Bukan sebuah momen yang dinantikan juga karena keterpaksaan harus ikut menyambut tamu, maka Melody hanya menggunakan blouse katun longgar warna hitam dan celana longgar hitam.
Sama sekali tidak ingin tampil cantik, wajah polos tanpa bedak serta rambut panjangnya hanya dicepol tanpa disisir di belakang, sengaja seadanya saja.
Dan hati gadis ini sedang galau karena Max sang kekasih marah dan menonaktifkan ponselnya. Di tengah upaya menghubungi Max bi Nah mengetuk pintu…
“Non Mel, diminta ibu turun… tamunya udah dateng…”
"Uhh," Melody mengeluh pendek dalam gusarnya.
Mamanya mengulang-ulang soal kebaikan Om Bastian dahulu waktu mama dan papanya tour ke tanah suci, Melody mengalami kecelakaan jatuh dari motor saat dibonceng Henry pacarnya waktu SMP. Melody tidak memakai helm dan mengalami gegar otak dan luka-luka yang lumayan parah.
Dalam keadaan tidak berdaya di rumah sakit om Bastian dan tante Meisy lah yang merawat dirinya hingga orang tuanya pulang.
Hubungan dekat membuat dia seperti anak perempuan bagi mereka, jadi tidak mungkin tidak mengacuhkan kehadiran mereka di rumah ini.
Melody turun, dari ujung tangga suara tante Meisy sudah terdengar. Melody melangkah hampir tidak berbunyi hingga di ruang keluarga.
Yang tertangkap matanya mamanya sedang bercakap seru dengan om Bastian dan tante Meisy, dan si Zeff duduk dengan dua siku bertopang pada pahanya sambil memainkan ponselnya.
Mama yang duduk menghadap ke arahnya segera bersuara...
“Mel… udah ditanyain Meisy loh, dari tadi,” mama sambil senyum dengan tangan bergerak meminta putrinya lebih mendekat.
Tante Meisy dan om Bastian serentak menoleh ke belakang, senyum segera merekah di wajah mereka bahkan tante Meisy berdiri sambil mengembangkan dua tangan dan saat Melody lebih dekat, tante yang punya kulit eksotik karena berasal dari bagian Timur negara ini segera memeluk Melody.
“Sayang, tante kangen banget,” tante Meisy mencium dua pipi Melody.
“Aku juga tante,” Melody menjawab formal.
Sesaat matanya memandang ke arah Zeff, pria itu tidak teralihkan dari ponselnya, tidak ada sikap menyambut Mel, melirik dirinya saja tidak.
“Melody…” Om Bastian menarik lembut tangan Melody lalu memeluk dengan erat dan saat melepaskan tubuh Mel tangan om Bastian segera mengusap kepalanya.
Melody tersenyum membalas wajah sumringah om Bastian dan tante Meisy yang terlihat sangat senang bertemu dengannya.
“Kamu ternyata secantik ini sekarang, sayang,” tante Meisy kembali meraih tangan Melody.
“Ahh, biasa aja tante… kayaknya aku gak berubah deh…” Melody menjawab lebih ramah sekarang.
Kehangatan om Bastian dan tante Meisy menyusupkan sedikit damai di hatinya, galau sedikit tergantikan dengan ungkapan sayang yang dia rasakan dari mereka.
“Zeff? Kamu tidak menyapa Melody?” Tante Meisy meminta perhatian putranya.
Zeff mengangkat muka menatap Melody satu detik, “hai…” sapa Zeff pendek dan datar saja tanpa senyum lalu kembali fokus pada ponselnya.
Melody mengernyitkan dahi. Gitu doang?
“Zeefff??” Suara tante Meisy naik dan bertambah tekanannya.
Zeff mengerling tak acuh.
“Kenapa diam aja, Zeff? Kamu pura-pura tidak mengingat Melody, atau apa sih?” Tante Meisy berkata sebal melihat sikap putranya.
“Ingat kok, tadi diajak ke sini untuk ketemu si Melow ini aja kan… udah ketemu, apalagi?” Zeff menjawab maminya dengan ketus.
Melody tersenyum senang, membaca gelagat Zeff, sepertinya dia tidak menyukai bertemu Melody, sangat mungkin Zeff tidak menyukai ide perjodohan sebenarnya, sama sekali tidak terlihat antusias seperti kata mamanya sebelum ini.
Maka saat para orang tua sudah berpindah ke ruangan yang lain, pastinya sengaja meninggalkan mereka berdua saja, Melody tanpa sungkan duduk di samping Zeff.
Melody merasa tidak pada tempatnya untuk menjaga jarak, karena ingin mendapatkan pengakuan verbal dari Zeff untuk menolak rencana orang tua mereka.
Hati menjadi semakin tenang sekarang karena tidak akan ada kejadian dia harus putus dari kekasih tersayang, tidak akan sanggup dia melepaskan Max, sudah cinta secinta-cintanya.
