AAC □ 7. Ternyata Ada di Dunia Nyata

Sore, mendekati jam lima, Melody masih berkutat dengan urusan keuangan di toko paling besar yang ada di sebuah jalan utama kota ini.

Bangunan toko merupakan ruko tiga lantai berjumlah lima unit. Satu unit khusus untuk usaha oleh-oleh provinsi ini, dan empat unit digunakan untuk usaha roti dan kue, karena di sini jadi pusat pengolahan atau dapur juga jadi kantor untuknya.

Dia punya satu staff untuk administrasi di tiap toko dan dua orang staff yang menangani keuangan, tapi menjelang akhir bulan dia memilih turun tangan memeriksa soal keuangan.

Sejauh ini bisnisnya lancar jaya, bisnis roti dan kue tidak pernah sepi, begitu juga bisnis oleh-oleh khas provinsi ini. Usaha kue dan roti sudah punya empat toko di kota ini, sementara toko oleh-oleh hanya ada satu tetapi omzetnya lumayan.

“Ci Mel, ada yang nyari,” Oshin membuka pintu ruangan kantor Melody.

“Siapa?” Singkat Melody tanpa memutus pandangan dari monitor. Ada setumpuk nota yang diperiksa lagi dengan teliti sambil mencocokkan dengan data yang sudah diinput staffnya.

“Saya sungkan bertanya ci Mel, baru sekali ini ke sini… tapi ganteng sih, ci Mel,” Oshin tersipu dengan jawaban terakhir dari bibirnya.

“Cowok?” Melody masih dengan sikap yang sama.

“Iya,” pintu tertutup lagi, dan Melody segera lupa saking serius dengan pekerjaannya.

Sepuluh menit kemudian, Oshin si karyawan bagian melayani customer kembali masuk, “ci Mel, ditungguin tamunya loh.”

“Hahh? Oh iya aku lupa, udah kamu tanyain siapa?” Melody kali ini menatap Oshin.

“Maaf ci, saya gak sempat nanya siapa dia,” Oshin langsung menghilang karena toko sedang ramai-ramainya sore begini, dia harus membantu di cashier.

Di toko, di area yang ada beberapa kursi yang disediakan untuk para customer yang memerlukan, Zeff tidak sabar menunggu Melody keluar.

“Boss kalian lagi apa sih?” Zeff bertanya pada seorang karyawan pria dengan kepala terbungkus berseragam atasan putih dan celana coklat tua yang sedang menambah stok roti.

“Saya gak tahu kak, ehh Oshin, udah kasih tahu ci Mel ada tamu kan?” Si karyawan menjawab Zeff dan langsung bertanya pada temannya.

“Udah sih, bentar ya kak… ci Mel memang lagi sibuk,” si Oshin menjawab sambil melepas senyum untuk Zeff.

“Saya masuk aja ya?” Zeff tidak sabar lagi menunggu.

“Oh iya, aduuh, maaf kak saya lupa suruh kakak naik… silahkan,” Oshin cengengesan lupa membawa tamunya naik ke ruang tamu.

Zeff pun masuk ke pintu yang menuju ke bagian belakang, memindai ruangan memanjang mencari arah.

Ada tangga dan toilet di bawah tangga, dan ada semacam lift tanpa pintu dengan rak bersusun, dua orang karyawan sedang mengeluarkan baki-baki berisi kue dan roti dan menempatkannya di rak lain yang memanjang sepanjang sisa ruangan itu.

Zeff langsung ke lantai dua, bertemu ruangan bercat warna sage semacam lorong selebar dua meter yang juga memanjang, isinya seperangkat sofa warna senada dengan dinding dan pantry mungil. Di dinding secara artistik tergantung beberapa foto besar produk andalan usahanya.

Ada dua pintu berjejer di kiri dan dua lainnya di kanan. Zeff secara acak memilih pintu yang terlihat berbeda mencirikan wanita karena ada hiasan tergantung di sana.

