“Kamu gak turun?” Zeff mengerutkan keningnya heran, sudah sepuluh menit di parkiran restoran Melody belum turun juga.
Tadi dia mengiyakan saja saat Melody melarangnya turun dengan alasan dia hanya akan memberikan ucapan selamat kepada yang berulang tahun, dan langsung akan pulang lagi.
“Hahh?? Ehh, itu teman-temanku belum sampai, aku… aku menunggu mereka aja,” dusta Melody gugup.
Sejak tadi tangannya sudah basah oleh keringat, duduk tegang dan bingung, mencari pegangan apakah pantas melakukan ini sekarang.
Mata memandang kotak di tangannya, sebuah jam tangan mahal senilai seratus dua puluh juta permintaan Max yang telah lama dia siapkan. Melody tersenyum kecut, ini jumlah keuntungan tokohnya dua bulan yang disertai keringat, hanya untuk diberikan pada orang yang tidak menghargai cintanya?
Tapi dia butuh ini buat jaga-jaga. Mata Max akan seperti apa melihat benda yang sudah lama diinginkannya? Sengaja tidak dibungkus biar sekalian pamer.
Dia tidak salah tentang pesta ulang tahun Max di tempat ini, beberapa orang yang masuk adalah orang-orang yang dia kenali sebagai teman Max, dan ada mobil Max terparkir di sini.
Tapi sejak tadi dia berperang. Apakah batal masuk saja? Apakah mengajak Zeff saja biar lebih percaya diri? Ataukah dia pulang saja? Sudah jelas kan, dirinya bukan siapa-siapa lagi? Kenapa seperti ngotot memaksakan diri datang hanya untuk mengubur diri sendiri pada kubangan rasa malu.
Jelas dia tidak diharapkan ada di sini oleh yang punya pesta, jika Max mempermalukan dirinya apakah dia akan sanggup menahan itu? Apakah dia akan sanggup melihat Max bersama Gina?
Dia tidak akan nangis-nangis bombay di sana, dia bukan cewek secengeng itu sebenarnya. Tapi sesungguhnya dia meragukan dirinya sendiri, kemungkinan saat melihat dengan mata sendiri dia akan terpengaruh juga.
Ada gua yang gelap yang penuh rahasia tersebar dalam bentang alam pikiran, bahkan kadang hati sendiri tidak mampu memunculkan apa yang benar-benar paling diinginkan, kadang hati tidak dapat mendefinisikan perasaan cinta dengan benar.
Melody tidak tahu perasaan apa yang harus dia pegang malam ini. Hanya sebatas memenuhi perasaannya yang menuntut penjelasan ataukah?
Tanpa tahu apa yang sementara terjadi dengan Melody, Zeff membuka akun media sosialnya, lalu kemudian memperhatikan sebuah postingan video seseorang yang dia kenal.
“Melody? Apa nama restoran ini?” Zeff tiba-tiba bertanya.
“Hahh? Casa Fontana…”
Zeff melakukan panggilan…
.
“Zeff?? Kamu menghilang ke mana?”
“Aku ada urusan pribadi, tapi sepertinya kita ada di tempat yang sama sekarang.”
“Serius kamu ada di kota ini? Kebetulan banget, si Max ulang tahun, sepertinya dia gak keberatan kalau aku mengundangmu… ayo kita party… bentar aku nanya lokasi dulu…”
“Gak perlu, Jordan, aku kebetulan ada di Casa Fontana juga… masih di parkiran.”
“Oh ya udah… kita ketemu di dalam yaa?”
.
Zeff memandang lekat wajah Melody yang juga sedang menatap padanya terusik dengan percakapan telpon yang dilakukan Zeff.
Selama ini Zeff memang hanya sekali menyinggung soal Max, tapi itu adalah penegasan tentang keinginannya supaya Melody segera mengakhiri hubungannya dengan Max, memang Zeff tidak pernah meminta secara khusus, membiarkan itu menjadi urusan pribadi Melody.
Tapi kenyataan malam ini Jordan datang ke sini itu bukan hal biasa, dan kenyataan lainnya Melody menyembunyikan siapa yang berulang tahun darinya dan dia tidak menyukai hal itu. Ini seperti menyinggung egonya yang perlahan telah menjadikan Melody miliknya, dia mulai tidak menyukai fakta bahwa Melody masih pacar Max, kalau sudah berakhir dia tidak mungkin datang malam ini dengan begitu cantiknya.
Hati mulai geram membuat Zeff menatap Melody dengan sinis.
“Jadi, kamu datang ke sini, karena Max ulang tahun?” Dingin suara Zeff langsung ke inti.
Melody membeku, tidak siap untuk bersikap jujur dan merasakan sesuatu dari sikap Zeff.
“Melody??”
Zeff memanggil saat Melody tertunduk, terintimidasi dengan sikap Zeff.
