“Berarti besok kalau aku pulang, ini buah sudah layak makan!” ucap Hasan tengah mengontrol tanaman buahnya di depan gerbang.
“Eh, sudah layak makan bagaimana? Memangnya Kakak mau pergi berapa lama? Masa iya sampai lebih dari sebulan? Ada tiga bulan bahkan lebih? Ya ampun, ... aku mendadak jadi istri abdi negara,” ucap Cinta memang langsung heboh.
Sore kali ini kembali mereka habiskan dengan berkebun, kemudian memandangi kebun maupun ketiga pohon buah mereka. Beberapa tetangga yang kebetulan lewat, Hasan dan Cinta sapa. Beberapa dari mereka hanya membalas dengan ramah. Namun ada juga yang sampai berhenti dan mengobrol lama dengan mereka.
Sampai detik ini, Cinta masih menutupi kepalanya menggunakan topi. Selain Cinta yang memang sengaja menguncir tinggi rambutnya.
“Pakde juga ada tanam di lahan samping rumah. Ada cabai sama singkong. Kalau mau singkong, cabut saja ya. Sudah layak konsumsi, dan kelebihan singkong di sini itu manis-manis!” ucap pakde Narto dan mereka ketahui merupakan ketua RT di sana.
“Rasanya manis karena makannya sambil bayangin wajah saya yah, Pakde?” ucap Hasan sengaja melucu.
Cinta yang mendengarnya langsung mendelik dan menatap tak percaya sang suami. Cinta sungguh tak menyangka bahwa suaminya bisa narsis juga.
“Butuh cabe, apa pengin daun singkong. Langsung ambil saja, ya. Pakde mau keliling dulu,” pamit pakde bergegas pamit dan kembali pergi mengendarai motornya.
“Sayang, kamu bisa naik motor?” tanya Hasan tak lama setelah ia mengalihkan tatapannya dari kepergian pakde.
Cinta yang masih memegang sapu lidi berangsur menatap Hasan. “Kalau hanya naik, duduk gitu. Aku bisa. Namun kalau sampai mesinnya dinyalain, maju kayak pakde, ... kayaknya aku enggak. Maksudnya belum bisa.”
Karena Hasan malah menertawakannya, Cinta buru-buru menjelaskan, “Soalnya meski aku amnesia, insting aku kuat loh, Kak. Masalah rumah tangga aku blas enggak ngerti. Namun urusan pekerjaan, termasuk urus hape Kakak yang kemarin sempat eror, aku bisa.”
“Yang penting orangnya enggak ikutan eror lah, ya?” tanggap Hasan di sela tawanya.
“Ihhh!” gemas Cinta karena baginya, balasan Hasan malah terkesan sengaja menggodanya.
“Kalau naik sepeda, pakai sepeda gitu, bisa?” sergah Hasan mulai serius. Di hadapannya, sang istri yang jadi terdiam merenung.
“Kayaknya enggak juga deh, Kak. Enggak ada gambarannya blas!” balas Cinta langsung ditertawakan oleh Hasan.
“Ya sudah yuh, bersih-bersih dulu. Habis itu beli sepeda. Biar ada kesibukan dan kalau kamu mau jalan-jalan, bisa pakai sepeda,” ucap Hasan.
Acara selanjutnya, setelah mereka membersihkan diri, dan menyimpan perlengkapan berkebunnya, mereka yang tetap berjalan sungguh mencari toko sepeda terdekat.
Dua sepeda langsung mereka beli, setelah sibuk memilih-milih. Cinta meminta dibelikan sepeda warna pink yang di depannya ada keranjangnya. Hasna berdalih ingin memanfaatkan keranjang tersebut untuk menampung belanjaan atau malah menyimpan bekal makanan.
“Berarti ini kalau enggak ada aku, kamu mau sepedaan bawa bekal, biar mirip musafir? Maksudnya, kamu mau jadi musafir cinta, begitu?” Hasan makin sibuk melede.k Cinta. Padahal, yang diledek sudah nyaris menangis. Ditambah lagi, Hasan asyik menggoes, sementara Cinta yang memang tidak bisa menunggangi sepedanya, terus menuntunnya sepanjang jalan.
“Kak Hasan, ... ini aku bagaimana?” rengek Cinta mulai gelisah.
“Ya makanya jangan cuma dituntun. Dinaikin digoes, ... sini aku tarik!” balas Hasan sengaja berhenti demi menunggu sang istri.
“Aku takut, Kak! Kalau aku jatuh, bagaimana?” heboh Cinta sampai lari-lari sambil terus menuntun sepedanya yang memang sangat cantik. Di kanan kiri setangnya sengaja ia minta diberi pita warna pink, hingga Hasan berpikir, Cinta sangat menyukai warna pink.
“Jatuh dari sepeda beneran enggak sakit. Kamu bisa langsung berdiri atau seenggaknya loncat. Beneran enggak lebih sakit ketimbang kamu jatuh ke jurang terjal!” yakin Hasan.
Sebenarnya balasan Hasan membuat Cinta jengkel. Namun, Cinta juga tidak bisa untuk tidak tertawa.
