Ketika akhirnya pihak kepolisian datang, Cinta dan Hasan segera membuat laporan. Mengenai aksi main hakim sendiri yang mereka alami. Kendati demikian, polisi tetap menyikapi dengan tegas.
“Yakin, kalian tidak melakukan tindakan a.susila seperti yang menjadi alasan warga marah?” tegas polisi yang memang menyikapi merek dengan galak.
“Kami masih berpakaian lengkap. Memang tidak terjadi apa pun. Jika Bapak polisi tidak percaya, mereka ada bukti video karena mereka merekam kejadian saat kami dihakimi!” tegas Cinta masih sangat emosional. “Kami juga akan dengan senang hati mengikuti prosedur yang berlaku!”
“Bukan hanya kami yang terluka parah. Karena mobil saya juga remuk, Pak. Kami sungguh ingin menuntut keadilan. Kami bisa meminta bantuan viral dari masyarakat luas. Agar kasus main hakim sendiri seperti yang kami alami, tak lagi dijadikan budaya untuk menyelesaikan masalah.” Hasan sengaja turut berkomentar.
Satu hal yang Hasan sayangkan. Selain Jakarta memang bukan wilayah dirinya tinggal, ia juga tak hapal kontak siapa pun. Karena jangankan nomor ponsel orang tuanya, sekadar password akun sosial medianya saja, Hasan sering lupa. Fatalnya, ponsel, dompet, dan KTPnya juga hilang.
“Sepertinya aku kualat, efek aku sudah berbohong telah sengaja merahasiakan identitasku!” pikir Hasan jadi menyesali kebohongannya.
Setelah mengisi segala keperluan laporan dibantu oleh polisi, Hasan dan Cinta kembali hanya berdua. Keduanya masih serba canggung bahkan meski mereka sudah menjadi suami istri. Tak semata karena alasan mereka menikah, tapi juga kenyataan Cinta yang memang amnesia. Semua kenyataan tersebut membuat Hasan maupun Cinta bingung bersikap. Baik Hasan maupun Cinta khawatir, Cinta justru merupakan pasangan bahkan istri orang.
“Kamu beneran enggak ada kontak buat hubungin keluarga kamu?” tanya Cinta menyikapi Hasan dengan serius.
Hasan menggeleng sambil mengembuskan napas panjang melalui mulut. “Bentar, ... aku tetap belum siap mengungkap identitasku!” batinnya sambil menahan napas.
“Terus, mengenai hubungan kita?” lanjut Cinta yang memang membutuhkan kepastian. Ia menatap pria tampan di sebelahnya yang wajahnya masih babak belur parah. “Kamu, ... bukan suami orang, kan? Atau setidaknya, memang sudah punya calon?” Namun hati kecil Cinta ingin, mereka tetap bersama. Bahkan meski Hasan belum bisa mencintainya. Sebab, Cinta telanjur tidak punya siapa-siapa kecuali Hasan.
“Kenapa hatiku begitu menginginkanmu? Kenapa aku begitu cepat ketergantungan kepadamu? Apa karena sejak siuman dan aku amnesia, kamu satu-satunya yang aku punya? Apalagi selama itu juga, kamu mengurusku tanpa jeda,” pikir Cinta.
Ditodong pertanyaan seperti tadi, ditambah ekspresi Cinta yang terlihat sangat sedih. Kedua mata Cinta kembali basah, dan suaranya pun berat khas orang menangis. Iya, hati Hasan langsung tidak tega. Hati Hasan mengatakan dengan tegas, bahwa ia tidak akan pernah meninggalkan Cinta.
“Sebisa mungkin, aku tidak akan pernah membuatmu kesepian. Terlebih di kehidupanmu yang sekarang, dunia ini menjadi teramat asing bahkan ... kejam!” Hasan tidak bisa untuk tidak menitikkan air mata karena lawan bicaranya sudah langsung tersedu-sedu. “Itu kan yang kamu rasakan sekarang? Amnesia yang kamu alami, membuatmu kamu sangat kesepian?”
Bukan hanya air mata Cinta yang berjatuhan. Karena ingus Cinta pun iya. Cinta merasa sesak luar biasa di tengah tatapan beratnya yang sesekali menatap Hasan. Apalagi sampai detik ini, tatapan Hasan masih cenderung fokus kepadanya.
“Masalahnya ....” Cinta tak kuasa melanjutkan ucapannya, tapi ia jadi menatap Hasan penuh kesedihan.
“Apa ...?” balas Hasan, belum bisa menyudahi air mata kesedihan sekaligus penyesalannya. Hasan tidak tahu, kenapa kebersamaan mereka membuatnya merasa makin berdosa, setelah kebohongan yang ia lakukan kepada Cinta?
“Kalau aku ... kalau aku justru istri orang?” isak Cinta. “Atau setidaknya, ... aku sudah terikat dengan orang lain?” Cinta merasa serba salah.
Kenyataan Cinta yang tak hanya amnesia total. Melainkan sampai terluka parah. Rambut panjang indahnya tak karuan bahkan sebagian kepalanya botak. Wajah Cinta juga babak belur. Kondisi Cinta yang jadi sangat mengenaskan itu membuat Hasan tidak bisa untuk lepas tanggung jawab begitu saja.
Hasan yang bergerak saja masih sangat terbatas, sengaja menghampiri Cinta. “Aku benar-benar minta maaf. Namun aku pastikan, kamu enggak sendiri. Aku beneran akan selalu sama kamu. Kita jalani saja, dan aku janji, meski sekarang kita suami istri, aku tidak akan menuntut apa pun, apalagi sampai memaksa kamu!” ucap Hasan sambil memeluk Cinta yang masih duduk.
Ucapan Hasan barusan benar-benar membuat Cinta merasa sedikit lebih tenang. Karena rasa tersebut juga, Cinta membalas pelukan Hasan. Pelukan yang makin lama makin erat. Juga, pelukan yang membuat Cinta merasa makin tenang bahkan nyaman.
Akan tetapi, nyatanya bukan hanya Cinta yang merasa lebih baik akibat pelukan yang mereka jalani sekarang. Karena hal yang sama juga Hasan rasakan. Hasan merasa jauh lebih damai. Seolah semuanya memang terasa lebih mudah. Meski sebenarnya, Hasan juga masih bingung arah.
Ini mengenai Hasan yang tidak tahu wilayah Jakarta karena Hasan memang asli orang Cilacap Jawa tengah. Fatalnya, Hasan juga tidak hafal kontak ponsel orang terdekatnya. Namun, Hasan hafal alamat rumah orang tuanya, maupun alamat saudara-saudaranya yang di Jakarta.
“Andai aku minta bantuan dipulangkan ke rumah ke polisi karena aku memang tidak punya biaya. Apakah mereka akan mengabulkannya?” pikir Hasan masih memeluk sekaligus berpelukan dengan Cinta.
Setelah kehilangan dompet dan semua ATM maupun kartu kredit bahkan ponselnya, Hasan memang tidak punya uang sepeser pun. Jadi, meminta bantuan ke polisi menjadi satu-satunya cara agar Hasan maupun Cinta keluar dari penderitaan mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Kamiem sag
bisa ya Hasan gak hapan no kontak keluarganya minimal no. orangtuanya
2025-04-03
0
Sarti Patimuan
Hasan bener bener kontak keluarga nya saja tidak ada yang hapal
2024-03-07
0
we
minta bantuan ke polisi
2024-03-02
0