AAC □ 9. Aku Norak

Melody fokus mengendarai kendaraan dengan kecepatan sedang, traffic malam ini masih lumayan padat, Zeff pun duduk tenang di sampingnya, hingga selama beberapa waktu keduanya hanya membisu.

“Mau nginap di hotel mana?” Melody bertanya, melihat beberapa detik lalu kembali konsentrasi ke jalanan.

Dia memaksa membawa mobil, tidak ingin peristiwa tadi terulang saat Zeff yang mengemudi dia terlambat memberitahu arah, terpaksa mereka harus berputar sangat jauh.

“Nginap di rumah lah,” Zeff menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari tabnya, terlihat serius membaca sebuah dokumen sejak tadi.

“Rumah? Emang punya rumah di sini?” Melody mendelik.

“Rumah kamu,” singkat Zeff.

“Hahh? Diih, gak boleh, enak aja,” Melody mengganti transmisi dengan kasar karena kesal. Mana boleh mereka serumah, walau hanya sehari-dua hari dia enggan berada satu atmosfir dengan Zeff.

Melody mengambil sebuah jalan di mana terletak hotel terbaik di kota ini. Di pintu entrance hotel mobil berhenti.

“Turun Anya!!” suara Melody sedikit kasar mengusir Zeff dari mobilnya.

Zeff mengangkat muka dan memandang ke luar mobil, jadi ingat ini hotel tempat dia menginap sebulan yang lalu. Pikirannya segera tahu apa yang ada di kepala Melody.

“Gak! Tante Lina sendiri yang bilang aku menginap di rumahmu, jalan sekarang, tuh ada mobil mengantri di belakang,” Zeff balik menjawab galak sambil mata kembali memandangi tabnya.

Melody yang melihat dari spion meminggirkan mobilnya selanjutnya konsisten berulang-ulang meminta Zeff turun.

“Aku gak suka kamu menginap di rumahku walaupun mamaku memintanya, aku bayarin hotel deh, dua hari aja kan? Ayo turun!” Melody semakin mengeraskan tekanan suaranya.

“Uangku jauh lebih banyak Melody, gak usah memaksaku, kamu gak akan pernah bisa mengubah apapun sekarang,” jawaban hanya disertai lirikan yang disambut decihan kesal dari mulut Melody.

Melody mematikan mesin mobil lalu turun, menuju bagian belakang mobilnya. Zeff masih duduk tenang di jok depan, sengaja tidak menggubris Melody.

Sementara Melody berniat melakukan check in atas nama Zeff dan bakal menarik dengan paksa Zeff turun dari mobil, bila perlu bakal minta tolong security hotel. Saat membuka kap pintu belakang Melody ternganga, memang ada koper Zeff tapi dia tidak akan sanggup menurunkan itu, ada ransel hitam juga.

“Anya???? Kamu mau pindah ke sini?” Terkejut lagi dan lagi. Tadi saat mampir lagi di tokonya Melody langsung menuju ruangannya menyelesaikan pekerjaan hingga tidak melihat Zeff memuat kopernya, yang dia tahu memang Zeff membawa koper dan tak menduga sebesar ini.

Astagaaa. Emang boleh segede ini bawa kopernya?

“Iya, aku akan tinggal lebih lama, aku harus beradaptasi dengan kehidupan bersama calon istriku,” Zeff menjawab santai sambil memalingkan muka menghadap Melody.

“Astagaa?? Kamu mau menyiksaku?” Suara Melody mirip teriakan, tidak peduli ini di tempat publik.

“Gak dong, masa aku mau menyiksa calon istriku sendiri, yang ada aku bakal tunjukin rasa sayang biar kamu segera jatuh cinta padaku,” ujar Zeff, tubuhnya sekarang condong ke arah belakang mobil itu.

Pandangan yang bertemu, sinar terang lampu yang banyak dan besar-besar di area itu membuat Melody bisa melihat raut muka Zeff. Tak ada gurat lain di sana selain tatapan teduh walau tanpa senyum. Pertahanan Melody kembali runtuh untuk kali kesekian.

