Di sebuah resto di pinggiran pantai kota ini, sebuah tempat makan yang baru saja dibuka.
Ada bagian yang berupa dak kayu yang luas yang tiang-tiangnya berdiri di atas air laut. Pemandangan sangat terbuka untuk menikmati pantai dengan bebas. Terlebih sekarang menjelang sunset, suasana jadi begitu eksotis dan menyenangkan mata.
Melody memilih meja di area itu.
Melody bergerak pindah saat Zeff duduk di sampingnya. Zeff memandang tak suka hingga Melody duduk dengan benar, mendapati itu Melody membalas dengan tatapan garang.
“Apa?” Walau bersuara garang sesungguhnya Melody keder juga saat melihat ekspresi Zeff yang seperti mau menerkam dirinya.
Zeff tidak menjawab, justru berpindah duduk di sebelah Melody dan segera menahan kursi saat Melody berdiri dengan niat yang sama.
“Jangan kayak bocah ahh, kayak musuhan aja gak mau duduk sebelahan, otakmu harus diajar mengingat dengan benar status kita apa,” Zeff menarik lengan Melody hingga terduduk kembali. Kesal tenaga Zeff mengunci gerakannya, dia mengibaskan tangan Zeff dengan kasar.
“Iyaaa, aku paham siapa kamu, kamu calon suami tapi bukan pacarku, jadi jaga tanganmu ya, gak ada sentuhan-sentuhan!” Melody bergidik mengingat kalimat Zeff tentang jangan menolak semua perlakuannya.
“Hahaha… Melow, calon suami itu justru punya lebih banyak hak dibanding pacar, ngerti gak?” Dan si calon suami tidak bisa menahan gemas, tangan langsung mengacak puncak kepala si calon istri yang memberengut marah.
“Gak!! Kamu gak punya hak apa-apa… apaan!” Melody menghindar sambil menjauhkan kursinya, tangan Zeff menggantung di udara.
Zeff meneruskan tawa apalagi melihat kursi itu hanya bergerak beberapa inci, dan sekarang Melody terpojok ke teralis pembatas dak kayu itu.
Sebenarnya dia paham perasaan Melody yang berwujud pada semua sikap penolakannya, tapi sikap bagaimana lagi yang harus dia tunjukan selain penandasan tentang hubungan mereka apa.
“Ayo pesen makan aja, ya?” Suara Zeff berubah lembut, sekali lagi mengacak ubun-ubun si calon istri. Melody meliukkan kepala menghindar.
Zeff tersenyum dengan reaksi Melody.
Ahh senyum itu, kok enakin perasaan ya?? Melody menghindari tatapan Zeff.
Dengan sigap Zeff memanggil seorang pelayan yang memang sudah berdiri menunggu tidak jauh dari mereka, siap melayani keduanya sejak pasangan ini masuk resto tadi.
Zeff memesankan beberapa item makanan dan minuman tanpa bertanya pada Melody.
Suasana makan sore menjelang malam itu kemudian berlangsung damai. Zeff tidak melakukan sesuatu yang memancing Melody untuk kesal. Justru beberapa kali Zeff bersikap manis dengan meladeni beberapa hal kecil untuknya.
Melody membiarkan saja sambil pikirannya terbawa pada ingatan, jika bersama Max, dialah yang melakukan ini-itu, bahkan jika ada yang kurang atau tidak disukai Max dialah yang akan disibukkan meladeni Max.
Ini masih terlalu dini untuk menilai, Max dulunya seperti itu kan? Suara batin Melody memenuhi rongga hati.
Melody sudah selesai menghabiskan porsinya, cukup heran sebenarnya karena Zeff memilihkan menu yang sesuai dengan seleranya. Zeff masih meneruskan makan dengan lahapnya, ternyata memang beneran lapar.
“Minum dulu air putihnya babe, selesai makan harus minum juga,” Zeff menyodorkan botol air mineral yang sudah dia buka tutupnya.
Melody mengambil dan langsung meneguk, beberapa tegukan Melody sadar tentang sesuatu hingga tersedak dan terbatuk kecil. Spontan Zeff menepuk-nepuk punggungnya.
“Minum dengan benar,” ujar Zeff entah perhatian atau menggerutu.
“Tunggu…” masih terbatuk kecil Melody mengangkat tangan kirinya sambil berusaha bernapas dengan baik.
“Kamu manggil aku babe, Anya?” Melody shock lagi, Zeff seperti mendesak masuk hendak secepatnya menempatkan posisi di hati, dan itu sangat tidak nyaman.