“Hai… Anya, senang deh bisa ketemu, kamu ngapain?” Melody ikut melongok ke ponsel Zeff.
Zeff menggeser posisinya dan sedikit menjauhkan ponselnya karena kepala Melody begitu dekat dengan lengannya. Zeff hanya mendelik, nyata sekali dia tidak menyukai keakraban yang dimulai oleh Melody.
“Main game?” Melody kembali melongok, kali ini sengaja menempelkan pipinya di lengan Zeff, pura-pura bodoh.
Bukannya tidak membaca ketidaksukaan Zeff, sebaliknya justru ingin membuat Zeff semakin jengkel, ide konyol itu harus runtuh malam ini saja.
“Pindah! Apa sih nempel-nempel, murahan banget,” Zeff mendengus dengan sorot mata tajam menyertai terarah di wajah Melody
Kalimat merendahkan bernada ketus si Zeff membuat Melody emosi. Tapi misinya masih butuh lebih banyak sikap jengkel si pria tampan ini, yaa Melody harus mengakui Zeff yang sekarang nilai ketampanannya di atas Max, mamanya memang benar tentang ini.
“Ya ampun Anya, sok jaim kamu ahh,” Melody memukul pelan lengan Zeff sambil meredam emosinya.
Zeff tak menggubris.
“Anya… kamu gak cocok deh dengan ekspresi cool seperti ini, gak banget Anya,” rajuk Melody, masih ingat persis karakter Zeff yang humoris dan periang dan selalu menyenangkan.
Dan segera mimik Zeff yang datar dengan aura dingin membuat Melody tertawa.
“Aku gak suka ya, Anya Anya! Jangan sok akrab!” Zeff melirik tajam konsisten bersikap ketus.
“Hah? Bukannya emang kita dulu kayak gini?” Melody agak terperanjat, matanya membulat.
“Itu dulu, sekarang beda!” Zeff berkata penuh penekanan setiap katanya, dan ekspresi dingin semakin kental. Zeff berpindah ke tempat duduk lain terlihat sengaja menjauh, terbaca raut jijik di ekspresi cowok itu.
“Astaga Anya… apa bedanya dulu dan sekarang, kita saling kenal dan saling tahu,” hati Melody mulai ciut, jangan-jangan Zeff memang telah berubah.
“Zeff! Sebut namaku dengan benar… dan silahkan menyingkir jauh-jauh sana, aku gak butuh ngomong atau kenal kamu! Paham??”
Melody tersentak, Zeff bersikap sangat dingin dan kasar, benar-benar berubah jauh dari Zeff yang dia ingat.
Meskipun dia ingin membuat Zeff jengkel, tapi hatinya sedikit sakit karena dulu Zeff dan dirinya berteman baik dan begitu dekat, ternyata ada perasaan sedih di dada saat Zeff menolak itu sekarang.
“Ya udah,” Melody bangkit dan meninggalkan Zeff dengan wajah cemberut. Dia juga harus menetapkan batas yang sama dengan cowok itu, tidak akan ada sikap akrab lagi ke depannya…
Kamu jual aku beli! Melody membatin.
Sambil melangkah ke arah ruang makan, Melody antara lega karena jika Zeff bersikap seperti barusan, dia tidak perlu susah-payah maka rencana orang tua akan gagal dengan sendirinya.
Tapi jika mau jujur, terlepas dari konteks perjodohan ada bagian hatinya yang kecewa Zeff menjaga jarak, kecewa dengan sikap dingin Zeff.
“Hahahaha…”
Suara tawa yang tiba-tiba pecah di belakang Melody membuat Melody memutar lehernya, si pria tampan itu sedang terkikik senang sambil menatap Melody, segera rasa heran muncul dalam raut wajah Melody.
“Apa sih? Aneh deh?” Melody berkata gusar, hanya mereka berdua yang ada di sini, dan si Zeff sedang memandang padanya.
Apa yang membuat dia tertawa seperti itu?
Melody telah terlanjur menarik garis di antara mereka, makanya Melody melangkah pergi memilih tidak mengacuhkan alasan Zeff tertawa.
Tapi tubuh Melody sedikit tersentak, ada rangkulan tangan Zeff mampir di pundaknya. Melody memandang dengan gusar dan terheran-heran. Zeff masih saja tertawa.
“Kamu lucu, Melow… bener-bener lucu, ” Zeff berkata kemudian, dua bibirnya masih tertarik melebar tanda tawa belum hilang sepenuhnya.
“Kamu kesambet ya? Jadi aneh,” sergah Melody, berhenti dan melepaskan rangkulan Zeff sambil menatap tanpa kedip.
“Hahahaha… kena kamu Melow,” Zeff terlihat sangat hepi bisa mengusili Melody.
Cowok ini normal kan ya?
Rasa heran belum pergi hingga Melody menahan tatapannya masih memandang Zeff yang benar-benar berhasil memperdaya Melody.
