Seminggu setelah ulang tahun Rahel, Melody sengaja datang ke rumah Rahel ingin mengobrol berdua sebelum berangkat ke kota Zeff. Dibandingkan dengan dua temannya yang lain mereka berdualah yang sering bertemu. Rahel pun senang-senang saja karena ingin menggali lebih dalam soal kisah Melody dan Zeff yang cukup dramatis.
“Chandra belum pulang?” Melody bertanya saat Rahel menyambut di depan pintu rumahnya. Rahel sendiri masih dengan seragam kantornya.
“Belum, proyeknya di luar kota, malem baru nyampe rumah…”
“Kan dia bossnya, kenapa pulangnya malem-malem?” Melody segera duduk santai di sofa ruang tamu.
Rumah Rahel didesain open space, dengan banyak bukaan yang membuat adem di dalam.
“Bukan dia yang punya perusahaan Neng, dia makan gaji, gak kerja keras gak dapet bonus,” balas Rahel.
“Buka usaha kontaktor sendiri aja,” timpal Melody
“Kan butuh modal gede usaha kayak gitu, entar kalau kamu udah nikah sama Zeff, pinjamin modal ya buat Chandra, biar aku jadi kaya juga,” Rahel menjawab entah serius entah hanya gurauan, dia tahu bahwa Zeff anak seorang pengusaha kaya di negara ini.
“Apa sih,” Melody merengut.
“Hahaha… Zeff mana? Gak diajak ke sini?” Rahel tertawa, tahu bahwa hati sahabatnya masih ambigu tentang Zeff, masih suka kesal membicarakan Zeff.
Padahal nasib gadis ini sebenarnya jauh lebih beruntung di antara para perempuan sedunia. Putus cinta dari cowok brengsek dan sudah ada lelaki mapan dan kaya, terlihat baik, ganteng pula, pokoknya lelaki yang lebih baik yang siap menikahi. Tapi entahlah, apa dia merasakan itu atau malah tidak menerima itu sebagai suatu nasib yang baik.
“Dia gak tahu aku ke sini, males juga seharian dia ngikutin aku, sesekali aku pengen bebas merdeka. Soalnya dia makin lebay overprotective, aku gak suka,” Melody menggerutu.
“Ya kan otw jadi suami, sikapnya wajar dong, haha… dicuekin Max kamu ngeluh punya pacar gak perhatian, sekarang keinginanmu dikabulin yang Maha Kuasa, dapet calon suami yang super peduli, terima aja, masa gak hepi ada yang care gitu,” serang Rahel.
“Kalian kompak bandingin Zeff sama Max sejak kemaren… Lindzy tiap nelpon aku topiknya itu melulu,” Melody suka ngeyel membantah sekalipun itu benar.
“Ya kan kami yang mengamati, kami juga tahu soal Max… Zeff udah yang terbaik deh buat kamu,” Rahel balas ngotot dengan pendapatnya.
“Ihh, kalian kompak banget setuju, gak ngertiin mauku apa,” Melody memang bebal ternyata soal siapa jodohnya.
“Kita setuju lah, ini hal yang baik buat kamu, Mel, ngerti gak sih?” Rahel berkata dengan suara naik beberapa not.
“Baik apanya? Eh tapi, aku senang gara-gara bahas pernikahanku, tiba-tiba Geo bilang mau ngelamar Nola, Lindzy juga akhirnya mau setelah ditodong Larry,” Melody tiba-tiba ingat hal yang lain.
“Iya lucu kali pada nikah semua, ke depan kita ngumpul udah ada yang bawa stroller baby. Tapi aku seneng deh kamu bentar lagi nikah, sebulan lalu masih nangis-nangis soal Max…” Rahel duduk di sofa setelah mengambil dua minuman coffee kalengan lalu menyodorkan satu untuk Melody.
“Aku masih sebingung ini Hel, tiba-tiba masa depanku ditentukan orang lain dan aku gak bisa menghentikannya…”
“Jalanin aja…” Rahel menepuk-nepuk bahu Melody.