Pintu terbuka. Dua pasang mata saling menatap, Zeff dengan ekspresi datar dan Melody membelalak, kaget Zeff muncul di sini, baru ingat Zeff sampai sore ini. Tanpa disuruh dan tak bersuara Zeff duduk di sebuah kursi depan meja kerja Melody.

Beberapa detik saling pandang, dan tiba-tiba Melody merasa jengah oleh pandangan lekat Zeff, Melody segera mengalihkan netranya ke monitor putih besar.

Dalam hati ada rasa was-was, wajah cowok di depannya terlihat tidak ramah, Melody tidak meladeni komunikasi yang dia bangun belakangan.

Marah? Atau mau ngeprank lagi jangan-jangan... Melody bersuara dalam hati.

Beberapa waktu tak mendapatkan sapaan atau perkataan apapun dari Zeff, Melody penasaran mengangkat muka lagi dan menelisik sejenak wajah Zeff. Dia belum bisa menebak sikap Zeff, ini baru pertemuan kedua mereka.

Zeff sedang serius menatap ponselnya, Melody canggung untuk memulai percakapan. Akhirnya membiarkan cowok itu.

Terserah dia mau apa di sini. Melody kemudian meneruskan aktivitasnya lagi.

“Masih lama?”

Tiba-tiba Zeff mengeluarkan bunyi juga, dua puluh menit mereka diam-diaman.

“Ehh… Hahh? Apa?” Melody masih canggung saja.

“Ikut aku,” Zeff berdiri lalu memutar ke belakang Melody.

“Ini tas kamu kan?” Dengan cekatan Zeff mengambil ponsel yang dia pastikan milik Melody, memasukkan ke dalam tas kecil hitam bertali panjang.

“Eh, mau apa sih kamu?” Melody melotot ke arah Zeff yang berdiri begitu dekat, meraih tasnya tapi Zeff justru mengalungkan tali tas itu ke lehernya.

Dalam situasi berbeda Melody pasti akan tertawa ngakak, ini sih meniru adegan bintang Drachin, tapi cerita hidupnya dan si Zeff ini berbeda jauh dengan drama itu.

“Aku laper, belum makan siang, temenin aku makan… ini kunci mobilmu kan?” Zeff berkata dengan nada suara dan ekspresi yang belum bisa ditebak Melody. Tapi jika bicara tentang perut yang lapar tidak mungkin si Zeff mau ngeprank kan?

Kunci mobilnya di tangan Zeff sekarang.

“Serius belum makan siang?” Melody memastikan.

“Iya, perutku udah mulai gak nyaman, makanya ayo, aku gak tau tempat makan di sini…”

“Sekarang?” Melody sengaja bertanya lagi, masih ragu untuk mengikuti keinginan Zeff, ini mau keluar berdua ceritanya, aneh rasanya.

Dan pertanyaan itu justru membuat Zeff geregetan, tangannya segera menyentil jidat Melody.

“Iya sekarang Melow, makanya cepetan, nanti kita balik ke sini lagi deh kalau kamu mau nerusin kerjaan,” intonasi suara Zeff nyata sedang menahan gemasnya.

“Apa sih? Mulai deh, tanganmu itu ya, jangan sembarang sentuh-sentuh... iihh,” Melody kesal.

Zeff justru mengusap dengan ibu jarinya jidat yang tadi disentilnya. Melody menjauhkan kepalanya, tapi tangan si Zeff malahan nangkring menahan kepala Melody dan menatap dengan tatapan menguasai.

”Catat ya Melow, mulai sekarang jangan coba menjauh atau menolak sentuhanku, biasakan menerimanya, bahkan lebih dari sentilan, oke?”

Dua makhluk itu saling tatap beberapa second dan dua-dua merasakan jengah dan gugup. Mengalihkan rasa di dada tangan Zeff menyentil lagi.

“Anya ihh, lama-lama aku gegar otak kamu gituin terus,” Melody menyingkirkan tangan Zeff lalu memijat sendiri.

“Sakit?” Kali ini bertanya dengan ekspresi terlihat merasa bersalah, tubuhnya sedikit membungkuk memperhatikan Melody.

