9 : Mulai Bahagia

Pada akhirnya, Hasan lebih memilih membawa Cinta pergi dari kontrakan yang baru saja susah payah ia bersihkan. Demi keamanan bersama, apalagi ke depannya Cinta akan sering Hasan tinggal.

Diam-diam, Cinta merasa rugi bandar lantaran Hasan tak sampai mengambil uang sewa yang sudah ia bayarkan. Dengan langkah berat Cinta mengikuti tuntunan Hasan. Termasuk juga ketika akhirnya mereka masuk taksi online yang Hasan pesan. Cinta tetap belum bisa merasa nyaman.

“Sembilan ratus ribu itu banyak loh. Kenapa enggak diambil saja. Ibaratnya, tadi kita cuma numpang bersih-bersih,” sedih Cinta sambil menatap sedih gang kontrakan mereka berada. Ia sengaja duduk agak berjarak dari Hasan.

Karena terlalu sedih merelakan uang sembilan ratus ribunya, Cinta yang memang kelelahan akhirnya ketiduran. Hasan yang masih diam, berangsur memangku kepala Cinta.

“Aku melakukan ini karena aku sayang banget ke kamu. Aku enggak mau kamu kenapa-kenapa. Enggak apa-apalah kehilangan sembilan ratus ribu. Aku juga ikhlas sudah ngepel sampai encok. Yang penting kamu tahu, kontrakan murah memang identik dengan kualitasnya yang sering memaksa kita buat bersabar.”

“Sekarang, biarkan aku memulai, agar kamu enggak kekurangan apa pun di hubungan versi kita, ya!” batin Hasan sambil mengelus sayang dagu Cinta.

Dari semua wajah Cinta, hanya dagu yang tidak terluka. Karena hidung Cinta saja dihiasi dua luka baret.

Setelah menjalani perjalanan hampir dua jam lamanya, akhirnya mereka sampai di kontrakan pilihan Hasan. Kontrakan yang pintu masuknya saja sampai dijaga oleh seorang satpam.

Hasan membangunkan Cinta dengan sangat hati-hati.

“Kak Hasan paham banget bagaimana caranya memperlakukan wanita,” batin Cinta sambil mengikuti tuntunan Hasan.

Hasan sempai meletakan tangan kirinya yang tak.menggandeng tangan Cinta, di ubun-ubun Cinta. Agar kepala Cinta tidak terb.entur mengingat Cinta terlihat masih sangat mengantuk.

Setelah mengobrol singkat dengan satpam yang berjaga dan menunjukan layar ponsel bukti sewa salah satu kontrakan di sana, Hasan memboyong Cinta masuk.

“Beda banget. Yang ini vibesnya, vibes elite. Tapi suamiku dapat uang dari mana? Di sini pasti mahal!” batin Cinta yang meski masih ngantuk, sengaja memaksakan diri untuk mengawasi sekitar.

Kontrakan mahal yang mereka datangi, layaknya rumahan pada kebanyakan. Setiap kontrakannya masih dempet, tapi memiliki teras maupun halaman cukup luas. Jalan antara kontrakan depannya pun jauh lebih luas dari keadaan jalan di kontrakan yang baru mereka tinggalkan.

“Kak ...?” panggil Cinta lirih.

“Hhmm ...?” Hasan sudah langsung mengalihkan perhatian sekaligus tatapannya kepada Cinta.

“Kontrakannya mirip rumah KPR,” ucap Cinta yang meski amnesia, sedikit banyaknya mengenai kehidupan termasuk uang, masih paham.

Tanggapan Hasan yang langsung terkejut kemudian diam, membuat Cinta curiga.

“Ini jangan-jangan, bukan kontrakan, melainkan KPR mahal?” desak Cinta.

“Ketimbang ngontrak, sekalian beli rumah lebih untung, kan? Setiap bulan kita bayar, dan ada masa depan buat memiliki rumahnya. Nah kalau ngontrak, sementara biaya sewa sama biaya ngontrak sama saja. Ya mending yang jadi milik,” balas Hasan.

Cinta tidak bisa membalas.

“Sama-sama keluar uang, tapi kalau beli rumah sekalian, kita juga jadi punya rumah,” lanjut Hasan yang kemudian berkata, “Jangan pikirkan biaya angsuran tiap bulan. Sama saja dengan bayar kontrakan. Bedanya, beli rumah begini kita lebih untung. Suamimu bukan pengangguran, jadi jangan pusingkan biaya angsuran yang menang sama saja dengan biaya ngontrak!”

