Cinta sudah diizinkan pulang. Namun karena belum memiliki tujuan apalagi tempat tinggal, Cinta sengaja bertahan di ruang rawat Hasan dirawat.
Karena ranjang rawat Cinta sudah dihuni pasien baru, Cinta sengaja duduk di tempat duduk menghadap ke ranjang rawat pasien baru.
“Kok, kayak ada yang mengawasi, ya?” pikir Cinta yang kemudian memberanikan diri untuk menatap wajah khususnya kedua mata Hasan. Akan tetapi, kedua mata
Hasan dalam keadaan terpejam. Hasan tengah tidur dan terbilang pulas. Kendati demikian, memang ada yang mengawasi Cinta, dan itu pasien baru di sebelah. Pasien baru yang menempati ranjang rawat bekas Cinta dirawat, benar-benar fokus mengawasi wajah Cinta. Malahan, pria yang kiranya seusia Hasan tersebut, tak segan melayangkan senyuman.
“Ih ... kan, bener,” batin Cinta merasa makin tak nyaman saja.
Cinta yang jengkel, berangsur berdiri. Namun caranya yang buru-buru, membuat tempat duduknya berderit. Hasan yang awalnya pulas, jadi terusik.
Setelah menatap Cinta agak lama, Hasan berkata, “Mau ke mana?”
“Mau narik tirai biar tertutup, Kak!” ucap Cinta. Yang membuatnya jengkel, pria di ranjang sebelah, sudah tak lagi memperhatikannya.
Hasan berangsur duduk. Ia meraih sebotol air mineral berukuran besar dari meja sebelahnya, kemudian meminumnya.
“Naik sini, ... tidur. Istirahat. Apa kamu mau belanja? Beli jajan apa makan sana,” ucap Hasan ketika Cinta kembali.
Cinta menggeleng dan bergegas duduk. Ia merenung serius tanpa bisa menyudahi rasa kesalnya. Rasa kesal yang mendadak hadir setelah ia diperhatikan oleh pria di ranjang sebelah.
“Kalau kamu enggak beli makanan, kamu mau makan apa? Coba cari kantin, warung, apa al.fa terdekat,” lanjut Hasan yang kemudian menyarankan Cinta untuk membeli pakaian ganti.
“Tapi aku takut kalau harus pergi sendiri. Sementara, aku bertahan gini saja. Nunggu Kakak mendingan dan kita bisa pergi bareng. Soalnya sekadar di perhatikan berlebihan saja, aku enggak hanya risih bahkan marah. Aku takut, Kak!” yakin Cinta berbisik-bisik. Karena ia memang sengaja menjaga suaranya dari pria di ranjang sebelah.
“Kalau begitu aku pesan saja. Karena aku enggak mungkin biarin kamu bertahan dengan pakaian begitu.” Hasan mendadak diam karena takut keceplosan. “Pokoknya nanti ada yang antar ke sini. Kamu perlu apa saja? Pakaian, makanan, masker buat tutupin wajah. Beli hoodie saja ya, buat sekalian tutupin kepala kamu. Atau, ... topi juga harus sih.”
Memiliki ponsel yang memudahkannya mengakses segala hal, termasuk juga memenuhi kebutuhan. Memang menjadi salah satu alasan Hasan bisa hidup dengan tenang.
“Kamu mau makan apa?” lanjut Hasan.
Semuanya Hasan tanya. Karena berkaca pada interaksi orang tuanya. Yang mana sang papa kerap mendapat protes dari sang mama, jika sedang kurang perhatian. Termasuk juga, pengalamannya menjadi saksi hubungan Hasna selaku saudara perempuan sekaligus kembarannya. Sebab sering kali, Hasna akan terperangkap dalam jurus andalan wanita yang selalu ingin dimengerti, tapi apa-apa selalu modal “terserah”, ketika ditanya Rain sang gebetan.
“Kamu jangan jawab serba terserah kayak wanita kebanyakan. Karena aku enggak tahu isi hati kamu. Bukannya enggak bisa romantis apalagi enggak peka. Soalnya daripada salah karena aku bukan master Limbad,” ucap Hasan.
“Jadi, kamu pengin apa, ya coba dijabarkan. Dijelaskan secara detail, biar kamu enggak kecewa. Selagi aku bisa, aku pasti kasih. Itu jauh lebih baik, daripada kamu nahan-nahan, dan aku enggak tahu mau kamu.” Hasan berucap sekaligus menatap Cinta penuh ketegasan.
Cinta yang menyimak, refleks tersenyum seiring hatinya yang jadi berbunga-bunga.
“Paham?” lanjut Hasan menunggu respons pasti Cinta.
Cinta langsung mengangguk-angguk. “Paham, Kak! Terima kasih banyak!”
