AAC □ 4. Jangan Desak Aku

Setelah lebih dari seminggu Max tidak juga menjawab telponnya apalagi membaca chatnya, akhirnya Melody nekad datang ke kantor Max di jalan lingkar luar kota ini, cukup jauh dari rumahnya.

Melody enggan mencari Max di rumah, Max masih tinggal bersama keluarganya.

Max hanya memandang sekilas saat dia muncul di pintu setelah dipersilahkan masuk oleh Gina sekretaris Max. Melody sudah paham Max selalu butuh waktu lama untuk menyelesaikan emosinya.

Berhadapan dengan Max, bibir Melody hanya bisa menyebut nama Max saja.

“Max…” kedua kalinya Melody memanggil nama kekasihnya.

Tapi Max lebih memilih memandangi layar putih sementara tangannya mengetikkan sesuatu di keyboard putih di hadapannya.

“Max, kita perlu bicara… please dengarkan aku.”

Sebelum ini lebih dari sepuluh kali dia mengirimkan chat permintaan maaf, Melody selalu was-was saat Max bersikap seperti ini, dan dia lah yang akan selalu membujuk Max, entah itu kesalahannya atau bahkan kesalahan Max.

Melody mendekati kekasihnya, duduk di sebuah kursi di hadapan meja Max.

“Max, aku minta maaf ya… aku janji gak akan mengulang lagi membatalkan rencana kita.”

Max masih tak peduli.

“Sayang, please,” Melody berkata dan akhirnya memilih meletakkan di meja sebuah kantong berlogo sebuah brand sneakers terkenal. Kadang memberikan sesuatu jadi semacam ‘minyak pelumas’ buat hati Max untuk segera bersikap manis.

Max melirik benda yang diletakkan kekasihnya lalu memandang sekilas wajah Melody. Wajahnya sedikit berubah, belum ada senyum tapi bagi Melody yang sudah hafal banyak ekspresi di wajah itu, ini pertanda baik.

“Sayang…” Melody meneruskan dengan menghitung dalam hati hingga angka tiga, dan…

“Jangan mengulangi, kamu tahu aku kan?” Max menjawab.

Walau tatapan masih terkesan marah dan acuh tapi Melody tahu persis itu hanya bentuk pertahanan terakhir seorang Max, dan ini selalu meninggalkan sedikit tanya bercampur kegelisahan mengenai sikap Max yang ini, tidak dewasa sama sekali… memaafkan karena menerima hadiah.

Akan butuh berapa banyak uang yang harus dia keluarkan kelak setelah mereka menikah? Tiga tahun ini dia sudah mengeluarkan cukup banyak uang demi membujuk Max yang sering naik pitam.

Tapi cinta menutupi banyak keburukan pasangan, cinta begitu mudah memaafkan, dan begitulah Melody, segera mengabaikan apa yang menganjali hatinya.

Melody mengawasi Max, sudah tahu bahwa beberapa menit ke depan Max pasti tidak akan bisa melawan keinginannya untuk membuka tas hitam berlogo centang itu. Benar saja, tak lama Max meraih benda di dekatnya.

“Bawa apa kamu, mm?” Max seperti kura-kura masuk perahu.

Max unboxing dengan senyum yang bertambah lebar. Dan selalu Melody suka saat seperti ini, setelah mencoba di kakinya sogokan dari Melody, Max akan datang padanya dan memeluk serta menciumnya dengan romantis.

“Makasih ya sayang, kamu selalu tahu apa yang aku mau,” Max mengecup pipi Melody, dan segera Melody mengurai pelukan Max.

Saat Max menahan tubuhnya hendak meneruskan ciuman lebih intimm Melody menghindar. Sejak awal hubungan terjalin Melody sudah menegaskan batas untuk Max melakukan afeksi, cowok itu pun menyetujuinya.

Melody menjadi tenang, selalu merasa bahagia melakukan sesuatu buat Max, apa lah arti semua pemberiannya dibanding sikap Max yang begitu manis seperti ini padanya.

“Aku bawa makanan… kita makan di sini ya?” Melody berkata dengan senyum di wajah sambil mengurai pelukan.

 “Mana makanannya?” Max mencari, seingatnya Melody hanya membawa satu tentengan.

“Masih di mobil…”

“Ya udah… ambil gih, kebetulan aku udah laper,” Max berkata sembari berjalan kembali ke kursinya.

