Ketika terdengar suara kamar mandi di sebelahnya terbuka, Hasan yang sudah bisa duduk dengan jauh lebih tegap langsung terjaga. Detik itu juga, dunianya mendadak berputar lebih lambat. Ditambah lagi, ketika pandangannya dengan sendirinya mengawasi pintu kamar mandi bagian bawah. Kedua kaki Cinta yang indah tanpa alas kaki, ia dapati baru mulai melangkah keluar.
Baru melihat kaki mulus Cinta saja, Hasan sudah deg-degan. Hasan begitu gugup, dan sampai berkeringat. Kendati demikian, ia tidak bisa untuk berhenti. Kedua matanya selalu ingin melihat Cinta. Tak peduli meski luka bahkan bekasnya masih menjadi bagian mencolok dari Cinta. Tak peduli meski di beberapa bagian kepala Cinta, sampai botak karena dihak.imi warga. Di matanya, kecantikan Cinta benar-benar terlihat sempurna.
Dress selutut berlengan pendek warna putih dan beraksen bunga-bunga warna lavender pilihan Hasan, begitu cocok di tubuh Cinta. Cinta terlihat makin cantik di mata Hasan.
“Kenapa, Kak?” tanya Cinta bingung. Ia tidak tahu jika selain sibuk mengawasinya, Hasan juga sangat mengagumi penampilannya.
“Ganti pakai celana panjang sama hoodie. Lagian sudah malam dan aku juga lupa pesan selimut,” ucap Hasan bertepatan dengan Cinta yang duduk di hadapannya.
Cinta yang awalnya tengah mengeringkan rambut menggunakan handuk besar di kedua tangannya langsung bengong.
“Tadi Kakak bilang, aku pakai ini saja. Kakak yang minta loh,” ucap Cinta sesaat setelah ia menghela napas.
“Ya maksudnya, itu dipakai pas kita cuma berdua saja. Tadi aku minfa, cuma pengin lihat. Mumpung belum ada orang lain yang lihat,” jelas Hasan mencoba memeberi Cinta pengertian.
Disinggung begitu, Cinta langsung tidak bisa menolak. Meski untuk beberapa saat, ia memnag refleks mengawasi dress di tubuhnya yang memang sangat pas. Cinta bahkan jadi merasa lebih percaya diri karena memakainya. Namun jina disinggung mumpung tidak ada orang lain selain dirinya dan Hasan yang melihat, Cinta juga jadi buru-buru memboyong kantong belanjaan berisi pakaian lengkap miliknya dan Hasan.
Semua itu merupakan belanjaan Hasan. Setelah sebelumnya, mereka belanja makanan. Beberapa saat lalu, lima setel pakaian dan satu pasang sandal milik mereka, datang. Selain itu, mereka juga sampai membeli perlengkapan mandi.
Diam-diam, di sebelah tirai ranjang rawat Hasan, Nadim yang masih menyimak, jadi penasaran.
“Memangnya dia pakai apa? Kok kesannya privasi banget,” pikir Nadim. Nadim sampai duduk sambil terus melongok, berusaha melongok Cinta. “Dress mini, apa bagaimana?” Sayangnya efek tirai pembatas di sana terlalu tebal, tak sedikit pun ia bisa melihat Cinta, bahkan meski bayang-bayangnya.
“Kak Hasan, ... aku kurang nyaman sama pasien di sebelah. Pria yang ada di bekas ranjang aku sempat dirawat,” bisik Cinta ketika ia kembali dan memakai pakaian pilihan Hasan yang lagi-lagi pas di tubuhnya.
Hasan yang masih duduk, tak langsung bersuara. Namun, Hasan refleks menoleh ke sebelah selaku keberadaan pasien yang dimaksud.
“Kita ngobrolnya bisik-bisik saja,” ucap Cinta yang memang sudah makin berbisik-bisik.
Hasan mengangguk-angguk. Hanya saja, ia telanjur penasaran pada pria di ranjang sebelah. Karena kebetulan, dari awal pria itu ada di sebelah, ia memang sama sekali tidak memperhatikannya.
Malam ini, untuk pertama kalinya, Hasan dan Cinta tidur satu ranjang. Karena belum terbiasa, baik Cinta maupun Hasan, sama-sama gugup. Keduanya bahkan sempat jadi tidak bisa tidur. Keduanya tidur karena ketiduran.
“Kok jadi sepi banget, ya?” batin Nadim yang memang tidak bisa tidur karena terlalu penasaran.
Demi mengobati rasa penasarannya, Nadim yang sampai merenung serius, sengaja memastikan. Tertatih ia melangkah sambil membawa infusnya sendiri. Nadim nekat melangkah ke depan kemudian mengintip dari ujung tirai ruang rawat Hasan.