Hasan mengangguk-angguk. “Kita makannya samakan saja, aku ikut kamu. Kamu mau makan apa, sekalian pesankan saja buat aku. Sementara pakaian, enggak mungkin kita samaan. Coba, tolong kamu berdiri sebentar. Biar aku bisa mengira-ngira ukuran kamu.”
Cinta berangsur berdiri, tapi sambil merenung. “Ini kita mau belanja pakai uang mana? Kalau pakai uang yang di aku, nanti kita jadi enggak bisa sewa kontrakan loh Kak. Ibaratnya untuk makan pun, ya tetap diatur. Soalnya andai nanti kita makan daging, ... jangan-jangan, besoknya cuma makan angin?”
Jiwa perhitungan seorang wanita apalagi seorang istri dalam diri Cinta, meronta-ronta.
“Makan angin?” ucap Hasan benar-benar syok dengan anggapan Cinta.
Cinta mengangguk-angguk cepat, tapi kenyataan tersebut malah membuat Hasan makin jengkel.
“Ini kan salah kamu, San. Sampai kapan pun, Cinta pasti akan mempermasalahkan keekonomian kalian. Cinta akan selalu meragukan kemampuan keuangan kamu. Karena yang Cinta tahu, kamu orang mi.skin. Orang miskin, yatim piatu pula. Sudah, cepat-cepat saja deh kelarin sandiwara kamu, biar kamu bisa membahagiakan Cinta lebih dari sekarang,” batin Hasan yang kemudian berkata, “Bagaimanapun keadaan kita, yang penting aku enggak bikin kamu makan hati, kan?”
Balasan sinis dari Hasan bukannya membuat Cinta takut apalagi tersinggung. Karena yang ada, Cinta malah menertawakannya.
Sekitar satu jam kemudian, makanan pesanan Cinta datang.
“Makanan dulu, habis itu baru yang lain, ya!” ucap Hasan bersemangat.
Cinta berdalih tidak bisa makan tanpa sayuran. Sayuran, sedikit nasi, itu sudah sangat cukup. Namun bukannya mengikuti menu makan Cinta, Hasan malah memesan serba daging, ikan, dan juga telur. Lebih tepatnya, Hasan tidak suka sayur.
“Aku tuh paling anti sama sayur dan obat. Kalau berurusan dengan kedua itu, mending aku pura-pura mati saja!” ucap Hasan yang keceplosan.
Hasan sedang mengaduk nasi dan rendang daging di kotak makannya. Namun, baru juga akan melahap suapan di sendoknya yaitu berupa nasi dicampur rendang daging lengkap dengan bumbu pekatnya, Cinta sudah bersiap menyuapinya.
“Kak Hasan harus makan sayur. Jangan pura-pura mati lagi. Ayo kita menua sekaligus sehat bersama!” ucap Cinta siap menyuapi Hasan.
Kali ini, Hasan yang memang hobi pura-pura mati sejak bayi, tidak mungkin melakukannya lagi. Apalagi menolak suapan dari Cinta, sama saja melukainya.
“Kamu juga harus makan daging, biar lebih kuat. Biar lebih bertenaga!” ucap Hasan yang kemudian melahap suapan dari Cinta, tapi ia juga menyuapkan nasi campur rendang daging di sendoknya kepada Cinta.
Tak beda dengan Hasan, Cinta juga tak kuasa menolak suapan Hasan. “Aku kalau makan daging, takut jadi daging Kak.” Cinta mengunyah dengan enggan. Takut nasib makanannya, akan membuatnya seperti yang baru saja ia katakan.
“Ya enggak apa-apa, biar kamu enggak terlalu kurus,” balas Hasan nyaris pingsan gara-gara akhirnya, makan dengan sayuran.
Setelah sama-sama berusaha beradaptasi dengan makanan yang sengaja mereka hindari. Tatapan mereka tak sengaja bertemu. Baik Hasan maupun Cinta, sama-sama tertawa sambil membekap mulut mereka menggunakan kedua tangan.
“Akhirnya aku makan sayur!” ucap Hasan merasa sangat terharu.
“Akhirnya aku makan daging! Berasa jadi prestasi tersendiri!” ucap Cinta sampai berkaca-kaca, meski ia masih tertawa.
Diam-diam, pria di ranjang sebelah, justru makin tertarik kepada Cinta. Cara Cinta dan Hasan berinteraksi menjadi alasannya. Apalagi dari obrolannya, suara lembut Cinta kepada Hasan, benar-benar can.du untuknya.
“Beneran kayak kenal, tapi di mana? Bentar deh, aku coba lagi buat ajak dia ngobrol!” batin si pria bernama Nadim.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Sarti Patimuan
Wah mungkin kah orang yang kenal keina
2024-03-07
0
Firli Putrawan
nadim siapa y bkn yg nguber2 dl chalista
2024-02-27
0
Sugiharti Rusli
ohbiya dulu waktu masih bayi si Hasan suka tiba" akting mau mati yah😝😝😝
2024-02-25
0