Melody berdiri cukup lama di depan kamar tamu di lantai bawah rumahnya, menimbang-nimbang apa perlu mengajak Zeff ke perayaan hut sahabatnya Rahel. Pada akhirnya niatnya dia urungkan.
Hampir dua minggu bersama, komunikasi yang intens, sehingga tanpa mereka berdua sadari sebenarnya chemistry mulai ada, cara Melody memperlakukan Zeff menjadi lebih baik. Walau tetap saja selalu diwarnai perdebatan dan berbagai model rajukan kesal Melody.
Melody membiarkan Zeff berada di sisinya dan sedikitnya keberadaan Zeff membuat dia terhibur di tengah kerisauan dan kegetiran soal Max yang tak kunjung menghubunginya.
Dia memang belum sepenuhnya memutuskan mengakui Zeff sebagai calon suami, sikapnya pun berganti-ganti kadang ketus dan garang, kadang bisa bercakap sebagai teman dan menerima saja ketika sesekali Zeff bertindak romantis padanya.
Berbeda dengan sikapnya sebelumnya yang tidak dapat menahan diri untuk mendatangi Max, tapi kali ini dia tidak ingin seperti itu lagi, jadi merasa sekarang bahwa dulu dia mengemis-ngemis cinta Max, jadi merasa sekarang bahwa penilaian Rahel dan mama Lina soal Max benar adanya.
Tapi meski hatinya terluka, terlalu sukar melupakan dan melepaskan cintanya.
Di sebuah cafe, lantai dua seluruhnya digunakan untuk perayaan hari ulang tahun sahabatnya. Rahel tampil cantik dengan dress pendek.
“Selamat ya Hel… sehat selalu, semoga cepat diberi momongan,” Melody memeluk sahabat terbaiknya.
“Makasih yaa, makasih kiriman kue-kuenya, makasih hadiahnya… apa nih?”
“Pesenan kamu lah,” Melody menjawab.
“Kamu aneh Yang, hadiah kok direquest,” Chandra mengomeli sang istri sambil berjabat tangan dengan Melody, “Makasih udah hadir loh…”
“Sama-sama Chan… di dalam kadoku ada multivitamin buat kalian berdua biar cepet punya anak, hahaha,” Melody menjawab Chandra. Chandra senyum tipis saja.
“Gabung sama Nola dan Lindzy aja dulu Mel, aku ladenin tamu-tamu lain dulu,” Rahel berujar kemudian saat ada kerabatnya yang datang menghampiri.
“Iyaa… gakpapa,” Melody mengedarkan pandangan dan menemukan dua sahabat mereka duduk di sebuah pojok bersama kekasih masing-masing.
Ada banyak undangan ternyata, dan rata-rata menggunakan nuansa putih, sesuai dress code dari yang punya pesta.
“La, Lind… hai,” Melody segera duduk di antara mereka berdua sambil melambai pada dua cowok yang tersenyum menyambutnya.
“Mel… sendiri?” Lindzy mencari-cari seseorang di belakang Melody.
“Iya,” Melody tersenyum menutupi gundah, tahu siapa yang dicari Lindzy.
“Max, gak ikut? Dia selalu gak mau ngumpul bareng kita sih ya,” Lindzy meneruskan kalimatnya.
Melody mengangkat bahu, dulu dia punya sejuta pembelaan dan alasan, sekarang dia hanya bisa diam, segala tentang Max berubah jadi minus sekarang.
“Kalian udah lama?” Melody mengganti topik.
“Belum sepuluh menit,” Nola yang menjawab.
“Nyemil aja kali dulu ya, banyak kue enak kan… laper nih… kayaknya acaranya sejam-an deh baru makan malam,” Lindzy berkata sambil mengamit lengan Larry pacarnya.
“Sayang, ambilin kue dong… tuh di meja depan sana,” lanjut manja suara si Lindzy ditanggapi dengan senyuman oleh Larry.
Nola ikut meminta pacarnya Geo melakukan hal yang sama. Akhirnya dua pria itu yang berdiri menuju meja panjang yang menyediakan beragam penganan kecil.
Melody senyum kecil, di tengah sahabat-sahabatnya hubungannya yang paling miris, dia tidak bisa melakukan hal semacam itu pada Max.
Melody menggeleng, ahh lupakan Max.
“Mel, waktu itu aku ketemu Max di resto favorit kalian berdua, tapi dia sama cewek lain, aku gak kenal… kalian masih…?” Nola bertanya hati-hati.
Melody senyum getir, tapi pengen tahu, “kapan?”
“Seminggu yang lalu,” Nola menjawab.