“Sakit lah, ihh sana jangan deket-deket,” Melody mendorong bahu Zeff.

“Kita harus deketan terus biar chemistrynya nyambung, ayo ahh, aku udah lemes nih, pagi aku sarapannya pasta gak banyak…”

“Iihh, males banget deket sama kamu,” Melody dengan cerocosan yang sesungguhnya menutupi gejolak hati yang kesetrum saat Zeff menyebut chemistry. Entah apa sekarang rasa yang lahir, tapi sikap Zeff memancing dirinya untuk bersikap lepas sekarang, gak mungkin menahan perasaan jengkel untuk cowok itu.

“Apalagi yang mau dibawa?” Zeff melihat-lihat meja lalu mengambil dompet dan sebuah tas kecil berisi make up, “ini gak muat semuanya…” Zeff coba memaksakan memasukkan semua barang ke dalam tas kecil itu.

“Sini, kenapa sih sampai segitunya ngurusin barang-barang aku,” sinis Melody.

“Mulai sekarang, aku bakal ngurusin semua tentang kamu, Melow,” Zeff menjawab cool.

Duuh, kenapa nih cowok jadi aneh sih?

Dalam semua campuran rasa yang mendadak hadir bersama munculnya Zeff ditambah kegalauan karena Max, Melody mengembuskan napasnya perlahan, tak tahu harus apa, hanya bisa mengikuti keadaan yang mendatangi.

Melody akhirnya berdiri dan mengambil tasnya yang besar, merapihkan benda-benda yang selalu dia bawa termasuk mengambil tas make up yang masih di tangan Zeff.

“Udah? Komputer gak dimatiin?” Zeff mengambil juga tas besar yang dipegang Melody.

Cowok ini sedang apa? Mau jadi kuli angkut atau apa? Melody ganti mulai merasa geli, sikap cowok yang seperti ini ternyata ada di dunia nyata. Melody mencoba mengambil tasnya tapi Zeff tak mengelak malahan mematikan power komputer, lalu menarik tangan Melody.

“Anya ihh… aku bilang jangan sentuh-sentuh ihh… aneh tau gak,” Melody mencoba melepaskan tangan Zeff.

“Aku bilang, jangan menolak apapun… kita pasangan sekarang, gak aneh kayak gini…”

“Pasangan dengkulmu Anya, gak ada!” Suara Melody terdengar semakin jengkel.

Zeff berhenti tepat di ambang pintu dan langsung memutar tubuhnya, mereka bertubrukan sesaat dan secepatnya Melody menjauh.

“Melody Christania, kamu itu calon istriku, hubungan kita harus dibawa ke sana, jadi jangan protes atau menolak aku lagi, termasuk semua cara aku memperlakukanmu, paham?” Dengan tegas Zeff mengatakan kalimatnya.

Melody tergugu, tatapan dan suara serius Zeff membuat dirinya freeze di tempatnya. Dia membaca sikap Zeff yang berbeda, bukan Zeff yang selalu sembarangan, asal-asalan dan ngomong seenaknya, mulai paham sekarang bahwa Zeff yang dia hadapi kini berbeda.

Melody yang diam membuat Zeff kembali menarik cewek itu untuk meneruskan langkah. Beberapa langkah di ruang warna sage Zeff berhenti…

“Pintu ruanganmu gak perlu dikunci?” Zeff bertanya.

“Eh iya… itu eh, kuncinya di tas besar.” Dengan resah Melody menunjuk tas di tangan Zeff yang lain. Zeff melepaskan genggaman pada tangan Melody lalu merogoh-rogoh ke dalam.

“Sini…” Melody mengambil tasnya lalu mengambil sendiri dan mengunci pintu, segera setelah itu tas kembali berpindah tangan dan Zeff kembali menggenggam tangannya dan menarik lembut.

Perasaan berganti-ganti menyapa dadanya, melihat Zeff dari belakang dengan dua tas miliknya yang menghiasi tubuh cowok itu, lucu rasanya, dan melihat tangan besar yang memegang lembut tangannya menghadirkan rasa yang lain.

