Cinta terus memanjatkan doa, agar ia dan Hasan bisa memenangkan kasus mereka. Karena hanya dengan begitu, mereka tidak harus bekerja sangat keras. Mereka tak harus benar-benar melakukan semuanya dari awal.
“Semoga, bagaimanapun caranya! Semoga ponsel Kak Hasan enggak bisa dijual. Semoga, uang Kak Hasan yang diambil juga belum dipakai. Andai sudah dipakai, semoga enggak semuanya agar bisa buat bayar kontrakan dan biaya hidup kami,” lirih Cinta sambil menyeka tubuh Hasan dengan sangat hati-hati.
“Ya Allah, ... aku beneran belum pernah menjatuhkan hatiku kepada wanita mana pun. Karena selama ini saja, aku terbilang anti wanita. Namun kepadanya yang sudah menjadi istriku dan kini begitu peduli kepadaku. Aku dengan sangat mudah melakukannya,” lirih Hasan sengaja mengatakannya agar Cinta mendengarnya.
Cinta yang memang mendengar, refleks menatap sendu kedua mata Hasan. “Saat aku terluka kemarin, ... Kakak juga merawatku. Padahal aku yakin, Kakak bisa saja meninggalkanku.”
Sedih—benar-benar masih hanya itu yang Cinta rasa. Bersama orang asing, tapi mereka sama-sama berjuang. Mereka sama-sama menguatkan, saling peduli bahkan saling sayang.
“Jadi, jangan pernah memintaku meninggalkanmu, jika aku saja sudah menjatuhkan hatiku kepadamu. Bahkan seandainya nanti akhirnya aku bertemu keluargaku. Kak Hasan tetap akan menjadi orang yang paling berarti dalam hidupku!” Cinta menggunakan kedua kedua tangannya yang masih dihiasi sisa luka mengering, untuk mengelap air matanya.
Hasan yang menyaksikan Cinta seperti sekarang, juga tak luput dari air mata sekaligus kesedihan. “Kamu ingat, kan? Bahwa Cinta merupakan nama mamaku. Aku sangat menyayangi mamaku!”
Ucapan Hasan barusan, membuat Cinta merasa sangat terharu.
“Kenapa Kakak enggak kasih aku nama lain saja? Nama mama Kakak, pasti sangat berarti—” tangis Cinta makin pecah. Ia sesenggukan parah dan membuat sesak di dadanya terasa sangat menyiksa.
“Karena kamu juga sangat berarti. Apalagi saat kejadian malam keji itu, kamu begitu sibuk melindungi aku. Padahal kamu sendiri juga sudah terluka parah. Dan aku yakin, itu juga yang akan mamaku lakukan, hingga aku selalu teringat mama, di setiap aku melihatmu!” ucap Hasan sengaja memotong ucapan Cinta.
Cinta benar-benar tidak tahan. Balasan Hasan membuat perasaannya campur aduk. Ia menghela napas pelan sekaligus dalam guna meredam sesak di dadanya. “Boleh ... peluk?” isaknya memohon ketika ia tetap tidak bisa menyudahi rasa sesak, kesedihan, apalagi tangisnya.
Hasan mengangguk-angguk pelan, kemudian agak merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Cinta. “Ya Allah, ... tolong usaikan duka di antara kami. Gantikan lah kesedihan ini dengan keindahan layaknya pelangi. Pelangi yang akan tetap indah meski dia ada di antara mendung bahkan di tengah badai sekalipun,” batin Hasan.
“Entah apa yang sebenarnya terjadi. Namun dipeluk seperti ini, selalu membuatku merasa jauh lebih nyaman. Aku sempat berpikir, ini terjadi karena aku sudah terbiasa melakukannya. Namun setelah aku renungi lagi, jangan-jangan di masa lalu, aku justru orang yang sangat kesepian. Hingga sekadar dipeluk saja, aku sangat jarang merasakannya. Karena sekarang, bagiku, dipeluk oleh orang yang tulus, merupakan hal yang sangat mewah,” lirih Cinta yang memang sampai bersandar pada dada bidang milik Hasan.
Kini, Hasan sudah bisa duduk. Memeluk Cinta pun, Hasan melakukannya dengan leluasa.
“Kalau begitu, mulai sekarang juga, ... aku akan makin sering memelukmu!” ucap Hasan yang makin mengeratkan dekapannya.
Tiba-tiba saja Hasan jadi berpikir, keputusannya tidak langsung membawa Cinta pulang ke rumah orang tuanya, merupakan keputusan paling tepat. Hasan berpikir, membuat Cinta merasa nyaman bersamanya, menjadi hal yang lebih harus ia lakukan lebih dulu. Apalagi dari cara Cinta menganalisis masa lalunya, tampaknya Cinta pernah mengalami krisis kasih sayang.
Siangnya, babak baru dari kasus Hasan dan Cinta, akhirnya ada titik terang. Polisi kembali datang membawa angin segar untuk keduanya. Selain ponsel Hasan yang belum terjual, uang yang ada di dompet Hasan juga masih tersisa terbilang banyak. Begitu juga dengan ATM dan beberapa kartu kredit. Hanya KTP Hasan saja yang tidak ada. Karena kedua SIM milik Hasan, masih ada di antara para ATM dan kartu kredit.
Hanya saja, tentu SIM milik Hasan tak lagi menjadi alasan Cinta mencari tahu identitas Hasan. Karena sebelumnya, Hasan sudah mengaku sebagai sebatang kara yang menghabiskan waktunya dengan bekerja sebagai sopir di Jakarta.