Zeff menghentikan suapannya. “Iya, gak aneh kan? Atau kamu mau panggilan yang lain, sweety, darling, cinta, sayang, honey??” Zeff santai sambil menatap Melody geli.
“Sangat aneh ihh, norak juga… sejujurnya kita bukan siapa-siapa kan? Jangan maksain sesuatu yang bukan pada tempatnya dong, kamu masih punya pacar juga kan? Kenapa sih harus terusin ini Anya?” Suara Melody sedikit naik.
“Aku gak punya pacar, Melody. Aku hanya punya calon istri sekarang, itu kamu,” Zeff menatap serius.
“Ehh itu, itu yang kamu panggil babe dulu, emang udah putus?” Melody mendadak salah tingkah, kepala Zeff yang mendekat padanya dengan tatapan seperti itu dan semua sikap Zeff untuknya selalu meruntuhkan setiap kali dia mencoba membangun tembok di hatinya untuk Zeff.
“Udah, kan mau nikah sama kamu,” Zeff sambil senyum kecil.
Nikah? Aduhh mama, Melody jengah dan malu tapi jadi kepo, “gimana cara putusnya? Emang dia mau menerima begitu aja?” Melody menyingkirkan piring dari depannya lalu memiringkan kepala dengan bersandar pada sikunya, menatap Zeff.
“Hahaha… segitunya pengen tahu… bentar aku cerita ya babe, aku selesaiin makanku dulu,” Zeff mencubit kecil pipi Melody.
“Apa sih…” ketus suara Melody, tangan cowok ini tidak bisa dilarang ternyata.
Tapi matanya seolah tertahan untuk memandangi Zeff jadi pengen melihat cara Zeff makan.
Dia berapa kali mengunyah makanannya? Pantas aja lama gini makannya. Tenang banget lagi, kayak menikmati setiap sendoknya.
Melody mengerjap beberapa kali, dan segera rasa jengah menyusup saat Zeff meliriknya dalam senyum. Melody segera duduk bersandar lagi di kursinya menenangkan diri.
Tapi kecamuk pikiran kembali merajai, tentang Max dan Zeff dan dirinya. Bagaimana melihat situasi ini? Dia belum putus dengan Max walau tak ada komunikasi hampir sebulan ini. Apakah sebenarnya hubungan mereka memang sudah berakhir?
Di sudut hatinya kali ini dia mengharapkan Max menghubunginya lebih dahulu untuk menunjukkan cintanya.
Dan sekarang dia ada bersama cowok yang semakin menegaskan siapa dirinya untuk Melody, dengan semua sikap yang ahh...
Melody bingung sekarang tentang sesuatu yang namanya cinta. Apa dia butuh itu sekarang? Sementara seseorang yang dia cinta nampaknya tidak menginginkan dirinya. Sekarang ada Zeff yang tidak mungkin lagi dia tolak keinginannya, mengingat proses pernikahan sedang disiapkan.
Tapi jujur untuk menerima Zeff, dia terhalang keinginan hatinya yang tetap menginginkan cinta dalam hubungan seperti ini, sementara dia tidak tahu apa yang membuat Zeff mau menikah dengannya, yang pasti itu bukan cinta.
“Babe, jangan ngelamun, gak baik,” Zeff menoel pipi Melody.
Melody tersadar dari pengembaraan pikirannya, dan tersadar dengan kata babe.
“Aku gak mau dipanggil babe, males banget, norak tahu, emang aku mantanmu?” ketus Melody. Dalam hati masih ragu apa memang benar Zeff sudah memutuskan hubungan dengan si 'babe' itu.
“Oww… aku panggil sayang aja ya? Lebih enak kayaknya,” Zeff tersenyum simpul, kalimat Melody justru baginya menunjukkan sebuah pengakuan, tadi ‘bukan pacar’ dan sekarang ‘bukan mantan’, jadi semakin pasti statusnya ‘calon suami’.
“Dih… emang beneran sayang? Ini terlalu aneh tahu gak,” suara Melody melemah karena putus asa menghadapi kelakuan Zeff, dalam satu jam bersama saja sudah seperti ini.
Zeff terdiam sejenak, hanya mampu menatap Melody, ingin dia mengatakan sesuatu tapi dia tahu ini bukan waktu yang tepat, Melody tidak akan mungkin percaya.
“Baiklah… mari belajar saling sayang, ya??” lembut suara Zeff.