Ohh mama? Emang boleh dia seserius itu menyikapi semua ini? Dia beneran pindah ke sini? Jatuh cinta padanya? Ihhh…

Melody kehilangan daya untuk melawan Zeff sekarang, dia memutar tubuh dan duduk di bagian belakang lantai mobilnya.

Seorang security datang mendekati.

“Ada yang bisa dibantu?” sapaan ramah laki-laki tegap bersetelan resmi warna hitam.

“Hahh?? Ehh?? Apa??” Bahkan untuk menjawab pertanyaan sederhana si security, menghadapi Zeff Melody kehilangan kemampuan intelektualnya, kehilangan kelihaian untuk unggul dalam debat.

Zeff bergegas turun dan segera menghampiri, “maaf pak, kami akan segera pergi, tidak jadi menginap di sini. Terima kasih atas bantuannya,” Zeff menganggukkan kepalanya sekali.

“Oh begitu, baiklah,” sang security tersenyum ramah sambil mengatupkan tangan di dada lalu segera menjauh.

“Ayo pulang, tante Lina tahu kita udah dalam perjalanan pulang,” Zeff berkata kalem.

Tekad di hatinya untuk menikahi Melody sudah sekuat baja, jadi penolakan Melody yang berulang-ulang akan bakal diladeni dengan hati lapang, dia sudah memprediksi ini karena sedikitnya mulai tahu sifat asli Melody tidak ada perubahan signifikan.

Melody tak mau bergerak, memandangi dua kakinya sambil menahan emosi yang sudah meluap di kepalanya, dia sangat terganggu dengan niat Zeff untuk tinggal di rumahnya. Jika tidak ada perjodohan mungkin itu akan asik-asik aja, karena dulu Zeff bahkan dirinya sering melakukan itu. Tapi kali ini terlalu awkward kan?

Melody menghembuskan napas sesaknya, “kenapa gak berhenti memaksa aku menerima hubungan ini sih? Kalian menyakiti hatiku tau gak sih?”

Kesal, sedih, galau karena Max, kejengkelan bertubi-tubi karena Zeff membuncah.

Semua campuran emosi bermanifestasi dalam dua butir airmata yang meluncur di pipinya. Melody membiarkan, sekalian biar Zeff melihatnya dan tahu bagaimana hatinya menerima situasi sekarang, dia sangat keberatan.

Perasaan Zeff terganggu saat melihat reaksi sedih Melody, tapi Zeff tidak ingin mengubah strateginya untuk menaklukkan hati Melody, tidak boleh lemah dan menyerah pada penolakan Melody.

Dia menginginkan saat menikah nanti paling tidak Melody menerima itu dengan pemikiran yang baik dan dengan hati rela. Cinta dapat tumbuh setelah menikah, dia harap Melody seperti itu.

Lalu setelah menghembuskan napas tak kentara Zeff menjawab, “aku, mami dan tante Lina harus memaksamu, Mel! Udah aku katakan aku punya alasan. Aku yakinkan kamu sekarang, kelak kamu gak akan menyesalinya. Tolong percaya padaku tentang keputusan ini, ini bukan sekedar keinginan mami dan mamamu, ini keinginanku juga…”

Melody memandangi wajah Zeff, bingung dengan pernyataan Zeff, “maksud kamu apa?”

Zeff menatap dalam...

“Memang yang selalu menjodoh-jodohkan kita sejak lama mamiku, ingat gak?” Zeff sedikit senyum di sini.

Melody mencoba mengingat saat keluarga mereka masih sering bertemu….

“Yaa kayaknya aku ingat itu, tapi itu hanya candaan mereka aja kan? Kamu malah suka kesal, gak mau kan dan ledekin aku jelek,” Melody manyun ingat cerita lama.

Zeff meringis mengingat kelakuannya.

“Mamiku serius sejak dulu, Melody. Saat om Yan berpulang mami mulai mengatakan lagi tentang hal itu. Tapi… aku yang kemudian meminta mami sama papi untuk datang menemui kamu dan tante Lina,” Zeff berkata sangat lembut.

