Setelah lebih dari seminggu Max tidak juga menjawab telponnya apalagi membaca chatnya, akhirnya Melody nekad datang ke kantor Max di jalan lingkar luar kota ini, cukup jauh dari rumahnya.
Melody enggan mencari Max di rumah, Max masih tinggal bersama keluarganya.
Max hanya memandang sekilas saat dia muncul di pintu setelah dipersilahkan masuk oleh Gina sekretaris Max. Melody sudah paham Max selalu butuh waktu lama untuk menyelesaikan emosinya.
Berhadapan dengan Max, bibir Melody hanya bisa menyebut nama Max saja.
“Max…” kedua kalinya Melody memanggil nama kekasihnya.
Tapi Max lebih memilih memandangi layar putih sementara tangannya mengetikkan sesuatu di keyboard putih di hadapannya.
“Max, kita perlu bicara… please dengarkan aku.”
Sebelum ini lebih dari sepuluh kali dia mengirimkan chat permintaan maaf, Melody selalu was-was saat Max bersikap seperti ini, dan dia lah yang akan selalu membujuk Max, entah itu kesalahannya atau bahkan kesalahan Max.
Melody mendekati kekasihnya, duduk di sebuah kursi di hadapan meja Max.
“Max, aku minta maaf ya… aku janji gak akan mengulang lagi membatalkan rencana kita.”
Max masih tak peduli.
“Sayang, please,” Melody berkata dan akhirnya memilih meletakkan di meja sebuah kantong berlogo sebuah brand sneakers terkenal. Kadang memberikan sesuatu jadi semacam ‘minyak pelumas’ buat hati Max untuk segera bersikap manis.
Max melirik benda yang diletakkan kekasihnya lalu memandang sekilas wajah Melody. Wajahnya sedikit berubah, belum ada senyum tapi bagi Melody yang sudah hafal banyak ekspresi di wajah itu, ini pertanda baik.
“Sayang…” Melody meneruskan dengan menghitung dalam hati hingga angka tiga, dan…
“Jangan mengulangi, kamu tahu aku kan?” Max menjawab.
Walau tatapan masih terkesan marah dan acuh tapi Melody tahu persis itu hanya bentuk pertahanan terakhir seorang Max, dan ini selalu meninggalkan sedikit tanya bercampur kegelisahan mengenai sikap Max yang ini, tidak dewasa sama sekali… memaafkan karena menerima hadiah.
Akan butuh berapa banyak uang yang harus dia keluarkan kelak setelah mereka menikah? Tiga tahun ini dia sudah mengeluarkan cukup banyak uang demi membujuk Max yang sering naik pitam.
Tapi cinta menutupi banyak keburukan pasangan, cinta begitu mudah memaafkan, dan begitulah Melody, segera mengabaikan apa yang menganjali hatinya.
Melody mengawasi Max, sudah tahu bahwa beberapa menit ke depan Max pasti tidak akan bisa melawan keinginannya untuk membuka tas hitam berlogo centang itu. Benar saja, tak lama Max meraih benda di dekatnya.
“Bawa apa kamu, mm?” Max seperti kura-kura masuk perahu.
Max unboxing dengan senyum yang bertambah lebar. Dan selalu Melody suka saat seperti ini, setelah mencoba di kakinya sogokan dari Melody, Max akan datang padanya dan memeluk serta menciumnya dengan romantis.
“Makasih ya sayang, kamu selalu tahu apa yang aku mau,” Max mengecup pipi Melody, dan segera Melody mengurai pelukan Max.
Saat Max menahan tubuhnya hendak meneruskan ciuman lebih intimm Melody menghindar. Sejak awal hubungan terjalin Melody sudah menegaskan batas untuk Max melakukan afeksi, cowok itu pun menyetujuinya.
Melody menjadi tenang, selalu merasa bahagia melakukan sesuatu buat Max, apa lah arti semua pemberiannya dibanding sikap Max yang begitu manis seperti ini padanya.
“Aku bawa makanan… kita makan di sini ya?” Melody berkata dengan senyum di wajah sambil mengurai pelukan.
“Mana makanannya?” Max mencari, seingatnya Melody hanya membawa satu tentengan.
“Masih di mobil…”
“Ya udah… ambil gih, kebetulan aku udah laper,” Max berkata sembari berjalan kembali ke kursinya.
Melody memandang Max, sedikitnya dia ingin jika Max gak bisa mengambilkan dia akan meminta salah satu karyawannya, tapi dia ragu Max akan memikirkan itu…
“Boleh minta tolong salah satu OB gak, aku parkir di jalan depan kantor,” Melody memandang penuh harap.
“Jangan manja ahh… gak jauh juga kan,” Max berkata tanpa melihat pada Melody.
Melody mengerucutkan bibirnya sedikit kecewa walau telah maklum bahwa kekasihnya bukan tipe yang memanjakan dirinya sebaliknya sangat manja padanya, dia telah menerima ini sebagai salah satu kekurangan Max yang tidak perlu dipersoalkan.
Apa setelah menikah Max akan berubah lebih baik memperlakukan dirinya? Mungkin tidak, mendengar cerita Rahel sahabat karibnya, suaminya Chandra yang romantis saat masih berpacaran melupakan hal-hal itu setelah menikah.
Sambil melangkah keluar dari ruangan Max di lantai dua bangunan kantor ini, Melody menjadi kesal karena membayangkan tangga turun yang menukik dengan pijakan yang tidak terlalu ideal, dia harus ekstra hati-hati karena menggunakan sendal wedges tujuh senti.