Cinta tetap tidak menjawab. Namun jemari tangannya yang tidak digandeng Hasan, berangsur membentuk setengah hati dan ia tempelkan di pipi kanan Hasan. Detik itu juga, Hasan yang paham maksud Cinta, langsung tersipu. Dunia Hasan seolah menjadi berputar lebih lambat seiring bintang-bintang kecil uang seolah berterbangan dari dadanya.

“Oalah, ... gini ya, indahnya jatuh cinta. Pantas si Rain sibuk mepet Hasna sejak Hasna masih bayi!” batin Hasan.

Rumah yang sudah memiliki garasi. Halaman yang mencukupi dan bisa dihiasi taman atau malah untuk berkebun. Belum apa-apa, Cinta sudah langsung merasa betah dan menganggap itu merupakan rumahnya.

“Kalau begini kan, meski harus keluar kota, aku bisa tenang ninggalin kamu di rumah sendirian. Perumahannya juga lumayan rame. Sudah banyak yang ditungguin. Ini taman mau ditanami, apa direnovasi bikin kolam kecil?” ucap Hasan.

Kemudian, yang mereka lakukan ialah bersih-bersih. Di sana belum ada apa pun. Namun menggunakan ponselnya, Hasan memesan sederet keperluan. Hingga lagi-lagi, Cinta mempermasalahkan kemampuan keuangan suaminya.

“Kakak kan cuma sopir, kok apa-apa serba dibeli? Kok apa-apa, bisa berkecukupan?” ucap Cinta yang kemudian juga berkata, “Aku enggak bermaksud meren.dahkan pekerjaan Kakak. Namun logikanya memang begitu. Atau, Kakak malah melakukan pinj.ol?”

Hasan buru-buru menggeleng. “Ini murni tabunganku. Ini ... tabungan dari kecil. Aku kan sudah nguli sejak di dalam kandungan,” ucap Hasan ragu-ragu menunjukkan ponselnya. Hasan malah memberikan ponselnya, kemudian keliling rumah untuk mengawasi keadaan rumah barunya.

“Tabungannya lumayan loh. Masih di atas lima puluh juta. Eh tapi, ini foto siapa?” pikir Cinta yang langsung menghampiri Hasan.

“Foto aku sama bos aku. Itu keluarga bosku,” yakin Hasan. Padahal jauh di lubuk hatinya, Hasan berdalih bahwa itu malah merupakan foto keluarganya. Orang tua, dan juga saudara perempuannya.

Tak lama kemudian, barang pesanan Hasan datang. Ada kasur, satu set meja dan sofa, kompor, lpg, rice cooker, dan juga beberapa panci dan wajan. Termasuk piring dan perlengkapan alat makan. Alat bersih-bersih seperti sapu, kemoceng, pengki, dan alat pel juga sudah mereka miliki.

Rumah yang awalnya masih kosong, kini sudah jadi rumah layak huni. Suasana rumah jadi hidup, dan senyum semringah mulai menghiasi kebersamaan mereka.

“Ini seru!” ucap Hasan sambil mengawasi sekitar. Ia menuntun Cinta dan mengajaknya duduk di sofa panjang yang ada di ruang keluarga.

“Kurang televisi, AC, kulkas,” ucap Hasan berusaha istirahat karena sibuk beres-beres membuatnya yang masih sakit, kelelahan.

“Jakarta enggak pakai AC ya kayak dipanggang. Pakai kipas angin nah alamatnya masuk angin,” ucap Hasan yang kemudian melirik Cinta. Ia dapati Cinta yang meski berkeringat dan tak kalah kelelahan darinya, juga tengah tersenyum semringah.

Hasan sengaja modus. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Cinta. Yang membuat Hasan diam-diam kegirangan lantaran Cinta sudah langsung merangkulnya, mengelus kepalanya penuh sayang.

“Enggak tahu kenapa, aku merasa, inilah kehidupan yang aku impi-impikan selama ini. Apa jangan-jangan, memang begini yang aku impikan, ya?” pikir Cinta.

“Jam berapa, ini? Waktunya kita minum obat. Oh, iya lupa ... kita belum makan. Gimana kalau coba masak nasi sama bikin mi instan? Ih kayaknya seru banget!” ucap Cinta sangat antusias.

