“Soal Max lagi?”
“Iya… salahku sih, membuat dia emosi… kenapa aku melakukan hal yang bodoh lagi sih?” Melody sedang mencurahkan kegalauannya akibat Max yang emosi dan mengamuk padanya tadi.
Sepulang dari kantor Max, dalam kesedihannya yang Melody ingat adalah bestienya ini, dia perlu seseorang untuk bicara. Biasanya dia terbuka dengan sang mama, tapi mama pasti akan bersorak kegirangan jika tahu dia dan Max marahan lagi.
Melihat kemarahan Max kali ini, nampaknya akan butuh waktu lebih lama sebelum Max memaafkannya, padahal mereka baru saja berbaikan.
“Ada apa lagi sekarang?” Rahel hanya bisa prihatin jika soal Max lagi.
“Aku nanya dia tadi, apa dia udah memikirkan tentang menikah denganku, dia langsung emosi,” sendu nada suara Melody. Dua butir airmata meluncur bebas sekarang.
Rahel hanya bisa mengusap lengan Melody, hanya bisa prihatin.
“Aku gak ngerti maunya Max apa, dia pernah ngomong pengen kami nikah. Heran deh tadi dia marah besar saat aku ngomong soal itu… katanya aku gak boleh menuntut dan mendesaknya,” suara pelan Melody sambil menunduk memandang jemarinya sendiri.
Entahlah, jika dia jujur sekarang, sebenarnya dia merasa selalu saja salah di hadapan Max, kadang kala dia ragu apa benar-benar salah atau bagaimana. Dan dia selalu harus minta maaf sebelum mereka berbaikan lagi, sebelum mereka mesra lagi. Dan dia selalu rela melakukannya karena dia mencintai Max.
Max belum ada rencana menikah. Mengapa?? Itu yang jadi pertanyaan sekarang. Jika tentang umur Max sebentar lagi tiga puluh tiga, dia sendiri hampir dua puluh tujuh tahun. Masa cowok di umur dia gak ada pemikiran itu?
Mereka tidak punya masalah finansial, jika perlu dia saja yang mengeluarkan biaya pernikahan, yaa… Melody akan senekad itu.
Tapi ternyata dia hanya mendaki sendiri ke puncak harapan, dan tiba di sana dia segera dihempaskan jatuh dari ketinggian, sakit… 😭
Melody menelungkup di atas dua pahanya, emosi yang sejak tadi ditahan-tahan bobol, tercurah tangisannya dan hanya suara tertahan yang terdengar menyedihkan.
Beberapa menit Rahel membiarkan bestienya melepaskan emosi, sesak pastinya karena baru sekali ini Melody sedih hingga harus menangis di hadapannya. Yang Rahel tahu, Melody pandai sekali menyimpan dukanya tentang Max.
Hanya bisa menepuk punggung sahabatnya, turut merasakan kesedihan, juga merasa kasihan dengan sahabatnya yang begitu terikat dengan cinta matinya untuk Max.
Setelah sedikit tenang… Melody duduk bersandar di sofa sekarang.
“Aku bingung Hel, tapi aku pengen nikah dengan dia aja, bukan dengan yang lain apalagi si Anya… bahkan aku belum memberitahu kalau mamaku dan tante Meisy sedang mengatur pernikahanku dengan si Anya, Max udah marah-marah seperti itu,” Melody berkata gusar sekarang.
Rasanya tepat jika saat ini Rahel mengatakan sesuatu yang mengganjal tentang Max...
“Dari kata-katanya sebenarnya kamu bisa mengetahui apa yang dia pikirkan tentangmu, Mel,” Rahel berkata pelan. Sejujurnya dia tidak yakin jika Max benar-benar mencintai sahabatnya ini.
“Maksud kamu apa, Hel?” Melody mengusap airmatanya yang masih meluncur dari ujung mata.
“Kata-kata seseorang bisa jadi petunjuk untuk melacak isi hatinya apa, siapa dia, apa pikirannya, semua bisa terlihat dengan mendengarkan kata-katanya aja. Tiga tahun loh kamu bersama Max, sedikitnya udah tahu orangnya seperti apa,” lanjut Rahel.
“Dia sering mengatakan dia sayang aku kok, Hel… berarti dia memang sayang aku kan?” Melody sebenarnya hanya meyakinkan dirinya.
“Maksudku, selain kata-kata sejenis itu. Kadang kata-kata manis udah melekat aja di langit-langit mulut para cowok, makanya mudah aja buat mereka mengucapkannya. Makanya sebagai cewek juga harusnya jangan terlalu impulsif, mau aja digombalin. Cowok itu keliatan emang beneran sayang kalau mau melakukan apa aja buat kita, kita itu jadi prioritas buat dia,” Rahel berkata prihatin.
Melody tertunduk lagi, emosi mengaduk-ngaduk lagi. Kekecewaan yang begitu besar membuat dia mulai berpikir dengan cara berbeda tentang bagaimana Max memperlakukannya.