Selain tidur bersama, Cinta yang menutupi kepalanya menggunakan topi hoodie-nya juga berbagi selimut dengan Hasan. Keduanya berpelukan, bahkan Cinta sampai membenamkan wajah ke dada Hasan.
“Ehhhm!” Hasan sengaja berdeham karena memang tidak bisa sepenuhnya tidur. Apalagi sebelumnya, Cinta sempat mengeluhkan pria di ranjang sebelah. Sementara kini, pria yang ia maksud malah diam-diam ia pergoki mengintip.
“Lagi lihat apa?” tanya Hasan yang memang menyikapi Nadim dengan sangat galak. Meski sampai ini, ia masih berucap lirih agar tidak mengusik Cinta.
Nadim yang kebingungan, segera menyudahi ulahnya. “Ini mau ke kamar mandi, tapi agak pusing,” ucapnya bergegas melangkah menuju kamar mandi di sebelah.
“Pantas Cinta takut. Tuh pria memang bermasalah, ya? Untung tirai sebelah kamar mandi juga sudah Cinta tutup sempurna. Termasuk, aku yang meminta Cinta pakai serba panjang,” pikir Hasan kembali pura-pura tidur.
“Kalau pria tadi sampai terbukti ngintip-ngintip lagi, aku enggak segan buat kempesin kepalanya!” batin Hasan.
“Aku enggak mungkin intip-intip lagi karena sepertinya, cowok yang bareng tuh cewek, sudah langsung curiga. Namun, aku yakin, aku memang kenal tuh cewek. Apa ... ah, apa tuh cewek yang di foto pemberian mama? Dia anaknya tante Linda dan om Utama? Iya, bukan sih? Cewek itu si Keina yang orang tuanya terancam bangkrut, makanya Keina akan dinikahkan dengan aku, asal mama papaku, kasih sun.tikan dana ke perusahaan orang tua Keina?” pikir Nadim—baca novel : Rujuk Bersyarat Turun Ranjang.
“Cinta tidurnya nyenyak banget. Namun yang di sebelah, kok kayak masih mengawasi kami, ya?” pikir Hasan.
Keesokan harinya, Hasan sudah langsung memutuskan pulang karena perawat yang memeriksa juga mengabari. Jadi, setelah ada kontrol dokter, Hasan benar-benar sudah dibolehkan pulang.
“Kita langsung cari tempat tinggal,” ucap Hasan yang baru saja dilepas infusnya oleh perawat.
Cinta membantu Hasan membersihkan diri di kamar mandi. Termasuk itu menyiapkan pakaian. Semuanya berjalan lancar, meski pertanyaan dari Nadim, membuat Hasan dan Cinta, merenung serius.
“Kamu Keina, anaknya tante Linda dan om Utama, kan? Aku beneran pernah lihat kamu,” ucap Nadim nekat menggeser tirai di dekat meja sebelah ranjangnya.
“Keina siapa? Tante Linda dan om Utama, orang mana?” sergah Hasan sudah langsung menyikapi dengan tegas.
Namun, Cinta yang telanjur takut kepada Nadim, sengaja menggandeng tangan kiri Hasan. Cinta menggeleng erat sambil menatap Hasan penuh peringatan.
“Bukan, ... kamu salah orang!” tegas Cinta sengaja menyangkal anggapan Nadim agar yang bersangkutan tidak terus mencaritahu apalagi rusuh kepadanya.
Cinta yang tetap memakai celana panjang diadukan dengan hoodie, yang juga menutupi kepalanya, segera membawa Hasan pergi dari sana. Cinta sengaja memutus obrolan Nadim secara sepihak. Karena Cinta memang tak mau memiliki urusan dengan Nadim yang di matanya tipikal pria me.sum.
Hasan menenteng banyak bawaan. Begitu juga dengan Cinta yang menteng kantong berisi pakaian ko.tor milik mereka. Berbeda dari ketika baru dinikahkan secara paksa, kini, baik Hasan maupun Cinta, sudah merasa jauh lebih nyaman. Keduanya mulai merasa ketergantungan satu sama lain. Dari Hasan yang merasa marah ketika ada pria lain yang mengusik Cinta, termasuk itu Nadim. Juga Cinta yang merasa memiliki pelindung jika sedang bersama Hasan. Malahan karena tidur di sebelah Hasan, Cinta jadi bisa tidur sangat nyenyak.
“Masa sih, hanya kebetulan mirip?” pikir Nadim masih duduk selonjor. Ia masih terjaga sendiri karena dari pihak keluarganya belum ada yang data g
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Nartadi Yana
keina anak siapa ya aku kok lupa
2024-12-24
0
Fani Indriyani
ohh,calonnya keina toh..
2024-03-14
0
Sarti Patimuan
Ternyata Nadim orang yang mau dijodohkan dengan keina oleh mamanya
2024-03-07
1