Hasan memilih jas warna abu-abu dari dalam lemari gantung. Ia memakainya di tengah pikirannya yang belum bisa melupakan setiap kejadian hitam putih yang menghiasi benaknya. Kejadian yang bagi Hasan sangat mengganggunya. Sebab semua kejadian yang menghiasi benak Hasan, terasa sangat asing.
“Aku kehilangan ingatan sebagian ingatanku. Ingatan untuk kejadian hampir tiga minggu, saat aku pergi ke Jakarta. Benar-benar hanya kejadian selama itu karena kepada keluargaku dan kebiasaan kami, aku tidak lupa,” batin Hasan menyikapi setiap bayang-bayang di benaknya, penuh keseriusan.
Tak lama kemudian, sambil memakai dasi abu-abu, Hasan menuruni anak tangga yang menghubungkan ke lantai bawah. Rumah keluarga Hasan terbilang megah meski keberadaannya memang masih di kawasan perkampungan. Beberapa pekerja yang kebanyakan pria bertubuh tegap, tampak menghiasi setiap sudut ruangan, khususnya ruangan yang menjadi kebersamaan keluarga Hasan. Mereka tengah berjaga-jaga karena orang tua Hasan memang memiliki usaha di bidang keamanan.
“Usiaku baru dua puluh dua tahun, tapi wanita di benakku selalu memanggilku Kak Hasan. Benarkah aku memang lebih tua darinya? Atau, ini hanya panggilan sopan santun saja?” pikir Hasan sudah langsung ceria. Ia tak mau membuat keluarganya khawatir. Apalagi kenyataannya yang pernah koma selama dua bulan, dan sampai butuh waktu lebih dari dua bulan untuk bisa kembali sehat layaknya sekarang, tak ubahnya mimpi bu.ruk untuk keluarganya.
“Kamu yakin, kamu mau ikut ke Jakarta?” tanya pak Syam dan tak lain merupakan papanya Hasan.
Meski tubuh Hasan terbilang tinggi tegap layaknya pria dewasa, pada kenyataannya, Hasan masih terlalu muda. Alasan tersebut pula yang membuat orang tua Hasan berat membiarkan Hasan bolak-balik Cilacap—Jakarta untuk mengurus pekerjaan.
Hasan mengangguk-angguk sambil duduk di tempat duduk yang disiapkan oleh salah satu pria di sana. “Iya, rasanya kangen banget!” ucap Hasan refleks.
Ketiga orang yang sudah sedang menyantap makanan di piring masing-masing, langsung bengong menatap Hasan. Ketiganya kemudian juga saling melempar tatapan. Akan tetapi, sebenarnya bukan hanya ketiganya yang bingung. Karena Hasan sendiri juga tidak tahu, kenapa ucapan seperti tadi yang keluar dari bibirnya.
“Ini aku kenapa? Berasa punya pasangan, bilang kangen-kangen? Jangankan pasangan, ke cewek saja aku anti!” batin Hasan sengaja menyibukkan diri dengan menyantap nasi uduk di piringnya. Selain itu, Hasan juga jadi sibuk menghindari setiap tatapan dari ketiga orang di sana.
Sementara itu di tempat berbeda, Cinta masih dengan kesibukannya. Menggunakan sepeda Hasan, Cinta yang memakai seragam hitam putih lengan panjang, akhirnya sampai di depan sebuah rumah makan.
“Lima bulan dari kepergian kak Hasan. Aku sengaja mencari kesibukan agar aku tidak terus menerus meluka.i diriku.”
“Aku bekerja di MR. KIM FOOD, sebuah rumah makan yang hampir 24 jam selalu ramai. Di sini, aku bekerja sebagai pelayan. Akibat aku yang tidak memiliki ijazah, membuatku hanya bisa bekerja serabutan. Namun dua hari lalu setelah aku tak sengaja menggantikan posisi kasir dan ibu Chole tahu, beliau yang tak lain bos di sini, menawariku kenaikan posisi.”
“Ibu Chole bilang, malam ini akan ada tamu spesial. Kerabatnya dari kampung datang, dan akan ada pertemuan keluarga besar di rumah makan kami yang memang sudah memiliki banyak cabang.”
Ketimbang karyawan lain, Cinta memang tipikal cepat tanggap. Cinta sangat cekatan dan membuat ibu Chole selaku bos di sana, menaruh simpati lebih.
“Sayang ... Sayang, perhatikan deh. Si Cinta mirip keluarga suami Khalisa anaknya mbak Arimbi, kan?” bisik ibh Chole kepada pak Helios dan tidaklah lain suaminya.
Pak Helios menatap saksama Cinta yang kini tengah lewat sambil membawa nampan berisi tumpukan piring dan gelas bekas pembeli yang baru saja pergi. “Sebenarnya aku kurang paham dengan keluarga suaminya Khalisa. Karena yah ... sudah bukan rahasia umum. Mereka sengaja menjaga jarak dari kita. Apalagi yang suami pertama. Kalau yang sekarang, siapa itu? Si Kenan. Kenan itu adiknya Kenzo, sementara Khalisa dan Kenan turun ranjang. Masalahnya, si Kenan justru mirip banget sama papanya Khalisa. Ya jadi kalau sama Cinta, ... kurang paham, tapi buat aku, Cinta enggak mirip Kenan.”
“Meski enggak begitu paham, kalau dibandingkan dengan Kenzo suami pertama Khalisa, bagiku mereka mirip, Pa. Kalau sama Kenzo, Cinta beneran mirip. Namun kalau sama Kenan, memang kurang mirip. Kalau sama Kenan, Cinta hanya mirip bibir sama hidungnya,” balas ibu Chole masih mengawasi dari sebelah meja kasir bersama sang suami.
Sambil menahan senyum, pak Helios menatap sang istri. “Jangan nyama-nyamain mereka karena mereka keluarga sensitip!”
Dibilang begitu, ibu Chole langsung mengangguk-angguk paham sambil menahan senyumnya. Namun bagi kalian yang sudah membaca novel Rujuk Bersyarat Turun Ranjang, apa yang ibu Chole katakan pasti akan membuat kalian memberikan penilaian atau setidaknya berkomentar.
Hari ini, keadaan Cinta sedang kurang sehat. Cinta mengalami sakit pinggang sekaligus sakit perut terbilang parah akibat mens. Karenanya, Cinta tak jadi lembur, menjadi bagian dari penyambutan keluarga ibu Chole yang dari kampung.
“Oh, Hasan ikut? Memangnya Hasan sudah mendingan?” ucap ibu Chole bertepatan dengan Cinta yang kebetulan lewat.
Cinta yang untuk sekadar melangkah saja jadi membungkuk-bungkuk, refleks membeku. Padahal, Cinta siap pulang. Namun mendengar nama Hasan disebut dan itu sebanyak dua kali oleh ibu Chole, mental Cinta jadi tidak baik-baik saja.
“Salah satu tamu ibu Chole yang dari kampung, namanya juga Hasan? Hasan suamiku bukan, sih?” pikir Cinta jadi ragu untuk pulang. Sebab meski Cinta tidak bisa ikut bekerja dan menjadi bagian dari lembur malam ini, Cinta ingin melihat sosok bernama Hasan. Benarkah ada kemiripan dan malah memang Hasan suaminya? Atau hanya namanya saja yang sama?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Erina Munir
parah nih ceritanya pda amnesia
2024-07-12
0
Sarti Patimuan
Penasaran bagaimana reaksi keina dan Hasan bila bertemu lagi
2024-03-07
0
we
ketemu kah
2024-03-03
0