“Pikiranmu masih berjalan baik kan Melody? Apa kamu akan tetap menikah denganku tanpa melepaskan Max?” Geram dan dingin mengental dalam intonasinya.
Apa dia salah menafsirkan sikap Melody terakhir ini? Dia pikir Melody mulai memberi dia ruang untuk belajar saling menerima.
“Melody???”
Rasa marah muncul semakin nyata, Melody yang diam membuat Zeff merasa satu haknya yang sah dilanggar Melody, dia berhak mendapatkan kejujuran Melody soal Max.
“Kamu pikir, aku tidak kesulitan saat memutuskan hubunganku dengan Gracia? Tapi aku melakukannya karena aku memilih kamu. Tolong lakukan hal yang sama, Melody!!!” Ada emosi dalam setiap kata yang diucapkan Zeff.
Melody semakin tertunduk, dia merasakan kemarahan dalam suara Zeff, mulai takut menghadapi Zeff. Sesungguhnya Melody menjadi tidak berdaya sekarang. Pikirannya segera kosong tak tahu harus melakukan apa, hanya perasaan sedihnya yang terus meningkat.
“Tolong lakukan sesuatu dengan benar. Aku minta kamu memutuskan Max malam ini!!!” Zeff berkata lagi masih dibungkus dengan emosinya.
Melody menatap Zeff. Putus??
Sesuatu terbersit dalam hati, kenapa dia harus menunggu Max yang melakukannya, bukankah dia juga bisa melakukan itu?
Melody segera membuka pintu dan turun dari mobil.
“Mau ke mana kamu???” Bergegas Zeff turun dan menghadang Melody. Tiba-tiba ingat bahwa Melody tidak boleh bertemu Jordan, ini bisa jadi masalah, Jordan tidak boleh mengenal dan tahu siapa pacar Max.
Melody tersentak. Nada suara Zeff kasar, menyakitkan telinga.
“Ya mau masuk ke dalam, emang mau apalagi ke sini???” Balas Melody kasar juga dengan sikap menantang, cara bicara Zeff menstimuli otaknya untuk membalas dengan cara yang sama.
Emosi Zeff naik.
“Jadi kamu seperti ini? Berdandan cantik menor untuk orang brengsek itu??? Kamu terus-menerus menolakku karena tidak ingin pisah dengan Max? Jadi dia sebenarnya yang kamu mau tapi sok menerimaku di depan orangtuaku? Kalau aku gak lihat tadi… aahhh kamu tidak jujur Melody, aku gak suka!!!” Sergah Zeff dengan nada dan pandangan menusuk.
Melody kaget Zeff membentaknya dengan marah, pusaran emosi menyeret Melody untuk membalas Zeff, sangat tersinggung dengan tuduhan Zeff, malam ini dia harus berdandan lebih baik karena pesta Max penuh dengan wanita-wanita cantik. Tujuannya pun untuk memastikan bahwa ikatan mereka memang sudah berakhir, hanya untuk itu dan untuk terakhir kalinya.
“Dan aku gak suka perjodohan kita! Memang kenapa kalau aku dandan cantik hahh?? Hidup-hidup aku! Iyaa juga aku ke sini karena gak ingin pisah dengan Max! Aku gak pernah mengharapkan kamu jadi suamiku! MINGGIRRR!!” Dengan marah Melody teriak di depan Zeff, mengatakan semua dengan sembarangan demi membalas sakit hatinya.
Zeff memandang tajam wajah Melody sekarang, semakin marah mendengar jawaban Melody, tangannya ingin meraih tangan Melody yang pergi melewati blokadenya, tapi…
Dengan geram dia menendang sebuah kerikil yang ada di depan kakinya.
TAKKK! Sebuah bunyi keras terdengar kemudian, entah mengenai apa, mungkin body mobil orang di depan sana.
“Shi…ittt!!!” Terpaksa Zeff mendekat mencari tahu akibat dari emosinya yang tak terkendali.
Benar saja, ada tanda baret dan penyok yang tertinggal menunjukkan seberapa kuat tendangannya. Zeff mengambil ponsel dan mengambil foto nomor polisi mobil SUV hitam itu, dia akan bertanggung jawab nanti. Tapi sekarang dia harus menyusul Melody yang menurutnya begitu konyol juga bodoh, jangan sampai Melody jatuh ke tangan Jordan.
.
🦔💥🦔
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Bunda Titin
kamu akan benar2 menyesal klo Zeff mundur Mel !! buka mata hatimu !!
2024-04-15
0
Bunda Titin
ternyata mencintai bisa sebodoh itu ya.........🤔🤦
2024-04-15
0
Sri Astuti
siapa pula Jordan?
siapa jg yg ga marah klo cewek yg bkl dinikahi bersiksp spt Melody.. yaaaa walopun, Melidy blm setuju menikah.. tp kan sdh fix semua
2024-03-13
1