Bagi Rahel, fix Max tidak punya rencana dan tujuan menikahi Melody, makanya cowok itu marah saat topik itu disinggung Melody.
"Mungkin itu memang adalah bagaimana kamu untuk dia, menikah denganmu tidak ada dalam prioritasnya, Mel,” Rahel melanjutkan lagi dengan hati-hati, tidak ingin secepatnya menyatakan konklusinya.
Walau lembut saja perkataan Rahel tapi terasa menusuk hati Melody. Melody semakin tertunduk, dia paham, pertanyaan yang sama pernah muncul di kepalanya, seberapa penting dirinya untuk Max?
Dalam banyak hal dirinya bukanlah prioritas Max, bahkan Max tega tidak menghadiri beberapa moment penting dirinya dengan banyak alasan.
“Hel, bagaimana kamu tahu bahwa Chandra sungguh-sungguh sayang kamu?” Melody bertanya pelan, petunjuk tentang cinta Max padanya mulai buram sekarang, jangan-jangan memang benar Max tidak benar-benar cinta.
“Gimana ngejelasinnya ya, aku yakin aja,” Rahel menyahut.
“Kamu bilang, Chandra emang romantis dulu kan pas pacaran? Apa karena itu?” Melody mengutarakan konklusi yang terlintas.
“Gak juga sih Mel, banyak hal sih, antara lain selain kerja dan tidur kayaknya dia bareng aku terus, apa-apa tentang dirinya dia cerita, sering dalam urusan pribadinya dia libatkan aku atau paling tidak aku harus tahu. Aku udah kayak jadi bagian dari hidup dia bahkan keluarga dia deh jauh sebelum kita nikah begitu juga sebaliknya. Kita udah kayak gak bisa pisah aja gitu… gimana sih bilangnya,” sedikit tersipu Rahel ngomong panjang lebar soal dirinya dan suami.
“Apa kamu… yang pertama-tama minta nikah?” Melody jadi penasaran tentang itu.
“Chandra dong,” sambar Rahel.
“Oh iya, aku inget kamu cerita tentang itu, terus kamunya masih ragu, belum pengen menikah kan?” Melody berkata sedih, sambil membandingkan dengan nasib cintanya sendiri, Rahel lebih beruntung.
“Iya sih, awalnya aku belum pengen terikat, tapi gimana gak mikirin itu, tiap hari omongan dia udah tentang nikah aja. Tapi sebenarnya aku mulai yakin bahwa dia serius dengan niatnya menikahiku saat dia minta kami patungan buat DP rumah ini kemudian dia minta kami berdua berhemat biar bisa ngisi rumah ini dengan barang… ya gitu-gitu isi pembicaraan kami hampir tiap hari soal rencana masa depan berdua… ngalir aja omongan tentang itu semua hingga akhirnya menikah, gitu sih…”
Kalimat-kalimat Rahel dengan mudah dicerna Melody, dia akhirnya membandingkan kekasihnya dengan suami Rahel, Max tidak seperti Chandra.
“Mel, aku tahu kamu sayang banget sama Max, tapi… kamu banyakan gak hepinya selama jadi pacar. Takutnya setelah menikah tambah gak hepi kamu,” Rahel melanjutkan.
Melody menghela napas, Rahel punya pandangan yang sama dengan mamanya.
“Aku masih berharap dia berubah, Hel… siapa tahu setelah nikah justru sebaliknya kan? Mungkin dia tertekan sama kerjaannya makanya dia kayak gitu sama aku,” Melody berusaha berpikir sepositif mungkin.
Rahel menggelengkan kepala, tak paham dengan toleransi Melody yang terlalu besar untuk semua sikap buruk Max. Heran juga tentang sikap Melody yang sangat lemah di hadapan Max, yaa Melody begitu berbeda bila di hadapan Max, begitu penurut dan selalu menjadi putri yang bersikap manis. Seperti bukan dirinya saja.
”Mel, menurutku… emm sorry ya, Max gak sepenuhnya sayang kamu, sorry tapi banyak hal yang aku lihat loh yang membuat aku menyimpulkan seperti itu. Waktu kak Nada lalu om Yan meninggal, dia datang melayat tapi gak sampai sejam udah pergi, seharusnya dia ada di samping kamu selama hari-hari dukamu, itu saat terberat kamu kan,” akhirnya Rahel tidak sungkan lagi menyampaikan penilaiannya tentang Max.
Melody terpekur, menyadari banyak moment dia butuh Max tapi dia tidak ada, bukan hanya saat papa dan kakaknya meninggal saja, dia ulang tahun ke dua puluh enam pun Max punya alasan dan tidak datang menemuinya, hanya menelpon memberi ucapan selamat.
Apa memang benar dalam hubungan ini hanya dirinya yang punya rasa cinta? Melody sukar menerima ini sebagai kebenaran.
“Kebeneran ada si Zeffanya kan, coba lihat dia deh, bandingkan sama Max, jangan-jangan Zeffanya sebenarnya jodohmu,” Rahel coba membuka jalan pikiran sahabatnya.