Duhh, Melody jadi bingung bagaimana bersikap menghadapi determinasi cowok itu pada dirinya, entah kenapa Melody jadi gak bisa melawan sekarang.

Pikiran yang melintas, ini akan menjadi pemandangan teraneh di mata karyawannya yang tahu siapa kekasih Melody, beberapa karyawannya suka dia minta mengirimkan kue dan roti untuk Max.

Benar saja, ketika melewati ruangan toko…

“Gaspoll Ci Mel, yang ini lebih oke,” Stenly si kepala toko berkata di belakangnya, ditimpali dengan suara mengiyakan dari beberapa karyawan yang lain.

Memang sih, sikap Zeff memperlakukannya dalam lima menit ini saja jika dibandingkan dengan Max belakangan, Zeff jadi lebih seperti kekasihnya. Apa yang sementara terjadi? Apa dia harus menganggap seperti itu dan memilih Zeff saja?

.

🐧

.

Terpopuler

Comments

Salsa Sal

Salsa Sal

Zeff gerak cepat, gaskeeuuunnn...../Grin/

2024-07-08

0

Bunda Titin

Bunda Titin

hayuklah di gaskeun tunggu apalagi,. nungguin si Max ?? mau sampe kapan ?? lebaran monyet ???? pepet trs Zeff jangan kasih kendor..........👍👍🙏😊🤭😁

2024-04-14

0

ein

ein

gaskennn Anyaaa..

2024-03-07

0

lihat semua
Episodes
1 AAC □ 1. Mama Menyuruh Selingkuh
2 AAC □ 2. Perjodohan Kehilangan Fondasinya
3 AAC □ 3. Kamu Akan Mengerti
4 AAC □ 4. Jangan Desak Aku
5 AAC □ 5. Sahabat yang Sesungguhnya
6 AAC □ 6. Ke Mana Arah Hubungan
7 AAC □ 7. Ternyata Ada di Dunia Nyata
8 AAC □ 8. Calon Suami tapi Bukan Pacar
9 AAC □ 9. Aku Norak
10 AAC □ 10. Otoritas
11 AAC □ 11. Step yang Terbalik
12 AAC □ 12. Lupakan Max
13 AAC □ 13. Harus Ada Cinta
14 AAC □ 14. Meraih Keyakinan
15 AAC □ 15. Menuntut Sebuah Akhir
16 AAC □ 16. Tidak Menghargai Cinta
17 AAC □ 17. Kita Putus!!
18 AAC 18. Keadaan Hati
19 AAC □ 19. Go Public
20 AAC □ 20. Peran Baru
21 AAC □ 21. Semua Lelaki Sama
22 AAC □ 22. Kartu Hitam
23 AAC □ 23. Jaga Jarak Aman
24 AAC □ Part 24 Alasan Paling Hakiki
25 AAC □ Part 25. Jangan Urusin Mantanku
26 AAC □ 26. Gracia
27 AAC □ Part 27. Gaun Pengantin Warna Merah
28 AAC □ 28. Ciuman dan Roti
29 AAC □ 29. Alasan Tidak Memilih
30 AAC □ 30. Bukannya Sudah Putus?
31 AAC □ 31. Cinta yang Aku Inginkan
32 AAC □ 32. Aku Ingin Menikah dan Bahagia
33 AAC □ 33. Mulai Tidak Rela
34 AAC □ 34. Interogasi Calon Istri tentang Mantan
35 AAC □ 35. Romantis
36 AAC □ 36. Mulai Belajar
37 AAC □ 37. Perjanjian Lucu-lucuan
38 AAC □ 38. Sebuah Kalimat Sederhana
39 AAC □ 39. Kamu Banget
40 AAC □ 40. Aku yang Dia Kecewakan
41 AAC □ 41. Membayar Jam Tangan Mantan
42 AAC □ 42. Tidak Harus Bergantung
43 AAC □ Part 43. Kamu yang Mulai
44 AAC □ 44. Genting dan Penting
45 AAC □ 45. Kegalauan Bertahta
46 AAC □ 46. Terorr Baru
47 AAC □ 47. Mengalihkan Rasa
48 AAC □ 48. Sedramatis dan Seromantis ini
49 AAC □ 49. Side B
50 AAC □ 50. Jangan Ragu Lagi
51 AAC □ 51. Ini Tidak Benar
52 AAC □ 52. Kita Sama-sama Tidak Berhutang Apapun
53 AAC □ 53. Ciuman Pedas
54 AAC □ 54. Fitting
55 AAC □ Part 55. Jejeran Mantan
56 AAC □ 56. Si Bunglon
57 AAC □ 57. Rasanya Aku Sayang Kamu
58 AAC □ 58. Memilih Cinta
Episodes