Zeff segera mengendalikan dirinya, cukup sudah bersikap jahil pada Melody, tersenyum kalem sekarang, dengan sikap tubuh yang lebih tenang.
"Apa kabar kamu, Melow?” Sambungnya kemudian, kali ini dengan sikap yang menyenangkan, tersenyum hingga ujung matanya menyipit.
“Gila kamu… aku pikir beneran kamu gak sudi kenal aku lagi,” berkata manyun, Melody belum benar-benar pulih, Zeff berhasil ngeprank dirinya.
“Haha, pengen tahu aja gimana reaksimu kalau aku bersikap seperti itu… eh udah melow aja,” Zeff kembali tertawa, tapi kali suara tawanya terdengar kalem, dan fiturnya wajah yang terbentuk terlihat sangat menarik.
Ahhh… Melody menggeleng mengibaskan perasaan aneh akibat beberapa detik menikmati ekspresi Zeff yang tertawa padanya.
“Sumpah, aku kena mental, Anya! Iseng banget sih?” Melody memukul lengan Zeff mengalihkan rasa asing yang menyusup.
Kelakuannya dibalas Zeff dengan satu sentilan di dahinya, tidak terlalu kuat tapi membuat Melody kembali kaget.
“Omaigat Anya, kenapa lagi?” Melody mengusap jidatnya dengan dua jari.
Zeff kembali menyentil jidatnya.
“An…” Bibir Melody ditutup lima jari milik Zeff. Melody mundur sehingga tangan Zeff menggantung di udara.
“Melow… stop memanggil aku dengan cara itu… itu nama perempuan!” Zeff protes.
“Hahaha… namamu terlalu feminin dan selamanya aku akan memanggilmu dengan cara itu… toch kamu juga memanggilku Melow," tawa lepas Melody di sela kalimatnya.
Zeff menatap pasrah, masih ingat semarah apapun dia Melody tidak pernah menggubris, makanya dia kemudian meniru dengan menambahkan huruf w pada Melo.
Tak sadar, keduanya kemudian asyik menceritakan banyak hal. Melody lupa misi awalnya untuk membuat Zeff jengkel, lupa tentang niat untuk menolak perjodohan mereka.
Ketika selesai makan malam, belum ada tanda-tanda keluarga om Bastian akan berpamitan. Mungkin karena lama tidak berjumpa, pengalaman hidup masing-masing belum semuanya diceritakan.
Kembali Melody menemani Zeff di ruang keluarga, kali ini sikap mereka berdua lebih santai dan tentu saja lebih akrab.
“Kamu masih berduka ya karena kepergian om Yan?” Zeff bertanya simpatik. Dia dan orang tuanya tidak bisa datang waktu sahabat papanya berpulang.
“Yaa… masih. Belum lama kak Nada pergi ehh papa nyusul… masih sedih sih, udah gak ada papa sama kakak,” Melody menjawab sendu.
“Tuh ada pengganti papamu, papiku sayang banget sama kamu, ada aku juga bisa jadi kakak buatmu,” tangan Zeff mengacak pelan puncak kepala Melody.
Melody terpana, begitu menyenangkan mendengar ucapan Zeff. Melihat itu Zeff ganti menyentil jidat Melody.
“Apa sih, diusap aja kek, sakit Anya…”
“Haha, biar tampang sedihmu hilang…”
“Emang sejelas itu?”
“Iya, dan kamu terlihat jelek. Kamu masih menggunakan pakaian hitam juga, suram banget,” ujar Zeff bersimpati dan sekaligus meledek Melody.
Oh, padahal maksudnya memilih warna ini agar dia tidak terlihat menarik malam ini. Melody jadi ingat tentang apa yang paling penting malam ini.
“Anya… kita…”
Kalimat Melody terpotong dengan bunyi suara ponsel Zeff.
Karena duduk berdekatan Melody dapat melihat id pemanggil, Mine, ini menunjukkan sesuatu, Melody bisa langsung menebak itu siapa.
Zeff menjawab panggilan…
“Babe…”
“Aku tungguin loh dari tadi, kok kamu gak menelponku?”
“Kan udah aku bilang ada urusan keluarga, nanti aja aku telpon ya, bye…”
.
Melody tersenyum, mendengar sapaan Zeff pada si penelpon.
Haha dia ternyata punya pacar.
Yakin sekarang bahwa ide perjodohan sudah kehilangan fondasinya.
.
🐧🐧
.
Hai hai dear readers, senang bisa menulis lagi. Pa kabarnyaaa?
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Bunda Titin
baik Aby,. cuma pasca lebaran kemaren aku jatuh di dpn kamar mandi trus jd meriang dech,. paksu jd protektif banget hrs istirahat total..........aku seneng banget bisa ketemu kamu LG,. tetap semangat ya n salam sayang dr jauh..........🙏😊🥰
2024-04-13
0
ein
baik kabar....
senang ketemu Aby lagii.. 😍
2024-03-03
1
Sri Astuti
cuma ortu yg punya mau
2024-03-01
1