“Gak mungkin Hel, aku gak mungkin pindahin perasaan cinta aku kan, aku gak suka dijodohin…”
“Makanya coba terima dia dulu… bukan gak mungkin kalian bisa saling cinta, katamu dia menerima perjodohan kalian kan?”
“Terus aku selingkuh gitu?” Sekarang nada suara berubah, rasa marah dan jengkel yang muncul ke permukaan, soal Zeff dan soal orang tua mereka.
Tidak pernah membayangkan harus menikah karena terpaksa, dia punya pemikiran yang ideal tentang bagaimana dua orang seharusnya menikah, itu harus dimulai dengan jatuh cinta.
“Mel… si Max gak mau nikahin kamu, tapi si Zeffanya mau... udah saatnya kamu ambil keputusan untuk tinggalin Max,” Rahel semakin bersemangat ingin sekali Melody berubah melihat Max.
“Kenapa kamu kayak mama sih? Malah ngedukung si Anya itu,” Melody jadi kesal pada sahabatnya.
“Realistis aja… ada yang pasti kenapa mau menunggu yang gak pasti? Sesimple itu Mel…”
“Anya juga ngomong itu, aku pilihan realistis untuknya,” ucapan yang lirih dari Melody.
Segera dia teringat pada cowok yang herannya dengan status dijodohkan tetapi sangat terlihat semangatnya dan kesungguhannya untuk merealisasikan hal itu.
“Ya udah… gaskeuun,” Rahel menjawab bersemangat dengan dua kening diangkat-angkat.
“Tapi masa aku nikah sama orang yang gak aku sayang sih?” Melody masih menyanggah.
“Ya udah nanti mulai belajar untuk sayang si Zeffanya,” tandas Rahel.
“Tapi Hel, aku sayang banget sama Max, kamu tahu itu…”
“Max teruuus, sekarang mulai singkirkan nama Max di otakmu ganti sama nama Zeffanya,” suara Rahel menekan sekarang, terpancing untuk marah, sahabatnya ini perlu ditatar biar sadar kenyataan.
“Apa sih, gak semudah itu kan, gimana caranya?” Melody masih membantah, begitulah dirinya jika dengan orang lain, akan memperjuangkan pendapatnya sampai titik akhir.
“Aku pastikan Max gak mungkin nelpon kamu duluan. Kali ini jangan coba menelpon dia, oke? Aku akan marah kalau kamu lakukan itu! Kalau dia menganggap kamu pacarnya, dia pasti akan merasa kehilangan atau paling gak dia penasaran kenapa sekarang kamu gak nyari dia… dan kalau si Zeffanya nelpon kamu, coba aja ladenin coba ngobrol aja mendekatkan diri… gitu cara menyingkirkan si Max dari kepalamu,” panjang sekali suara omelan Rahel.
Sungguh Rahel mendalami peran marahnya sampai jidat si Melody ditunjuk-tunjuk.
“Heellll, aku gak bisa pasti,” Melody merengek.
“Kamu bisa! Kamu belum mencoba aja. Aku gak mau kamu nangis-nangis lagi kayak hari ini karena sakit hati, udah end kisah sedihmu,” tangan mengepal gemas pengen menggetok kepala biar otak sahabatnya berfungsi.
“Gak bisa Hel, justru aku makin sedih tahu gak,” Melody menyambar secepat kilat.
Rahel berdiri, jengkel menghadapi Melody yang bebal jika mengenai Max.
“Aku heran Mel, kamu jadi cewek lemah di hadapan Max. Kayaknya kasar kalau aku bilang… kamu itu kayak kerbau yang diikat lehernya, di bawah ke sana kemari ngikut aja… belum tahu kamu, di Tanah Toraja, kerbau itu lambang kekayaan… kamu cantik, punya uang, kok bisa-bisanya tunduk sama Max brengsek itu???” Suara marah Rahel semakin nyata.
“Apa sih Hel?”
“Melody… kali ini aku melarang kamu minta maaf sama Max, aku kok merasa kamu terlalu direndahin sama Max, kayak gak ada harganya deh… jadi aku melarang itu sekarang! Jangan minta maaf!! Paham??” Rahel berkata galak tak lupa dua tangannya terangkat ke pinggang dengan tatapan semakin garang.
Sahabat yang sesungguhnya akan mengikatkan dirinya sehingga turut merasakan apa yang dialami, dia ada dan bertindak semestinya saat dibutuhkan.
Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.
.
🐧🐧
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Bunda Titin
kamu punya sahabat yg baik dan sangat menyayangimu,. rugi klo kamu ga mau mendengarkan nasehat sahabatmu itu percaya dech.........🤨
2024-04-14
1
Bunda Titin
iya aku jg gregetan banget pengen jitak kepalanya si Mel,. udh di perlakukan kasar msh aj ga nyadar.........🤔🤨😤
2024-04-14
0
Bunda Titin
jangan kyk gitu Mel,. kamu akan semakin ga di hargai........secinta apapun kamu mahalan dikit lah jd cewek bkn matre tp soal harga diri.........🙏🤔
2024-04-14
0