Hasan memberi Cinta segalanya. Termasuk memberikan surat-surat rumah maupun ATM milik Hasan untuk mempermudah Cinta menjalani kehidupan. Karena Hasan memang melarang Cinta bekerja. Cinta benar-benar tidak menemukan indikasi Hasan sengaja meninggalkannya.
“Suamiku pasti kenapa-kenapa.” Cinta yakin itu.
Cinta memanfaatkan ponselnya untuk mencari berita kecelakaan mobil maupun travel yang terjadi sekitar satu bulan lalu. Karena memang sudah satu bulan lamanya, Hasan pergi tanpa kabar, selain nomor ponsel Hasan yang juga tetap tidak bisa dihubungi.
Hasan yang mengaku yatim piatu dan memang sebatang kara, juga tidak memberikan kontak lain selain nomor ponsel. Nomor ponsel pun, Cinta ambil dari setiap bekas kiriman atau paket yang menjadi alamat Hasan.
“Tapi nomor ponselnya juga sama dengan yang ada di surat rumah. Eh, di sini harusnya ada alamat kak Hasan yang di kampung. Hampir lupa kalau kak Hasan pernah bilang kalau dia masih punya bibi.”
Sempat antusias dan yakin Hasan ada di kampung bersama sang bibi, Cinta yang sudah beranjak dari sofa dirinya duduk, menjadi terdiam. Cinta mendadak berubah pikiran dan kembali menjadi patung hidup. “Buat apa? Menghubungi bibinya kak Hasan enggak ada gunanya karena dari kecil, ibaratnya kak Hasan sudah merantau ke Jakarta.”
“Dari kecil, kak Hasan sudah tinggal bersama majikannya. Alasan ini juga yang bikin kak Hasan sebatang kara. Alasan ini juga yang bikin kak Hasan punya banyak tabungan. Kak Hasan sendiri yang bilang.”
“Justru ketimbang menghubungi bibinya kak Hasan, lebih baik aku menghubungi majikannya. Karena kak Hasan pasti bersama majikannya.”
“Namun aku yakin, hanya ada dua kemungkinan ketika kak Hasan tetap tidak menghubungiku.”
“Pertama ... karena memang kak Hasan terluka sangat parah hingga sekadar menghubungiku, kak Hasan kesulitan. Sementara kemungkinan kedua sekaligus kemungkinan terakhir, ... alasan Kak Hasan tidak menghubungiku ... karena memang ... kak Hasan sudah tidak ada. Kak Hasan sudah meninggal, makanya dia enggak mengabari aku lagi!”
Menangis, tersedu, dan tak jarang juga histeris. Itulah yang kembali terjadi kepada Cinta. Cinta hilang arah, jatuh ke titik nadir paling dalam. Fatalnya, hanya kehadiran Hasan yang mampu menolongnya.
Tanpa Hasan, Cinta tidak bisa. Karena Hasan juga yang menjadi alasan Cinta bertahan. Hasan merupakan sumber kehidupan Cinta. Hasan satu-satunya yang Cinta miliki. Tanpa Hasan, semua yang sempat tumbuh nyaris mati, kacau.
Bukan hanya hati, mental, bahkan hidup Cinta yang merasakan dampak dari menghilangnya Hasan. Karena kebun yang sempat Cinta dan Hasan tanami, kini tak terawat. Beberapa tanaman memang tumbuh, tapi sebagiannya mati dan ditumbuhi rumput li.ar. Karena selama satu bulan kehilangan Hasan, khususnya selama dua minggu terakhir, Cinta memang tidak sempat mengurus yang lain selain meratapi kabar dari Hasan yang tak kunjung Cinta dapatkan.
“Kak Hasan, tanpa kakak, semuanya tidak berarti. Malahan aku memilih mati. Namun aku takut, jika sebenarnya jauh di luar sana, Kakak justru sedang berjuang hanya untuk bisa mengabari aku.”