“Kok Kak Hasan punya ATM dan kartu kredit? A—bentar deh. Kayaknya kalau enggak salah, kartu kredit itu, kartu kredit mahal dan khusus buat orang kaya, atau setidaknya karyawan perusahaan yang punya jabatan khusus,” pikir Cinta jadi mulai meragukan kemiskinan Hasan.
Hasan masih berbicara panjang lebar. Ia menerima uang, ATM, kartu kredit, SIM, dan juga ponselnya dari polisi. Semua itu hendak akan dijadikan barang bukti. Namun, Hasan meminta keringanan karena Hasan membutuhkan semuanya khususnya ponsel dan uang, untuk bertahan hidup.
Jadi, ponsel dan sisa uang hanya difoto, sisanya dijadikan barang bukti.
“Kak, kok Kakak punya kartu kredit Black Card? Kalau enggak salah itu hanya bisa dimiliki oleh nasabah yang punya dana kurang lebih 20 miliyar di bank yang bersangkutan. Sementara limit kartu kredit black card ini dari 500 jut-a sampai 2 miliar. Tolong jelasin, kok Kakak bisa punya itu,” ucap Cinta langsung gerak cepat tak lama setelah kepergian polisi.
“Cinta tahu tentang kartu kredit black card ... dan dia beneran tahu detail. Fix, dia memang bukan orang sembarangan!” batin Hasan yang dengan santainya berkata, “Ini punya bos, dititipin ke aku. Sementara hubungan kami memang sudah sangat dekat. Jadi, aku memang sudah seperti anak mereka.”
Karena Hasan tak menunjukkan gelagat aneh, Cinta dengan sangat mudah percaya. Malahan, Cinta jadi merinding karena Hasan memberikan semua uangnya kepada Cinta.
“Ini doa kamu. Mama selalu bilang, kalau sudah menikah, doa pasangan selalu tembus langit dengan sangat cepat. Ini buktinya karena Allah langsung mengabulkan!” Hasan menggenggam tangan kanan Cinta yang sudah ia taruh lebaran uang merah dan jumlahnya ada dua juta lebih.
“Alhamdullilah,” ucap Hasan lembut sengaja menuntun Cinta untuk mengucapkannya.
Cinta tersenyum haru kemudian mengangguk-angguk. “Iya ... alhamdullilah banget, Kak!”
Dalam hatinya, Cinta juga berdalih, “Alhamdullilah dikasih rezeki dan kami enggak harus terlunta-lunta. Harusnya uang segini sudah bisa buat sewa kontrakan. Isi kontrakannya bertahap saja. Yang penting ada tempat buat tinggal dan ada buat makan juga.”
“Dia pasti lega banget karena akhirnya ada uang buat sewa kontrakan sekaligus buat beli makan,” batin Hasan yang masih diam-diam mengawasi setia perubahan ekspresi Cinta. “Dia tulus, ... aku berani jamin dia tulus!” batin Hasan lagi.
“Ayo, Ta ... kita bahagia dengan pernikahan kita. Meski pernikahan kita merupakan pernikahan paksa, kita juga tetap berhak bahagia!” Hasan mengatakan itu, sungguh-sungguh.
Cinta langsung diam karena memang masih sulit percaya.
“Biar aku kerja, kamu di rumah saja tunggu aku pulang,” lanjut Hasan. Terlebih setelah ia mendapatkan kembali ponselnya, ia tak perlu lagi pusing memikirkan uang. Hasan akan kembali bekerja secara online. Atau malah diam-diam pulang ke keluarganya dan menyebutnya sebagai dinas keluar kota, kepada sang istri.
“Baru juga mikir gitu, ... aku pengin di rumah saja. Paling beres-beres sama belajar masak. Karena enggak tahu kenapa, rasanya kok lelah banget,” batin Cinta.
“Urusan masak dan makan, kita bisa beli. Atau, ... kita sama-sama belajar masak. Sepertinya akan sangat seru!” lanjut Hasan.
Sempat membuat Hasan menunggu, Cinta yang lagi-lagi terharu, berangsur mengangguk-angguk. “Ini jauh lebih adil. Daripada kita sudah menikah, tapi kita masih menjaga perasaan pasanganku yang lama dan belum tentu benar keberadaannya. Maksudnya, andai memang ada, aku lebih memilih dia mencari gantiku karena aku yang sekarang, beneran enggak ingat siapa pun, selain ... Kak Hasan!” Cinta memutuskan untuk menjalani pernikahan nyata dengan Hasan. Cinta tak lagi peduli kepada ingatannya yang hilang, termasuk kemungkinan dirinya telah memiliki pasangan.
“Ya allah, ... si Cinta kok makin bikin gemes saja,” batin Hasan.
Diam-diam, Cinta menjadi menginginkan pernikahan manis dalam hubungan mereka, meski pernikahan mereka merupakan pernikahan paksa. Pernikahan paksa berakhir bahagia—iya, itulah yang Cinta harapkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Sarti Patimuan
Syukurlah dompet Hasan bisa kembali
2024-03-07
0
Firli Putrawan
y semoga bahagia selalu y keina dan hasan
2024-02-27
0
Sugiharti Rusli
wah Alhamdulillah kalo dompet Hasan masih utuh, walo KTP dan uang nya mungkin sudah banyak yang diambil
2024-02-25
0