“Hahh??” Melody terpana, matanya membulat seluruhnya, lagi-lagi Zeff membuat dia shock dengan pernyataannya, ini yang paling mengejutkan.

Ohh mama??? Dia bilang apa???

“Iya… aku gak bohong, coba tanya mami deh kalau gak percaya,” Zeff terpaksa harus mengatakan tentang asal-muasal ide pernikahan.

Sebetulnya bukan murni dijodohkan, sejak ada ungkapan yang selalu jadi candaan para orang tua dulu, dalam hati dia sebenarnya menginginkan itu juga.

“Jadi? Kenapa begitu tiba-tiba? Kita udah gak pernah ketemu sekian tahun, terus kamu dan orangtuamu tiba-tiba datang dengan ide menikahiku, apa aku bisa percaya ini benar seperti itu?” Melody berkata sambil menegakkan punggung.

Melody tidak melepas pandangan, dia ingin mendengar lebih banyak, justru menjadi penasaran dengan niat Zeff. Tiba-tiba dia lupa sedihnya dan menjadi antusias menyimak Zeff. Zeff tersenyum melihat perubahan pancaran wajah Melody.

“Iya… aku udah bilang kan aku punya alasan? Mami yang mulai menjodohkan kita tapi belakangan aku yang paling menginginkan kita menikah,” walau berkata tegas tapi ada kelembutan saat mengungkapkan kebenaran terkait niatnya.

“Apa? Apa?? Apa alasanmu Zeff? Gak Mungkin cinta kan?? Iya kan??” Melody menggebu-gebu.

Zeff tertawa ketika nada suara Melody yang segera berubah antusias. Tangannya menarik pelan tangan Melody lalu dua tangannya menggeser tubuh Melody hingga dia leluasa untuk menutup kap belakang mobil itu.

“Nanti aku jelaskan, kalau aku bilang sekarang kamu pasti gak percaya,” Zeff masih tergelak melihat ekspresi Melody.

“Apa Anya? Beritahu sekarang aja,” kesal karena sangat penasaran merajai hati Melody lagi.

“Nanti, kamu belum perlu mengetahuinya sekarang… ayo, gak enak diliatin orang kita saling nyatain cinta di sini,” Zeff senyum sambil mengedipkan mata.

“Anya ihhh, siapa yang nyatain cinta, gak banget jatuh cinta sama kamu, aku cintanya ke Max bukan kamu,” Melody membuat wajah garang tapi Zeff justru mencubit pipinya.

“Iya… iya… tapi mulai sekarang aku pastikan perlahan cintamu akan semakin berkurang untuk Max dan akan bertambah untukku,” manis sekali ucapan Zeff, tapi Melody malah membelalak.

“Hahh? Pede amat, astagaaa, emang kamu bisa?” Melody menyingkirkan tangan Zeff dari wajahnya.

“Aku akan membuatmu jatuh cinta, Mel... lihat aja nanti,” tangan si Zeff malah naik lagi membenahi poninya.

Suara Zeff, isi kalimatnya serta sentuhan lembut itu membuat tubuh Melody seperti berhenti melawan, membiarkan Zeff berlama-lama menyentuh bagian kepalanya. Sesaat kemudian sadar lagi...

“Diih… Aku gak pernah dan gak akan menyukaimu Anya!!!” Sambar Melody galak, selain karena penolakan juga reaksi cepat karena jengah telah menikmati apa yang Zeff lakuan barusan.

Dalam hati dia jengkel terhadap dirinya yang berkali-kali tidak bisa menghindari perlakuan Zeff.

Aku kayak cewek-cewek yang jauh dari belaian, diih, aku norak, batin Melody mengasihani diri sendiri.

“Hahaha….” Zeff hanya tertawa. “Aku yang nyetir ya?” Suara Zeff lagi membobol pertahan Melody. Enak sekali suara Zeff di telinga Melody sekarang.