“Bandingin jatuh dari sepeda kok sama jatuh ke jurang!” sebal Cinta dan Hasan makin menertawakannya.
“Biar kamu makin berani loh Sayang!” yakin Hasan yang meski tetap duduk di sadel sepedanya sambil sesekali menggoes, tetap ikut menuntun setang sepeda Cinta.
“Aku yakin, kalau enggak ada Kakak, aku juga serba bisa. Masalahnya kalau sedang sama Kakak, kan sengaja pengin dimanja. Jadi ya mendadak serba enggak bisa!” protes Cinta.
“Oh, berarti sebenarnya kamu bisa naik sepeda. Lancar goes, ya?” serius Hasan yang memang penasaran.
Cinta langsung sibuk tertawa sambil menggeleng.
“Ya sudah ayo aku ajari. Kamu naik, aku tarik. Belajar goes, jangan kaku. Sudah goes saja. Lama-lama pasti bisa. Gampang kok!” Hasan dengan telaten menuntun Cinta.
“Kak ... Kak, ini mau jatuh!”
“Ya jangan dijatuhin. Kalau mau jatuh, di—pause!”
“Kak, ih ... jangan bikin aku ngakak terus!”
Suasana sudah gelap, tapi Hasan dan Cinta masih asyik bersepeda. Lebih tepatnya, Hasan masih sibuk mengajari Cinta bersepeda. Sebab sampai sekarang, Cinta masih sangat kaku. Beberapa kali Cinta terjatuh. Namun alih-alih mengkhawatirkan tangan dan kakinya yang lecet, Cinta justru lebih mengkhawatirkan keadaan sepedanya.
Ketika pengantin baru itu memutuskan untuk pulang, Hasan tetap menarik sepeda Cinta. Mereka yang awalnya masih cekikikan karena Hasan rajin menggo.da sekaligus mele.dek Cinta, terusik oleh kenyataan seorang wanita muda tengah memanjat gerbang rumah di depan rumah mereka. Kucing anggora putih yang ada di kandang teras rumah, sampai kelihatan gelisah. Hingga Hasan dan Cinta curiga, wanita tersebut berniat tidak baik.
Setelah Hasan dan Cinta saling tatap, Hasan sengaja berseru. “Kak, ngapain Kakak panjat gerbang rumah orang, maghrib-maghrib gini?” seru Hasan tak mengizinkan Cinta ikut. Ia meninggalkan Cinta dan sepedanya di depan gerbang rumah mereka.
“Masa pencu.ri? Mau nyuri apa? Nekat bener?” pikir Cinta buru-buru menyandarkan sepedanya ke sepeda milik Hasan. Cinta sengaja mendekati Hasan.
“Wah ... ganteng banget. Lebih ganteng bahkan keren dari Nadim!” batin si perempuan muda yang sudah sukses memanjat. Ia mengintip dari sela gerbang rumah karena ia memang telanjur masuk.
Hasan yang takut si perempuan berniat tidak baik, sengaja menekan bel di sebelah gerbang. Seorang wanita paruh baya keluar. Namun karena wanita tersebut tidak mengenali perempuan muda yang memanjat gerbang, Hasan menyarankan untuk memanggil sang bos.
“Bentar ya, saya panggil bos Nadim dulu,” pamit si wanita paruh baya dan langsung mengunci pintu rumahnya.
“Lah, ... saya menang pacarnya bos Nadim!” ucap si perempuan.
Adzan maghrib akhirnya terdengar berkumandang. Namun demi memastikan, Hasan dan Cinta masih bertahan di depan gerbang rumah Nadim. Lain lagi dengan si perempuan muda yang mulai mengajak kucing anggora di sana komunikasi.
“Kak, sepertinya memang benar kalau dia pacarnya si Nadim pemilik rumah ini. Lihat, kucingnya langsung nempel gitu, akrab banget. Kalau hewan ibarat anak kecil yang enggak bisa bohong loh Kak. Mereka kelihatan punya ikatan gitu. Tuh lihat, tuh,” bisik Cinta yang sudah menggandeng erat tangan kanan Hasan menggunakan kedua tangannya.
Tak lama kemudian, Nadim memang keluar. Si wanita langsung menyapa dengan sangat kegirangan sekaligus kekanak-kanakan.
Awalnya Nadim tersenyum cerah, dan membalas pelukan si perempuan muda yang mengaku sebagai pacarnya. Namun ketika pandangannya tak sengaja melihat Hasan dan Cinta, ceritanya jadi lain. Nadim kehilangan senyum cerianya dan jadi sibuk mengawasi wajah maupun tangan Hasan dan Cinta yang bergandengan erat.
“Kenapa mereka di sini?” batin Nadim heran, seiring dekapannya kepada si perempuan yang mendadak usai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Sarti Patimuan
Sepertinya Nadim sudah punya pacar
2024-03-07
0
Firli Putrawan
loh siapa dlan yg tinggal
2024-02-27
0
IG : @Rositi92❣️❣️🏆🏆💪🤲
Sudah aku setorin ya, bab selanjutnya. Diabetes diabetes deh kalian 🤣
2024-02-25
0