Hampir jam sembilan pagi, Zeff menatap kuatir dari ruang makan pintu kamar Melody di lantai dua yang hanya terlihat setengah melalui void dengan teralis kayu. Seharusnya Melody sudah turun sejak tadi, seharusnya jam segini mereka sudah selesai sarapan kemudian berangkat ke toko. Dua minggu lebih ada di rumah ini Zeff sudah paham kebiasaan Melody.
Dia sengaja minta ijin pada kedua orang tuanya dan tante Lina, meninggalkan pekerjaannya sementara waktu untuk ada di sini, sebagai usahanya untuk menjalin hubungan yang lebih baik dengan Melody, sedikitnya dia puas dengan perubahan bentuk hubungan mereka sekarang.
Tidak begitu susah untuk kembali dekat walau dia masih melihat batas yang jelas dari Melody untuknya, dia hanyalah seorang kakak untuk Melody, tak masalah justru sangat bagus untuk sekarang, dari pada dilihat dengan tatapan garang seperti waktu awal-awal di sini.
“Bi Yemi, liatin si Melody, kok belum bangun ya? Jangan-jangan sakit?” Zeff akhirnya melalui si bibi ingin mencari tahu keberadaan Melody.
“Iya, den… bentar ya,” si bibi naik ke lantai atas.
Semalam Zeff mengamati perilaku aneh dari Melody, dan membuat dia berpikir di sepanjang setengah malam tentang Melody yang begitu mencintai Max. Ini mengganggu dirinya, cewek dengan cinta sekuat itu pasti susah untuk move on.
Ini dia alami juga bagaimana Gracia masih begitu mengharapkan mereka kembali bersama, setiap hari masih mengirim chat atau menelpon.
Bila ada Melody di sisinya dia tidak merespon, tapi bila sedang sendiri kadangkala dia masih membalas chat Gracia entah dengan sebuah stiker atau jawaban pendek. Tapi sedapat mungkin dia tidak mengangkat lagi jika Gracia menelpon. Dia tidak ingin memberi harapan lagi sebenarnya, tapi kadangkala perasaan tidak tega muncul begitu menguasai.
Dan sekarang dia mengkuatirkan keadaan hati Melody yang menurutnya hanya menyembunyikan kesedihannya. Dia lebih menginginkan melihat Melody yang tidak menutupi sedihnya sehingga dia bisa menghibur dan memberikan topangan tidak ingin Melody jatuh terpuruk dalam kesedihannya. Sekarang mana bisa? Cewek itu bersikap ajaib? Mana ada cewek sehabis putus nyanyi-nyanyi senang?
“Gimana bibi? Melody sehat aja kan?” serbu Zeff begitu bi Yemi turun muncul di ruang makan.
“Bibi gak tahu sih, tapi non Mel jawabnya mau mandi dulu, kayaknya Non Mel baru bangun,” bi Yemi menjawab sopan.
Dia tidak tidur semalaman atau apa? Berarti bener dia sedang depresi, kasihan. Zeff membatin semakin prihatin, muncul niat untuk melakukan sesuatu.
Saat Melody masuk ke ruang makan, Zeff terperangah.
“Mel? Kata bi Yemi kamu mau mandi? Kayaknya belum deh,” Zeff heran melihat tampang bangun tidur Melody, yang sudah berkali-kali dilihatnya.
Melody hanya mengerucutkan bibirnya. Tadinya dia memang ingin mandi, tapi kemudian perutnya bergetar, alarm lapar berbunyi, maka dia memilih mengisi perut lebih dahulu setelahnya baru bersiap ke bandara, untuk sebuah perjalanan menjemput masa depan kelabu miliknya.
Kenapa kelabu, sebab dia tidak punya gambaran apapun mengenai pernikahan ini, dia hanya menjalani apa yang telah diatur untuknya, bukan karena tidak punya tujuan sendiri. Tapi semua rancangan masa depannya hanya berisi Max dan ketika Max pergi, tujuan masa depan tentang pernikahan seketika menjadi kertas kosong.
Itulah sebabnya dia seolah bersikap menyetujui saja rancangan yang sedang dipersiapkan untuknya bersama Zeff. Hanya setiap kali dia mengingat tentang cinta, dia menjadi sakit hati karena dia takut menghadapi pernikahan tanpa adanya ikatan emosional yang paling penting dalam hubungan sakral seperti itu.
Zeff yang sedang menunggu respon Melody kembali diserang rasa kuatir. Melody jadi hemat kata, dan tumben tidak menjawab.