Melody jadi membiarkan Zeff merangkul membawa tubuhnya ke pintu kursi penumpang. Melody tidak sempat untuk protes pada beberapa perlakuan Zeff padanya, membukakan pintu, membantu dia duduk, memasang seatbelt, Melody hanya bisa menerima dengan perasaan hati yang tidak bisa dia definisikan.

Semakin ke sini, semakin banyak yang dia dengarkan tentang pikiran Zeff mengenai perjodohan, mengenai pernikahan dan mengenai dirinya, sesungguhnya ada bagian di hati Melody mulai menilai tentang Zeff dan semua sikapnya, sejujurnya dia mulai dapat menerima semua perkataan Zeff.

Tapi di sisi lain ada keraguan bahwa Zeff akan sekuat ini mengejar pengakuan dan penerimaannya bahkan Zeff mulai bicara tentang cinta yang bisa saja hadir di antara mereka. Tapi, dia takut suatu saat Zeff akan berubah, dulu Max juga seperti itu kan? Dan jika bicara tentang cinta, di hati ini masih ada cintanya untuk Max, masih bulat penuh.

.

🐧🦔

.

Terpopuler

Comments

Bunda Titin

Bunda Titin

jangan membandingkan Mel jalani aj dl,. ga semua cowok kyk Max.........seperti kata Rahel siapa tau Zeff adalah jodohmu ..........🙏😊

2024-04-14

0

Sri Astuti

Sri Astuti

kdg orang mmg jd bodoh ttg cinta.. kehilangan kewarasan krn membiarkan diri hanyut dgn perasaan

2024-03-07

0

lihat semua
Episodes
1 AAC □ 1. Mama Menyuruh Selingkuh
2 AAC □ 2. Perjodohan Kehilangan Fondasinya
3 AAC □ 3. Kamu Akan Mengerti
4 AAC □ 4. Jangan Desak Aku
5 AAC □ 5. Sahabat yang Sesungguhnya
6 AAC □ 6. Ke Mana Arah Hubungan
7 AAC □ 7. Ternyata Ada di Dunia Nyata
8 AAC □ 8. Calon Suami tapi Bukan Pacar
9 AAC □ 9. Aku Norak
10 AAC □ 10. Otoritas
11 AAC □ 11. Step yang Terbalik
12 AAC □ 12. Lupakan Max
13 AAC □ 13. Harus Ada Cinta
14 AAC □ 14. Meraih Keyakinan
15 AAC □ 15. Menuntut Sebuah Akhir
16 AAC □ 16. Tidak Menghargai Cinta
17 AAC □ 17. Kita Putus!!
18 AAC 18. Keadaan Hati
19 AAC □ 19. Go Public
20 AAC □ 20. Peran Baru
21 AAC □ 21. Semua Lelaki Sama
22 AAC □ 22. Kartu Hitam
23 AAC □ 23. Jaga Jarak Aman
24 AAC □ Part 24 Alasan Paling Hakiki
25 AAC □ Part 25. Jangan Urusin Mantanku
26 AAC □ 26. Gracia
27 AAC □ Part 27. Gaun Pengantin Warna Merah
28 AAC □ 28. Ciuman dan Roti
29 AAC □ 29. Alasan Tidak Memilih
30 AAC □ 30. Bukannya Sudah Putus?
31 AAC □ 31. Cinta yang Aku Inginkan
32 AAC □ 32. Aku Ingin Menikah dan Bahagia
33 AAC □ 33. Mulai Tidak Rela
34 AAC □ 34. Interogasi Calon Istri tentang Mantan
35 AAC □ 35. Romantis
36 AAC □ 36. Mulai Belajar
37 AAC □ 37. Perjanjian Lucu-lucuan
38 AAC □ 38. Sebuah Kalimat Sederhana
39 AAC □ 39. Kamu Banget
40 AAC □ 40. Aku yang Dia Kecewakan
41 AAC □ 41. Membayar Jam Tangan Mantan
42 AAC □ 42. Tidak Harus Bergantung
43 AAC □ Part 43. Kamu yang Mulai
44 AAC □ 44. Genting dan Penting
45 AAC □ 45. Kegalauan Bertahta
46 AAC □ 46. Terorr Baru
47 AAC □ 47. Mengalihkan Rasa
48 AAC □ 48. Sedramatis dan Seromantis ini
49 AAC □ 49. Side B
50 AAC □ 50. Jangan Ragu Lagi
51 AAC □ 51. Ini Tidak Benar
52 AAC □ 52. Kita Sama-sama Tidak Berhutang Apapun
53 AAC □ 53. Ciuman Pedas
54 AAC □ 54. Fitting
55 AAC □ Part 55. Jejeran Mantan
56 AAC □ 56. Si Bunglon
57 AAC □ 57. Rasanya Aku Sayang Kamu
58 AAC □ 58. Memilih Cinta
Episodes