“Berasa sedang main drama-dramaan. Sebahagia ini, tapi ini nyata!” batin Hasan tak kalah bahagia dari Cinta.

Terpopuler

Comments

Nartadi Yana

Nartadi Yana

wah akhirnya beli KPR mas Hasannya

2024-12-24

0

Erina Munir

Erina Munir

hasan pura2 sederhana...pdhal siihh....hmmmm

2024-07-12

0

Sarti Patimuan

Sarti Patimuan

Dasar Hasan keluarga nya dibilang majikan

2024-03-07

0

lihat semua
Episodes
1 1 : Penghakiman yang Begitu Keji (Revisi)
2 2 : Hasan yang Terpaksa Berbohong (Sudah Revisi)
3 3 : Pelukan Penenang (Sudah Revisi)
4 4 : Memikirkan Masa Depan (Sudah Direvisi)
5 5 : Mengharapkan Pernikahan Manis (Revisi)
6 6 : Pria Di Ranjang Sebelah
7 7 : Hanya Kebetulan Mirip?
8 8 : Perkara Kontrakan
9 9 : Mulai Bahagia
10 10 : Sudah Sangat Sayang
11 11 : Tetangga Baru
12 12 : Sepeda Dan Ingin Dimanja
13 13 : Elza Dan Perasaan Nadim Kepada Cinta
14 14 : Tersentak
15 15 : Mirip Anak Ayam Yang Tersesat Dari Induknya
16 16 : Sudah Dua Bulan
17 17 : Keadaan Terbaru Hasan
18 18 : Namanya Juga Hasan
19 19 : Tamu Dari Kampung
20 20 : Penjelasan Cinta
21 21 : Cinta yang Ingin Tetap Bertahan (Revisi)
22 22 : Terlalu Berat (Revisi)
23 23 : Hasan : Wanita Ini, ... Istriku? (Revisi)
24 24 : Cinta Sendiri (Revisi)
25 25 : Hasan : Ayo Kita Bercerai!
26 26 : Cinta : Aku Setuju, Ayo Kita Bercerai! (Revisi)
27 27 : Diberi Kesempatan (Revisi)
28 28 : Merasa Sangat Kehilangan (Revisi)
29 29 : Hasan yang Masih Menunggu Cinta (Revisi)
30 30 : Tentang Keina yang Sangat Mirip Cinta (Revisi)
31 31 : Akhirnya Bertemu (Revisi)
32 32 : Sangat Marah Dan Cemburu (Revisi)
33 33 : Tak Mau Menjadi Keina (Revisi)
34 34 : Masih Sulit Untuk Percaya (Revisi)
35 35 : Penyakit Hasan (Revisi)
36 36 : Menjadi Sepasang Kekasih (Revisi)
37 37 : Nadim yang Terus Berencana (Revisi)
38 38 : Kejutan Romantis (Revisi)
39 39 : Kesuksesan Rencana Nadim (Revisi)
40 40 : Kembali Amnesia (Revisi)
41 41 : Setelah Kecelakaan
42 42 : Hubungan Baik Antara Orang Tua Keina dan Orang Tua Hasan
43 43 : Asisten Pribadi Rasa Istri
44 44 : Efek Amnesia
45 45 : Hubungan yang Sangat Dalam
46 46 : Kehamilan Elza
47 47 : Hampir Lima Tahun Telah Berlalu
48 48 : Kembali Menikah
49 49 : Paket Komplit
50 50 : Trauma yang Membuat Lebih Baik
51 51 : Ingin Bahagia
52 52 : Tetangga Meresahkan
53 53 : Ingin Hamil
54 54 : Kehamilan = Keajaiban
55 55 : Dilema
56 56 : Sudah Siap Menjadi Orang Tua
57 57 : Persalinan Impian
58 58 : Alhamdullilah
59 59 : Pasca Melahirkan
60 60 : Tentang Kita
61 61 : Bian, Bolang Sejati.
62 62 : Elra
63 63 : Diantup Tawon
64 64 : Penerus Terpilih
65 65 : Tetangga Rasa Keluarga
66 Sampai Jumpa
67 Promo Novel : Bukan Mauku Hamil Di Luar Nikah
68 Promo Novel update Setiap Hari
69 Novel Bian : Transmigrasi Dan Pembalasan Gadis Yang Ternoda
70 Novel Bian, Syukur, Erla
71 Novel Syukur Elra (Terbaru)
72 Novel Baru : Pengantin Samaran Milik Tuan Muda Pura-Pura Lumpuh Dan Buruk Rupa
Episodes