Cinta yang yakin sebenarnya Hasan masih hidup, memutuskan untuk berhenti menya.yat pergelangan nadi tangan kirinya. Cinta berangsur mengikat luka akibat saya.tan di pergelangan tangan kirinya menggunakan kaus d.alam Hasan. Kaus dala.m warna putih yang sempat membuat dunia Cinta benar-benar berhenti berputar. Hanya karena Cinta sangat menginginkan kehadiran pemiliknya.
Hari-hari berikutnya, Cinta berusaha bertahan. Karena Cinta yakin, Hasan akan kembali. Cinta melanjutkan hidupnya layaknya ketika masih ada Hasan. Memakai pakaian khususnya baju Hasan, menjadi hal yang Cinta lakukan untuk mengobati sedikit rasa rindunya.
Membereskan rumah yang sudah sangat tidak terawat. Membuang bahan makanan yang sudah membu.suk, juga belanja karena Cinta bertekad untuk hidup.
Cinta mengingat-ingat semua yang sudah Hasan ajarkan termasuk urusan memasak. Karena satu bulan lebih tidak melakukannya, membuat Cinta lupa-lupa ingat. Cinta memak.sa dirinya untuk makan.
“Aku harus sehat. Aku harus waras. Kak Hasan bakalan sedih kalau aku terus begini. Dua bulan sudah cukup membuatku jadi orang bo.doh!” ucap Cinta optimis, tapi lagi-lagi ia menangis. Ia memenuhi mulutnya menggunakan makanan yang ia masak.
Keluar dari rumah, Cinta disambut oleh kebun yang sangat membutuhkannya. “Kebun ini ibarat aku yang tidak bisa tanpa kak Hasan. Jadi, aku harus merawatnya!”
Beberapa sayuran hijau mulai bisa Cinta panen. “Kak Hasan, ... Kakak jangan lupa makan sayur, ya!”
“Ya ampun Kak Hasan ... di kebun kita ada ular! Aduh! Aku ... bentar, panggil pak RT!”
Niatnya Cinta memang memanggil pak Rt, meminta bantuan pria itu. Namun karena Nadim ada di sana, Cinta memilih meminta bantuan Nadim.
Nadim yang baru keluar dari mobil dan tampaknya baru pulang dengan pakaian rapi khas orang kantoran, bergegas membantu.
“Berapa lama kamu enggak keluar rumah? Tubuhmu sampai putih banget mirip kertas. Tapi kamu jadi kurus banget,” ucap Nadim yang berkaca-kaca menatap Cinta.
Cinta yang sempat merasa tertam.par dengan ucapan Nadim, merasa bersalah pada dirinya sendiri.
“Orang lain lihat aku saja sedih. Apalagi kak Hasan,” pikir Cinta.
Meski tidak menanggapi ucapan Nadim, Cinta tetap memberikan sebagian sayur hasil kebunnya ke Nadim. “Makasih sudah bantu usir ular. Oh iya,” ucap Cinta sengaja memetik beberapa jambu air berukuran besar berwarna merah miliknya. Ia memberikan jambu itu kepada Nadim juga.
Mendadak Cinta ingat ucapan Hasan. Bahwa suaminya itu akan pulang jika buah di pohon buah mereka sudah layak makan. “Apakah ini bertanda bahwa kak Hasan akan pulang?”
Di tempat berbeda, di sebuah ruang rawat intensif, sesosok tubuh terbujur tak berdaya penuh alat bantu kesehatan. Suara dari mesin EKG terdengar sangat menyeramkan di tengah kesunyian yang menyelimuti di sana.
“Hasan! Hasan tangan kamu akhirnya gerak! Ma ... Pa! Tangan Hasan gerak!” ucap seorang wanita muda berhijab hitam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Erina Munir
alhamdulillah hasan hidup
2024-07-12
0
Sarti Patimuan
Semangat keina ayo lanjutkan hidupmu
2024-03-07
0
💗 AR Althafunisa 💗
Ya Allah, miris sekali hidup kalian Hasan dan Cinta 😭😭😭
2024-03-04
0