Makan siang yang berlangsung kurang nyaman untuk Melody karena Max melakukannya sambil tetap bekerja, sekretaris dan beberapa staff yang dibutuhkan Max yang bolak-balik masuk ruangan.
“Akhirnya selesai,” Max berkata kemudian, berdiri lalu merenggangkan dua tangannya mengunci ke atas kepala seraya memutar pinggangnya.
“Makananmu belum habis sayang, tadi katanya kamu udah laper, harusnya kamu menyisihkan waktu untuk makan,” Melody mengingatkan.
“Aku punya target kerja, gak bisa makan kalau belum selesai,” Max berdalih sambil mengambil piring di atas meja kemudian duduk di salah satu sofa di depan Melody.
“Ahh, udah gak enak… udah dingin,” Max meletakkan piring.
“Aku ganti yang lain, bentar ya sayang aku ambil piring baru,” Melody beranjak siap ke pantry yang ada di bagian lain gedung ini.
“Eh, gak usah,” Max mengambil ponselnya. “Gin, pesankan aku makanan,” ujar Max pada lawan bicaranya.
Melody akhirnya duduk lagi. “Gak kasih tau mau dipesankan makanan apa?” Tanya Melody, berusaha tersenyum walau di hati menyusup rasa kecewa karena Max sepertinya tidak antusias lagi menikmati masakannya, padahal dulu selalu minta dimasakin. Ahh, tapi memang kurang enak kan makan makanan dingin?
“Gina tahu kok aku sukanya apa,” balas Max dengan senyum kecil.
Uhh, mendengar cara Max bicara dan melihat senyum Max Melody merasakan sesuatu dalam intuisinya, tapi… tidak mungkin, normal aja kan bila sekretarisnya tahu makanan apa yang boss sukai.
Melody menunggu dengan sabar Max makan siang, ada yang penting untuk diobrolin sama Max.
Salah satu cara menentang perjodohan para orang tua adalah dengan meminta Max menikahi dirinya, rasanya tidak berlebihan, rasanya mereka pantas untuk melangkah lebih jauh sekarang.
Lalu…
“Max… mau lanjut kerja kamu?”
“Entar, masih jam istirahat kok, masih kenyang juga,” Max berkata santai dari balik meja kerjanya.
Tadinya Melody berpikir Max akan duduk di sofa bersama dirinya saat selesai makan, tapi Max malah kembali duduk di sana, jarak yang lumayan jauh. Maka Melody berpindah duduk di depan Max.
“Ada yang aku pengen omongin,” Melody berkata mulai agak tegang. Dulu sepertinya gampang saja dia mengutarakan segala sesuatu bila dengan Max. Serasa ada yang hilang di antara mereka, hati kecil Melody mengatakan itu sekarang.
“Apa?” Max menjawab pendek, matanya tertuju pada ponselnya.
“Kita… kita udah lama pacarannya kan, tiga tahun loh?”
“Aku gak menghitungnya,” Max menjawab datar.
Melody tersenyum kecut. Setelah ragu sejenak, akhirnya dia meneruskan kalimatnya, “Max, apa kita gak punya rencana untuk hubungan kita?”
Max yang sedang melihat ponselnya, segera menyadari arah percakapan ini ke mana.
“Maksud kamu?” Max menatap dengan ekspresi tak suka yang sangat jelas.
Melody was-was, mulai terlihat riak emosi di wajah Max, tapi dia memberanikan diri untuk menanyakan hal ini lebih dulu, karena dia butuh Max untuk menghentikan perjodohannya.
“Ehm… ehh umur kita kayaknya… udah pantas untuk menikah, apa… apa kamu belum memikirkan itu?” suara Melody bernada ragu dan sangat lemah, karena berat rasanya mengucapkan ini, dia bukan wanita agresif, ada rasa malu juga harus memaksakan dirinya menanyakan itu, tapi dia terdesak keadaan.
Dan reaksi Max sudah bisa diduga.
“GILAA APA? AKU BELUM ADA RENCANA MENIKAH!! JANGAN DESAK AKU, GILA AJA NIKAH SEKARANG!” Suara Max seperti bom yang pecah membahana di ruang itu.
DEGGGH, hati dan telinga seperti tertusuk pecahan bom dan langsung berdarah.
“Maaf Max, aku gak mendesakmu,” suara Melody mengecil, kekasihnya berteriak untuknya, bagaimana cara meredam kemarahan Max, suaranya pasti terdengar hingga di luar ruangan ini.
“AKU SIBUK!! AKU BELUM MEMIKIRKAN MENIKAH, JANGAN MENUNTUT!!” Max makin menggila.
“Please maafkan aku, jangan teriak Max, aku malu, aku hanya…” Melody mau menangis sekarang, matanya perih, tapi dia menahan dirinya sekuat-kuatnya.
BRAAAK!!! PRANGGG!!! Max melempar piring bekas makannya jatuh berkeping-keping di lantai. Melody kaget, hatinya segera sesak. Walaupun tidak mengenai dirinya tapi ini terlalu kasar, apa salahnya bertanya? Kenapa harus semarah itu?
.
🦔
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Salsa Sal
ya ampun Max temperamental banget ya, cinta emang membuat bodoh yaa, Melody gak sadar apa....
2024-07-08
0
Bunda Titin
cuma di tanya begitu marahnya sampe ngamuk kyk gitu,. bener2 kasar banget neh cowok.....,....bakalan makan hati tiap hari kamu Mel klo nikah sama cowok modelan si Max,. udahlah nurut aj sama mamamu.........ga ada orang tua yg ingin anaknya di perlakukan kyk gitu Mel........🙏🤨
2024-04-14
1
ein
ughh tinggalin Max..
kasar bangettt
kasian Meloww
2024-03-03
1