“Mel… kamu baik-baik aja kan?” Zeff memandangi dengan lembut, sekarang berpindah duduk di samping Melody, ingin berada lebih dekat.
Melody hanya mendelik, terlalu lapar sehingga memilih tidak menanggapi Zeff tapi meraih piring berisi omeletnya.
“Bi Yemi, buatin satu lagi dong omeletnya,” Melody tiba-tiba merasa tidak cukup hanya dengan satu porsi, ada masa tertentu dia akan minta dibuatkan satu lagi.
Tapi Zeff menafsirkan berbeda, semalam Melody juga makan dengan porsi besar, berlanjut pagi ini. Perasaan untuk berbuat sesuatu demi kenyamanan Melody bertambah di hati. Sepertinya rasa sayang yang pernah dia miliki untuk Melody akhir-akhir ini dalam kebersamaan mereka itu tumbuh lagi dengan cepat.
Dia memang melupakan perasaan itu saat bertemu Gracia, kini perasaan itu hidup lagi. Mungkin malah memang perasaan itu tetap tersimpan di hati dan menjadi alasan dalam niatnya untuk menikahi Melody.
“Sayang? Aku kuatir loh, kamu kenapa-napa…” Zeff mengelus pipi Melody.
Melody terkesiap, kadang masih risih dengan tindakan Zeff.
“Anyaaa, emang aku kelihatannya bagaimana di matamu? Sejak semalam kamu itu terlalu perhatian. Aku baik-baik aja oke? Jadi biarkan aku sarapan dengan tenang oke? Aku lapaaaar, ngerti?” Melody berkata gusar sambil menyingkirkan jari Zeff.
“Harusnya kamu gak baik-baik aja menurutku, makanya aku kuatir, kamu kayak hanya menyembunyikan perasaan kamu yang sebenarnya, aku lebih suka kamu blak-blakan dengan apa yang kamu rasakan, seperti kamu yang biasanya…”
Tatapan lekat Zeff padanya membuat Melody menggeleng tak mengerti. Saat mulai mengunyah sarapannya, Melody kemudian berpikir, peristiwa semalam membuat Zeff mengkuatirkan dirinya. Melody melirik dan menemukan tatapan Zeff belum berubah. Sepertinya dia harus memberikan penjelasan lebih panjang sekarang.
Melody menghadap ke arah Zeff.
“Zeff… denger ya, please percaya kalau aku beneran gakpapa. Aku putus dari Max semalam memang masih terasa sedih, tapi udah seharusnya seperti itu. Jujur kalau gak ada kamu, mungkin kami gak akan putus. Tapi aku lega sebenarnya, karena mencintai Max bukan hal yang baik buatku. Jadi aku akan belajar melupakan cintaku. Jadi… sana jauh-jauh, aku gak ingin diganggu,” Melody mengibaskan tangannya meminta Zeff menjauh.
Sedikitnya ada rasa lega karena Melody ternyata bisa bertindak dewasa menyikapi cintanya, tapi Zeff belum sepenuhnya percaya bahwa Melody baik-baik saja.
Walau Melody bisa menerima kenyataan, tapi seperti mencabut akar yang tertancap dalam ke tanah akan membuat tanah di sekitarnya terbongkar, pasti mencabut paksa cinta yang telah begitu dalam di hati akan berdampak bagi keadaan Melody.
Tapi kemudian Zeff memilih untuk mengikuti saja permintaan Melody, menekan rasa kuatirnya, siapa tahu justru Melody sendiri yang telah belajar menangani perasaannya dan kekuatirannya terlalu berlebihan.
“Oke, aku percaya kamu, tapi kalau kamu butuh teman cerita, aku siap jadi temanmu, ya?” Lembut suara Zeff, sungguh dia begitu mendalami peran barunya ini.
“Aku punya teman Anya, dan kamu itu bukan temanku, tapi calon suami. Kayaknya kamu sendiri yang suka amnesia mengenai status kita,” Melody menjawab tanpa berpikir.
Dan itu sebuah pengakuan verbal yang semakin jelas dari mulut Melody, ini lonjakan yang patut dirayakan, spontan Zeff memeluk Melody dan menciumi pipi Melody beberapa kali.
.
🐧🩷🐧
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Bunda Titin
gpp msh gengsi si Mel,. yg sabar ya Zeff.........sedikit demi sedikit lama2 menjadi bukit..........😆😆😆😆😆😆😆😆
2024-04-15
0
Sri Astuti
tanpa sadar Mel pelan" mulai cinta Zeff
2024-03-16
0