Melody memandang Max, sedikitnya dia ingin jika Max gak bisa mengambilkan dia akan meminta salah satu karyawannya, tapi dia ragu Max akan memikirkan itu…

“Boleh minta tolong salah satu OB gak, aku parkir di jalan depan kantor,” Melody memandang penuh harap.

“Jangan manja ahh… gak jauh juga kan,” Max berkata tanpa melihat pada Melody.

Melody mengerucutkan bibirnya sedikit kecewa walau telah maklum bahwa kekasihnya bukan tipe yang memanjakan dirinya sebaliknya sangat manja padanya, dia telah menerima ini sebagai salah satu kekurangan Max yang tidak perlu dipersoalkan.

Apa setelah menikah Max akan berubah lebih baik memperlakukan dirinya? Mungkin tidak, mendengar cerita Rahel sahabat karibnya, suaminya Chandra yang romantis saat masih berpacaran melupakan hal-hal itu setelah menikah.

Sambil melangkah keluar dari ruangan Max di lantai dua bangunan kantor ini, Melody menjadi kesal karena membayangkan tangga turun yang menukik dengan pijakan yang tidak terlalu ideal, dia harus ekstra hati-hati karena menggunakan sendal wedges tujuh senti.

Makan siang yang berlangsung kurang nyaman untuk Melody karena Max melakukannya sambil tetap bekerja, sekretaris dan beberapa staff yang dibutuhkan Max yang bolak-balik masuk ruangan.

“Akhirnya selesai,” Max berkata kemudian, berdiri lalu merenggangkan dua tangannya mengunci ke atas kepala seraya memutar pinggangnya.

“Makananmu belum habis sayang, tadi katanya kamu udah laper, harusnya kamu menyisihkan waktu untuk makan,” Melody mengingatkan.

“Aku punya target kerja, gak bisa makan kalau belum selesai,” Max berdalih sambil mengambil piring di atas meja kemudian duduk di salah satu sofa di depan Melody.

“Ahh, udah gak enak… udah dingin,” Max meletakkan piring.

“Aku ganti yang lain, bentar ya sayang aku ambil piring baru,” Melody beranjak siap ke pantry yang ada di bagian lain gedung ini.

“Eh, gak usah,” Max mengambil ponselnya. “Gin, pesankan aku makanan,” ujar Max pada lawan bicaranya.

Melody akhirnya duduk lagi. “Gak kasih tau mau dipesankan makanan apa?” Tanya Melody, berusaha tersenyum walau di hati menyusup rasa kecewa karena Max sepertinya tidak antusias lagi menikmati masakannya, padahal dulu selalu minta dimasakin. Ahh, tapi memang kurang enak kan makan makanan dingin?

“Gina tahu kok aku sukanya apa,” balas Max dengan senyum kecil.

Uhh, mendengar cara Max bicara dan melihat senyum Max Melody merasakan sesuatu dalam intuisinya, tapi… tidak mungkin, normal aja kan bila sekretarisnya tahu makanan apa yang boss sukai.

Melody menunggu dengan sabar Max makan siang, ada yang penting untuk diobrolin sama Max.

Salah satu cara menentang perjodohan para orang tua adalah dengan meminta Max menikahi dirinya, rasanya tidak berlebihan, rasanya mereka pantas untuk melangkah lebih jauh sekarang.

Lalu…

“Max… mau lanjut kerja kamu?”

“Entar, masih jam istirahat kok, masih kenyang juga,” Max berkata santai dari balik meja kerjanya.

Tadinya Melody berpikir Max akan duduk di sofa bersama dirinya saat selesai makan, tapi Max malah kembali duduk di sana, jarak yang lumayan jauh. Maka Melody berpindah duduk di depan Max.

“Ada yang aku pengen omongin,” Melody berkata mulai agak tegang. Dulu sepertinya gampang saja dia mengutarakan segala sesuatu bila dengan Max. Serasa ada yang hilang di antara mereka, hati kecil Melody mengatakan itu sekarang.

“Apa?” Max menjawab pendek, matanya tertuju pada ponselnya.

“Kita… kita udah lama pacarannya kan, tiga tahun loh?”

“Aku gak menghitungnya,” Max menjawab datar.

Melody tersenyum kecut. Setelah ragu sejenak, akhirnya dia meneruskan kalimatnya, “Max, apa kita gak punya rencana untuk hubungan kita?”

Max yang sedang melihat ponselnya, segera menyadari arah percakapan ini ke mana.

“Maksud kamu?” Max menatap dengan ekspresi tak suka yang sangat jelas.