Mata Nola memandang Melody, dia merasa perlu memberitahu sahabatnya, karena dari penilaiannya Max dan cewek itu terlalu mesra, sempat ciuman di tempat umum.
"Ceweknya setinggi kamu, rambutnya dicat abu-abu?" Melody ingin memastikan pada Nola siapa yang dilihatnya bersama Max.
"Iya... persis. Kamu kenal?" Nola mengingat-ingat ciri cewek itu. Memang lebih tinggi dari Melody yang hanya seratus enam puluh senti, Nola punya tinggi badan seratus tujuh puluh dua, dia mantan atlit nasional badminton.
"Itu sekretarisnya Max, Gina," Melody menjawab disertai anggukan kecil mengkonfirmasi dalam diri sendiri apa yang sudah terbersit sejak lama, Max punya hubungan dengan sekretarisnya.
Ternyata bagi Max dia bukan siapa-siapa lagi, tidak ada pacar yang tidak akan mencari jika kekasihnya yang tidak ada berita, ini sudah sebulan lebih sejak Max marah-marah.
Raut sedih Melody membuat Nola mengusap lengannya.
“Sorry Mel, aku membuatmu sedih, tapi aku hanya ingin memberitahu hal ini, kurasa ini penting. Mereka nampaknya sangat dekat Mel, mesra gitu sampai ciuman loh padahal tempat publik kan,” Nola tak menahan ucapannya.
“Iya, gakpapa La, aku juga pernah melihat mereka bersama,” suara Melody tercekat.
“Yaa Nola, kamu merusak suasana deh, kenapa harus cerita sekarang sih?” Lindzy protes.
“Sorry, udah terlanjur ngomong, gak bermaksud membuat kamu sedih, bener-bener minta maaf ya Mel,” sesal Nola akhirnya hanya bisa melingkarkan lengannya di bahu Melody.
“Gakpapa kok, udah gak terlalu sedih sekarang, hanya merasa bodoh aja bertahan pada cinta yang salah,” Melody coba menjawab tenang, tapi jadi kaget dengan kalimatnya sendiri.
Aku terlalu bodoh memang. Melody menghembuskan napas coba melepaskan gundah, ingin bergembira saja di sini bersama teman-temannya.
“Jangan bahas Max ya,” Melody melepas senyum getir.
“Iya…iya, harus secepatnya move on Mel, tuh cowok gak berharga, dia gak menghargai cintamu,” Lindzy menepuk bahu Melody.
Melody mengiyakan, pernyataan Lindzy segera meresap di jiwanya. Niat untuk melupakan Max sudah sering muncul di hati.
Tas dalam genggamannya bergetar, Melody mengeluarkan ponselnya, ada panggilan dari Zeff. Melody menjawab…
“Iya?”
“Kamu di mana? Kata bi Nah kamu ke acara, acara apaan?” Zeff bertanya tak sabar.
“Temanku ulang tahun.”
“Shareloc,” suara Zeff sangat tegas.
“Hahh? Kamu mau ke sini??”
“Iya, kamu yaa pergi gak pamit,” suara terdengar gusar.
“Iya… iya…”
Hampir saja Melody menyambung dengan kalimat… Emang perlu pamit sama kamu?
.
Panggilan berakhir dan Melody melakukan apa yang diminta Zeff, mengijinkan Zeff datang dengan membagi lokasinya.
Melody tersenyum dan menjadi penonton interaksi dua sahabatnya dengan kekasih mereka, sikap manis dua pria terhadap pasangan, dua sahabatnya ternyata sangat manja, dan nampaknya para cowok rela saja meladeni ini-itu.
Di tengah mereka Melody merenung sendiri, merasakan sebuah kesepian tanpa Max. Apa yang dia tunggu sebenarnya? Belum percaya Max selingkuh? Memang belum cukup bukti, tapi tanda-tanda sudah semakin jelas. Keinginan untuk move on saja perlahan tumbuh di hati.
Ada harap yang juga ikut tumbuh sekarang bahwa Zeff segera tiba di sini, tiba-tiba merasa butuh seseorang di sampingnya, hanya kehadiran Zeff yang paling mungkin.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Bunda Titin
perlu bukti apalagi Mel,. melihat langsung kemesraan Max n Guna ?? atau melihat mereka berciuman seperti Nola ??? Mel2 aku kok gregetan banget ya sama kamu.........🤦🥴🤪😬😬
2024-04-15
0
ein
lupakan mex
2024-03-24
0
Sri Astuti
sadar Mel.. Max ga penting lagi skrg.. yg ada kamu makin direndahkan nti.. Zeff lbh berharga untuk diabaikan
2024-03-10
0