Updated 58 Episodes

1
AAC □ 1. Mama Menyuruh Selingkuh
2
AAC □ 2. Perjodohan Kehilangan Fondasinya
3
AAC □ 3. Kamu Akan Mengerti
4
AAC □ 4. Jangan Desak Aku
5
AAC □ 5. Sahabat yang Sesungguhnya
6
AAC □ 6. Ke Mana Arah Hubungan
7
AAC □ 7. Ternyata Ada di Dunia Nyata
8
AAC □ 8. Calon Suami tapi Bukan Pacar
9
AAC □ 9. Aku Norak
10
AAC □ 10. Otoritas
11
AAC □ 11. Step yang Terbalik
12
AAC □ 12. Lupakan Max
13
AAC □ 13. Harus Ada Cinta
14
AAC □ 14. Meraih Keyakinan
15
AAC □ 15. Menuntut Sebuah Akhir
16
AAC □ 16. Tidak Menghargai Cinta
17
AAC □ 17. Kita Putus!!
18
AAC 18. Keadaan Hati
19
AAC □ 19. Go Public
20
AAC □ 20. Peran Baru
21
AAC □ 21. Semua Lelaki Sama
22
AAC □ 22. Kartu Hitam
23
AAC □ 23. Jaga Jarak Aman
24
AAC □ Part 24 Alasan Paling Hakiki
25
AAC □ Part 25. Jangan Urusin Mantanku
26
AAC □ 26. Gracia
27
AAC □ Part 27. Gaun Pengantin Warna Merah
28
AAC □ 28. Ciuman dan Roti
29
AAC □ 29. Alasan Tidak Memilih
30
AAC □ 30. Bukannya Sudah Putus?
31
AAC □ 31. Cinta yang Aku Inginkan
32
AAC □ 32. Aku Ingin Menikah dan Bahagia
33
AAC □ 33. Mulai Tidak Rela
34
AAC □ 34. Interogasi Calon Istri tentang Mantan
35
AAC □ 35. Romantis
36
AAC □ 36. Mulai Belajar
37
AAC □ 37. Perjanjian Lucu-lucuan
38
AAC □ 38. Sebuah Kalimat Sederhana
39
AAC □ 39. Kamu Banget
40
AAC □ 40. Aku yang Dia Kecewakan
41
AAC □ 41. Membayar Jam Tangan Mantan
42
AAC □ 42. Tidak Harus Bergantung
43
AAC □ Part 43. Kamu yang Mulai
44
AAC □ 44. Genting dan Penting
45
AAC □ 45. Kegalauan Bertahta
46
AAC □ 46. Terorr Baru
47
AAC □ 47. Mengalihkan Rasa
48
AAC □ 48. Sedramatis dan Seromantis ini
49
AAC □ 49. Side B
50
AAC □ 50. Jangan Ragu Lagi
51
AAC □ 51. Ini Tidak Benar
52
AAC □ 52. Kita Sama-sama Tidak Berhutang Apapun
53
AAC □ 53. Ciuman Pedas
54
AAC □ 54. Fitting
55
AAC □ Part 55. Jejeran Mantan
56
AAC □ 56. Si Bunglon
57
AAC □ 57. Rasanya Aku Sayang Kamu
58
AAC □ 58. Memilih Cinta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!