Melody was-was, mulai terlihat riak emosi di wajah Max, tapi dia memberanikan diri untuk menanyakan hal ini lebih dulu, karena dia butuh Max untuk menghentikan perjodohannya.

“Ehm… ehh umur kita kayaknya… udah pantas untuk menikah, apa… apa kamu belum memikirkan itu?” suara Melody bernada ragu dan sangat lemah, karena berat rasanya mengucapkan ini, dia bukan wanita agresif, ada rasa malu juga harus memaksakan dirinya menanyakan itu, tapi dia terdesak keadaan.

Dan reaksi Max sudah bisa diduga.

“GILAA APA? AKU BELUM ADA RENCANA MENIKAH!! JANGAN DESAK AKU, GILA AJA NIKAH SEKARANG!” Suara Max seperti bom yang pecah membahana di ruang itu.

DEGGGH, hati dan telinga seperti tertusuk pecahan bom dan langsung berdarah.

“Maaf Max, aku gak mendesakmu,” suara Melody mengecil, kekasihnya berteriak untuknya, bagaimana cara meredam kemarahan Max, suaranya pasti terdengar hingga di luar ruangan ini.

“AKU SIBUK!! AKU BELUM MEMIKIRKAN MENIKAH, JANGAN MENUNTUT!!” Max makin menggila.

“Please maafkan aku, jangan teriak Max, aku malu, aku hanya…” Melody mau menangis sekarang, matanya perih, tapi dia menahan dirinya sekuat-kuatnya.

BRAAAK!!! PRANGGG!!! Max melempar piring bekas makannya jatuh berkeping-keping di lantai. Melody kaget, hatinya segera sesak. Walaupun tidak mengenai dirinya tapi ini terlalu kasar, apa salahnya bertanya? Kenapa harus semarah itu?

.

🦔

.

Terpopuler

Comments

Salsa Sal

Salsa Sal

ya ampun Max temperamental banget ya, cinta emang membuat bodoh yaa, Melody gak sadar apa....

2024-07-08

0

Bunda Titin

Bunda Titin

cuma di tanya begitu marahnya sampe ngamuk kyk gitu,. bener2 kasar banget neh cowok.....,....bakalan makan hati tiap hari kamu Mel klo nikah sama cowok modelan si Max,. udahlah nurut aj sama mamamu.........ga ada orang tua yg ingin anaknya di perlakukan kyk gitu Mel........🙏🤨

2024-04-14

1

ein

ein

ughh tinggalin Max..
kasar bangettt
kasian Meloww

2024-03-03

1

lihat semua
Episodes
1 AAC □ 1. Mama Menyuruh Selingkuh
2 AAC □ 2. Perjodohan Kehilangan Fondasinya
3 AAC □ 3. Kamu Akan Mengerti
4 AAC □ 4. Jangan Desak Aku
5 AAC □ 5. Sahabat yang Sesungguhnya
6 AAC □ 6. Ke Mana Arah Hubungan
7 AAC □ 7. Ternyata Ada di Dunia Nyata
8 AAC □ 8. Calon Suami tapi Bukan Pacar
9 AAC □ 9. Aku Norak
10 AAC □ 10. Otoritas
11 AAC □ 11. Step yang Terbalik
12 AAC □ 12. Lupakan Max
13 AAC □ 13. Harus Ada Cinta
14 AAC □ 14. Meraih Keyakinan
15 AAC □ 15. Menuntut Sebuah Akhir
16 AAC □ 16. Tidak Menghargai Cinta
17 AAC □ 17. Kita Putus!!
18 AAC 18. Keadaan Hati
19 AAC □ 19. Go Public
20 AAC □ 20. Peran Baru
21 AAC □ 21. Semua Lelaki Sama
22 AAC □ 22. Kartu Hitam
23 AAC □ 23. Jaga Jarak Aman
24 AAC □ Part 24 Alasan Paling Hakiki
25 AAC □ Part 25. Jangan Urusin Mantanku
26 AAC □ 26. Gracia
27 AAC □ Part 27. Gaun Pengantin Warna Merah
28 AAC □ 28. Ciuman dan Roti
29 AAC □ 29. Alasan Tidak Memilih
30 AAC □ 30. Bukannya Sudah Putus?
31 AAC □ 31. Cinta yang Aku Inginkan
32 AAC □ 32. Aku Ingin Menikah dan Bahagia
33 AAC □ 33. Mulai Tidak Rela
34 AAC □ 34. Interogasi Calon Istri tentang Mantan
35 AAC □ 35. Romantis
36 AAC □ 36. Mulai Belajar
37 AAC □ 37. Perjanjian Lucu-lucuan
38 AAC □ 38. Sebuah Kalimat Sederhana
39 AAC □ 39. Kamu Banget
40 AAC □ 40. Aku yang Dia Kecewakan
41 AAC □ 41. Membayar Jam Tangan Mantan
42 AAC □ 42. Tidak Harus Bergantung
43 AAC □ Part 43. Kamu yang Mulai
44 AAC □ 44. Genting dan Penting
45 AAC □ 45. Kegalauan Bertahta
46 AAC □ 46. Terorr Baru
47 AAC □ 47. Mengalihkan Rasa
48 AAC □ 48. Sedramatis dan Seromantis ini
49 AAC □ 49. Side B
50 AAC □ 50. Jangan Ragu Lagi
51 AAC □ 51. Ini Tidak Benar
52 AAC □ 52. Kita Sama-sama Tidak Berhutang Apapun
53 AAC □ 53. Ciuman Pedas
54 AAC □ 54. Fitting
55 AAC □ Part 55. Jejeran Mantan
56 AAC □ 56. Si Bunglon
57 AAC □ 57. Rasanya Aku Sayang Kamu
58 AAC □ 58. Memilih Cinta
Episodes