“Hahh? Bukan itu maksudku, aku udah punya orang yang aku sayang kok. Emangnya kamu? Mutusin pacar begitu aja, ngeremehin soal rasa cinta,” lagi Melody kena serangan jengah, Zeff selalu punya kata-kata yang membuat dia mati kutu.
“Aku gak ngeremehin tentang cinta, Melody… aku sangat menghargai cinta,” Zeff berkata kalem, air mukanya pun berubah, terlihat sungguh-sungguh dengan perkataannya.
“Tapi, perkataanmu waktu itu? Kamu berkata lain sekarang karena mau membujukku kan?”
“Apa yang salah dengan perkataanku kemaren?” Zeff memiringkan posisi duduknya menghadap ke arah Melody.
Dua pasang mata saling menatap dan tanpa sadar saling terperangkap satu sama lain, sementara Melody menjauh dan lagi-lagi punggungnya kepentok dinding, risih hadap-hadapan dengan Zeff sebenarnya tapi dia tak bisa bergeser lebih jauh.
“Kamu gak mementingkan cinta dalam pernikahan… kita gak sejalan Zeff, cinta penting buatku, makanya aku menolak perjodohan kita,” Melody mengatakan saja keberatannya soal mereka berdua.
“Aku gak bilang cinta gak penting Melody, aku hanya bilang cinta bukan segala-galanya dalam pernikahan, perasaan cinta bisa saja berubah dalam sekejab, atau bisa bertahan selamanya. Tapi pernikahan juga butuh komitmen, butuh pemikiran logis… sementara kamu fokus hanya tentang cinta aja,” pandangan Zeff lurus ke mata Melody.
Melody mengerjap, aura Zeff begitu kuat, dia tidak tahan bersitatap dengan Zeff yang sekarang, dulu sepertinya tatapan Zeff tidak sedalam itu.
“Emang itu maksudmu waktu itu? Kok aku gak inget ya? Jangan-jangan kamu berkata seperti ini sekarang karena kamu tahu prinsipku,” Melody berkata sambil mengalihkan pandangan ke piring bekas makannya.
“Gak… memang itu maksudku, sama seperti kamu, aku tahu cinta itu penting dalam pernikahan. makanya aku bilang, mari kita belajar saling cinta mulai sekarang… kelak setelah menikah kita perkuat komitmen kita dan berjuang untuk menghadapi realita hidup dengan logika dan pemikiran waras,” tegas Zeff.
“Ahh, pemikiranmu ribet banget, yang aku yakin kamu gak menghargai cinta, buktinya kamu gampang aja memutuskan pacarmu dan sekarang memintaku belajar saling sayang, segampang itu kamu mengalihkan rasa sayang? Jangan-jangan setelah kita nikah kamu gampang sekali minta cerai karena pemikiran logismu. Gak mau aku,” lirik Melody dalam bantahannya.
Zeff paham jalan pikiran Melody sekarang, dia tidak akan memaksakan Melody dalam dua kali bertemu untuk sejalan dengan cara berpikirnya, apalagi soal kepercayaan, tidak mungkin secepat ini untuk bisa meyakinkan Melody.
“Melody…” Zeff memanggil, meminta Melody melihat padanya.
Saat Melody berpaling padanya Zeff menatap lekat tepat di mata Melody, sedetik kemudian Melody melengos.
“Dengarkan aku…” Dua tangan Zeff segera menjangkau pundak Melody ingin meminta perhatian Melody untuk apa yang ingin dia utarakan.
Saat saling tatap lagi…
“Prinsipku aku… hanya akan menikah sekali dalam hidupku, yakini hal itu aja dulu, boleh kan? Dan karena aku telah menjatuhkan pilihanku padamu, maka aku akan melakukan apapun yang kamu minta dalam pernikahan ini, termasuk cinta. Ok?” Zeff berkata lembut dalam kesungguhan hatinya.
Ohh mama… seandainya Max yang mengatakan ini, betapa bahagianya. Melody tertahan di kedalaman tatapan Zeff.
.
🐧🩶🦔
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Emi Yuliana
cerita sebagus ini knpa yg sdkit like nya
2024-07-27
1
Bunda Titin
kurang gimana LG coba itu Mel,. begitu pengertian dan perhatiannya Zeff sama kamu..........bahkan secara ga sadar kamu membandingkannya sama Max,. begitu sulit kah bagimu untuk mencoba...........🙄
2024-04-14
0
ein
co cuwiiittt anyaa
2024-03-07
0