“Pak Hasan dan Ibu Cinta, blok A2 No. 10.” Dalam hatinya, Nadim membaca identitas pengirim nasi kotak yang dikabarkan oleh sang ART.
Nadim tahu itu dari tetangganya, dan rumahnya persis ada di depan rumahnya. Tetangga yang kemarin sore sempat menegurnya gara-gara kelakuan Elza. Juga, tetangga yang sempat ia temui di rumah sakit, tapi selalu ditemani oleh Keina. Bahkan sampai saat terakhir kali mereka bertemu, Keina begitu lengket dengan Hasan
“Berarti pria itu sudah menikah. Nama dia Hasan, sementara istrinya bernama Cinta. Berarti, Keina bukan apa-apanya dia. Mmm ... mungkin Keina masih ada hubungan saudara dengan si Hasan, atau malah si Cintanya. Masalahnya, kenapa Hasan dan Keina sedekat itu? Memangnya Cinta enggak cemburu?” pikir Nadim jadi kepikiran. Sebab dari awal melihat kebersamaan Keina dan Hasan, Nadim merasa tengah melihat vibes pasangan saling mencintai. Mirip pengantin baru yang sedang lengket-lengketnya.
“Mungkin aku harus mulai mendekati Keina. Yang dengan kata lain, kemungkinan aku kehilangan Elza juga makin besar. Namun jika keduanya mau aku duakan—” Nadim benar-benar berpikir keras.
Detik-detik yang Hasan maupun Cinta tidak inginkan akhirnya terjadi. Cinta menangis ketika melepas kepergian Hasan. Hasan sampai menunda kepergiannya dan membuat travel yang menjemput, menunggu.
“Kalau aku kangen Kakak, bagaimana?” tanya Cinta karena sekadar ponsel untuk berkomunikasi dengan Hasan, ia memang belum punya.
“Oh iya ... itu—” Hasan baru menyadari, bahwa seharunya ia membelikan istrinya ponsel agar mereka tetap lancar berkomunikasi.
“Malam ini juga aku pesenin ponsel. Oke? Nanti langsung dikirim biar kita tetap bisa komunikasi. Ya sudah, ... aku langsung pesen, sudah ditungguin juga sama tukang travelnya. Enggak enak bikin dia sama penumpang lain, lama nunggu.” Hasan menatap dengan saksama kedua mata Cinta.
Cinta menatap lekat kedua mata Hasan karena memang Cinta sudah sangat ketergantungan kepada Hasan. Ia berangsur merengkuh erat punggung kokoh suaminya dan lagi-lagi langsung mendapatkan balasan.
“Harusnya semuanya aman. Kalau ada apa-apa, langsung minta bantuan pak RT saja. Kalau pak RT kan kerjanya di sekitar kompleks sini. Jadi memang bakalan cepat tanggap,” lirih Hasan sambil menepuk-nepuk punggung Cinta.
Cinta mengangguk-angguk sambil bergumam, mengiyakan setiap arahan dari Hasan. Lambaian tangan dan air mata menjadi akhir dari kebersamaan mereka. Cinta mengantar hingga tengah jalan. Sepi yang terasa menyiksa sekaligus mengerikan, seketika Cinta rasakan. Terlebih di perumahan tempatnya tinggal memang masih sepi sekaligus minim penerangan.
“Dua minggu lagi kita ketemu. Sabtu Minggu. Beneran enggak sabar buat ketemu lagi!” isak Cinta. Ia sampai sesenggukan. Apalagi sampai detik ini, Cinta merasa Hasan menjadi satu-satunya yang ia miliki.
“Namun aku juga berpikir, bahwa meski sebelum amnesia aku memiliki keluarga. Hubungan kami memang tidak dekat.”
“Bersama Kak Hasan, aku merasa hidup. Aku merasa dihargai, dispesialkan. Bersama Kak Hasan aku selalu disayangi.”
“Mana? Sampai sekarang tetap enggak ada yang cari aku? Atau jangan-jangan, sebelumnya aku justru orang jahat? Makanya pas aku hilang, mereka justru senang?”
Cinta masih tersedu-sedu di tengah jalan meski mobil yang membawa Hasan sudah tidak kelihatan. Ketika Cinta akan beranjak, gerbang rumah Nadim bunyi dan pintunya memang berangsur dibuka. Cinta yang refleks menoleh dengan mata basah, memergoki Nadim keluar bersama Elza ditemani kucing anggora putih. Kucingnya sampai dirante dan dikendalikan oleh Elza.
Seperti biasa, mata Nadim sudah langsung sibuk mengawasi Cinta. Ditambah lagi, kini Cinta yang Nadim kenali sebagai Keina, tengah menangis.
Elza yang memergoki kesibukan kekasihnya, jadi curiga dan sampai menyikut Nadim. Tentu keputusan Elza tersebut langsung mengusik Nadim. Nadim menjadi salah tingkah dan buru-buru menutup sekaligus mengunci gerbang rumahnya.
Setelah membungkuk sebagai salamnya kepada Elza, Cinta buru-buru masuk rumah. Nadim yang baru beres mengunci gembok pintu gerbangnya, lagi-lagi memperhatikan Cinta. Yang mana lagi-lagi, Elza juga memergokinya.
“Matamu katarak apa bagaimana? Ngapain kamu masih ngelihatin wanita lain kalau aku saja, ada di sini?!” kesal Elza yang memang marah-marah.