Updated 58 Episodes

1
AAC □ 1. Mama Menyuruh Selingkuh
2
AAC □ 2. Perjodohan Kehilangan Fondasinya
3
AAC □ 3. Kamu Akan Mengerti
4
AAC □ 4. Jangan Desak Aku
5
AAC □ 5. Sahabat yang Sesungguhnya
6
AAC □ 6. Ke Mana Arah Hubungan
7
AAC □ 7. Ternyata Ada di Dunia Nyata
8
AAC □ 8. Calon Suami tapi Bukan Pacar
9
AAC □ 9. Aku Norak
10
AAC □ 10. Otoritas
11
AAC □ 11. Step yang Terbalik
12
AAC □ 12. Lupakan Max
13
AAC □ 13. Harus Ada Cinta
14
AAC □ 14. Meraih Keyakinan
15
AAC □ 15. Menuntut Sebuah Akhir
16
AAC □ 16. Tidak Menghargai Cinta
17
AAC □ 17. Kita Putus!!
18
AAC 18. Keadaan Hati
19
AAC □ 19. Go Public
20
AAC □ 20. Peran Baru
21
AAC □ 21. Semua Lelaki Sama
22
AAC □ 22. Kartu Hitam
23
AAC □ 23. Jaga Jarak Aman
24
AAC □ Part 24 Alasan Paling Hakiki
25
AAC □ Part 25. Jangan Urusin Mantanku
26
AAC □ 26. Gracia
27
AAC □ Part 27. Gaun Pengantin Warna Merah
28
AAC □ 28. Ciuman dan Roti
29
AAC □ 29. Alasan Tidak Memilih
30
AAC □ 30. Bukannya Sudah Putus?
31
AAC □ 31. Cinta yang Aku Inginkan
32
AAC □ 32. Aku Ingin Menikah dan Bahagia
33
AAC □ 33. Mulai Tidak Rela
34
AAC □ 34. Interogasi Calon Istri tentang Mantan
35
AAC □ 35. Romantis
36
AAC □ 36. Mulai Belajar
37
AAC □ 37. Perjanjian Lucu-lucuan
38
AAC □ 38. Sebuah Kalimat Sederhana
39
AAC □ 39. Kamu Banget
40
AAC □ 40. Aku yang Dia Kecewakan
41
AAC □ 41. Membayar Jam Tangan Mantan
42
AAC □ 42. Tidak Harus Bergantung
43
AAC □ Part 43. Kamu yang Mulai
44
AAC □ 44. Genting dan Penting
45
AAC □ 45. Kegalauan Bertahta
46
AAC □ 46. Terorr Baru
47
AAC □ 47. Mengalihkan Rasa
48
AAC □ 48. Sedramatis dan Seromantis ini
49
AAC □ 49. Side B
50
AAC □ 50. Jangan Ragu Lagi
51
AAC □ 51. Ini Tidak Benar
52
AAC □ 52. Kita Sama-sama Tidak Berhutang Apapun
53
AAC □ 53. Ciuman Pedas
54
AAC □ 54. Fitting
55
AAC □ Part 55. Jejeran Mantan
56
AAC □ 56. Si Bunglon
57
AAC □ 57. Rasanya Aku Sayang Kamu
58
AAC □ 58. Memilih Cinta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!