Updated 58 Episodes

1
AAC □ 1. Mama Menyuruh Selingkuh
2
AAC □ 2. Perjodohan Kehilangan Fondasinya
3
AAC □ 3. Kamu Akan Mengerti
4
AAC □ 4. Jangan Desak Aku
5
AAC □ 5. Sahabat yang Sesungguhnya
6
AAC □ 6. Ke Mana Arah Hubungan
7
AAC □ 7. Ternyata Ada di Dunia Nyata
8
AAC □ 8. Calon Suami tapi Bukan Pacar
9
AAC □ 9. Aku Norak
10
AAC □ 10. Otoritas
11
AAC □ 11. Step yang Terbalik
12
AAC □ 12. Lupakan Max
13
AAC □ 13. Harus Ada Cinta
14
AAC □ 14. Meraih Keyakinan
15
AAC □ 15. Menuntut Sebuah Akhir
16
AAC □ 16. Tidak Menghargai Cinta
17
AAC □ 17. Kita Putus!!
18
AAC 18. Keadaan Hati
19
AAC □ 19. Go Public
20
AAC □ 20. Peran Baru
21
AAC □ 21. Semua Lelaki Sama
22
AAC □ 22. Kartu Hitam
23
AAC □ 23. Jaga Jarak Aman
24
AAC □ Part 24 Alasan Paling Hakiki
25
AAC □ Part 25. Jangan Urusin Mantanku
26
AAC □ 26. Gracia
27
AAC □ Part 27. Gaun Pengantin Warna Merah
28
AAC □ 28. Ciuman dan Roti
29
AAC □ 29. Alasan Tidak Memilih
30
AAC □ 30. Bukannya Sudah Putus?
31
AAC □ 31. Cinta yang Aku Inginkan
32
AAC □ 32. Aku Ingin Menikah dan Bahagia
33
AAC □ 33. Mulai Tidak Rela
34
AAC □ 34. Interogasi Calon Istri tentang Mantan
35
AAC □ 35. Romantis
36
AAC □ 36. Mulai Belajar
37
AAC □ 37. Perjanjian Lucu-lucuan
38
AAC □ 38. Sebuah Kalimat Sederhana
39
AAC □ 39. Kamu Banget
40
AAC □ 40. Aku yang Dia Kecewakan
41
AAC □ 41. Membayar Jam Tangan Mantan
42
AAC □ 42. Tidak Harus Bergantung
43
AAC □ Part 43. Kamu yang Mulai
44
AAC □ 44. Genting dan Penting
45
AAC □ 45. Kegalauan Bertahta
46
AAC □ 46. Terorr Baru
47
AAC □ 47. Mengalihkan Rasa
48
AAC □ 48. Sedramatis dan Seromantis ini
49
AAC □ 49. Side B
50
AAC □ 50. Jangan Ragu Lagi
51
AAC □ 51. Ini Tidak Benar
52
AAC □ 52. Kita Sama-sama Tidak Berhutang Apapun
53
AAC □ 53. Ciuman Pedas
54
AAC □ 54. Fitting
55
AAC □ Part 55. Jejeran Mantan
56
AAC □ 56. Si Bunglon
57
AAC □ 57. Rasanya Aku Sayang Kamu
58
AAC □ 58. Memilih Cinta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!