Cinta yang sudah masuk rumah dan baru mengunci pintu, sampai bisa mendengar suara pertengkaran Nadim dan Elza. Suara Elza paling mendominan, sampai teriak-teriak mema.ki Nadim.
“Tuh orang kenapa sih? Kok malah jadi pada berantem? Aku yang baru ditinggal kak Hasan saja kangen berat! Eh, ini si Kak Hasan mau beliin aku ponsel, sementara aku saja enggak tahu nomor hape beliau. Apa, Kak Hasan sudah langsung simpan nomorku? Eh, biasanya kalau pesan barang kan ada nomor ponselnya.” Cinta sudah sangat tidak sabar menunggu kiriman ponsel untuknya. Ia mondar-mandir dan tak berani menyalakan televisi. Takut tidak dengar jika ada yang mengirim barang pesanan Hasan.
Padahal di dalam mobil, Hasan malah langsung ketiduran. Hasan belum sempat memesan ponsel untuk Cinta. Ponsel Hasan yang awalnya ada di genggaman tangan kanan Hasan, refleks Hasan masukkan ke tas pinggangnya.
***
Sekitar dua jam kemudian, Hasan terbangun karena mobil yang berhenti untuk mengangkut penumpang lain. Yang membuat Hasan merasa tidak nyaman jika naik travel ramai-ramai memang karena mobil harus menjemput setiap penumpang. Iya jika penumpangnya satu arah. Jika penumpang malah tersebar dan jumlahnya banyak layaknya yang sedang Hasan rasakan.
“Ya ampun, aku belum pesen hape buat Cinta,” batin Hasan yang kemudian memesan ponsel untuk Cinta.
Sekitar dua jam setelah Hasan memesan ponsel, Cinta yang ketiduran, jadi terusik oleh bel rumah yang bunyi. Cinta yang awalnya tengah merapikan surat pembayaran rumah, ATM milik Hasan, dan juga sisa uang, selain dompet sebagai wadahnya, buru-buru memastikan. Cinta meninggalkan semua itu di meja ruang bersantai depan kamar. Benar saja, yang datang memang paket ponsel pesanan Hasan.
“Oke, mari kita pasang dan langsung hubungi suami tercinta!” ucap Cinta benar-benar bersemangat.
Cinta duduk sila di tengah-tengah sofa beludru panjang, tempat dirinya sempat ketiduran. Akan tetapi di tempat berbeda, sopir travel yang membawa Hasan, sudah berulang kali menguap. Pria bertubuh gempal tersebut tampak sangat kelelahan. Beberapa kali, pria itu akan melaju sangat kencang layaknya kehilangan kendali. Namun sering juga, pria tersebut juga membuat mobil mengerem mendadak.
“Mas, kalau memang capek, istirahat dulu deh,” tegur Hasan yang memang duduk persis di sebelah sopir.
Mereka yang mendengar teguran Hasan, setuju dengan usul Hasan. Karena bagi mereka, keselamatan jauh lebih penting dari apa pun. Terlebih, yang awalnya ketiduran saja, sampai terbangun efek rem mendadak yang terus sang sopir lakukan.
“Enggak apa-apa, ini sudah melek kok, sambil ngopi sambil mero.kok,” ucap sang sopir yang tetap tidak mau istirahat lebih lama. “Soalnya mobilnya sudah ditungguin.”
Ketika yang lain sudah langsung bisa tidur, tidak dengan Hasan yang memang takut. Hasan sengaja menyibukkan diri dengan ponsel sambil memantau perjalanan mereka. Takut sopir di sebelahnya kembali ketiduran.
“Lah ... aku enggak punya nomor Cinta. Harusnya dia sudah pegang hape. Karena laporannya sudah sampai. Ada foto Cinta juga sedang pegang paketnya,” pikir Hasan benar-benar serius. Ia begitu fokus menatap layar ponselnya, hingga ia lupa, di sebelahnya ada yang harus ia awasi.
Sopir travel yang ngeyel, lagi-lagi kembali mengantuk meski kopi hitam di gelasnya tinggal setengah bagian. Kini, ia asal menerobos rel kreta yang penghalang lalu lintasnya memang rusak.
“TREEEEEEEETTTTTTTTTTTTT!!” Seruan kereta dari sebelah Hasan, tidak hanya membuat Hasan kaget. Karena sang sopir yang awalnya sampai ketiduran juga tersentak dan langsung kebingungan.
Semuanya terjadi sangat cepat. Hasan yang sempat melihat kepala kereta ada di pelupuk matanya, juga jadi tidak merasakan apa-apa lagi. Pandangan Hasan benar-benar gelap. Sementara dunia Hasan juga ikut senyap.
Di rumah, pigura berisi foto Cinta dan Hasan dan awalnya tergantung di dinding sebelah televisi, mendadak jatuh bahkan pecah. Cinta yang awalnya tengah mengirim pesan WA ke kontak Hasan langsung tersentak. Cinta menatap pedih satu-satunya bingkai foto di rumahnya dan kini mendadak jatuh—pecah. Entah apa yang terjadi, tapi hatinya terasa teriri.s. Ia sampai meringis dan tak kuasa menahan pedih dari rasa sakit yang menggebu-gebu menguasai dadanya.
“Kak Hasan ...?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Nartadi Yana
ya Allah semoga Hasan baik baik saja
2024-12-24
0
Erina Munir
waduuhh...supir ngeyel....bner2 keras kepala
2024-07-12
0
Yenisia Afila
kecelakaan terus..
2024-06-16
0