Cinta segera menaruh ponselnya di meja. Wanita yang wajahnya masih dihiasi bekas luka itu melangkah dan mengambil pigura foto berukuran 10R-nya. Pigura tersebut berisi foto Cinta dan Hasan ketika keduanya masih di rumah sakit.
Di foto tersebut, wajah Cinta dan Hasan masih penuh luka baru. Namun, senyum mereka khas dengan senyum orang yang sedang sangat bahagia. Sisi wajah mereka nyaris menempel, tangan kiri Hasan merangkul punggung Cinta, sementara tangan kanan Hasan mengendalikan ponsel. Cinta Yang Hasan dekap juga balas mendekap. Tangan kanan Cinta bersandar pada dada Hasan. Kebersamaan mereka tersebut layaknya gambaran pasangan bahagia pada kebanyakan.
Belum apa-aba dua buah pecahan kaca pigura sudah langsung meluk.ai jemari tangan kanan Cinta. “Astagfirullahaladzim,” lirih Cinta yang kemudian menghentak-hentakan piguranya ke lantai agar serpihan pecahan kaca yang tersisa, tak sampai terbawa.
Hal selanjutnya yang Cinta lakukan ialah menghubungi nomor ponsel Hasan. Pesan yang sudah sempat Cinta kirim, tetap centang satu. Sementara nomor ponsel Hasan tak kunjung aktif.
“Kok gini ...?” lirih Cinta yang berakhir terduduk lemas.
Cinta tidak duduk di sofa, melainkan di lantai depan sofa. Bibirnya memang masih bungkam, tapi air matanya mulai berjatuhan. Air mata yang makin lama makin pecah.
“Setakut ini ... ya Allah, aku belum siap kehilangan dengan alasan apa pun!”
“Jika Engka mengizinkanku memiliki rasa bahkan menjatuhkan hatiku kepada kak Hasan, ... kenapa Engka berusaha mencabutnya dan menggantikannya dengan kehilangan?” batin Cinta yang tersedu-sedu. Tangan kanannya jadi sibuk memuk.ul dadanya. Di sana terasa sangat sesak, hingga demi meredamnya, Cinta terus memuku.lnya.
Sampai adzan subuh berkumandang, Cinta masih duduk di lantai. Perasaan Cinta makin tak karuan karena nomor Hasan tak kunjung bisa ia hubungi.
“Positive thinking, Ta. Positive thinking!” bisik Cinta menyemangati dirinya sendiri. “Jika sampai sore tetap enggak bisa kamu hubungi, baru—”
Cinta melangkah sempoyongan dan sampai berpegangan ke dinding sekitar. Cinta bermaksud untuk segera mengambil air wudhu. Karena meski tanpa Hasan, Cinta tetap akan menunaikan shalat subuh yang sempat ia pelajari dari Hasan. Iya, Hasan mengajarinya banyak hal. Bukan hanya mengenai urusan rumah tangga. Karena Hasan juga sampai mengajari Cinta agama.
“Doa terbaikku untuk hubunganku dan kak Hasan. Beneran enggak muluk-muluk, cukup hubunganku dan kak Hasan. Karena bersama kak Hasan, aku merasa hidup. Bersama kak Hasan aku merasa sempurna, ya Allah.”
“Enggak apa-apa, hubungan kami, harus selalu LDR. Asal tidak ada orang ketiga. Asal aku selalu menjadi cinta sekaligus satu-satunya wanita kak Hasan, asal rezeki tetap lancar. Aamiin!” Cinta menutup doanya dengan sebagian mukena bagian depan yang basah oleh air mata.
Aktivitas sepanjang hari ini sengaja Cinta rekam menjadi video. Cinta bahkan selalu mengirimkan foto terbarunya kepada nomor WA Hasan. Awalnya Cinta tersenyum sangat manis. Namun di setiap centang satu menjadi respons dari setiap puluhan pesan yang ia kirimkan kepada Hasan, senyum Cinta jadi redup tak tersisa.
“Terakhir online masih sekitar pukul sepuluh malam,” lirih Cinta sambil mengontrol layar ponselnya. Ia tengah menyiram pohon buahnya menggunakan selang yang terhubung dengan air kran sebelah teras rumah.
“Kak Hasan, ... kangen. Kangen banget!” batin Cinta bergegas mundur membawa selangnya.
Malamnya, sudah semakin mirip orang gi.la. Bingung, khawatir, takut, sekaligus lemas. Karena sepinya Hasan juga membuat nyawa Cinta seolah dicabut paksa.
“Kak Hasan kan tipikal romantis banget. Bisa jadi, sepinya kabat dari beliau memang merupakan bagian dari kejutan romantisnya.”
“Sekarang aku harus makan. Karena kalau aku enggak makan, Kak Hasan bakalan sedih. aku enggak makan agar aku enggak sakit. Karena kalau aku sakit, yang ada kak Hasan makin repot.”
“Kak Hasan, aku sudah bisa goreng ikan. Namun efek aku lupa bumbui, ikannya hambar. Mirip hidupku yang tanpa kamu jadi seham.bar gini.”
“Rasanya aku seperti sudah enggak waras, Kak. Lagian kok bisa-bisanya, kakak tetap enggak ngabarin?”
Tersedu-sedu, Cinta memenuhi mulutnya dengan nasi putih dan juga ikan goreng hambar. Hari ini Cinta lupa masak sayur karena yang mampu Cinta ingat hanyalah semua tentang Hasan.
Hari-hari berikutnya, Cinta makin mirip orang gi.la. Cinta mondar-mandir di jalan kompleks perumahannya sambil berlinang air mata. Cinta yang tidak banyak bicara sengaja menunggu kedatangan Hasan tak jauh dari pos keamanan. Cinta juga tak lupa berlatih bersepeda. Hampir satu minggu berlalu, Cinta bisa bersepeda dengan lancar menggunakan sepedanya. Hingga di hari-hari berikutnya, Cinta yang makin kurus, juga sampai lancar menggunakan sepeda Hasan.
Di mata Nadim yang masih tinggal di sana, tanpa Hasan, Cinta mirip anak ayam yang tersesat dari induknya. Beberapa kali Nadim mengajak Cinta bicara, tapi Cinta sama sekali tidak peduli. Jangankan merespons, sekadar melirik Nadim saja, Cinta tak melakukannya.
“Kak Hasan, ... ini hari ke dua puluh Kakak meninggalkanku bahkan tetap tanpa kabar.”
“Kak Hasan, tolong katakan kepadaku, apa yang harus aku lakukan?”
“Aku hilang arah. Karena tanpamu, duniaku benar-benar gelap.”
Gelap, dunia Cinta sungguh gelap. Cinta berakhir pingsan di depan pohon buahnya yang sudah dihiasi banyak bakal buah. Air kran masih menyala ketika Pak RT menemukan Cinta. Pak RT berteriak meminta tolong. Beberapa tetangga langsung berdatangan termasuk Nadim.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Ulla Hullasoh
kasian jd nangis aq
2025-03-10
0
Erina Munir
ya Allah kedian banget cinta
2024-07-12
0
Sarti Patimuan
Keina yang malang ujiannya gak ada habisnya
2024-03-07
0