“Aku sedang menjalaninya kan?" Melody menjawab lirih.
Dia tidak bisa menghentikan mamanya, tidak bisa menolak kehadiran Zeff, tapi dia juga butuh penyelesaian dengan Max, dia tidak mau menikah tanpa cinta, dia takut Zeff akan berubah setelah menikah, karena dia merasa yakin Zeff terpaksa putus dari kekasihnya. Hal-hal itulah yang masih berputar-putar di otaknya yang membuat dia mencari teman bicara.
"Bener gak sih begini jalannya, Hel?” Melody mencoba melihat isi hatinya sendiri, dia tidak bisa menguraikan semua tentang pikiran dan perasaannya.
“Yakin aja lah bahwa ini memang jalan yang baik…” Rahel hanya bisa memberi Melody support.
“Kadang kejadian saat aku jatuh dari motor dulu suka muncul di kepala, aku merasa seperti sedang naik motor yang aku tahu remnya blong, kayak tahu itu bahaya buatku tapi aku malah berkendara dan gak bisa turun lagi.
“Jangan horor gitu ahh mikirnya. Soal Zeff, aku kok percaya aja bahwa orangnya memang serius menginginkan kamu jadi istrinya…”
“Kamu baru sekali ketemu dia, udah yakin aja…”
“Makanya, kamu udah kenal dia lama kan, kenapa gak bisa meyakinkan diri sendiri?”
“Tapi enam tahun kami lost contact, enam tahun itu banyak, Hel! Banyak hal yang aku gak tahu soal dia, tiba-tiba mau nikah…”
“Dari yang kulihat, kalian baik-baik aja… kayak udah nyambung gitu… dia mesra sama kamu dan kamunya nyaman juga, apalagi masalahnya sih?”
“Hahh? Ehh... itu sih karena kami memang akrab dulu, terbiasa sedekat itu dengannya, bukan karena ada apa-apa…”
“Aku pikir dengan hubungan sedekat itu udah jadi awal yang baik untuk memulai, Mel...”
Melody terdiam, apa cukup? Dia menginginkan lebih, dia menginginkan cinta sebelum menikah, itu landasan yang paling sempurna untuk sebuah pernikahan, sementara dirinya dan Zeff tidak punya itu satu sama lain.
“Menurut penilaianku, Zeff udah sempurna sebagai calon suami… wajah ganteng, tubuh proporsional, hidup mapan, sikapnya menyenangkan, orang tua kaya, apalagi coba?” Sambung Rahel lagi.
“Kamu tahu aku gak terlalu memusingkan hal-hal begituan.”
“Iya… iya, aku tahu Max kharismatik dan bertubuh atletis tapi jujur ya, kalau aku yang ditembak Max dulu aku bakal nolak, hahaha, sorry ye Chandra jauh lebih ganteng…”
Melody hanya meringis.
“Ehh Mel, aku juga ingat pacar pertamamu di sini, Samuel kan, dia biasa aja. Aku dulu bingung soal kriteria cowok yang kamu sukai…”
“Aku mementingkan cinta, Hel… kalau hatiku gak berdebar, aku gak terpesona, atau gak mengagumi, aku gak klik atau apalah namanya, aku gak bakal mau jalan dengan seseorang kalau hatiku gak merasakan, oh ini dia orangnya...”
“Aduhh, Mel… kamu butuh koneksi yang bagus dengan mister cupid biar panahnya gak salah tembak, kamu merasakan jatuh cinta sampai tergila-gila sama Max, tapi hasilnya apa sekarang…”
“Heeelll… ihh…”
“Ya kan aku ngomong realita. Lihat Zeff deh, statusnya udah jelas, orangnya jelas pula terus sikapnya manis loh, Mel? Jangan-jangan dia udah suka sama kamu…” sambung Rahel.
