. Masalahnya, itu tak baik untuk kesehatannya. Karenanya, sambil tetap memeluk dan memang agak mengangkat tubuh Cinta, Hasan buru-buru minggat dari sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Sarti Patimuan
Alhamdulillah dimudahkan rejeki nya hingga tidak perlu ngontrak lagi
2024-03-07
0
Firli Putrawan
waduh kasian s Hasan bs kambuh sakitnya
2024-02-27
0
Sugiharti Rusli
si Hasan mah mo cari rumah bagus juga bisa, cuma kadung bilang dia miskin sih ke Cinta, jadi ga leluasa deh😁😁😁
2024-02-25
0