Updated 72 Episodes

1
1 : Penghakiman yang Begitu Keji (Revisi)
2
2 : Hasan yang Terpaksa Berbohong (Sudah Revisi)
3
3 : Pelukan Penenang (Sudah Revisi)
4
4 : Memikirkan Masa Depan (Sudah Direvisi)
5
5 : Mengharapkan Pernikahan Manis (Revisi)
6
6 : Pria Di Ranjang Sebelah
7
7 : Hanya Kebetulan Mirip?
8
8 : Perkara Kontrakan
9
9 : Mulai Bahagia
10
10 : Sudah Sangat Sayang
11
11 : Tetangga Baru
12
12 : Sepeda Dan Ingin Dimanja
13
13 : Elza Dan Perasaan Nadim Kepada Cinta
14
14 : Tersentak
15
15 : Mirip Anak Ayam Yang Tersesat Dari Induknya
16
16 : Sudah Dua Bulan
17
17 : Keadaan Terbaru Hasan
18
18 : Namanya Juga Hasan
19
19 : Tamu Dari Kampung
20
20 : Penjelasan Cinta
21
21 : Cinta yang Ingin Tetap Bertahan (Revisi)
22
22 : Terlalu Berat (Revisi)
23
23 : Hasan : Wanita Ini, ... Istriku? (Revisi)
24
24 : Cinta Sendiri (Revisi)
25
25 : Hasan : Ayo Kita Bercerai!
26
26 : Cinta : Aku Setuju, Ayo Kita Bercerai! (Revisi)
27
27 : Diberi Kesempatan (Revisi)
28
28 : Merasa Sangat Kehilangan (Revisi)
29
29 : Hasan yang Masih Menunggu Cinta (Revisi)
30
30 : Tentang Keina yang Sangat Mirip Cinta (Revisi)
31
31 : Akhirnya Bertemu (Revisi)
32
32 : Sangat Marah Dan Cemburu (Revisi)
33
33 : Tak Mau Menjadi Keina (Revisi)
34
34 : Masih Sulit Untuk Percaya (Revisi)
35
35 : Penyakit Hasan (Revisi)
36
36 : Menjadi Sepasang Kekasih (Revisi)
37
37 : Nadim yang Terus Berencana (Revisi)
38
38 : Kejutan Romantis (Revisi)
39
39 : Kesuksesan Rencana Nadim (Revisi)
40
40 : Kembali Amnesia (Revisi)
41
41 : Setelah Kecelakaan
42
42 : Hubungan Baik Antara Orang Tua Keina dan Orang Tua Hasan
43
43 : Asisten Pribadi Rasa Istri
44
44 : Efek Amnesia
45
45 : Hubungan yang Sangat Dalam
46
46 : Kehamilan Elza
47
47 : Hampir Lima Tahun Telah Berlalu
48
48 : Kembali Menikah
49
49 : Paket Komplit
50
50 : Trauma yang Membuat Lebih Baik
51
51 : Ingin Bahagia
52
52 : Tetangga Meresahkan
53
53 : Ingin Hamil
54
54 : Kehamilan = Keajaiban
55
55 : Dilema
56
56 : Sudah Siap Menjadi Orang Tua
57
57 : Persalinan Impian
58
58 : Alhamdullilah
59
59 : Pasca Melahirkan
60
60 : Tentang Kita
61
61 : Bian, Bolang Sejati.
62
62 : Elra
63
63 : Diantup Tawon
64
64 : Penerus Terpilih
65
65 : Tetangga Rasa Keluarga
66
Sampai Jumpa
67
Promo Novel : Bukan Mauku Hamil Di Luar Nikah
68
Promo Novel update Setiap Hari
69
Novel Bian : Transmigrasi Dan Pembalasan Gadis Yang Ternoda
70
Novel Bian, Syukur, Erla
71
Novel Syukur Elra (Terbaru)
72
Novel Baru : Pengantin Samaran Milik Tuan Muda Pura-Pura Lumpuh Dan Buruk Rupa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!