“Ihh apa sih, gak mungkin itu, dia baru putus dari pacarnya, alasan dia mau menikah itu adalah aku hanyalah pilihan logis untuknya…”
“Iya sih, tapi sikapnya begitu peduli dan perhatian, Mel… kayak dia sayang kamu deh… kamu bukan sekedar pilihan logis aja,” Rahel coba memberitahu penilaiannya.
“Dia udah seperti itu sejak dulu, mungkin beneran sayang tapi sebatas adik aja, dia anak semata wayang, dan aku sudah diangggap anak sama orang tuanya…”
“Ohh? Tapi, menurutku hubungan seperti itu justru lebih kuat, Mel. Kamu udah jadi bagian dalam keluarga, dia pasti akan berpikir berkali-kali untuk menyakitimu, kakak itu selalu protektif kan sama adik, melindungi banget… pacar mah, hari ini bilang sayang besok udah benci aja, hari ini perhatian besok tiba-tiba menghilang…”
“Apa sih kamu, memang Chandra pernah kayak gitu waktu jadi pacar?”
“Ooww gak pernah dong, Chandra sih tambah lama tambah perhatian posesif gitu, ehhh setelah nikah selalu ngomong soal harus jadi istri yang mandiri… sebel…”
“Ahhh bohong ahh kamu, kelihatan kok kalian itu udah menyatu banget, tambah kuat kayaknya cinta kalian…”
“Iya dong… emang sih kebiasaan dia doang yang sedikit berubah, aku sih ngerti sebenarnya, sekarang bukan jaman buat roman-roman, sekarang harus kerja keras, kita dikejar target, cicilan kita banyak say, hahaha…”
Melody terdiam, ikut menyaksikan kehidupan Rahel sebelum dan sesudah menikah sangat terlihat dia bahagia. Dia menginginkan memasuki kehidupan pernikahan dengan cara itu.
Dalam persepsinya hal seserius itu harus dimulai dengan cara dan tahapan yang benar, jatuh cinta satu sama lain, ngedate, terus mulai merencanakan masa depan sama-sama. Apakah dia terlalu mengidealkan tahapan kehidupan?
Kehadiran Zeff yang tiba-tiba dan segera memotong semua tahap,itu bukan hal yang Melody inginkan. Memang hampir tiga minggu kebersamaan mereka ada beberapa hal yang dilakukan pasangan yang juga mereka lakukan, dia tidak ingin menyebutnya sebagai date, tapi mereka pergi nonton lalu dinner.
"Mel, jangan menghalangi hatimu untuk Zeff, barangkali memang bener loh, Zeff itu sebenernya cinta sama kamu," Rahel berkata kemudian.
“Gak Hell, dia gak mungkin seperti itu, gak ada cinta yang ada kita hampir selalu berantem.”
“Hah? Jadi pengen lihat kalian berantem kayak apa, berantem yang manis kayak apa sih? Hahaha.”
“Mana ada berantem dibilang manis…”
“Sumpah, si Zeff itu perlakuannya manis banget ke kamu, matamu tertutup apa sampai gak bisa lihat? Hatimu terhalang apa sampai gak bisa merasakannya sih? Aku hanya melihat kalian beberapa jam udah bisa lihat itu, Mel…”
Melody melongoh. Perasaan… Zeff biasa aja? Memang seperti itu kan orangnya dari dulu, apanya yang beda? Apanya yang manis?
Dan Melody mengingat semua yang dia jalani belakangan bersama Zeff, cowok itu mengikuti dia ke mana-mana, melakukan banyak hal yang dilakukan seorang cowok untuk kekasihnya, bahkan sentuhan-sentuhan romantis juga dia rasakan. Apakah benar karena Zeff sayang padanya, bukan karena sedang berusaha membujuk dia untuk menerima perjodohan itu?
Hatinya terlalu sukar untuk meraih keyakinan tentang Zeff.
.
.
🐧
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Bunda Titin
sangat bebal n bikin gregetan !!!!
2024-04-15
1
Bunda Titin
itu namanya kurang bersyukur neng !!!
2024-04-15
0
ein
ngak usah kebanyakan mikir melowww
2024-03-24
0